Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 31


__ADS_3

Suasana ruang kunjungan khusus hening untuk beberapa saat. Abi dan Roy masih saling pandang dengan penuh kebencian. Bukan karena tidak ada topik yang ingin dibicarakan, mereka diam karena sedang berhati-hati dalam memilih kata yang akan diucapkan. Sebab, dalam situasi ini, setiap kata yang keluar ibarat senjata yang bisa menyerang lawan, tapi juga bisa menjadi senjata makan tuan.


“Apakah yang kau maksud dengan balas dendam menggunakan hukum, yang pernah kau katakan belasan tahun lalu, adalah seperti ini? Menghafal semua pasal yang berlaku di negeri ini untuk mempermalukanku?”


Abi tidak langsung menjawab pertanyaan lawan bicaranya, melainkan ia menatap ke arah jendela sambil tersenyum. Senyum yang menurut Roy terasa bagai ejekan.


“Kenapa kalian selalu berpikir aku hanya robot yang mampu menghafal semua pasal? Aku tidak akan menyia-nyiakan kapasitas otakku untuk hal-hal yang tak berguna. Kenapa aku mampu menghafal beberapa pasal? Karena aku tahu hari seperti hari ini akan tiba sehingga aku menghafal pasal-pasal yang menurutku akan berguna untuk menghadapi hari seperti hari ini.” Abi menghela napasnya lalu menatap ke arah Roy lagi. “Mempermalukanmu? Kau pikir kau seistimewa itu?”


Roy tersentak dengan kalimat terakhir Abi. Ia benar-benar merasa terhina. “Jadi, untuk apa semua ini? Bukankah aku yang membuatmu dihajar dan dipenjara oleh polisi? Bukankah aku yang membuatmu putus sekolah? Bukankah aku juga yang menghancurkan impianmu untuk menjadi kekasihnya Regina?”


Masih ada beberapa kalimat yang ingin dikatakan oleh Roy, namun Abi langsung tertawa terbahak-bahak, membuat Roy kembali bingung dengan tingkah anehnya.


“Lima belas tahun aku mempelajari tentang hukum sambil menjalani hidup bagaikan sampah, apakah hanya untukmu? Aku dipenjara karena dituduh menjual narkoba dan membunuh seorang artis, apakah hanya untukmu? Hei, aku menganggapmu musuh besar hanya sampai pintu kantor polisi lima belas tahun yang lalu. Setelahnya? Aku bahkan tidak menganggapmu ada.”


“La, lalu deklarasi pembalasan dendam yang kau katakan dulu adalah -”


“Itu bukan untukmu. Aku punya musuh yang lebih besar yang harus menerima pembalasan dendam dariku.”


“Maksudmu, kau -”


“Jika hanya ingin membalas dendam padamu, aku tak perlu hukum. Aku bisa menyerangmu diam-diam saat kau sedang berset*b*h dengan pel*c*r yang kau sewa di sebuah kebun tebu di malam pengumuman kelulusan. Atau aku bisa saja melemparmu ke dalam kolam saat kau mabuk setelah acara reuni sepuluh tahun yang lalu. Aku juga bisa melapor pada bos gangster White Fox kalau pembunuh adiknya bebas dari hukuman karena andil jaksa korup bernama Leroy Jerold Kurniawan. Kau pasti tahu kalau gangster itu diisi oleh para pembunuh.”


Keringat di dahi Roy mulai mengucur deras. Ia sama sekali tidak tahu kalau posisinya serapuh itu di mata Abi.


“Jadi, siapa yang kau incar? Ayahku? Atau kapolsek itu?”

__ADS_1


“Ayahmu? Louis Jithro Kurniawan. Direktur dari sebuah perusahaan konstruksi yang bernama PT. Laras Jaya Karya (Persero) Tbk. Sejak sepuluh tahun yang lalu masuk dalam jajaran 10 kontraktor terbesar di negeri ini dengan total aset perseroan mencapai Rp. 104,35 triliun. Menangani berbagai proyek pembangunan infrastruktur prestisius, baik dari pemerintah maupun dari perusahaan besar swasta. Memiliki berbagai anak perusahaan seperti PT. Laras Infrastruktur, PT. Laras Properti, PT. Laras Energi, PT. Laras Urban, PT. Laras Presisi, dan masih banyak lagi. Ia punya 3 anak yang bernama Lemuel Judah Kurniawan, Lidya Jessica Kurniawan dan Leroy Jerold Kurniawan. Anak pertama dan kedua cukup cerdas dan keduanya merupakan lulusan universitas ternama dunia sehingga mereka dipersiapkan untuk menjadi penerusnya. Sementara anak paling kecil, bodoh dan selalu membuat ulah, diarahkan ke bidang hukum agar dapat membantu perusahaan ketika tersandung kasus hukum.”


“Ka, kau juga menyelidiki ayahku.”


“Bahkan aku bekerja di salah satu anak perusahaan ayahmu selama lima tahun dan menemukan banyak sekali hal menarik,” kata Abi dengan wajah yang menunjukkan senyum menyeramkan. “Penyelewengan asuransi karyawan, pencucian uang melalui anak perusahaan yang nyaris bangkrut, proyek-proyek gaib penguras anggaran daerah, serta keterlambatan pembayaran gaji karyawan adalah beberapa di antara banyaknya borok perusahaan ayahmu. Sayangnya, aku tidak terlalu tertarik dengan itu, meski suatu saat akan kugunakan jika ia mencoba menggangguku.”


