Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 34 Perasaan Terhina 1


__ADS_3

Mobil terus berjalan membelah malam. Membayang di kepala Denny, saat seseorang menelponnya di kantor siang hari.


(Flashback)


“Hallo, Denny,” suara dari seberang penuh semangat.


“Ya, Gun. Apa kabarmu?” Denny datar menjawab panggilan Gunawan, pria yang ingin dia hindari. Tapi terikat bisnis dan hubungan keluarga, dia tidak bisa menghindar.


“Ha..Ha.., baik. Kau masih ingat juga kepadaku. Aku kira, kau sudah menghapus nomorku.” Gunawan tersenyum diujung ponsel. Denny merupakan sahabatnya, karena hubungan yang rumit terjadi, perselisihan terbit diantara mereka.


“Tidak, aku masih menyimpannya.” Denny menjawab, seketika kenangan tertarik kembali hadir dipikirannya.


“Mengapa? Apa kau masih dalam kenangan masa lalu? Denny-Denny. Jangan seperti itu, waktu terus berjalan. Aku hidup bahagia bersama istri dan anak-anakku. Kuharap kau juga sepertiku. Lupakan semua kenangan masa lalumu itu.” Gunawan memahami sikap tidak ramah Denny.


“Kau menghubungiku hanya ingin membanggakan kebahagiaanmu? Denny kesal, Gunawan sengaja membangkitkan luka lamanya.


“Ha.., Ha.., Ha.., kau masih belum berubah. Sikapmu masih sama seperti dulu.” Gunawan tidak bisa menahan diri, dia kenal betul sikap Denny karena mereka berteman sejak kecil.


“Ayolah Gun, jangan terlalu banyak basa-basi. Apa yang kau inginkan, hah?” Kesabaran Denny sedang diuji, dia berusaha menahan tidak terpancing sikap menjengkelkan Gunawan.


“Ha.., Ha.., Ha.., kau memang tidak sabaran. Oke, Oke. Pertama, aku mengucapkan terima kasih karena kau masih menganggapku teman dan mengundangku ke acara perusahaanmu. Kedua, aku berterima kasih kau menjaga adikku, Hendrik Raharja di perusahaanmu.” Wajah Indah dan Hendrik membayang di kepala Gunawan. Dia berharap adiknya berhasil memikat gadis pujaannya.


“Ya, hanya itu? Tidak seperti biasanya, kau selalu ada permintaan dariku.” Denny meragukan ucapan manis Gunawan.


“Ha..,Ha..,Ha.., betul-betul, kau memang sangat mengenalku. Ini tentang adikku. Dia menyukai wanita teman sekantornya. Aku harap tidak ada masalah dengan hubungan mereka.” Suara Gunawan terdengar serius.


“Kau mengkenal wanitanya ?” Denny berusaha mengingat wajah adik yang dimaksud Gunawan.


“Namanya Indah,” Gunawan berharap Denny mendukung hubungan adiknya. Tugas sekarang yang dilakukan Hendrik dan Indah sangan membantu kedekatan mereka.


“Sial, kakak dan adik sifatnya sama saja. Selalu mengganggu ketenanganku,” Emosi Denny seketika menyerang. Ternyata yang sering berjalan bersama Indah adik Gunawan dan juga menaruh rasa suka.


“Apa wanita itu juga menyukainya? Denny balas bertanya, ingin mengetahui sejauh mana hubungan Indah daj Hendrik.


“Iya, tentu. Baru saja mereka datang ke tempatku mengantarkan kartu undangan. Aku pastikan mereka cocok.” Gunawan menjelaskan penuh keyakinan.

__ADS_1


“Ada lagi yang ingin kau sampaikan, aku masih banyak pekerjaan,” Denny membalas dengan menahan marah sambil mengepal kuat tangannya.


“Tidak itu saja, aku harap kau mau membantuku. Sekali lagi terima kasih. Aku akan datang dan sampai bertemu di malam acara.” Gunawan yakin Denny bisa membantunya.


“Ya, sampai bertemu kembali.” Denny menutup pembicaraan. Wajahnya memerah menahan amarah.


Denny langsung meminta Iqbal datang menghadap dirinya.


“Sial, mengapa keluarga Rahardja selalu membayangi kehidupanku,” Kepalan Denny mendarar di atas meja. Rasa sakit di tangan tidak sebanding dengan amarah yang menyelimutinya.


“Apa yang terjadi ?” Iqbal cemas melihat sikap Denny. Sudah lama dia tidak semarah itu. Persoalan apa yang berkaitan lagi dengan Gunawan. Iqbal mengenal Gunawan.


“Dulu Gunawan, sekarang Hendrik.” Wajah Hendrik membayang di kepalanya, tersenyum ramah dan memegang tangan Indah.


“Apa hubungan Hendrik dan Gunawan Rahardja ?” Iqbal berusaha memahami ucapan Denny.


“Kau tidak menyadarinya?” tatapan Denny kesal. Uqbal ternyata juga tidak mengenal siapa sebenarnya Hendrik.


