Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 122 Cerita Dania I


__ADS_3

Di rumah Denny.


Bik Surtik menatap layar tipis, panggilan tidak diangkat dari seberang. Manik hitamnya menatap wajah Jesika menunggu panggilan tersambung dengan Denny.


“Maaf nona, tuan Denny tidak mengangkat panggilan saya, mungkin dia sedang sibuk.” Bik Surtik mengangkat kedua bahu mengisyaratkan ketidak tahu tentang majikannya.


Jesika mengerutkan dahi, berpikir kesibukan apa yang dilakukan Denny di saat sepagi ini.


“Ya udah bik ngak pa-pa, nanti dicoba lagi,” Walau kecewa Jesika berusaha menutupi dengan seulas senyum di bibir.


“Baik non, sekarang lebih baik bersihkan badan non, setelah itu sarapan di ruang makan. Bibik juga mau mandiin non Nia, jadi biar nanti sama-sama bisa sarapan.” Bik Surtik mengambil Dania dari pangkuan Jesika dan membawanya dalam gendongan.


“Baiklah bik,” Jesika tidak banyak bicara, beranjak dari tempat tidur menuruti ucapan Bik Surtik. Dia juga merasa gerah dengan pakaian yang menempal sejak dia menginjakkan kaki kembali di kota J.


“Bibik tinggal non”, Bik Surtik melenggang membawa Dania dalam gendongan ke luar kamar.


“Tante cepat ya…, Nia mau sarapan sama tanteeee,” pekik Dania dengan wajah muncul dari balik tubuh Bik Surtik yang terus berjalan.


Jesika hanya mengacungkan jari jempol menyetujui keinginan Dania. Sambil meninggalkan kamar, tak lupa bik Surtik menutup pintu dengan rapat.


Langkah Jesika membawa ke dalam kamar mandi. Pandangan mengamati keadaan kamar mandi yang tidak begitu luas dan terkesan minimalis. Manik hitamnya menangkap kecerahan warna keramik berwarna kream-putih pada lantai dan dinding ruangan.


Perlahan kaki mendekati wastafel, mematutkan wajah di cermin. Manik hitam memperhatikan bayangan pantulan wajahnya sendiri yang terlihat sendu. Pikiran masih terikat kuat kepada Saka, sedang bayangan Denny juga terlintas. Masalah Saka memaksanya dekat kembali ke pada Denny. Dia tidak tahu rintangan di depan yang datang menyambutnya setelah menghilang selama sepuluh tahun.


Tangan Jesika meraih kran air di wastafel, membasuh wajah dengan kedua tangan. Berusaha menyegarkan wajah dan menghentikan pikiran keruhnya segera mulai aktivitas membersihkan tubuh.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, Jesika ke luar dari kamar berpenampilan rapi. Rambut di ikat kebelakang, menampakkan leher putih mulus yang jenjang berbalut blouse polos tanpa kerah berwarna pink dengan mengenakan bawahan rok vintage berwarna biru muda. Polesan wajah natural dengan warna bibir soft pink.


Langkah kaki membawanya menuruni anak tangga. Terdengar suara Dania di telinga Jesika, menarik dirinya mengikuti sumber suara di suatu ruangan.


“Hemmm, ngak mau, bibik jangan paksa Nia. Selama liburan, papa aja ngak kasih. Buktinya Nia sehat-sehat aja kok.” Suara Nia semakin jelas terdengar menolak pemberian dari Bik Surtik.


Jesika telah berada di ruang makan, manik hitamnya mengamati Bik Surtik sedang memberikan obat ke pada Dania.


“Kenapa Dania diberi obat, apa dia sakit? Tadi bersamaku, dia baik-baik aja?” Bisik batin Jesika.


“Nia sayang, nurut ya sama bibik. Biasakan obatnya dimakan, mungkin papa kelupaan. Nia ngak maukan papa sedih kalau Nia sampai sakit?”Bik Surtik berusaha membujuk Dania dengan suara memelas dan wajah sedihnya.


“Ehem,” Jesika sedikit bersuara memberitahu kehadiran dirinya di ruangan itu.


Kedua orang di ruangan itu pun melirik ke arah Jesika. Terlihat bibik masih dengan wajah sedih, berkebalikan dengan Dania mengulas senyum di bibir kecilnya dan segera beranjak dari kursi berlari menghampiri Jesika.


Jesika pun meraih tubuh kecil Dania dan membawa dalam gendongan. Menyambut wajah Dania dengan senyuman.


“Orang sakit harus minum obatkan supaya sehat. Saat Dania sakit tentu harus minum obat tapi kalau sehat tidak perlu minum obat,” Jesika berujar sambil memberi tekanan pada kalimat terakhir dengan melirik ke arah Bik Surtik.


