Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 18


__ADS_3

“Kakak Indira! Kakak Indira!”


Terdengar suara Rama memecah keheningan pagi. Indira yang terbangun karena suara cempreng itu mengintip dari balik jendela. Setelah memastikan siapa yang mengganggu tidurnya, ia membuka pintu kantornya. Tanpa dipersilakan terlebih dulu, Rama langsung masuk.


“Ada apa?”


“Rama mau minta help Kakak. Rama-” Pria itu menghentikan kalimatnya ketika menyadari ada yang aneh dari Indira. “Kakak baru selesai crying?”


Memang, mata Indira terlihat bengkak. Pakaiannya pun masih sama dengan yang ia kenakan saat ke pengadilan. Seperti tebakan Rama, ia memang menangis. Semalaman ia menangis hingga lupa pulang karena menyesali kebodohan yang telah dilakukannya di pengadilan.


“Kamu mau kopi?” Tanpa menunggu jawaban dari Rama, Indira langsung menuju ke teko kopinya lalu menyeduh kopi untuk dua gelas. Ia tidak mau membahas perihal tangisannya itu. Apalagi dengan orang seperti Rama. “Jadi, kamu mau minta tolong apa?”


Rama menerima secangkir kopi dari tangan Indira kemudian menyeruputnya dengan penuh nikmat. Ia pun sempat memuji minuman tersebut sebelum Indira mengulangi pertanyaannya. “Our Mom. Mama kami. Kakak tahu, kan, kalau mama Rama dan mama Bang Abi is the same person?”


“Iya, tahu. Kamu sudah mengatakannya ratusan kali.”


“Jadi, mama kami sekarang sedang ditahan di kantor polisi karena membakar rumah Totok. Kakak tahu Totok, kan? Bajingan yang menjadi saksi di pengadilan kemarin.”


“Bodoh! Kenapa kamu masih bisa bersantai-santai sekarang? Kita harus segera pergi!”


Indira segera meletakkan kopinya lalu berlari ke arah wastafel untuk mencuci mukanya. Ia pun segera menatap ke cermin dan merapikan penampilannya. Tak sempat lagi ia memakai riasan apapun. Ini adalah kondisi yang genting.


“Bukannya tadi Kakak sendiri yang menawarkanku kopi?” gerutu Rama.


Mereka pun keluar kantor. Indira sampai beberapa kali gagal mengunci pintu kantornya karena terburu-buru. Kemudian matanya menjelajah untuk mencari motor Rama yang unik itu. “Mana Belalang Tempur-mu?”


“I don’t know. Aku lupa memarkirkannya.”


“Hilang?”


“Just forget. Jika ingat, aku akan mengambilnya.”


“Bagaimana jika ada orang yang mengambilnya?”


“Never and never will,” kata Rama dengan penuh percaya diri. “Aku sudah beberapa kali lupa memarkirkannya dan tidak ada yang pernah mengambil Belalang Tempur. Itu karena aku memasang alarm super sehingga jika ada yang mencoba mencurinya, akan terjadi keributan sampai radius satu kilometer.”


Indira hanya bisa menatap aneh Rama yang masih cengengesan. “Lalu, kita naik apa sekarang?”


“By that car,” kata Rama sambil menunjuk sebuah mobil mini berwarna biru.

__ADS_1


“Kamu merentalnya? Sudah punya uang untuk merental mobil?”


“Tidak. Ini punya pacar Rama.”


Indira bengong sejenak. Namun ia hanya bisa diam sambil berjalan ke mobil tersebut karena sudah lelah dengan jawaban-jawaban Rama yang selalu terdengar ajaib.


Sepanjang perjalanan, Indira mendengar kronologi pembakaran rumah yang dilakukan oleh ibu dari Abi dan Rama. Dengan penuh semangat, Rama menceritakan secara detail, meski ia tidak berada di lokasi kejadian saat itu. Menurutnya, ia tak perlu melihat untuk mengetahui apa saja yang dilakukan oleh ibunya karena ia sangat mengenal wanita yang sering dipanggil Tante Jenny itu. Dan ia sama sekali tidak menyalahkan ibunya, melainkan menimpakan semua dosa itu pada Totok. Pria itulah penyebab kegilaan yang dilakukan ibunya itu.


