
Mama Denny berada di dalam mobil, memutuskan pembicaraan di tepon. Amarah menggantung di hati, putra satu-satunya berbuat kesalahan yang fatal. Pak Jung melirik ke bangku belakang, terlihat tubuh mama Denny berguncang, air mata mengalir deras ke luar membasahi pipi.
“Kita ke pekuburan Pak Jung,” Mama Denny teringat suaminya, dia ingin berziarah ke makam Papa Denny.
Tanpa bertanya, Pak Jung mengalihkan stir mobil ke arah yang di minta.
Denny kembali ke perusahaan, setelah dia tenang dan Indah juga merasa baikan. Sampai di perusahaan Denny melakukan beberapa pertemuan yang tidak bisa dibatalkan. Pikirannya masih terganggu dengan ancaman Mamanya. Iqbal memperhatikan berubahan sikap Denny. Setelah selesai rapat, berdua mereka kembali ke ruangan kantor Denny.
Denny mendaratkan tubuhnya di kursi kerja dan menghembuskan nafas kasarnya. Iqbal berdiri di depan meja kerjanya.
“Bagaimana Indah, apa nyonya sudah bertindak?” Iqbal menghubungi Denny setelah mendapat telpon dari pengawal yang mengawasi di apartemen Denny. Mamanya datang bersama Pak Jung. Kedatangan mamanya pasti ingin bertemu Indah setelah Denny berangkat meninggalkan apartemen.
“Bal, apa kau sudah mendaftarkan pernikahan kami di Jakarta?” Sebelum peristiwa tidak terduga Dino, Denny sudah berencana menikahi Indah dan meminta Iqbal mengurus semua secepatnya. Dia ingin memastikan ucapan mamanya tidak benar, kalau pernikahannya belum terdaftar di Jakarta.
“Maaf Den, tidak kulakukan, kejadian kakak Indah sangat mendadak dan aku mengabaikannya sementara. Saat itu aku bertindak berdasarkan yang lebih mendesak, pilihannya setelah urusan kakak Indah beres, aku baru mengerjakannya.” Timbul was-was dalam hati Iqbal, mendengar pertanyaan Denny. Karena pernikahan Denny yang dilakukan secara mendadak, dia baru mengurusnya setelah mendapat kesempatan kembali ke Jakarta.
“Sekarang sudah kau lakukan belum?” Denny berdiri menatap Iqbal tajam. Emosinya semakin memuncak mendengar penjelasn Iqbal. Mamanya ternyata lebih cepat bertindak dari yang dia duga.
__ADS_1
“Iya sudahku lakukan, masih dalam proses dan hanya menunggu suratnya selesai,” Iqbal terhenyak mendengar suara keras Denny. Kali ini dia benar-benar dalam masalah melihat dari reaksi Denny.
“Kau kalah cepat Bal, Mamaku sudah melakukannya. Dia tidak ingin Indah terdaftar menjadi istri sahku secara hukum negara. Dia menggantung hak Indah Bal.” Denny terduduk lemah di kursi kerjanya. Semua usaha Iqbal sia-sia.
Mendengar ucapan Denny, Iqbal meraih ponsel dari saku bajunya. Terdengar berbicara dengan seseorang dari ujung ponselnya.
“Apa, hilang?” Wajah Iqbal terlihat kesal, dan memutuskan panggilan. Semua dokumen keterangan pernikahan hilang, dan tidak terdaftar. Iqbal tidak menduga Mama Denny bisa melakukan perbuatan sekejam itu pada anaknya. Dia tidak menyerah, kembali terdengar berbicara di ponsel, dengan seorang penghubungnya di kampung Indah.
Terlihat pemandangan yang hening, daun menari-nari tertiup angin. Sesekali angin memainkan ujung rambut wanita terduduk lemah di samping sebuah pusara.
“Mas, kau pasti membenciku dan anakmu juga lebih membenciku. Aku terpaksa melakukannya, aku bisa apa, Mas? Aku sudah terlanjur berjanji, kau tahu itukan? Aku terlihat kejam, karena mereka tidak tahu alasannya. Aku tidak perlu menjelaskan dan tidak peduli.” Mama Denny menyeka air mengalir di pipinya. Mengelus lembut batu nisan, menatap sendu dan mememdam duka.
“Bal, aku ingin membawa Indah pergi jauh, aku menyerahkan semuanya padamu,” Denny menghayunkan langkah, tapi kakinya terhenti Iqbal memegang tangannya.
