Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 108 Menunggu Jawaban


__ADS_3

Denny hanya diam, menunggu Indah mengutarakan maksud kedatangannya.


Mengangkat tangan meraih cangkir teh,” Sreet,” menyeruput perlahan teh hangat dengan elegan.


Jesika semakin kesal melihat sikap dingin Denny. Tangannya mengepal kuat, penampilan tenang Denny sangat mengganggu pandangan.


Melihat Jesika tidak juga berkata-kata, Denny mengangkat tubuhnya ingin beranjak.


“Mau ke mana?” Sergah Jesika semakin kesal dengan penampilan sikap Denny. Jesika tidak mau kalah ikut mengangkat tubuhnya mensejajarkan dengan tubuh tinggi Denny walaupun terhalang sebuah meja.


Denny tidak ingin melawan kekerasan Indah. Menarik garis senyum di bibir sambil mendudukkan kembali tubuhnya perlahan di atas sofa. Manik hitamnya menangkap kemarahan Indah dengan jelas. Ada kehangatan di hati Denny, keadaan sekarang membuat dirinya bisa selalu menatap gadis pujaan walaupun dalam situasi rumit.


“Bicaralah aku menunggu, tapi kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku akan pergi.” Tegas Denny menatap manik hitam Indah dalam. Dia dapat menebak keinginan Indah, hanya ingin memastikan kalau dia benar.


“Kau mengusirku? Setelah keinginanmu tercapai, kau akan pergi? Wah, dugaanku benar. Kau tanpa perasaan memisahkan aku dari putraku. Kau sama saja dengan ibumu, kalian orang kaya seenaknya bisa berbuat. Suka kalian ambil, tidak suka kalian buang. Cih… aku mengutuk kebiasaan buruk kalian, tidak akan dapat hidup tenang setelah matipun kalian akan menderita. Kau dengar itu?” Jesika meluapkan semua amarahnya. Ucapan mengalir bagai larva panas membakar benda di sekitarnya.


Dadanya sesak tidak dapat menahan beban berat. Tubuhnya gemetar, cairan bening mengumpul memenuhi tatapan sendunya.


Denny menegang mendengar kata-kata panas Indah. Tuduhan tanpa bukti dilontarkan menggores luka di hatinya sekali lagi.


“Kau sudah selesai?” Suara Denny terdengar berat. Bangkit kembali dari duduk, menatap tajam dan jantungnya berpacu sangat cepat. Rona merah membingkai wajah, tangannya mengepal kuat berusaha menahan amarah yang sudah mencapai ke ubun-ubun.


“Aku ingin putraku, kembalikan dia sekarang juga.” Jesika histeris semakin meninggikan suara, tanpa diperintah cairan bening mengalir deras membasahi kedua pipi. Seketika rasa sakit menyerang di kepala dan tatapannya perlahan menghitam.


Jesika memicit kening, pandangannya semakin gelap. Perlahan tubuhnya melemah, hilang keseimbangan hingga mendarat tak sadarkan diri di atas sofa yang ada di belakangnya.


“Indahhh,” Denny terkejut menarik langkah cepat mendekati tubuh tak berdaya Indah.


Denny menepuk-nepuk perlahan kedua pipi Indah. Menggolekkan tubuh Indah dengan benar dan meletakkan kedua kakinya di atas sofa. Kepanikan menyelimuti wajah Denny.

__ADS_1


Iqbal mendengar suara tinggi Denny memanggil Indah. Tubuhnya bergerak cepat membawa ke tempat Denny.


“Ada apa? Apa yang terjadi? Ada apa dengannya?” Tanya Iqbal tak kalah panik menatap wajah Indah pucat tak sadarkan diri.


“Jangan banyak tanya, ambilkan aku air, cepat ambilkan,” Suara Denny menguap, khawatir mendapati Indah tidak bereaksi dengan sentuhan tangan di pipinya.


Iqbal pun seketika berlari menuju dapur mini, mengambil gelas mengisinya dengan air. Berlari kembali membawa ke pada Denny.


“Ini airnya,” mengulurkan ke hadapan Denny.


Denny mengambil gelas dari tangan Iqbal, duduk di samping tubuh Indah. Perlahan jarinya masuk ke dalam gelas, memercikkan sisa-sisa air menempel pada jarinya ke wajah Indah. Hal yang sama dilakukan beberapa kali sambil memanggil-manggil nama Indah.


“Hem,” Pelan suara Jesika terdengar, mengejap-ejapkan kelopak mata dan perlahan membukanya.


“Indah, kau sudah sadar?” Ucap Denny lega menatap Indah.


Manik hitam Jesika berkabut menangkap wajah Denny dan ingatanya telah kembali.


