Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 88


__ADS_3

Di kafe Rinjani, saat Abi bertukar peran dengan Rama


“Siapa dia?” bisik Indira pada Abi setelah melihat keakraban mereka berdua.


Wanita itu mendengar pertanyaan Indira dan langsung menjulurkan tangannya pada Indira. “Kenalkan, Rinjani. Salah satu orang yang membuat Advokat Malam pensiun.”


“Apa?” tanya Indira langsung pada wanita bernama Rinjani itu. Ia ingin memastikan kalau telinganya telah salah mendengar nama Advokat Malam dari mulut orang yang asing baginya.


“Ya, aku adalah -”


“Dia hanya bicara omong kosong,” interupsi Abi sambil mendorong tubuh Rinjani menjauh dari Indira. “Duduk saja dulu di sana. Aku ingin berbicara dengan wanita ini.”


Indira masih melongo karena belum berhasil mencerna apa yang sedang terjadi ketika Abi dan Rinjani pergi meninggalkannya.


“Ada apa dengan perutmu?” tanya Rinjani karena melihat Abi terus memegang perutnya.


“Tidak apa-apa. Ini hanya harga yang harus kubayar untuk bisa berada di sini,” jawab Abi.


“O iya, bagaimana kau bisa ada di sini? Bukankah seharusnya kau masih di rutan?”


“Panjang ceritanya. Aku mau meminta tolong padamu.”


“Aku punya banyak waktu untuk mendengarkannya.”


“Tapi aku tak punya banyak waktu.”


“Ya sudah, pergi saja sekarang.”


Abi menghela napas karena menyadari kalau wanita yang ada di hadapannya adalah wanita paling keras kepala yang pernah ia kenal. Akhirnya, ia menceritakan bagaimana ia bisa keluar dari rutan sesingkat mungkin.


“Sudah, seperti itu. Puas?” tanya Abi kesal.


“Jadi, kau melukai perutmu?”


“Ya.”


“Bodohnya. Lalu, tadi kau ke Batavia Baru? Bagaimana kabar di sana?”


“Tidak banyak perubahan.”


“Siti V masih menyebalkan.”

__ADS_1


“Ya, sama sepertimu.”


“Jadi, di gedung itu kau -”


“Tidak ada pertanyaan lagi! Aku mau meminta tolong sekarang!”


Abi memegang kedua pundak Rinjani dengan wajah marah. Ia sudah tidak tahan lagi. Terlihat Rinjani tertawa cekikikan. Ya, ia memang sengaja membuat Abi kesal.


“Oke, oke, kau mau meminta bantuan apa?”


“Bima Sakti,” jawab Abi. “Aku ingin kau menyelidiki pria itu.”


“Oh, pria ‘baik hati’ yang mencalonkan diri jadi gubernur itu, ya? Kenapa dengannya? Apakah dia terlibat di dalam kasusmu?”


“Aku belum bisa memastikannya. Ada sebuah dokumen yang kucuri dari kantor PT. Laras Jaya Karya yang mencantumkan namanya. Dokumen itu sangat bertentangan dengan visi dan misi yang ia gemborkan dalam rangka melanggengkan jalannya menuju kursi gubernur. Aku hanya ingin kau mencari tahu posisinya yang sebenarnya.”


Rinjani mengangguk-angguk tanda memahami permintaan Abi.


“Apakah jika aku berhasil menemukan informasi itu, kau akan bebas?”


“Tidak, justru aku berencana ingin dipenjara. Ada sesuatu yang sangat besar dan menyeramkan yang bisa kuketahui jika aku bisa masuk ke dalam penjara.”


Di mobil, beberapa saat setelah Abi dan Indira pergi dari kafe milik Rinjani


“Dormiunt aliquando leges, nunquam moriuntur.”


Indira menatap Abi yang berusaha mengoreksi ucapannya. Ini bukan waktu yang tepat untuk mengoreksi ucapan karena suasana sedang mengharukan.


“Meski berusaha, aku takkan bisa memahami luka yang kamu alami lima belas tahun yang lalu. Tapi, aku sangat mengagumimu yang tidak membalas dendam dengan cara koboi. Kamu masih mempercayai hukum sebagai sebuah senjata. Padahal itu adalah masa terkelam dalam hidupmu.”


“Bukan,” sanggah Abi. “Saat itu bukanlah masa terkelam dalam hidupku.”


