Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 42


__ADS_3

“Ando juga menjadi korban, kan? Jadi, Mbak masih ngotot untuk melindunginya? Mbak tahu betapa bencinya ia pada ayahnya, namun kebingungan karena bundanya tidak bertindak apa-apa? Mbak! Apa lagi yang Mbak takutkan? Apakah Mbah berencana untuk hidup seperti ini selamanya? Apakah Mbak mau menghancurkan masa depan Ando?”


Indira mencoba menekan Alya dengan cecaran pertanyaan. Ia terus mengikuti ibu dan anak itu dari belakang. Ia tahu, sikapnya itu tidak akan mengubah pendapat wanita itu dan hanya menimbulkan kekesalan. Tapi ia sudah kehabisan cara. Empat hari usahanya tak membuahkan hasil, membuatnya cukup frustrasi.


“Apakah pengacara bisa memaksa orang untuk menjadi kliennya?”


“Tidak harus aku. Siapapun pengacara yang Mbak percayakan, aku tak peduli. Asalkan Mbak bersedia untuk membawa masalah ini ke jalur hukum.”


Alya kembali mengabaikannya dan Indira kembali mengikuti mereka. Hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah Alya. Seorang pria dengan mengenakan singlet dan celana pendek sedang berdiri di teras. Wajahnya bengis ketika menatap istri dan anaknya datang dan bertambah bengis ketika melihat seorang wanita mengikuti istrinya.


“Kumohon, pergilah. Aku takkan pernah melaporkannya,” ucap Alya dengan wajah dan nada memelas, membuat Indira merasa bersalah dan kasihan.


Indira membiarkan ibu dan anak itu masuk ke dalam rumahnya. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan saat pria itu memaki-maki Alya. Dengan sigap, Indira mengeluarkan ponsel dan mengarahkan kameranya ke arah keluarga itu. Tangan si pria yang sudah terangkat dan sepertinya bersiap untuk mendarat secara keras ke wajah Alya, turun secara perlahan setelah melihat Indira.


“Jangan berurusan dengan keluarga itu,” kata seorang wanita paruh baya yang muncul dari balik pagar rumah dekat sana. “Para tetangga sudah beberapa kali mencoba untuk mengingatkan si suami, tapi ia justru mengamuk. Bahkan ia tak segan mengancam dengan senjata tajam.”


Indira berpikir sejenak lalu tersenyum. Tak lama kemudian, terdengar suara gaduh dari dalam rumah itu, disusul oleh teriak Alya dan tangisan Ando. Sesekali suara bentakan seorang pria berisi makian terdengar di sela-selanya.


“Nek, tolong hubungi kantor polisi dan katakan terjadi kejahatan di sini.”


“Apa? ‘Nek’? Hei, aku belum setua itu!” kata wanita tersebut marah. Namun, kemarahannya berubah menjadi kekhawatiran ketika ia melihat Indira bergerak. “Hei, Nak. Kau mau ke mana?”


Wanita itu memanggil Indira yang berjalan melewati pagar rumah Alya. Ia menggedor pintu rumah itu sambil berteriak memanggil nama Alya dan Ando.


Pintu itu terbuka dan pria berwajah bengis tadi menyambutnya dengan bentakan. Indira bisa melihat Alya di balik badan pria itu sedang tersungkur di lantai sambil menangis bersama anaknya.


“Kau siapa?!”


Wajah Indira memerah. Ia terlihat marah. Bahkan seumur hidupnya, ia sangat jarang merasa semarah itu. Jika memungkinkan, ia ingin menghajar wajah pria itu hingga nyawanya melayang.


“Aku adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Ando dan bundanya dari orang jahat sepertimu.”


                  *


 Suasana di ruang kunjungan rutan Sukadamai sore itu cukup sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang datang untuk melihat kerabatnya di sana. Di antara mereka, ada Rama yang memang rutin mengunjungi abang yang sangat dihormatinya.


“Tumben Abang tidak khawatir karena kak Indira tidak datang,” celetuk Rama sambil mengunyah martabak yang dibawanya, yang seharusnya untuk Abi.


“Ia punya kehidupan pribadi yang terkadang kita lupakan. Sejak menangani kasusku, tidak ada harinya yang dilewati tanpa mengurus keluarga kita, kecuali saat dirawat di rumah sakit yang lalu. Jadi, aku menghormati kehidupan privasinya dengan tidak mengkhawatirkannya hari ini.”

__ADS_1


Rama mengangguk. Masuk akal yang dikatakan oleh abangnya itu. Kemudian, ia melanjutkan acara makannya.


“O ya, kenapa Abang meminta Rama untuk menyelidiki latar belakang kak Indira? Is she tractor?”


“Maksudmu pengkhianat, kan? Bukan tractor, tapi traitor,” koreksi Abi sambil menampar mulut Rama pelan. Kebiasaannya ketika kesal dengan sang adik. “Aku menyuruhmu melakukannya justru karena aku ingin membantunya, bukan karena mencurigainya.”


“Really? Memang, what‘s wrong with kak Indira?”


Abi menghela napas sebelum menjawab pertanyaan dari adiknya. “Kau tahu Hulk? Indira adalah Hulk.”


Rama tertawa mendengar jawaban itu. Namun, tawa itu redup ketika ia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda bercanda di wajah Abi. “Serius? Dia bisa berubah jadi makhluk hijau besar seperti yang ada di film itu?”


Abi kembali menampar mulut Rama dan kali ini jauh lebih kencang.