“Kedua-duanya sama. Gunawan merampas kekasihku dan sekarang menjadi istrinya. Di hadapanku memamerkan kebahagiaan keluarganya. Dia telah menghinaku. Sekarang, sang adik mau mengikuti jejak kakaknya. Sial!” Jelas Denny sambil membanting gelas di lantai melampiaskan kekesalannya.


“Apa kau yakin?” Tanya Denny menatap Iqbal tajam.


“Kenapa tidak kau sendiri yang mencari tahu, agar kau lebih yakin?” Iqbal balik bertanya, Denny sudah terbakar cemburu. Iqbal kenal betul sikap Denny yang sensitif masalah percintaan.


“Kau, jangan membuat aku bertambah kesal. Di mana mereka sekarang?” Denny menyadari, Iqbal mulai mempermainkannya.


“Mereka menjalankan tugas, mengantarkan undangan para Tamu VIP,” Iqbal sudah bisa membaca permasalahan. Denny takut Indah tertarik dengan Hendrik.


“Mengapa harus mereka berdua? Gantikan orang lain,” Denny ingin menjauhkan Indah dari Hendrik secepatnya.


“Semua sudah ada tugasnya masing-masing, dan melaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Mereka bekerja secara profesional dan bersemangat karena motivasi dari mu. Sebagai pemimpin yang mereka segani, tidak baik mencampuri masalah pribadi dalam urusan pekerjaan,” Iqbal menjelaskan prosedur kerja yang dipegang teguh perusahaan. Dia tidak ingin Denny terlihat lemah karena urusan percintaan.


“Ah.. kau,” Denny kesal, Iqbal benar-benar mengejeknya, kalimat itu punya dia. Jadi terasa dirinya ditampar dengan ucapannya sendiri.


“Tenang, jangan terbawa emosi. Sekarang yang terpenting, Indah harus tahu perasaanmu. Sudahkah kau utarakan?” Iqbal tanya penuh selidik. Memperhatikan garis wajah Denny.

__ADS_1


Denny terdiam tidak menjawab pertanyaan Iqbal, lebih memilih menghempaskan tubuhnya di sofa dan menatap jauh ke depan memandangi langit biru dari balik kaca jendela tingkat ruang kantornya.


“Dia mulai tenang sekarang,” lirih Iqbal di dalam hati. Dari sikap Denny, Iqbal bisa menduga, hubungan perasaan Denny belum mengalami kemajuan.


“Kau harus utarakan, supaya tahu bagaimana perasaannya terhadapmu. Atau kau meragukan dirinya?” Iqbal duduk di hadapan Denny. Wajahnya sudah tidak terlihat garang.


Emosinya sudah terkendali kembali.


“Aku menunggu menaklukkan hatinya terlebih dahulu sebelum mengutarakan perasaanku," Bayangan-bayangan kebersamaan dengan Indah memenuhi di kepalanya.


“Mengapa?” Iqbal melihat keraguan, Denny terlihat tidak seyakin sebelumnya.


“Aku tidak ingin kecewa lagi. Dan aku ingin dia hanya milikku,” Denny menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Hatinya ingin Indah benar-benar menyukainya bukan karena harta dan jabatan.


Iqbal memilih diam dan tidak melanjutkan pembicaraan. Menunggu dan menemani Denny menenangkan perasaannya saat itu.


Masih di dalam mobil Denny, malam sudah sangat larut, akhirnya Indah tertidur karena lelah dan mengantuk.


Senyum menggaris di bibir Denny, melihat Indah tertidur dari sudut matanya. Mobil pun berhenti. Denny ke luar dari mobil, membuka pintu bagian Indah duduk. Menggendong tubuh Indah dengan perlahan.


Sampai di kamar, tubuh Indah perlahan di baringkan ke tempat tidur. Denny duduk di samping Indah dan menatapnya.


“Aku tidak suka melihatmu bersama pria lain, kamu hanya milikku,” Denny berbicara dengan dirinya.


Tangan Denny menarik selimut dan menutupi hingga ke dada Indah. Membelai lembut rambutnya dan melangkah ke luar kamar.


Perlahan Indah membuka matanya, saat menyadari Denny telah pergi. Mengamati sekitar ruangan, baginya ruang ini tidak asing. Kembali berada di kamar apartemen Denny.


“Apa maksud ucapannya?” Indah mengingat kata-kata yang baru di ucapkan Denny.


“Apa aku harus menjadi wanita simpanannya? Ah…tidak mungkin. Dia pasti sudah tidak waras. Aku harus pergi dari tempat ini sekarang,” Perlahan Indah turun dari tempat tidur. Berjalan menuju pintu. Tangannya meraih pegangan pintu dan berusaha membukanya. Ternyata pintu terkunci.


“Ah…, dia benar-benar mengurungku di kamar ini, bagaimana aku harus ke luar. Ponsel ku lowbet. Tuhan tolong lindungi aku,” Tangan Indah terus berusaha menggoyang-goyang pegangan pintu. Berharap pintu dapat terbuka.


Tanpa disadari Indah, Denny masih berdiri di depan pintu dan mendengar semua ucapannya. Wajah Denny hanya tersenyum mengetahui Indah pura-pura tidur. Dia pun melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2