Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 115


__ADS_3

Keesokan harinya


Indira sedang sibuk menyusun dokumen, ketika seorang pria tua berwajah ramah membuka pintu ruangannya dan tersenyum. Akhir-akhir ini mereka memang sering bertemu dan meski kantor hukum itu bukan miliknya, pak Burhan seperti punya akses bebas untuk keluar masuk kantor tanpa harus permisi terlebih dulu pada siapapun.


“Nanti ada rencana makan siang?” tanya pak Burhan.


“Tidak ada, Pak. Mau makan siang bersama?” Indira balas bertanya yang dijawab dengan anggukan kecil dari pria tua itu.


Seandainya usia pak Burhan lebih muda lagi dan pemilik kantor hukum itu tidak menjelaskan hubungan antara dirinya dengan Indira, mungkin pegawai yang lain akan berpikir mereka adalah sepasang kekasih. Mereka memang sangat dekat. Bahkan, akan timbul pertanyaan dari rekan Indira jika dalam satu hari, pak Burhan tidak menunjukkan batang hidungnya di kantor.


Indira sedang sibuk merapikan mejanya, sementara pak Burhan duduk di ruang tunggu, berbincang dengan salah satu juniornya yang juga pemilik kantor itu. Mereka sedang membicarakan tentang reuni akbar kampus mereka yang akan segera dilaksanakan dua minggu lagi.


“Kau sudah tahu kalau Indira juga satu almamater dengan kita, kan?” tanya pak Burhan.


“Tentu saja. Aku sudah memberikannya undangan. Sayangnya, ia terlihat tidak terlalu tertarik. Mungkin kau bisa membujuknya agar ikut.”


Pak Burhan mengerti kenapa Indira enggan untuk ikut. Pertama, dulu Indira sering dikucilkan oleh teman-temannya karena tidak menonjol dalam segala hal, namun mendapatkan perlakukan khusus darinya yang merupakan dosen favorit. Kedua, tentu alumni kampus itu sudah banyak yang bekerja di bidang hukum, terutama sebagai advokat. Mengingat kelakuannya beberapa bulan yang lalu, sangat wajar jika Indira merasa akan banyak orang yang membencinya di reuni tersebut.


Tiba-tiba, mata mereka teralihkan oleh siaran yang sedang ditayangkan di televisi. Sebuah wawancara mega eksklusif yang akan menggemparkan negeri ini sedang diiklankan. Jack Off the Record, yang meski menyebalkan, diakui sebagai legenda hidup dunia jurnalistik nasional, akan mewawancarai seseorang yang sudah punya pengalaman berkali-kali menggemparkan negeri ini. Seseorang yang seharusnya sedang mendekam di penjara dengan pengamanan yang ketat dan tak boleh diwawancarai oleh media dari manapun. Seseorang yang sampai akhir kabarnya masih berada di posisi yang ambigu antara jahat atau baik. Seseorang yang bernama Abimanyu Alexander.


“Pemirsa, kabar mengejutkan datang dari pria fenomenal yang pernah mendapat julukan si Jenius Hukum, Abimanyu Alexander. Seperti yang telah kita ketahui, saat ini Abimanyu Alexander sedang menjalani hukuman penjara di pulau Begeblug, yang mana dikenal sebagai salah satu penjara paling ketat di negeri ini. Namun, jurnalis kami yang bernama Jaka Pradipta Wijaya, atau yang dikenal dengan julukan Jack Off the Record, berhasil melakukan wawancara eksklusif dengan Abimanyu Alexander. Sayangnya, berdasarkan perjanjian yang telah mereka lakukan, jurnalis kami tidak bisa memberitahukan baik lokasi wawancara maupun lokasi Abimanyu Alexander saat ini. Wawancara ini akan ditayangkan pada pukul 15.00 nanti. Jangan lewatkan!”


Pak Burhan terpaku, seakan pikirannya sedang lumpuh saat ini. Rekannya sampai mengguncang tubuhnya, namun ia tak memberikan reaksi apapun. Kesadarannya baru kembali ketika ia melihat Indira juga sedang terpaku di depan televisi. Pak Burhan merasa wajar jika Indira terkejut, karena ia melihat ayah dan mantan kliennya akan tampil satu layar tanpa sepengetahuannya.


Pak Burhan kembali melihat ke arah televisi dan ternyata masih ada wajah Jack Off the Record dan Abimanyu Alexander di preview wawancara yang akan diadakan tiga jam lagi. Ia juga melihat ke sekelilingnya. Para karyawan juga sedang sibuk membahas wawancara itu, yang mereka ketahui dari ponsel mereka masing-masing.


