Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 124 Cemburu?


__ADS_3

Di rumah sakit.


Sepasang manik hitam mengamati dengan tekun layar tipis ipad, sesekali tangan menyapu kasar ke wajah. Hatinya sangat sedih, tidak bisa berada dekat mendampingi putri kecil yang terbaring sakit. Penderitaan seolah tak mau jauh dari jalan hidup seorang Denny Prasetyo. Pikiran terbagi-bagi antara keadaan kedua putra dan putri yang membutuhkan perawatan.


“Bal, aku akan pulang sekarang?” Tanya Denny dengan tatapan lekat tubuh sedang tertidur lelap.


Di ruangan, Saka tertidur lelap setelah menerima rangkaian pemeriksaan yang melelahkan. Hasilnya, Saka mengalami ganguan syaraf kelemahan motorik bawah. Saka masih bisa berjalan dengan melakukan terapi rutin.


Iqbal kasihan melihat keadaan Denny, hingga membuat keputusan pun sangat sulit. Dia tahu Denny belum bisa menunjukkan diri di hadapan Indah dengan kondisi Saka saat ini. Di samping itu, dia juga tidak bisa jauh dari Dania yang juga membutuhkan perawatan.


“Den, lebih baik kau pulang tengah malam saja, saat semua orang sudah tidur. Bagaimana?” Iqbal berpikir tengah malam waktu yang tepat bagi Denny pulang ke rumah, karena kalau tidak dia pasti akan bertemu dengan Indah, itu menjadi situasi yang sulit untuk dihindari.


“Baiklah, aku terima saranmu. Harun sudah mengatasi Dania dengan baik. Tapi, bisakah aku berbicara dengan putriku? Dia pasti sangat ketakutan, apalagi aku tidak bersama dengannya.” Denny berbicara masih menatap layar tipis ipad.


Di layar itu, terhubung dengan semua cctv yang ada di rumah. Dia bisa mengawasi semua gerak-gerik orang dalam rumahnya terkecuali kamar toilet. Cctv di pasang untuk menjaga keamanan Dania. Kalau dibilang Denny memang over protektif. Bukan tanpa alasan, karena pernah terjadi peristiwa yang membuat panik semua orang menyangka Dania menghilang atau diculik.


Saat Dania sedang lincah-lincahnya berjalan diusia dua tahun, seorang baby sister yang khusus ditugaskan menjaga Dania melakukan kelalaian. Sang baby sister asik berbicara ditelpon hingga perhatiannya tidak melihat Dania yang sibuk berjalan ke sana ke mari.


Setelah selesai berbicara ditelpon, sang baby sister tersadar kalau Dania sudah tidak ada di dekatnya. Dia pun panik dan mencari-cari keberadaan Dania kecil. Namun, Dania tidak berhasil ditemukan. Usahanya gagal mencari Dania seorang diri, dengan rasa bersalah dan takut dia pun melaporkan kepada Bik Surtik yang saat itu bertugas mengurusi rumah.


Tanpa pikir panjang Bik Surtik memberitahukan hal tersebut kepada Denny. Kemarahan mengusai Denny mendengar Dania tidak ditemukan. Hingga mengerahkan semua orang di rumah dan pihak polisi mencari keberadaan Dania.

__ADS_1


Proses drama pencarian Dania berlangsung berjam-jam, rekaman cctv tidak menunjukkan keberadaan Dania karena hanya terpasang di kamar tidur, ruang keluarga, ruang tamu dan dapur. Denny terduduk lesu dan prustasi tidak menemukan Dania. Akhirnya, terdengar suara tangisan Dania, semua mata tertuju pada sumber suara. Denny perlahan menarik langkah menuju sebuah ruang laundry . Manik hitamnya menyapu ruangan sambil terus mendekat dan terlihatlah Dania terbaring di dalam rak troli pakaian. Kelegaan pun terpancar disetiap wajah, melihat tubuh Dania kecil dalam gedongan Denny dengan selamat tanpa cedera.


Kemungkinan Dania masuk kedalam troli laundry saat pembantu merapikan pakaian ke lemari, tanpa sadar membawanya turut serta hingga ke ruang laundry. Kejadian itu terhindar dari pantauan cctv.


Tapi jangan berpikir kalau dia melakukan hal yang tidak terpuji karena mengambil kesempatan. Semua pekerja di rumah diberitahu jadwal On-Oof cctv. Jadi mereka harus ingat dan itu membuat mereka menjadi disiplin. Kalau mereka tidak displin maka mereka akan rugi sendiri disamping akan mendapat sanksi.