Denny sekali lagi terkejut karena mendapatkan pelukan Indah. Perlahan tangannya meletakkan gelas pada meja di sampinggnya. Menganggukkan kepala ke arah Iqbal. Isyarat itu dimengerti Iqbal dan menarik langkah meninggalkan Denny dan Indah.


Denny membiarkan tubuhnya dalam pelukan erat Indah tanpa membalas. Dia tahu, saat ini Indah dalam keadaan tertekan kehilangan Saka. Perasaan hangat yang dirasakan tidaklah sama yang dirasakan Indah, namun begitu dia bahagia. Tak terasa cairan bening mengalir dari kedua sudut manik hitamnya.


“Jawab aku, jangan diam saja. Bawakan Saka kembali padaku,” Suara Jesika gemetar disela isak tangisnya.


“Maafkan, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi kau harus tahu, aku tidak ada niat sedikitpun ingin memisahkan kau dengan putramu. Aku tidak terlibat dengan pernculikan itu. Aku akan berusaha menemukannya. Tapi dia juga putraku, kalau aku berhasil maukah kau berjanji padaku?” Ucap Denny perlahan.


“Baiklah kalau itu keinginanmu, aku akan memberikan janjiku. Katakan apa keinginanmu,” balas Jesika.


Jesika menarik wajahnya dari dada Denny, menatap lekat dengan manik hitamnya berhiaskan cairan bening.

__ADS_1


Iqbal bersama Dania menemaninya di kamar. Pikirannya masih bersama dua insan yang ada di luar. Hatinya menaruh kasihan kepada Denny, garis baik dari takdir belum menjamah kehidupannya. Denny berusaha kuat di luar sedang di dalam hatinya lemah.


Sepuluh tahun ini kehidupannya hanya bertujuan ingin kesembuhan putrinya Dania. Namun sampai sekarang Dania belum juga sembuh. Operasi donor sumsum tulang belakang sebagai kesembuhan tidak mudah mendapatkan pendodor yang cocok.


Diam-diam Iqbal berusaha mencari Indah, tapi tidak membuahkan hasil. Sekarang cahaya mulai datang menerangi kehidupan Denny dengan bertemu Indah. Tapi cahaya itu masih tertutupi kabut belum sepenuhnya cerah bersinar.


Siang hari di bandara udara, terlihat Denny menggendong Dania berjalan ke luar menuju mobil. Jesika dan Iqbal menuruti langkah di belakang.


Mata Jesika, menyapu keadaan sekitar. Sedari turun dari pesawat, jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari normal. Aroma udara khas Jakarta menyeruak memenuhi rongga hidung. Kakinya menapak kembali kota sepuluh tahun yang telah ditinggalkan.


Kaca mata hitam bertengger di hidung, dengan ramput tergerai lepas sebahu. Mantel panjang menyelimuti tubuh dengan bawahan celana pajang jeans. Penampilan terlihat santai, dengan wajah polesan natural dan bibir sapuan tipis warna merah muda.


Ada kegugupan melanda Jesika, dia terasing di negara kelahiran. Kembali dengan identitas baru, tanpa ingin merubah kembali menjadi Indah. Dia sudah putuskan mengubur dalam kenangan diri Indah.


Mobil terpakir manis menanti kedatangan penumpang yang sedari tadi ditunggu hampir tiga jam. Sang supir tanpa mengeluh karena lama menunggu, menyungging senyum, menyambut sang tuan telah kembali.


Daun pintu terbuka lebar, sopir mempersilahkan Denny masuk . Saat ingin masuk ekor mata Denny menangkap seorang lelaki penuh wibawa berjalan melewatinya. Senyum menggaris di bibir mengiringi setiap langkahnya. Manik hitam Denny mengikuti arah lelaki itu terus berjalan mendekati Indah.


“Jesika, selamat datang,” ucap lelaki asing ramah.


Jesika mengamati lelaki yang berdiri di depannya. Dia berusaha mengingat wajah lelaki asing itu, tapi dia tidak berhasil.


“Maaf, perkenalkan aku kakak iparmu “Gunawan,” adikku Hendrik meminta menjemputmu,” penjelasan mengalir dari mulut Gunawan menyadari Jesika tidak mengenalinya.


“Ka…kakak Ipar?” ucap Jesika tergagap.


“Ya, betul. Mari ikut aku,” Tangannya mengulur mempersilahkan Jesika berjalan menuruti arahnya.


Iqbal di samping bergerak ke depan menghadang jalan Jesika.

__ADS_1


“Maaf tuan, Nona Jesika datang bersama kami dan akan ikut bersama kami juga.” Ucap Iqbal menatap tajam Gunawan.


Denny menarik langkah mendekat menghampiri Gunawan, hawa panas menjalar naik ke kepala. Manik hitamnya berkabut merah. Sorot tajam jelas terpampang siap menusuk lawan tanpa ampun.


__ADS_2