
Suasana hening setelah bunyi tembakan menggema di seluruh ruangan. Darah mengucur deras, mengalir ke atas lantai. Rinjani tak bisa bersuara lagi. Matanya terbelalak seakan hendak keluar dari tempatnya.
“Ah, sial. Kemeja kesayanganku,” gerutu Jesse.
Ia melihat lengan kemejanya telah robek akibat diserempet oleh peluru. Darah yang mengucur juga berasal dari lengan itu. Ia melihat ke arah peluru itu datang. Ternyata Regina sudah mengacungkan pistol ke arahnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Regina pada Rinjani tanpa melepas tatapannya pada Jesse Arnold.
“Hancur. Sangat hancur,” jawab Rinjani. Ia pun langsung membungkuk karena rasa sakit di rusuknya datang lagi. “Kenapa kau datang?”
“Untuk melihat kehancuranmu.”
Tiba-tiba Regina melihat Jesse mengarahkan pistol padanya. Ia segera menghindar dan untungnya tembakan itu meleset. Regina terkejut karena Jesse menembak dengan menggunakan tangan yang baru ia lukai.
“Sepertinya rumor itu benar, bahwa ada seorang pembunuh bayaran yang seperti monster. Sudah banyak rekanku yang terluka karena hampir menangkapmu. Kau adalah pelaku banyak pembunuhan yang berkaitan dengan orang-orang penting di kota ini. Bahkan kami menjulukimu Pembunuh Tanpa Bayangan.”
“Ah, seperti tendangan tanpa bayangan milik Wong Fei Hung,” celoteh Rinjani di tengah kesakitannya
“Aku tidak tertarik dengan julukan. Aku hanya tertarik mencabut nyawa seseorang. Aku akan menjadikanmu korban berikutnya.”
Jesse kembali mengarahkan Berreta 71 Kaliber 22 kepada Regina dan menembakkannya. Regina kembali menghindar sambil membalas tembakan itu. Mereka pun terlibat baku tembak yang seru. Sedangkan Rinjani mencari tempat yang aman untuk menghindar dari hujan peluru.
“Argh!” teriak Regina. Ternyata salah satu peluru Jesse berhasil tertancap di punggung Regina dan tembus sampai bahu bagian kirinya. Darah segar pun mulai mengalir.
“Dari pistol yang kau gunakan, aku yakin kau yang membunuh Reynold Harris, bukan?” teriak Regina di tengah suara-suara tembakan.
__ADS_1
“Benar sekali,” jawab Jesse santai. Ia terus menembakkan pistolnya tanpa berusaha untuk bersembunyi. “Sayangnya, kau mengetahui pembunuhan yang kulakukan hanya dari pelurunya saja, Bagaimana dengan pembunuhan yang kulakukan tanpa senjata? Misalnya, saat aku membunuh tunanganmu.”
Jantung Regina mendadak berdetak kencang. Tiba-tiba bayangan Roy tertayang di pikirannya. Napasnya mendadak sesak dan pikirannya langsung kalut. Beberapa detik kemudian, air mata mulai mengalir di pipinya. Perasaan sedih tumpah ruah di sanubarinya, yang akhirnya berubah menjadi amarah yang menggila.
“Aku akan membunuhmu!”
Regina segera berdiri. Kini ia tak lagi bersembunyi dan memilih untuk saling berhadapan dengan Jesse Arnold, seorang penjahat yang sempat menjadi momok di satuannya. Rasa sakit akibat tembakan tadi sudah tidak dirasakannya lagi.
Mereka pun saling mengacungkan pistol. Pertama, Regina menembak dan menyerempet telinga kiri Jesse hingga berdarah. Lalu, Jesse balas menembak, yang sama sekali tidak membuat Regina lari. Ia hanya menggerakkan kepalanya hingga peluru itu hanya mengenai rambutnya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Indira keluar sambil berteriak dengan tangan menggenggam vas bunga kaca seperti hendak melemparkannya ke arah Jesse. Perhatian pria itu teralihkan dan dengan dinginnya Regina menembak ke arahnya. Kena di bahu kiri. Regina tidak berhenti. Ia kembali melesakkan tembakan-tembakan lainnya ke tubuh Jesse.
Ajaibnya, meski sempat goyah, pria itu tidak tumbang sama sekali. Ia masih berusaha untuk mengangkat pistolnya agar dapat menembak ke arah Indira. Melihat musuh mereka belum juga tumbang, bahkan hendak mencelakai Indira, Rinjani menahan rasa sakitnya dan langsung melompat ke arah Jesse sehingga tubuh mereka bertabrakan kencang. Mereka berdua akhirnya terjatuh dalam kondisi Rinjani menimpa tubuh Jesse.