“Seperti apa sifat ibu kalian?” tanya Indira setelah merasa sudah mengetahui banyak kronologi kejadian dari Rama.


“Mama kami adalah orang gila. Bahkan bagi warga Batavia Baru yang isinya orang-orang aneh, ibuku adalah orang paling gila yang pernah mereka temui.”


Indira mengangkat alis seakan merasa Rama menghiperbola ibunya. "Segila apa?”


“Suatu waktu ia membahayakan dirinya untuk menyelamatkan orang yang baru dikenalnya, tapi di lain waktu ia akan membahayakan dirinya untuk membunuh orang yang sudah lama dikenalnya.”


Indira masih penasaran. Informasi yang diberikan oleh Rama belum cukup detail untuk menggambarkan seperti apa Tante Jenny itu.


“Lebih gila dari Abi?”


“Mereka sama-sama gila, tapi dengan jalannya masing-masing. Bang Abi menggila dengan diam dan mengandalkan hukum, sedangkan mama kami menggila secara terang-terangan dan seringkali tanpa berpikir panjang,” terang Rama. “Ketika pertama kali datang ke Batavia Baru, ia sempat membuat seluruh kafe sepi. Ia sempat dimusuhi, namun pada akhirnya semua orang tahu, karena dia, Batavia Baru masih ada.”


“Bagaimana bisa?”


“Itu bukan kegilaan, itu adalah hal positif.”


“Sudah kubilang, ia akan membahayakan dirinya untuk menyelamatkan orang. Ia mengancam akan mengekspos identitas para pria hidung belang yang tidak mau menggunakan alat kontrasepsi. Padahal sebagian dari mereka adalah para pejabat. Hampir setiap hari ia diteror, baik dari warga atau dari pejabat.”


“Ohhh,” kata Indira sambil mengangguk. Ekspresinya datar seakan tidak terkesan dengan cerita Rama.


Rama seakan tak terima dengan respons biasa yang diberikan oleh Indira. “Ia mel*cur dengan seorang pelanggan yang diketahui sebagai penderita HIV menggunakan alat kontrasepsi untuk membuktikan kalau benda itu mampu mengurangi resiko penularan HIV. Untungnya, ia selamat sampai sekarang.”


Kali ini Indira melongo sebagai bukti pengakuannya atas kegilaan Tante Jenny. Rama tersenyum puas, seolah lupa kalau ia baru saja menceritakan salah satu aib dari ibu kandungnya sendiri.


Mobil mereka telah tiba di polsek Talang Angin. Indira dan Rama turun dari mobil mini itu. Mereka segera bergegas untuk menemui polisi yang sedang berjaga.


“Jenny? Tidak ada nama itu di sini,” kata polisi jaga saat Indira menyebut nama ibu dari Abi dan Rama.


“Tirzha Dayani, Pak. Itu nama aslinya," ralat Rama yang langsung dipahami oleh polisi tersebut.

__ADS_1


“Oh, pelaku pembakaran itu, ya? Kalian siapanya?”


“Saya pengacara bu Tirzha dan dia adalah putra beliau.”


“Maaf, tapi bu Tirzha belum bisa ditemui.”


“Kenapa? Apakah beliau masih diperiksa? Beliau harus didampingi oleh pengacaranya selama pemeriksaan.”


Polisi jaga itu menatap mereka sambil berpikir. Jari tangannya mengetuk-ngetuk meja seakan sedang mencoba mengambil keputusan sulit. Kemudian, ia menelepon seseorang dan berbicara dengan wajah yang lebih serius. Hal ini membuat Indira dan Rama khawatir.


“Baik, sebentar lagi bu Tirzha akan dibawa ke sini. Mohon ditunggu sejenak.”


Indira dan Rama mulai sedikit tenang setelah sang polisi mengatakannya. Setidaknya, mereka tahu kalau kedatangan mereka tidak akan sia-sia.


