Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 10


__ADS_3

“Pagi yang cerah.”


Regina menyeruput kopi panas yang baru saja diseduhnya. Matanya yang berbingkai kelopak hitam bak panda sudah mulai terbuka lebar. Sudah beberapa hari ia tidak berhubungan dengan dunia luar karena sibuk menyelidiki kasus pembunuhan sadis yang menewaskan satu keluarga, termasuk melakukan surveillance (pengintaian) terhadap sebuah rumah tua yang disinyalir memiliki kaitan erat dengan para pelaku. Untungnya, subuh tadi ia dan timnya berhasil menangkap dua orang pemuda yang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka kasus tersebut.


“Ngantuknya,” kata Regina sambil menguap. Ia mulai merasa terganggu dengan sesuatu yang menempel di sudut matanya dan mengambilnya dengan ujung jari tengah.


“Pulanglah sebentar. Mandi dan beristirahat dulu. Jangan tidur di sini. Ini kantor, bukan penginapan,” kata Iptu Nyoman, atasannya di Sat Reskrim, yang sedang mencari kopi karena mencium aroma kopi milik Regina.


“Kalau Bapak kasih saya libur, saya akan pulang. Tapi jika tidak, sebaiknya saya di sini saja,” jawab Regina sambil tersenyum.


“Sudah kubilang, carilah tempat kos atau rumah sewa di dekat sini. Untuk apa kau harus ngotot tinggal di luar kota?”


“Tolong Bapak sendiri yang bicara pada ibu saya.”


Iptu Nyoman hanya bisa diam menatapnya. Ia tidak memiliki kata-kata yang bagus untuk membalas ucapan bawahannya itu. “Tapi setidaknya kau harus mandi. Seandainya kau berdandan sedikit saja, mungkin kau bisa memenangkan kontes Putri Indonesia.”


Regina tertawa. Tapi pujian itu sama sekali tidak menumbuhkan niatnya untuk mandi atau sekadar membersihkan tubuhnya. Ia membiarkan atasannya itu melanjutkan pencarian kopi di dapur dan berjalan ke arah pintu luar. Langkahnya terhenti di depan layar televisi. Beberapa juniornya sedang serius menonton sebuah acara berita.


“Kabar seru apa yang terjadi beberapa hari ini?” tanyanya.


“Tentang si pengadu itu, Bu,” jawab Bripda Dion sambil menunjuk televisi. “Itu adalah pengacaranya. Dia jadi viral karena salah bicara di depan pers.”


“Si pengadu?” Regina penasaran dengan julukan itu. Ia segera berdiri di depan televisi dan bergabung dengan Bripda Dion. “Siapa dia?”


“Lho, Ibu tidak tahu, ya? Awalnya dia hanya dituduh sebagai kurir narkoba. Saat jumpa pers yang dilakukan oleh kepolisian setempat, dia mengadu telah disiksa selama penyidikan. Dia pikir dengan melakukan itu, dia bisa bebas. Ternyata beberapa waktu kemudian ia diduga terlibat kasus pembunuhan Mischa Radjasa, artis muda itu.”


“Kalau ia benar-benar disiksa, wajar saja ia mengadu. Tidak usah memberi gelar pengadu padanya hanya karena yang diadukannya adalah polisi,” tukas Regina. Ia kembali menatap televisi dengan perasaan menyesal karena tidak mengikuti kasus semenarik itu. Ia ingin tahu lebih banyak tentang si ‘pengadu’ itu. “Siapa namanya?”


“Abimanyu Alexander.”


Tiba-tiba Regina menjatuhkan cangkir kopinya sehingga mengejutkan orang-orang di ruangan itu. Matanya membelalak seperti sedang melihat monster yang menyeramkan. Setelah itu, terlihat tangannya gemetar dan dahinya berkeringat, membuat cemas rekan kerjanya yang melihat.


“Apa yang dilakukan bajingan itu?”

