Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 85


__ADS_3

Abi menatap ke sekeliling ruangan. Lalu, tatapannya beralih ke wajah tiga orang pria berjas hitam dan dengan dasi berwarna senada yang sedari tadi menatapnya dengan serius karena sedang menanti jawaban. Mereka adalah para pengacara yang menawarkan bantuan menggantikan Indira untuk membela kasus Abi. Ia tidak asing dengan situasi ini, saat pengacara yang tak dikenalnya datang tanpa undangan untuk menawarkan bantuan yang tidak pernah ia minta.


“Heart of Justice? Bukankah itu nama yang norak untuk bidang pekerjaan yang serius seperti advokat dan konsultan hukum?” tanya Abi tidak bermaksud untuk mendapatkan jawaban, hanya ingin mengejek.


“Sebaiknya kita fokus pada penawaran yang telah kami ajukan tadi, Tuan,” kata pengacara berambut tipis nyaris botak, seakan menolak untuk menanggapi perbincangan kosong dari Abi.


Abi sendiri sebenarnya tidak berniat untuk bercanda dengan mereka, terutama karena wajah serius mereka yang terlihat sedang menyimpan beban hidup yang cukup berat sehingga telah kehilangan selera humor.


“Baiklah, kita fokus.” Abi meluruskan duduknya dan berlagak serius. “Aku akan mempertimbangkan penawaran kalian jika kalian bisa menjelaskan kenapa Indira Christina harus diganti dan kenapa kalian merasa kalian harus menjadi pengacara saya?”


Pengacara yang duduk di tengah, yang satu-satunya mengenakan kacamata, meletakkan kedua lengannya ke atas meja sebagai penopang tubuhnya yang mulai condong ke depan. Ia pun berkata, “Kami sudah tahu kondisinya, Tuan. Kami telah mengkonfirmasi sendiri pimpinan IKAKUM terkait pemecatan advokat atas nama Indira Christina. Dengan kata lain, pengacara Indira Christina tidak bisa lagi mendampingi Tuan dalam persidangan selanjutnya.”


“Lalu? Bukan berarti kalian bisa datang ke tempat ini lalu mengklaim bahwa kalian akan menggantikan pengacara lamaku tanpa menanyakan pendapatku, apalagi meminta persetujuan dariku,” ujar Abi, sengaja dengan nada tinggi dengan tujuan mengintimidasi. “Lagipula, aku tidak mengenal kalian, tidak tahu sejauh apa kemampuan kalian. Jangan-jangan kalian kiriman dari lawanku yang memiliki tujuan untuk membuatku kalah.”


“Maaf, Tuan. Kami ingin membela Tuan karena -”


“Jangan panggil Tuan. Aku trauma dengan sebutan itu karena seorang ‘tuan’ selalu mengusik hidupku beberapa bulan terakhir,” potong Abi yang tidak bisa lagi menutupi kekesalan di wajahnya.


“Baiklah, eh, Saudara. Kami bersikap seperti ini bukan tanpa alasan,” kata pengacara berkacamata. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya lalu menunjukkannya pada Abi. Seseorang telah mempekerjakan kami untuk membela Tuan. Eh, maksud saya, Saudara.”


Abi memperhatikan kertas-kertas yang diberikan oleh pengacara itu dengan seksama. Ia membaca sebuah nama yang tertera di sana. Nama itu asing baginya, tapi entah kenapa terasa dekat.


“Siapa Andika Alexander? Aku bahkan tidak pernah mendengarnya,” ujar Abi sambil menyerahkan dokumen tersebut.


“Beliau mengatakan kalau beliau adalah ayah kandung Tuan, eh, maksudnya, Saudara.”

__ADS_1


Bagai disambar petir di siang bolong, ia terkejut ketika mengetahui seseorang mengaku sebagai ayah kandungnya. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar hal seperti itu. Sebenarnya sudah beberapa kali. Tapi kali ini sangat meyakinkan dan yang mengatakannya bukan pria yang sedang menjalin hubungan serius pada ibunya, seperti yang terjadi dulu.


Apalagi nama belakangnya sama dengan nama belakang Abi.