Mendengar pernyataan itu, Indira terkejut sampai membelalakkan matanya. Selama ini, mendengar dari cerita beberapa orang, ia menganggap apa yang terjadi pada Abi lima belas tahun yang lalu sangat mengerikan. Ia tak pernah bisa membayangkan bagaimana sakitnya tubuh dan hati Abi saat itu. Bahkan, ia yakin tak bisa menanggung setengah dari rasa sakit itu. Tapi, ternyata itu bukan masa terkelam dalam hidup Abi. Entah, semengerikan apa masa terkelamnya itu.


“Seberapa kelamnya itu hingga bisa lebih kelam daripada penyiksaan fitnahan di masa remajamu?” tanya Indira.


Abi menghela napas panjang dan tatapannya kembali kosong. “Sekelam ketika kau kehilangan seseorang yang kau sayangi.”


Bibir Indira bergetar dan matanya mendadak perih lalu mengeluarkan air mata ketika mendengar kata-kata dari Abi, seakan ia merasakan luka yang sedang Abi rasakan meski belum tahu Abi kehilangan siapa.


“Lalu, apakah menurutmu dengan mengalahkan tuan Jireh, kau bisa menebus masa terkelammu?” tanya Indira setelah kesedihannya mulai berkurang.

__ADS_1


“Kupikir begitu,” jawab Abi. “Kenapa aku melawan tuan Jireh? Aku sudah lama mendengar nama dan reputasinya.”


“Memangnya seperti apa dia?”


“Dia dikenal sebagai sinterklas bagi para orang kaya yang melakukan kejahatan. Jika kau memiliki banyak uang, seberapa besar pun kejahatanmu, kau tidak perlu khawatir.”


“Maksudmu, ia adalah makelar kasus?”


“Ya, ia bisa mengatur hasil persidangan yang menempatkan para orang kaya dan pejabat penting sebagai pesakitan,” jawab Abi. “Tapi, malam ini aku baru tahu kalau pengertian ‘sinterklas’ itu lebih luas dari dugaanku.”


“Maksudmu?”


Abi mengambil kembali ponselnya yang ada di tangan Indira lalu membuka salah satu foto yang ia ambil tadi.


“Lihat, di dokumen itu tertera renovasi beberapa penjara dan dilihat dari nama-namanya, itu adalah penjara-penjara yang memiliki sel khusus untuk para tahanan korupsi dan beberapa pejabat atau anak pejabat yang dihukum juga rata-rata dipenjara di sana.”


Indira melihat foto dokumen itu sambil otaknya berusaha mengaitkannya dengan tuan Jireh.


“Aku masih belum paham,” ujar Indira.


“Kemungkinan besar PT. Laras Jaya Karya yang berada di bawah kendali tuan Jireh melakukan renovasi untuk kenyamanan para tahanan kaya dan mantan pejabat. Sayangnya, kita membutuhkan dokumen lain untuk mengetahui detailnya.”


Indira mengangguk-angguk tanda mulai paham. “Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Bukankah tidak mungkin kalau kita melaporkannya pada polisi?”


“Tentu saja. Kita hanya punya data tidak lengkap yang didapat dari pencurian,” kata Abi.


“Berbicara tentang melaporkan polisi, apakah mungkin PT. Laras Jaya Karya akan melaporkan kita ke polisi karena menerobos masuk gedungnya tadi?”


“Tenang saja. Mereka tidak punya bukti kalau kita masuk ke sana. Aku sudah menghindari CCTV dan faktanya, tidak ada yang hilang dari sana karena kita tidak mengambil apapun selain memotret dokumen-dokumen,” jawab Abi menenangkan hati Indira.


“Baguslah. Akan sangat merepotkan jika mereka melihat wajahmu di CCTV mereka,” ujar Indira sambil menyandarkan tubuhnya. Lalu ia teringat dengan pembicaraan sebelumnya. “O ya, jadi apa yang akan kamu lakukan untuk mendapatkan dokumen yang detail?”


“Bukan dokumen, tapi aku akan menyelidikinya secara langsung.”


Kata-kata Abi itu membuat Indira heran dan menimbulkan kekhawatiran. Ia berfirasat Abi akan melakukan hal-hal yang aneh lagi.


“Bagaimana caranya? Jangan melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh orang normal.”


Abi tersenyum pada Indira, membuat kecurigaan wanita berambut pendek itu semakin besar. Kemudian ia berkata, “Aku ingin divonis bersalah dan dipenjara di salah satu penjara yang ada di dokumen itu.”


Dan firasat Indira benar.

__ADS_1


__ADS_2