“Pak, sepertinya aku tidak bisa makan siang dengan Bapak sekarang. Aku harus mencari pria itu,” kata Indira sambil menunjuk ke layar televisi. “Maksudnya, ayahku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan pria yang satunya.”

__ADS_1


“Perlu Bapak temani?”


“Sebaiknya tidak. Aku hanya akan menemuinya dan berusaha untuk menghentikan acara bedebah itu.”


Indira melangkahkan kakinya keluar kantor dengan wajah kesal bercampur sedih. Pak Burhan mengirim perintah melalui pesan teks pada asistennya, Jesse Arnold, agar mengutus salah satu anak buahnya untuk mengikuti Indira.


Bajingan itu, apa lagi yang akan dilakukannya sekarang?


                  *


Kembali ke sehari sebelumnya


Abi duduk menghadap ke arah kamera. Di sampingnya sudah ada Jack Off the Record dengan selembar kertas di tangannya. Jack memberikan arahan agar Abi duduk agak menyerong ke arahnya sehingga mereka benar-benar terlihat seperti sedang wawancara.


“Kau yakin tidak menayangkannya secara langsung? Tensinya akan semakin tinggi, seperti nilai eksklusivitasnya. Tenang saja, tempat ini sangat aman dan tidak akan ada yang bisa melacaknya.”


“Kata orang, concealer bisa membantu menutupi bintik hitam dan menonjolkan area wajah tertentu. Aku sudah mencobanya dan ternyata benar. Tutup matamu, akan kupakaikan ke wajahmu. Kamu harus terlihat tampan.”


“Apakah maskara ini tidak cukup berlebihan? Aku takut akan terlihat cantik nanti,” kata Abi yang meski menolak, tetap menutup matanya.


“Kenapa kau tidak melakukannya pada papa?”


Wanita itu, yang tidak lain adalah Indira, menatapnya dengan sinis lalu membuang muka. “Kau urus saja dirimu sendiri.”


Jack hanya bisa terkekeh-kekeh. Ia sama sekali tidak sakit hati dengan sikap putri bungsunya itu. Ia justru memikirkan perkataan Abi. Benar, jika wawancara ini langsung disiarkan, tuan Jireh akan tahu kalau Indira terlibat. Indira harus berada di bawah pengawasan tuan Jireh ketika wawancara ini disiarkan.


“Kau sudah siap?” tanya Jack ketika Indira sudah selesai meriasnya.

__ADS_1


“Sudah,” jawab Abi sambil memperbaiki posisi duduknya.


Kemudian, Jack memberikan aba-aba dan Indira menekan tombol memulai rekaman.


“Selamat siang menjelang sore, Pemirsa di seluruh tanah air. Saya Jaka Pradipta Wijaya atau Jack Off the Record menyajikan pada Anda, sebuah wawancara eksklusif, bahkan mega eksklusif. Wawancara yang bahkan sangat tidak mungkin dilakukan saat ini, oleh seseorang yang sempat mengguncang dunia hukum dan seluruh media nasional dengan aksinya sejak hari pertama ia ditetapkan sebagai tersangka sampai pelariannya dari lapas Maharaja dua bulan yang lalu.”


Indira menatap Jack dengan terpesona. Baru kali ini ia menyadari kalau ayahnya adalah seorang jurnalis yang hebat.


“Mari kita sambut, Abimanyu Alexander.”


Kini Indira memberikan senyum lebarnya pada Abi dengan tepuk tangan pelan. Wajahnya terlihat sangat antusias seolah hendak memberikan semangat pada bekas kliennya tersebut.


“Apa kabar?” tanya Jack sambil menyodorkan tangannya.


“Luar biasa.”


“Untuk memperjelas saja, apakah benar saat ini kita tidak sedang di pulau Begeblug?”


“Ya, tentu saja. Aku sudah melarikan diri dari pulau itu dengan susah payah.”


“Satu lagi yang saya ingin Anda jelaskan pada pemirsa di seluruh tanah air, apakah benar Anda yang mendatangi saya untuk melakukan wawancara ini?”


“Benar sekali.”


“Melihat betapa kerasnya usaha Anda untuk menemui saya, pasti yang ingin Anda sampaikan sangat penting. Kalau boleh tahu, apa garis besarnya?”


Abi menunduk sambil menghela napas panjang. Kemudian, ia melihat ke arah kamera dengan tatapan tajam dan berkata, “Sebuah pledoi.”

__ADS_1


__ADS_2