Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 101 Ada apa denganmu?


__ADS_3

Denny masih berdiri terpaku menatap lekat wajah anak lelaki kecil tampak terhalang benda-benda medis terpasang menemani tidur lelap. Tak terasa cairan bening mengalir di pipi, mewakili kesedihan.


Jesika menahan langkah, saat menatap Denny, ayah dari putranya, berusaha dia sembunyikan. Tapi itu tidak lagi, semua sudah diketahui bukan sebuah rahasia untuk disimpan. Selama ini, hidup meminjam kebaikan Hendrik melekatkan identitas dalam satu kartu keluarga supaya sah diterima hukum dan lingkungan sosial. Status legal disamarkan, hanya dia, Hendrik dan tente Ira pemberi perlindungan tempat tinggal mengetahui.


Denny hanya mengetahui putranya dan tidak lebih. Jesika harus bisa bertahan merahasiakan yang lain bila dia ingin hidup selamat dari pengaruh mama Denny.


“Biarkan aku menemuinya sendiri,” Jesika memang lengan Hendrik dan menatap ke dalam manik hitam.


“Baiklah, aku akan menunggumu di sini. Temui dia, kalau kau butuh bantuan, panggil aku,” Hendrik menarik senyum.


Jesika menapak langkah perlahan dan berdiri berdampingan dengan lelaki yang namanya masih menggetarkan jiwa bila terucap di bibir.


“Sekarang mas sudah mengetahui, semua sebuah kebenaran. Ya, aku masih hidup dengan memiliki seorang anak laki-laki, dan meninggalkan mas karena keinginanku sendiri. Kami hidup bahagia tanpa memerlukan kehadiran mas. Dia putramu, namanya Saka Bismantara. Dia anak yang pintar dan pemberani, jarang tersenyum sama sepertimu. Juga, jarang menangis, bahkan aku lupa kapan terakhir melihatnya menangis. Memiliki pemikiran lebih dewasa dibandingkan usianya. Dia lebih sering menjadi teman dari pada anak kecil yang manja. Aku sangat bersyukur memiliki dan tidak ingin kehilangan.”


Denny mendengar dan mencerna satu persatu kalimat mengalir dari gadis yang dicintai. Suara, wajah dan tubuh sangat dia rindukan, ingin dirangkul tapi tidak bisa dilakukan. Gadis dicintai tidak patuh seperti dia kenal. Sekarang, gadis itu sudah lebih dewasa, tegar dan pemberani. Dia tahu, kesalahan pada diri sendiri tidak bisa melindungi orang dicintai. Sekeras apapun dia mencoba, akan menghasil luka. Tapi dia, Denny Prasetyo tidak akan pernah menyerah. Sekali menginginkan sesuatu akan berusaha mendapatkan.


“Aku sudah katakan, tidak perlu mendengar apapun. Ucapan seorang pembohong tidak dapat dipercaya. Aku hanya percaya ucapan mu, tentang putraku. Selanjutnya, tunggu saat-saat mengganti semua kebohongan kau lakukan untukku dan putraku,” Denny menggenggam tangannya kuat, memindahkan semua kekesalan dalam genggaman.


“Mengapa kau masih menyakitiku, apakah belum cukup duka kurasakan Indah?” Denny menatap wajah gadis di hadapannya, sudah lama tidak merasakan berdekatan dengan gadisnya. Hati gembira, sedih, dan luka bercampur menjadi satu.


“Apa ingin mas lakukan, tidak cukup semua ini? Kenyataannya, aku tidak menginginkan mas, kalau aku mau sudah lama kembali setelah Hanna tiada. Aku hidup bahagia dengan suami dan putraku. Kita memiliki kehidupan masing-masing. Jadi pergilah dari hidup kami, aku mohon?” Jesika terduduk dan menangis menyatukan kedua tangan memohon di hadapan Denny.


“Kau, apa yang kau lakukan?” Denny terkejut dan mencoba meraih tubuh Indah.


“Jangan sentuh dia,” Hendrik bergerak melangkah maju dengan cepat dan menarik tubuh Jesika berdiri.


“Kau,” Denny menarik kerah baju Hendrik dan melepaskan sebuah pukulan kuat di pipi. Hendrik tersungkur ke lantai.


“Sudah mas cukup, hentikan.” Jesika tanpa sadar memeluk tubuh Denny kuat, berusaha meredakan amarah saat tangan lelaki itu ingin mencengkram tubuh Hendrik .


Denny terpaku, tubuh kaku menerima pelukan gadis pujaan. Dada merasakan hembusan nafas, kulit tersengat sentuhan kuat dan jantung seketika perlahan berdetak, ada ketenangan di sana, kerinduan yang terbalaskan. Denny tidak membalas pelukan itu, tangannya terbuka lebar hanya memejamkan kedua mata.

__ADS_1


“Kau sadar perbuatanmu saat ini? Datang memelukku, perempuan mana bisa memeluk sekuat ini, selain untuk suaminya. Kau yakin, laki-laki itu suamimu?”Denny menarik senyum di bibir atas.


Jesika terkejut, dan bergegas melepaskan pelukan. Matanya membulat lebar menyadari kekhilafan.