__ADS_1


* * *


Kantin Polresta masih terlihat sepi. Memang, belum waktunya jam makan siang. Hanya ada beberapa petugas yang sedang duduk santai sambil meminum soda bercampur susu. Terlihat mereka sedang membahas sesuatu yang serius, meski tidak terlalu penting.


“Aku tak menyangka jika si pengadu itu punya hubungan dengan bu Regina,” kata salah satu polisi dengan nama Koko di dadanya.


“Ngomong-ngomong tentang pengadu itu, aku teringat dengan cerita tentangnya dari temanku yang bertugas di polsek,” ujar polisi lain bernama Togar. “Sejak dulu dia memang selalu pamer pengetahuannya tentang undang-undang.”


“Apa yang terjadi?”


“Dia berselisih dengan seorang juru parkir. Jadi, dia sedang membawa penumpang dan penumpang itu meminta untuk mampir di sebuah minimarket. Dia menunggu penumpangnya di atas motor untuk beberapa waktu. Saat penumpangnya sudah selesai berbelanja dan mereka bersiap untuk pergi, juru parkir meminta uang parkir dan ia menolak. Dari situlah keributan terjadi. Bahkan, juru parkir itu hampir meninjunya.”


“Lalu, dia dipukul?”


“Tidak sempat. Kebetulan saat itu temanku lewat dan mencoba menengahi mereka. Kalian tahu apa yang dia bilang? Menurut undang-undang, parkir adalah keadaan di mana kendaraan berhenti dan ditinggalkan pengendaranya. Jadi, saat itu dia tidak sedang memarkirkan kendaraannya sehingga tidak wajib membayar uang parkir.”


Semua petugas yang mendengar cerita itu geleng-geleng kepala karena tak habis pikir, perihal uang seribu, seseorang berani menimbulkan keributan sampai membahas isi undang-undang.


“Saat masih di samsat, aku juga pernah melihatnya bertingkah,” sambung polisi lain yang bernama Richard. “Waktu itu dia sedang membayar pajak motor. Dia harus membayar denda atas pelanggarannya yang tertangkap kamera tilang elektronik atau STNK miliknya akan diblokir. Tapi dia menolaknya.”


“Pertama, dia mengaku tidak pernah menerima surat konfirmasi pelanggaran. Setelah diselidiki, memang surat tersebut tidak pernah sampai karena alamatnya yang tidak jelas. Kedua, pelanggarannya adalah melewati marka jalan di lampu lalu lintas. Tapi, dia menganggap itu bukan pelanggaran dengan alasan tidak ada garis batas di sana.”


“Lho, memangnya benar tidak ada?”


“Seharusnya ada, tapi sudah pudar sehingga tidak terlihat lagi. Bahkan karena hal itu, ia mengancam akan menuntut pemerintah dan instansi terkait karena lalai menyediakan fasilitas publik yang layak sehingga dapat mengancam keselamatan pengguna jalan.”


“Akhirnya?”


“Ini yang menarik. Dia tetap membayar denda itu, namun memasang wajah meremehkan ke seluruh polisi di sana. Anehnya, kami semua merasa rendah diri karena ekspresi itu.”


Kembali mereka geleng-geleng kepala.


“Kata temanku yang di polsek itu, dia sudah dikenal sebagai musuh para polisi. Jika mereka melihatnya di jalan, mereka akan berpura-pura tidak melihat karena tidak ingin menimbulkan masalah dengannya,” tambah Togar.

__ADS_1


“Dilihat dari tingkah lakunya, dia pasti sangat membenci polisi. Makanya, aku terkejut ketika ibu Regina memanggilnya …”


* * *


“Kenapa aku mengatakan hal bodoh itu?!”


Indira mengantuk-antukkan kepalanya ke jendela bus Trans Metro pelan. Ia mengingat kembali kejadian kemarin, ketika ia mengatakan hal bodoh di depan media. Sekarang kata-kata bodohnya itu sudah tersebar ke seluruh negeri ini. Seandainya bisa, ingin rasanya ia membenamkan wajahnya di ranjangnya selama beberapa hari. Namun, hari ini ia harus mendampingi kliennya dalam pemeriksaan.