Pengawasan cctv terbagi empat, kamera di dalam rumah utama terhubung langsung dengan Denny. Bagian luar rumah keseluruhan terhubung dengan Iqbal, kantor pusat dan security di rumah. Rumah belakang untuk para pekerja wanita dan pria terhubung dengan kantor pusat security wanita dan security pria di perusahaan Denny.


Di rumah Denny.


Jesika terlihat sudah membersihkan tangan dan mengganti pakaian. Langkah kaki membawanya menuju ke luar kamar. Dia yang baru tiba di rumah itu dan juga dalam keadaan tidak sadar, tidak mengetahui di mana kamar Dania. Pandangannya mengamati pintu-pintu yang terdapat di lantai dua rumah. Semua pintu berukuran sama beserta warnanya. Sehingga dia keselitan mencari mana kamar Dania.


Hatinya hanya menduga-duga, langkahnya telah sampai di depan sebuah pintu. Perlahan mengangkat tangan, meraih handle pintu dan memutarnya.


Jesika menatap dari luar, ruang kamar sepi tidak menemukan siapapun di dalam. Tapi, langkah kaki membawa masuk seperti ada dorongan meminta. Tanpa ada perintah berhenti, tubuhnya terbawa semakin jauh ke dalam.


Ruangan kamar yang luas, dengan perabotan mewah tertata rapi berwarna-warni yang menarik dan bersih. Suasana ruangan menjadi ceria, dan hangat. Langkah kakinya terhenti di depan sebuah meja nakas di samping tempat tidur. Manik hitamnya mengamati sederetan foto yang terpajang di dinding. Foto-foto kebersamaan Denny dengan Dania.


“Ini pasti kamar Dania, tapi kemana semua orang? Mengapa mereka tidak ada di kamar ini?” Bisik batin Jesika menyimpulkan.


Seulas senyum menghiasi di bibir menatap kebersamaan satu persatu deretan foto di dinding. Tapi tatapannya terhenti pada satu foto, di dalamnya terlihat Denny menggendong Dania berdiri di samping seorang wanita tersenyum bahagia.

__ADS_1


“Wanita ini, bukankah dia yang mengaku tunangan Denny? Kalau dia tidak memiliki hubungan dekat, mengapa fotonya terpajang di kamar Denny?” Jesika mengenali wajah wanita yang ada di foto. Wanita yang datang bersama Denny dan Dania di negara J.


“Tuan Denny, sifat mu masih tetap sama memiliki sebuah hubungan tapi tidak ingin diketahui orang lain. Apakah wanita ini akan sama senasib denganku yang tidak disukai dan berstatus bayangan saja?” Jesika masih berbicara di dalam hati dan menatap sendu. Seketika perasaan sedih muncul dan kekecewaan terbit di dalam sana.


“Hei, perasaan apa ini, kenapa dadaku sakit? Apakah aku cemburu? Tidak-tidak, aku tidak boleh. Aku telah memilih pergi dari kehidupannya. Aku dan Denny memiliki jalan hidup masing-masing. Dia bersama wanita ini dan Hendrik selalu siap bersamaku,” Jesika masih berbicara di dalam batin.


Kamar lain di rumah Denny.


Sebuah kamar, dilengkapi rangkaian peralatan medis terdengar suara Dania sedang berbicara.


“Papa kapan pulang? Dania mau sama papa.” Lirih Dania menatap Denny pada sebuah layar tv lebar tergantung di dinding kamar.


“Iya sayang, papa akan segera pulang setelah pekerjaan papa selesai. Sementara paman Harun akan menemani Nia ya…?” Ucap Denny dengan suara berusaha kuat di hadapan Dania.


“Hem… papa janji ya, cepat pulang?” Balas Dania masih mengharapkan kehadiran Denny bersamanya.


“Iya papa janji. Kalau Nia capek, tidur ya jangan tunggu papa. Nanti saat Nia terbangun, papa udah ada bersama Nia. Oke?” Denny mengejap-ejap kedua manik hitamnya, menahan air mata yang sedari tadi ingin meluncur ke luar.


“Hemmm,” Nia merasa lelah tidak mampu berujar lebih banyak. Selang cairan merah terlihat terpasang di lengan mungilnya. Harun memberikan transfusi sebagai penambah daya tahan tubuh Dania.


“Udah ya sayang, cium papa untuk Nia “muah,” istirahat ya. Dahhh,” Denny tak sanggup berujar, ekor matanya menatap sosok wanita masuk ke ruangan.

__ADS_1


“Dahh, papa,” suara Dania terdengar lemah mengakhiri percakapan.


Langkah kaki Jesika baru masuk ke ruangan dan sekilas menatap wajah Denny di layar tv sebelum pembicaraan terputus.


__ADS_2