Senyum tergaris di bibir bik Surtik mendengar ucapan dan tatapan Jesika. Dia tahu, Jesika sedang menasehatinya secara tidak langsung. Perkataan yang dia dengar bahkan menjadi doa baginya, berharap Dania seperti kata-kata yang diucapkan Jesika. Dia juga menaruh kasihan, karena Dania hidup tergantung dengan obat selama ini, mimpinya Dania cepat bebas dari semua rangkaian pengobatan yang harus dia terima setiap bulan.


“Nona, silahkan. Sarapan sudah siap. Biar Dania sama Bibik aja.” Bik Surtik menghampiri Jesika dan mengulurkan kedua tangan meminta Dania dari gendongannya.


Dania menggeleng-gelengkan kepala menatap wajah Jesika. Tatapan Jesika jatuh tepat ke dalam sepasang manik hitam jernih di hadapannya. Ragu mengartikan tatapan itu, seolah memohon perlindungan dan kasih sayang.

__ADS_1


“Biar Dania sama saya aja Bik. Sementara obatnya jangan dikasih.” Balas Jesika menghindar dari Bik Surtik. Menarik langkah mendekati meja makan, dan duduk di kursi dengan Dania dalam pangkuan.


Bik Surtik hanya bisa membuang nafas lemah, melihat Dania berhasil lepas dari minum obat. Dia memutuskan akan menjelaskan penyakit Dania kepada Jesika supaya tidak terjadi kesalah pahaman dan Dania tidak bisa menghindar dari memakan obat. Bik Surtik khawatir dengan penyakit Dania dan juga takut dengan kemarahan Denny kalau dia sampai lengah dengan tanggung jawab merawat Dania.


Jesika menikmati sarapan dengan bergantian menyuapi makanan ke mulut Dania. Bik Surtik pun harus tersenyum bahagia melihat keakraban terjalin diantara keduanya.


Drama sarapan pagi di ruang makan telah berakhir, selanjutnya Dania terlihat santai sedang bermain di ruang keluarga di temani Jesika. Sesekali Jesika melirik jam menempel di dinding dan beralih ke pintu ruangan tamu yang tidak begitu jauh dari ruang keluarga.


Tanpa disadari, Bik Surtik mengamati sikap Jesika. Bik Surtik yakin kalau Jesika menunggu kepulangan Denny. Dia sendiri juga tidak berani menghubungi kembali, karena kebiasaan Denny tidak suka diganggu kalau tidak ada hal yang benar-benar penting. Sedang Jesika hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih, dan menurut bik Surtik itu bisa di sampaikan saat Denny kembali nanti.


Bik Surtik berjalan menghampiri Jesika dan Dania dengan membawa nampan berikan kue bertemankan dua gelas jus jeruk.


“Silahkan non,” sapa bik Surtik dengan santun setelah meletakkan kue dan gelas jus di atas meja.


“Terima kasih bik,” balas Jesika melihat keramaham bik Surtik. Terbit keingin bertanya sesuatu yang tadi menggantung di kepala.


“Bik, mari duduk sini. Saya pingin tanya sesuatu,” Jesika menepukkan tangan di sofa kosong tepat di samping dia duduk.


Bik Surtik pun tanpa sungkan dan banyak tanya menuruti keinginan Jesika. Kesempatan juga baginya untuk bercerita.


“Bik, maaf kalau saya terlalu ingin tahu. Bibik jangan marah, karena saya mau mendengar alasan bibik memberi obat ke Dania, tapi saya lihat Dania tidak sakit hanya saja tubuhnya kurang berisi untuk anak kecil usia lima tahun seperti Dania. Apakah karena itu bibik memberi obat? Dan obat itu berupa vitamin bukan untuk kesembuhan penyakitkan?” Cecar Jesika langsung ke pokok masalah. Manik hitamnya mengamati Dania yang sedang asik bermain tidak seperti anak yang sedang sakit.


Pertanyaan Jesika tidak membuat bik Surtik marah, malah membuatnya sedih. Bayangan wajah Hanna dan Dania dari bayi hingga usia sekarang terurai jelas di kepala Bik Surtik. Tanpa terasa bulir bening jatuh mengalir di pipi Bik Surtik.


Jesika terkejut dan bingung melihat perubahan wajah wanita separuh baya di sampingnya. Jesika meraih tangan Bik Surtik dan mengelusnya perlahan berusaha menenangkan.

__ADS_1


Bik Surtik tersenyum mendapatkan sentuhan hangat tangan Jesika. Dia pun mengumpulkan kekuatan dan mulai bercerita dengan perlahan.


Setelah mendengar semua penuturan Bik Surtik, hati Jesika sangat sedih. Cairan bening mengalir deras di kedua manik hitamnya. Dia mengetahui, kalau Denny sangat menderita setelah kepergiannya, lalu kehidupan bahagia dengan Hanna yang tidak lama dan melahirkan Dania dengan penyakit yang diderita.


__ADS_2