
Jack tersenyum puas karena baru saja menerima bonus yang cukup besar dari kantornya untuk tayangan wawancara eksklusifnya hari ini. Ia juga menjanjikan sebuah rekaman istimewa yang tak kalah fenomenal. Meski saat ini ia sadar sedang dicari oleh orang-orangnya tuan Jireh, ia tidak peduli. Ia hanya ingin segera bertemu dengan putri bungsunya, Indira Christina.
Ia sudah hampir tiba. Kantor dan tempat tinggal Indira sudah terlihat. Senyum Jack semakin berkembang lebar ketika melihat putrinya baru saja keluar dari gedung itu. Ia melambai dan hendak memanggil. Namun, urung dilakukan karena ia menyadari ketakutan yang tergurat dari wajah Indira. Seperti sedang dikejar hantu.
Akhirnya, ia mengerti situasinya ketika melihat seorang pria dengan penampilan yang sangat kacau, keluar dari gedung itu juga beberapa detik setelah Indira keluar. Di tangannya tergenggam sebilah pisau.
Dengan sekuat tenaga, Jack berlari ke arah mereka. Di tengah jalan, ia mengambil sebongkah batu sebesar kepalan tangannya. Di sisi lain, Indira terkejut ketika melihat sosok seperti ayahnya sedang datang dengan cepat ke arahnya. Ia bahkan nyaris lupa dengan pria yang sedang mengejarnya di belakang.
Sosok itu mulai mendekatinya dan Indira sudah bisa memastikan kalau itu adalah sosok ayahnya. Pria itu ternyata bukan datang untuk menghampiri Indira. Ia melewati pengacara mungil itu dan malah menuju Jesse Arnold.
“Papa!” teriak Indira ketika melihat Jack yang langsung ditikam oleh Jesse dengan gerakannya yang masih lincah.
Jack mengerang kesakitan. Namun, ia memegang tangan Jesse Arnold yang digunakan untuk menikam perutnya. Jesse terkejut karena ia tidak bisa melepaskan genggaman itu.
“Brengsek! Beraninya kau mengganggu putri kecilku,” kata Jack yang suaranya sudah gemetar karena menahan sakit yang luar biasa.
Dengan segenap kekuatannya, ia menghantamkan batu yang ia pungut tadi ke kepala Jesse. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali hingga darah mengucur deras dari kepala pria mengerikan itu. Jesse Arnold akhirnya melepaskan genggaman pisaunya dan terjatuh ke tanah. Untuk terakhir kalinya, Jack mengangkat batu itu dengan kedua tangannya sebelum dilemparkan ke wajah Jesse Arnold sekencang-kencangnya.
“Papa!”
Indira segera memeluk papanya dari belakang, sambil menjadikan tubuhnya sebagai penopang tubuh sang ayah yang mulai oleng karena darah sudah cukup banyak keluar dari luka tusukan tersebut. Namun, Jack tidak sanggup lagi berdiri lama. Ia mendudukkan badannya dengan hati-hati sambil memegang pisau yang masih tertancap di bagian atas perutnya. Ternyata, masih terasa sakit. Indira menyadari hal itu dan menidurkan Jack dengan kepala berada di pangkuannya.
“In, Indira,” ucap Jack dengan suara yang sudah bergetar. Ia tersenyum saat tahu posisinya memungkinkannya untuk melihat wajah putrinya.
__ADS_1
“Iya, Papa,” sahut Indira dengan air mata yang berderai.
“Ka, kau tidak apa-apa?”
Tangis Indira semakin pecah. Ia tak menyangka, di tengah perjuangannya menahan rasa sakit, sang ayah masih mengkhawatirkannya. Memang, itu adalah tindakan wajar yang bisa dilakukan oleh setiap orang tua pada anaknya. Tapi, seumur hidupnya, Indira belum pernah benar-benar merasakan punya orang tua.
Ibunya meninggal saat ia masih kecil, sementara ia belum pernah menganggap Jack sebagai ayahnya. Wajar, ketika melihat pengorbanan besar yang telah dilakukan Jack padanya, ia merasakan gejolak yang sangat besar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia akhirnya melihat kasih sayang seorang ayah. Ia menyesali hari-harinya yang penuh kebencian pada pria itu.
“Jangan mati!” teriak Indira di tengah isak tangisnya. “Jangan mati dan jadilah papa kami. Aku akan membujuk Mbak Ratih untuk memaafkanmu. Kami akan memperlakukanmu seperti seorang ayah. Jadi, jangan mati sekarang!”