“Kau mau kemana, apa yang kau katakan? Ingin pergi jauh? Kau masih waraskan? Itu bukan jalan keluar. Kau tidak bisa meninggalkan semuanya begitu saja.” Iqbal tidak ingin Denny berbuat ceroboh. Putusannya bukanlah suatu pilihan yang benar. Dia tidak bisa mengabaikan banyak orang yang membutuhkannya.
“Aku tidak peduli, aku hanya ingin bersama Indah,” Denny menepis tangan Iqbal. Pikirannya sekarang benar-benar buntu.
__ADS_1
“Kita bisa pikirkan jalan keluarnya sama-sama. Selama ini apa yang tidak bisa kita lalui bersama, hah? Iqbal tidak sanggup melihat Denny dalam keputus asaan.
“Tidak Bal, aku tidak tahu apa yang bisa mama lakukan sama Indah. Sebelum itu terjadi, aku harus membawanya pergi jauh.” Denny kembali ingin menghayunkan langkahnya, lagi-lagi Iqbal menarik tangan Denny.
“Den, sabar kataku, kau bukan hanya seorang suami yang harus melindungi dan bertanggung jawab pada Indah. Kau seorang pemimpin dari ratusan karyawan. Apa yang terjadi pada mereka kalau kau pergi, bagaimana keluarga mereka juga. Kau boleh berlaku egois, tapi pikirkan nasib mereka yang tidak bersalah.” Iqbal berusaha menyadarkan Denny, perbuatannya akan membuat banyak orang menderita.
“Bal, boleh tidak aku berlaku egois sedikit saja seperti katamu? Waktuku hanya sebulan bersama Indah, itu waktu yang diberikan Mamaku. Apa yang harusku lakukan, tolong katakan?” Denny menatap sahabat di hadapannya. Sahabat yang selalu membantunya dalam kesulitan. Tapi, kali ini apa dia mampu menolong Denny dari tekanan mamanya.
“Den, kau masih memiliki dua puluh Sembilan hari lagi. Selama waktu itu, aku akan mengusahakan pernikahanmu menjadi sah, percayalah?” Iqbal berusaha meyakinkan Denny. Dia akan melakukan apapun untuk Denny.
“Kau pikir, setelah itu mamaku akan berhenti? Dia tidak sebodoh itu, dia akan melakukan apapun juga untuk memisahkan kami, dia memintaku memilih salah satu, Indah atau dia yang tiada. Kedua-duanya wanita yang sangat aku cintai. Aku tidak sanggup untuk memilih diantara mereka berdua. Kehidupan apa ini, Denny Prasetyo seorang pemuda sukses dalam kariernya tapi hancur dalam percintaan. Aku pria sangat menyedihkan. “ Denny memeluk tubuh Iqbal, pandangannya kabur. Tubuhnya lemah, kepalanya tidak sanggup menahan beban, perlahan pandangannya menghitam. Denny jatuh lemah tidak sadarkan diri dalam pelukan Iqbal.
Indah menatap sedih, Denny terbaring lemah di ranjang. Iqbal membawanya ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dokter Harun sahabatnya juga datang membantu memeriksa kondisi Denny. Berdasarkan pemeriksaannya, Denny kelelahan dan juga dalam tekanan beban pikiran yang berat. Dia harus beristirahat dan dalam suasana gembira.
“Mas, apa yang membuatmu seperti ini? Mengapa kamu menanggung beban sendiri, tidak membaginya sama aku? Mas, kamu jangan sakit, aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Maafkan aku Mas, aku penyebab semua ini?” Indah berurai air mata, berkat-kata sendiri menatap Denny diam dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Ini memang semua karena kamu, Denny tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mengapa setelah bersama kamu dia bisa begini, itu karena kamu.” Mama Denny hadir di dalam ruang perawatan, berdiri memandang Indah dengan tatapan tajam penuh kebencian.
__ADS_1
“Nyonya, saya tidak pernah bermaksud…” perkataaan Indah terputus dengan ucapan Mama Denny.
“Saya tidak ingin mendengar alasan dari kamu. Saya sudah katakan dengan jelas, kamu tinggalkan Denny sebelum dia bertambah menderita. Saya tidak akan berlaku kejam sama kamu, saya akan mengirim kamu ke luar negeri dan menanggung semua kebutuhan hidupmu. Saya memberikan tawaran ini, kamu pikirkan dalam waktu sebulan. Lalu datang jumpai saya , dan keputusanmu harus meninggalkan Denny.” Mama Denny berbalik, lalu melangkah meninggalkan Indah.