                  *


Pikiran Abi masih mengembara entah ke mana. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding dan tidak memedulikan perbincangan seru di antara rekan satu selnya. Bukan karena sudah banyak rekan selnya yang lama, yang ia tinggalkan sebelum masuk rumah sakit, sudah tidak di sana lagi (ada yang bebas, tapi kebanyakan sudah mendapat vonis dan dipindahkan ke lapas). Ia masih memikirkan perihal ayah kandung yang diungkapkan oleh para pengacara itu.


“Andika Alexander,” gumamnya pelan, namun terdengar oleh salah satu tahanan.


“Apa?” tanya tahanan itu.


“Tidak, aku hanya menyebutkan sebuah nama.”


“Andika, kan? Aku Andika.”


“Katakan pada ibumu kalau nama Andika itu tidak bagus,” kata Abi asal.


“Tapi itu pemberian nenekku.”


“Ya sudah, katakan pada nenekmu nanti, kalau kau sudah bebas.”


“Tapi, nenekku sudah meninggal saat aku masih kecil.”


“Pantas saja.”

__ADS_1


Mata tahanan bernama Andika itu mendadak berair dan sebentar lagi ia akan menangis. Para penghuni sel lainnya, yang hanya mendengar nama Abi dari pemberitaan media dan mendapatkan gambaran bahwa pria itu adalah sosok menyeramkan yang berhasil memporakporandakan kepolisian di negeri ini, hanya bisa mendekati Andika dan berusaha untuk menenangkannya.


Tejo, satu-satunya tahanan lama di sel itu yang sudah mengenal Abi, bingung melihat rekannya itu bertindak aneh. Abi memang aneh, tapi biasanya keanehannya itu menggambarkan kecerdasannya, bukan seperti sekarang ini.


“Ada apa denganmu, Bos?” tanya Tejo seraya mendekati Abi yang kembali duduk termenung sambil menyandarkan kepalanya ke dinding.


“Entahlah, aku bingung,” jawab Abi sekenanya.


“Kasusmu semakin rumit, ya?”


“Kasusku memang sudah rumit dari awal. Aku bersyukur untuk itu, sebab aku bisa terkenal karena kasusku sangat rumit,” celoteh Abi, lagi-lagi keanehan yang tidak menunjukkan kecerdasan.


“Pasti kau sedang mengalami masalah yang berat. Ceritakan saja, itulah gunanya teman.” Tejo masih berusaha membantu Abi keluar dari kondisi aneh itu.


“Ya, itulah gunanya teman. Memang, teman lebih berguna daripada ayah kandung. Itulah kenapa selama ini aku punya banyak teman tapi tidak punya ayah kandung. Ah, ternyata temanku tidak banyak.”


Tejo mengernyitkan dahinya. Ia berpikir Abi baru saja kehilangan seorang teman.


Kemudian, sebuah berita menarik perhatian mereka. Berita sama yang ditonton oleh Indira di episode sebelumnya.


“Berita terkini. Beberapa waktu yang lalu, tersiar kabar tentang pemecatan Indira Christina dari profesinya sebagai advokat oleh Ikatan Advokat dan Konsultan Hukum, atau yang lebih dikenal dengan IKAKUM. Seperti yang telah diketahui, Indira Christina merupakan seorang pengacara yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan setelah menjadi pengacara dari seorang terpidana yang sedang viral, Abimanyu Alexander. Terkait pemecatan tersebut, firma hukum Heart of Justice menawarkan bantuan hukum pada Abimanyu Alexander. Dengan kata lain, mereka menawarkan diri untuk menggantikan peran Indira Christina sebagai penasehat hukum dari pria yang dituduh membunuh artis Mischa dan menjadi kurir narkoba tersebut.”


Tejo melihat ke arah Abi dan akhirnya mengerti alasan kekacauan yang terjadi pada pria itu. Pasti karena ia kehilangan pengacara wanita itu.


“Sabar, Bos. Kau tak perlu sedih. Kau mendapatkan pengacara yang lebih baik dari pengacara wanita itu. Heart of Justice adalah firma hukum yang terkenal. Ia mempunyai banyak pengacara hebat yang akan menolongmu memenangkan kasusmu yang rumit itu.”

__ADS_1


Abi menatap Tejo tajam, seakan hendak menerkamnya. Tejo merasa ngeri dengan tatapan itu dan berusaha introspeksi kalimat yang baru dikatakannya. Tidak ada yang salah.


Lalu, dengan nada pelan nyaris berbisik, Abi berkata, “Mereka juga punya nama dan tanda tangan ayah kandungku.”


__ADS_2