“Aku meragukan setiap kata keluar dari bibirmu, kau terlalu lama hidup dalam kebohongan hingga tidak bisa membedakan kebenaran dari hati,” Denny masih menyunggingkan senyum, sambil melangkah mudur, membalikkan tubuh dan melangkah pergi.


Jesika hanya bisa terpaku mengiringi kepergian Denny.


“Jes, kau kenapa? Apa dia mengatakan sesuatu menyakitkan?” Hendrik menghampiri Jesika sambil meraba pipi yang masih sakit.


“Ada apa denganmu? Kenapa kau memeluknya? Wajahnya sangat gembira menerima pelukanmu,” Hendrik berucap di dalam hati menatap dalam Jesika.


“Ti- tidak, aku tidak pa-pa. Kau bagaimana? Apa sakit? Ayo, kita obati lukamu,” Jesika menatap Hendrik dengan rasa gugup.


“Tidak perlu, pukulan itu tidak ada apa-apa, aku baik.” Hendrik tersenyum berusaha menyembuyikan rasa sakit, terutama sesuatu menyayat di dalam sana.


Sedang Denny terlihat berbicara dengan seseorang di dalam ponsel.


“Bal, kau sudah sampai hotel?” tanya Denny.


Denny minta membawa Dania kembali ke hotel. Iqbal pun setuju, lalu berhasil membujuk Dania ikut bersama. Sebelum pergi tak lupa menyerahkan ponsel milik Denny yang tertinggal di hotel.


“Tidak, aku hanya ingin mendengar suaramu,” ucap Denny dengan senyum masih menggaris di bibir. Ada secercah cahaya di relung hatinya yang kelam. Dia tidak bisa mengungkap rasa dengan untaian kata.


“Secepat itu kau rindu? Ini tidak pernah terjadi seumur persahabatan kita seingatku. Apa telah terjadi sesuatu di sana? Kau baik-baik saja? Putramu apa terjadi sesuatu?” Iqbal melipat kening menduga-duga hal terjadi dengan Denny.


“Kau, simpan otak cerdasmu itu. Masih banyak hal penting lain untuk dipikirkan. Bagaimana Dania, apa dia merepotkanmu dalam perjalanan?” Denny masih belum ingin menutup ponsel.


“Tidak, dia langsung tertidur di dalam mobil. Aku akan mengirim seseorang membawakan pakaianmu,”


“Baiklah, aku tunggu. Bal.., Denny tidak melanjutkan kata-kata, perasaan masih belum tenang.

__ADS_1


“Den, kau yakin baik?” Iqbal meragukan sikap Denny tiba-tiba hening.


“Sudahlah, kau tidak akan mengerti,” Denny terdengar mendengus di seberang.


“Ya jelas aku tidak mengerti, kalau kau tidak memberitahu,” balas Iqbal kesal dengan sikap misterius Denny.


“Jangan dipikirkan. Tut-Tut-Tut,” percakapan terputus sepihak oleh Denny.


“Dasar kau, sifatmu masih susah ditebak,” gerutu Iqbal menyembuyikan ponsel di saku celana sambil melangkah membawa Dania dalam gendongan.


“Drekk-drekk-drekk,” ponsel Iqbal kembali berbunyi.


“Apa dia masih ingin mendengar suaraku?” Gumam Iqbal kembali meraih ponsel dari saku celana.


ISTRI tulisan muncul di layar ponsel.


“Hallo, sayang,” sapa Iqbal terdengar menjawab panggilan.


“Mas, di mana sekarang? Kenapa tidak kasi tahu kalau mas Ke Jepang menyusul tuan Denny.


Suara Yanti terdengar menggigit telinga Iqbal, perlahan dia memberi jarak dengan ponsel. Walaupun Iqbal adalah suami sekaligus sahabat Bosnya, Yanti tetap menaruh hormat tidak merubah sapaan Tuan kepada Denny.


“Sayang, maafkan mas. Ini tugas mendadak, mas tidak mau kamu khawatir, apa lagi kamu sedang hamil ,” Iqbal membayangkan suasana hati istrinya tidak stabil di masa hamil.


“Kalau tidak ingin aku khawatir, mas harus jujur. Untung seketaris mas bicara, berkat ancamanku.


“Apa, tunggu saja akan dipecat dia setelah aku pulang,” gerutu Iqbal.


“Jangan mas, aku yang memaksa,” ucap Yanti dengan nada mulai menurun.


“Tidak bisa, aku akan.. Iqbal tidak sempat melanjutkan kata-kata.

__ADS_1


“Mas, jangan gitu, aku salah. Maafkan dia, aku tidak akan mengulangi lagi,” suara Yanti sudah semakin lunak dan merayu.


Iqbal tersenyum geli membayangkan tingkah imut istrinya. Sebenarnya dia sudah memberikan ijin, sebelum berangkat ke Jepang. Dia tahu, Yanti akan datang menemui sekretaris dan bertanya ke mana dia pergi. Dia tidak bisa berpamitan bertemu Yanti pulang ke rumah, hanya memberi pesan singkat ada pekerjaan ke luar negeri.


__ADS_2