“Pokoknya, Kakak lihat saja sendiri seperti apa mama kami. Dia adalah wanita kuat dan tangguh. Dia juga pintar, seperti bang Abi. Kakak pasti tidak akan kesulitan membelanya,” kata Rama yang membuat Indira mengangguk-angguk.


Tiba-tiba terdengar suara langkah memenuhi lorong yang ada di dekat mereka. Indira dan Rama mengintip ke arah lorong tersebut. Terlihat siluet dua orang sedang berjalan menuju arah mereka. Rama tersenyum karena mengenal salah satu siluet itu. Tak salah lagi, itu adalah ibunya. Ia segera berdiri dan bersiap menyambut wanita yang selalu dibanggakannya tersebut.


Namun, senyum itu memudar ketika sosok tante Jenny mulai terjamah oleh sinar matahari dari pintu masuk. Wajahnya penuh luka dan lebam. Ia hanya tertunduk seakan tidak ingin anaknya melihat kondisinya yang menyedihkan itu.


“Mama!” teriak Rama seraya berlari memeluk ibunya. “Lagi-lagi kalian lakukan ini. Lagi-lagi! Sebelumnya abangku, sekarang mamaku!”


Indira langsung menatap si polisi jaga dan mengacungkan telunjuknya. “Apa yang kalian lakukan? Kalian pasti tahu kalau ini salah. Kalian bisa dituntut karena melakukan kekerasan pada klien saya.”


Polisi itu hanya diam, namun sebuah suara dari arah lain menjawab ancaman dari Indira. Itu adalah suara dari polisi yang membawa tante Jenny dari sel tahanan. Tubuhnya tegap dengan brewok di wajahnya. Di pipi kirinya ada bekas luka bakar, menambah keangkeran di wajahnya. Ia mengenakan jaket dan celana yang terbuat dari bahan jeans dengan kaos abu-abu polos. Semuanya terlihat lusuh. Kakinya terbungkus sepatu boot hitam yang sudah penuh dengan goresan. Daripada polisi, ia terlihat seperti preman.


“Kalian tidak bisa menuntut kami. Ibu ini yang lebih dulu menyerang kami dan tidak menunjukkan sikap kooperatif. Jika tidak percaya, kami bisa menunjukkan rekaman dari kamera pengawas.”


“Tetap saja kalian tidak boleh menghajarnya sampai seperti ini. Kalian -”


Ucapan Indira terhenti saat polisi menyeramkan itu mendekatkan wajahnya ke telinga Indira lalu berbisik, “Aku tahu kau pengacara kikuk yang membela Abimanyu Alexander. Aku hanya ingin memberi saran bijak padamu, jangan pernah melawan polisi seperti yang pernah klienmu lakukan. Kau harus menghargai nyawamu.”


Indira terdiam. Ia tidak tahu, apakah ancaman itu atau nama Abimanyu Alexander yang membuatnya terdiam. Ia hanya bisa melihat Rama yang masih menangis sambil memeluk ibunya.


“Abi takkan membiarkan ini. Ia pasti akan menghancurkan kalian,” kata Indira. Setidaknya ia harus sedikit membela kliennya.


Namun, polisi itu tidak terpengaruh. Ia justru melanjutkan terornya pada Indira. Ia kembali berbisik dengan suara seraknya, “Siang ini aku akan menemuinya. Aku sudah tak sabar melihat wajahnya saat mendengar apa yang terjadi dengan ibunya. Mau titip salam?”


Mulut Indira kembali terkunci. Kenapa pria itu mau menemui Abi? Apakah ia punya hubungan dengan Abi? Otak Indira tidak bisa memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Ia hanya membayangkan betapa hancurnya perasaan Abi jika tahu ibunya dihajar oleh polisi.

__ADS_1


“Siapa kamu sebenarnya?”


Polisi itu hendak pergi, namun langkahnya terhenti karena pertanyaan Indira. Ia pun berbalik lalu melemparkan senyuman sambil berkata, “Aku? Bisa dibilang aku adalah teman lama klienmu, Abimanyu Alexander.”


__ADS_2