Roy mengepalkan tangannya erat. Terlihat urat-urat sudah mulai keluar dari lengannya, seperti urat pada bagian wajahnya. Ia sangat marah karena tidak menyadari betapa berbahayanya Abi. Ia bukan cuma pria penghapal undang-undang yang beraksi di depan kamera saat kebetulan terjebak oleh sebuah kasus.


“Be, berarti Kapolsek itu -”


Abi menggelengkan kepalanya. Ia kembali melepas pandangannya dari Roy dan kini ia menatap kuku-kuku di jarinya. Melalui gesturnya itu, ia ingin mempertegas kalau dirinya sangat meremehkan lawan bicaranya.


“Kau harusnya sadar kalau kau bukanlah tokoh penting dalam hidupku. Bagiku, kau hanya komponen kecil. Bukan, kau hanya produk menyedihkan dari sebuah rantai kejahatan hukum yang hidup secara diam-diam namun angkuh di tengah masyarakat kita dan mengacaukan hidup orang-orang kecil sepertiku. Jika aku hanya berfokus padamu, aku seperti memetik sehelai daun untuk menumbangkan pohonnya.”


“Jadi, siapa pohon yang ingin kau tumbangkan itu?”


Abi memperbaiki duduknya lalu mendekatkan kembali wajahnya ke wajah Roy, membuat jaksa itu semakin ngeri mendengar jawaban dari mulutnya. “Bukan siapa, tapi apa. Yang akan kuhancurkan adalah sistemnya. Sistem di mana orang-orang sepertimu, ayahmu dan polisi-polisi brengsek bernaung dengan nyaman selama ini.”


“Dan kau berpikir bisa melakukannya?”


“Roscoe Pound pernah berkata, Law as a tool of social engineering. Dan aku mendeskripsikannya dengan perspektif yang berbeda. Hukum yang kuat sehingga mampu menjadi alat rekayasa masyarakat, pasti juga akan cukup kuat untuk menghancurkan sistem jahanam yang kumaksud tadi.”


 Dengan tangan yang sudah gemetar, Roy mengambil sapu tangan dari saku celananya dan mengelap keringat yang sudah membasahi wajahnya. Sudah tidak ada lagi kata-kata di kepalanya yang cocok untuk menyerang Abi.


“Tapi aku akan memberikan sebuah hadiah yang bagus untukmu,” ujar Abi tiba-tiba. “Aku akan mengaku kalau akulah yang menghasut bos Dirga untuk -”

__ADS_1


Abi menggaruk-garuk kepalanya sambil berpikir sejenak.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Roy yang sebenarnya cukup lelah dengan kejutan-kejutan yang diberikan oleh Abi hari ini.


“Kau juga tentu sadar pernah menjadi jaksa dalam beberapa kasus yang melibatkan perusahaan ayahmu dan selalu saja kau memberikan tuntutan yang jauh lebih rendah dari yang seharusnya.”


“Kau, apa maksudmu?!” Roy sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia berdiri dan tangan kirinya menarik leher baju Abi, sementara tangan kanannya bersiap untuk meninju.


“Untuk membunuh Reynold.”


Tiba-tiba Abi menyentuh dada Roy, lebih tepatnya pena yang tersangkut di saku kemejanya,  dan benda itu mengeluarkan bunyi Bip. Roy sama sekali tidak menduga Abi akan melakukannya. Ia melepaskan genggaman ke baju Abi dan memegang pena yang tadi Abi sentuh.


“Apakah kau -”


“Aku sudah memberikan rekaman yang bagus untukmu. Sebuah pengakuan, meski kau harus sedikit menyuntingnya karena aku mengatakan sesuatu yang kurang menarik di tengah-tengahnya.”


Roy terlihat lebih gugup dari sebelumnya. Ia tidak menyangka kalau Abi membaca rencananya dengan mudah. Kapan ia mulai menyadarinya? Apakah sejak awal percakapan mereka? Apakah itu yang membuatnya membicarakan kejelekan Roy dan ayahnya secara mendetail?


“Kau beruntung karena bisa menggunakan rekaman itu untuk alat bukti di pengadilan. Tapi kau atau orang yang kau tugaskan untuk menyunting rekaman itu harus benar-benar lihai agar rekamannya bisa terdengar alami dan tidak menunjukkan bahwa itu hasil suntingan. Jika tidak, aku akan memancing hakim agar kau memutar rekamannya secara utuh.”


Tubuh Roy semakin lemas. Ia merasa sudah tidak tahan lagi dengan serangan yang dilancarkan oleh Abi. Dan ternyata itu bukanlah serangan terakhir.


“Aku pernah berkata pada adikku, jika suatu saat ada lagi aparat yang tidak berkaitan dengan kasusku, menjengukku di rutan seperti yang dilakukan oleh Reynold, aku ingin dia memanggil para wartawan. Kebetulan, hari ini seharusnya ia menjengukku dan ia pasti sudah tahu kedatanganmu. Jadi, persiapkan dirimu untuk menerima kehadiran para wartawan di luar rutan.”


Abi mengakhiri perbincangan mereka hari itu dengan tawa bahagia, meninggalkan Roy yang masih termangu meratapi kekalahan bertubi-tubinya.

__ADS_1


__ADS_2