Regina segera berlari ke arah mereka. Setelah mengamankan pistol dari tangan Jesse, ia melancarkan pukulan bertubi-tubi ke wajah pria itu hingga tak lagi menunjukkan kesadaran.
“Kalian butuh apa?” tanya Indira panik.
“Kau takkan bisa memberikannya,” kata Rinjani sambil merintih.
“Apa itu? Mungkin bisa kuusahakan.” Indira tak menyerah. Setelah mereka berdua terluka parah melindungi dirinya yang hanya bersembunyi di kolong tempat tidur, ia ingin setidaknya melakukan sesuatu yang berguna.
“Kecupan bibir Abi. Kalau bisa lebih dari itu, lebih baik,” jawab Rinjani yang langsung membuat air muka Indira berubah.
Regina menatapnya dengan jijik, namun beberapa detik kemudian tersenyum nakal. Ia mengacungkan kepalan tangannya yang dibalas dengan kepalan tangan juga oleh Rinjani. “Kalau itu, aku juga butuh.”
__ADS_1
“Kalian memang wanita-wanita yang menjijikkan.” Indira berdiri karena kesal.
“Sudah kubilang, ia menyukai Abi,” celoteh Rinjani.
“Memangnya, siapa yang wanita yang tak menyukainya?” balas Regina.
Saat mereka berpikir situasi sudah tenang dan takkan ada lagi bahaya yang mendatangi mereka, mata Jesse terbuka. Ia melihat Indira yang sedang tertawa karena digoda oleh Rinjani dan Regina.
*
“Kuakui, kau sangat cerdas,” kata Abi pada tuan Jireh. “Membangun pulau tersembunyi di tengah proyek pulau reklamasi yang kemungkinan besar akan mendapatkan banyak pertentangan.”
Tuan Jireh tersenyum. Ia semakin yakin kalau Abi telah mengetahui semua rencananya.
“Ini bukan rencanaku sepenuhnya. Ketika baru bergabung dengan Raja Pati, aku juga baru tahu kalau presiden saat itu, yaitu presiden Hemas, sedang membangun terowongan bawah laut yang akan menghubungkan dua pulau besar di negeri ini. Banyak yang berpikir kalau itu hanya proyek impian. Ternyata, proyek itu sudah berjalan.”
“Ya, aku melihat dokumennya saat menyusup ke kantor PT. Laras Jaya Karya. Proyek itu dikerjakan oleh salah satu perusahaan dari Jerman. Karena situasi tiba-tiba kacau dan Hemas diturunkan secara paksa dari jabatannya, proyek itu terhenti di tengah. Kebetulan yang sangat luar biasa, terowongan itu sudah mencapai lokasi rencana reklamasi pulau.
“Dengan sebuah visi yang besar, kau dan Louis Jithro Kurniawan membeli proyek itu dengan harga yang sangat murah. Visi itu semakin besar ketika kau berhasil menjadi pemimpin Raja Pati. Sayangnya, kau membutuhkan dukungan yang besar. Tidak, tidak cukup besar. Dukungan itu harus sangat besar. Baik itu dalam hal finansial maupun pengaruh.
“Seperti mendapatkan harta karun yang sangat berharga, kau mendapatkan sebuah rahasia besar, yang bahkan bisa mengguncang sejarah. Semasa pemerintahannya, Hemas mengumpulkan harta yang luar biasa banyaknya. Harta itu didapat dari perjanjian terselubung antara dirinya dengan perusahaan-perusahaan asing yang ingin mengeruk sumber daya negeri ini. Setelah Hemas akhirnya dilengserkan dan meninggal, harta itu tidak diketahui keberadaannya. Bahkan anak-anaknya sekalipun tidak mengetahuinya.
“Hanya ada satu orang yang mengetahuinya, dan ia dikabarkan sudah meninggal beberapa tahun sebelum Hemas turun tahta. Ia adalah istri Hemas, yang selalu dipanggil dengan sebutan ‘Nyonya’.”
Tuan Jireh tersenyum. Sekali lagi, ia harus mengakui kecerdasan lawannya. Bahkan, kali ini ia memberikan tepukan tangan untuk Abi.
__ADS_1
“Ceritakan lagi kelanjutannya. Sangat membantuku untuk bernostalgia.”