Ini adalah hari pertama ia benar-benar menjalankan tugasnya sebagai pengacara Abimanyu Alexander. Ingatan akan kebodohan yang ia lakukan kemarin memang membuatnya stres. Tapi ia lebih memilih untuk memikirkan itu karena ia jauh lebih tertekan ketika mengingat statusnya sebagai penasihat hukum dari orang yang paling sering menjadi topik berita selama seminggu terakhir.


Bus Trans Metro berhenti di sebuah halte. Ini adalah halte tujuan Indira. Ia pun bergegas turun. Baru saja keluar dari kendaraan umum itu, ia sudah disambut oleh pemandangan yang membuat perasaannya semakin khawatir, yaitu kantor Polresta. Perutnya mulai terasa mulas.


Apakah tidak ada tanda-tanda meteor akan jatuh ke tempat itu?


Indira melihat ke langit beberapa puluh detik. Hanya langit biru berhias awan-awan putih. Tidak ada sesuatu yang berbeda. Berarti ia memang harus masuk ke gedung itu. Ia pun kembali melangkah lunglai menuju pintu masuk. Patung anak berpakaian polisi menyambut kedatangannya.


Ia bertemu dengan seorang polisi berwajah ramah. Setelah menyampaikan maksudnya dan menunjukkan surat kuasa dengan nama Abimanyu Alexander sebagai pemberi kuasa, polisi tersebut mengantarkannya ke ruang interogasi lalu memintanya untuk menunggu. Indira menurut dan duduk di depan ruangan yang dimaksud.


Beberapa saat kemudian, polisi ramah itu memberitahukan bahwa mobil tahanan yang membawa Abi baru saja tiba. Setelah mengucapkan terima kasih, Indira berdiri dan bersiap menyambut kliennya.


Di tengah penantiannya, ia dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang secara tiba-tiba berdiri di sebelahnya, seakan ikut menanti Abi bersamanya. Penampilannya bak seorang rocker dengan jaket kulit hitam membalut kaus putih sebagai atasan. Di bagian bawah, ia memakai ripped jeans dengan sobekan di bagian lutut serta workboots women warna senada dengan jaketnya. Semakin gahar karena kacamata hitam yang menghiasi wajahnya. Ia semakin sempurna dengan wajah cantik dan tubuh tinggi semampai. Indira yang berdiri di sebelahnya merasakan perbedaan bak bumi dan langit dengan wanita itu.


“Kamu pengacaranya Abi, ya? Perkenalkan, aku Regina,” kata wanita itu. Indira yang merasa perlu membalas perkenalan itu mengacungkan tangannya karena berpikir wanita tersebut ingin menyalaminya. Ternyata tidak.


“Benar, saya Indira.”


“Tolong urus si brengsek itu baik-baik.”


Belum lagi Indira selesai memahami maksud dari ucapan wanita itu, ia mendengar suara langkah dari ujung lorong. Seorang pria berpakaian serba jingga dengan tangan diborgol berjalan diiringi oleh beberapa polisi. Badannya tegap dengan bahu yang lebar dan tangan yang kekar. Matanya menyorot tajam ketika memandang ke depan. Bahkan posturnya lebih gagah dibanding para polisi yang mengawalnya.


Indira melambaikan tangan sebagai pemberitahuan atas kehadirannya. Namun, Abi tidak melihatnya. Kliennya itu justru menatap ke samping, ke arah Regina. Indira juga akhirnya menatap wanita rocker itu sambil bertanya-tanya tentang hubungannya dengan Abi.


“Kau mengenalnya?” tanya Indira tanpa suara, hanya gerakan bibir dan isyarat mata dan jari telunjuk yang mengarah pada Regina.

__ADS_1


Belum lagi Abi memahami isyarat yang diberikan oleh Indira, terjadilah sesuatu yang sangat mengejutkan, baik bagi Indira dan bagi para polisi yang mengawal, saat wanita itu berteriak ke arah Abi sambil melambaikan tangan dengan gaya centil.


“Suamiku!”


__ADS_2