Jack tersenyum mendengar perkataan itu. Tangannya yang penuh darah berusaha keras untuk membelai pipi Indira. Pisau itu sepertinya mematahkan beberapa rusuk dan melukai paru-parunya. Indira baru saja menghubungi bantuan medis dan akan membutuhkan waktu yang cukup lama bagi tim medis untuk datang ke lokasi tersebut. Jack sadar kalau kondisinya saat ini sangat tidak baik. Ia tahu kalau nyawanya takkan tertolong lagi. Untuk itu, ia ingin menikmati masa-masa terakhir hidupnya dengan melihat wajah putri bungsunya itu.
“Ka, kau sangat mirip dengan ibumu,” katanya lirih.
“Jangan banyak bicara, agar tidak terasa semakin sakit,” ujar Indira sambil menggenggam tangan Jack yang sedang membelai pipinya.
Jack perlahan memejamkan matanya dan beberapa detik kemudian Indira merasakan tangan yang sedang ia genggam telah terkulai.
“PAPA!”
Regina dan Rinjani baru keluar dari kantor Indira sambil menahan sakit. Mereka sangat terkejut melihat Jesse Arnold sudah tergeletak dengan kepala penuh luka benturan. Tak kalah mengejutkan ketika melihat Indira yang menangis sambil memangku Jack Off the Record yang terbaring tak berdaya dengan pisau tertancap di dekat dadanya.
Mereka berjalan perlahan ke arah Indira sambil berusaha menenangkannya. Tak lama kemudian, terdengar suara sirine mobil polisi, disusul oleh ambulance. Para polisi berkomunikasi dengan Regina dan langsung mengurus Jesse Arnold yang belum diketahui apakah masih hidup atau tidak lagi, sementara Rinjani berdiskusi dengan tim medis untuk menjelaskan kondisi Jack yang sudah tiada dan meminta mereka untuk membiarkan Indira menghabiskan waktu sebentar lagi untuk bersama dengan ayahnya.
__ADS_1
*
Abi masih bersikap tenang meski belasan senjata api sedang mengarah padanya. Ia berusaha menutupi kekhawatiran jika rencananya akan gagal.
“Kesalahan terbesar yang kulakukan beberapa bulan terakhir adalah membiarkanmu beraksi terlalu jauh. Harusnya, aku mendengarkan perkataan asistenku sejak awal, yaitu menghabisimu. Tapi, aku akan menganggap semua yang terjadi selama ini adalah sebuah hiburan di masa tuaku. Meski kau membuat hubunganku dengan Indira berakhir menyebalkan, aku menikmati kejutan demi kejutan yang kau berikan,” ujar tuan Jireh.
Ia mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan langsung menembak. Abi yang tidak menduga tembakan tersebut harus menerima ‘sentuhan’ peluru ganas dari pistol tuan Jireh hingga ia tersungkur ke belakang batu.
“Jangan bergerak!”
Tanpa tuan Jireh duga, sebuah suara terdengar dari kejauhan. Ia menajamkan pandangannya dan terkejut ketika menyadari kehadiran satu pasukan dari kepolisian dari sumber suara tersebut.
Beberapa anak buahnya pun terkejut dan secara spontan menembakkan pistolnya ke arah pasukan itu.
“Bodoh! Jangan menembak!”
Sayangnya, perintah dari tuan Jireh itu terlambat. Baku tembak terlanjur terjadi. Melihat situasi sudah mulai kacau, tuan Jireh berlari menuju salah satu helikopternya. Ia pun berhasil meloloskan diri.
Baku tembak itu sendiri terjadi tak lama, hanya sekitar lima menit. Pihak kepolisian berhasil memenangkan pertempuran tersebut.
Seluruh anak buah tuan Jireh berhasil dilumpuhkan. Mereka segera diamankan oleh para polisi. Salah satu polisi yang terlihat lebih senior dari yang lainnya berjalan mendekati lokasi Abi tertembak.
“Hei, kamu Abimanyu Alexander, ya?” tanya polisi itu.
__ADS_1
“Eh, saya tidak -”
“Sudah, jujur saja. Saya polisi yang baik, kok,” kata polisi tersebut. “Perkenalkan, saya Iptu Nyoman, mantan atasan Regina. Kamu bisa percaya pada saya.”