“Sebenarnya Indira punya potensi besar untuk menjadi pengacara hebat. Kau bisa lihat sendiri bagaimana kemampuannya saat berhadapan dengan Totok beberapa waktu yang lalu,” ungkap Abi yang tidak menghiraukan adiknya yang sedang meringis kesakitan sambil mengusap mulutnya. “Tapi ia punya masalah di kepercayaan diri.”


“Maksudnya, minder?”


“Sejenis itu. Ia seperti takut pendapat atau analisisnya salah dan justru membahayakan orang lain.”


“Lalu, bagaimana ia bisa terlihat sangat percaya diri ketika memecahkan kasus kebakaran rumah Totok.”


Rama mengangguk. Ia mulai setuju dengan pendapat abangnya. “Pantas saja Abang menyuruh kami menjumpai Totok di pasar.”


“Ya, ada dua alasan. Pertama, jika di dalam persidangan, aku ragu ia akan marah. Tentu ia lebih kuat dalam mengontrol emosi. Kedua, Totok adalah orang yang sabar. Tapi, ia akan menjadi orang yang menyebalkan jika ada yang sengaja mempermalukannya. Tentu akan sangat mungkin baginya untuk membuat Indira marah. Apalagi Totok adalah saksi yang membuatnya dipermalukan di sidang pertama.”


“Ya, betul. Apalagi saat itu kak Indira sedang kesal sepanjang hari.”


“Kesal kenapa?”


“Entah.”


Mereka masih belum tahu kalau saat itu Indira kesal karena tidak jadi menemui Abi dan mendengar cerita cinta segitiga antara Abi, Regina dan jaksa Jerold.


                  *


 “Sebenarnya, Anda ini siapa?”


Seorang polisi yang menginterogasi masih bingung dengan status Indira. Dari tanda pengenal, ia adalah warga kota lain. Ia tidak kenal temannya berkelahi, demikian juga sebaliknya.

__ADS_1


“Saya pengacara Alya, istri dari orang ini,” jawab Indira yang rambutnya sudah berantakan dan wajahnya sedikit babak belur, seperti pria bengis yang sedang ditunjuknya.


“Bohong! Istri saya tidak pernah mengangkat dia jadi pengacaranya!” teriak pria bengis itu, yang langsung ditenangkan oleh si polisi.


“Tapi Ibu Alya tidak mengakuinya. Bahkan katanya, Anda sudah mengikutinya selama empat hari terakhir dan memohon untuk menyewa Anda sebagai pengacaranya,” kata si polisi dengan tangan mengarah ke Alya dan Ando yang sedang duduk di kursi dekat ruang tunggu dengan ekspresi ketakutan.


“Saya tidak memaksanya menyewa saya sebagai pengacara. Saya hanya menyuruhnya untuk melaporkan suaminya karena telah melakukan KDRT,” kilah Indira membela diri. Si polisi berbalik menatap tajam pria bengis itu, sehingga wajah bengisnya mulai berubah menjadi wajah gugup.


“Ti, ti, tidak. Saya tidak pernah melakukan KDRT. Bapak bisa tanyakan langsung pada istri saya,” kata pria bengis itu. Ia berbalik melihat istrinya sambil memegang saku bajunya yang menyembulkan sebuah ponsel pintar.


Indira menatap curiga setiap gerak-gerik pria itu, terutama saat melakukan kontak mata dengan istrinya. Sementara Alya sangat ketakutan dan menunjukkan ekspresi memelas, seperti sedang memohon pada sang suami.


“Lalu, kenapa wajah istri Bapak penuh luka seperti itu?” tanya si polisi.


“Jadi, tadi dia jatuh dari tangga. Saya hanya ingin membantunya berdiri. Memang, saya akui, saya membentaknya karena tidak hati-hati dan membahayakan anak kami juga. Lalu wanita ini datang dan tiba-tiba mengamuk pada saya.”


Indira masih belum menjawab. Ia menatap wajah Ando yang sudah tertidur lelap di pangkuan bundanya. Lama ia berpikir, bahkan sampai mengabaikan panggilan dari polisi yang menginterogasi mereka. Kemudian ia mengarahkan pandangannya kepada pria bengis itu.


“Ibu Alya adalah klien saya. Ia ingin menuntut suaminya karena melakukan KDRT terhadap dirinya. Selama ini Ibu Alya tidak berani mengadu karena suaminya mengancam akan menyebarkan video yang bisa merugikan klien saya. Tapi, saya bisa pastikan kalau video itu sama sekali tidak bisa kekerasan yang telah dilakukan pria ini.”


Pria bengis itu memucat. Demikian juga dengan Alya. Dari sikap mereka, terbukti jika ucapan Indira tadi benar. Padahal ia masih sebatas menebak.


“Video? Video apa?”


Pria bengis itu gugup. Ia memegang ponselnya erat seperti takut akan diambil. Keringat mulai mengucur dari keningnya. Ia tak berani menjawab, bahkan hanya melihat wajah polisi yang sedang menanyainya.


“Lihatlah, Mbak! Ia tak mau menunjukkan video itu karena ia tahu kalau video itu tak bisa digunakan untuk menyerangmu. Sekarang, katakan kalau aku adalah pengacara Mbak dan saya akan membela Mbak dari kejahatan yang dilakukan orang ini. Hukum selalu berpihak pada orang yang benar dan saya akan pastikan Mbak bisa mendapatkan perlakuan hukum yang semestinya. Ingat, ini demi kebahagiaan Mbak dan masa depan Ando.”


Alya menutup wajahnya dan mulai menangis hingga Ando terbangun dan berusaha menenangkan bundanya, meski ia ikut menangis. Si pria bengis itu kebingungan, seperti hendak melarikan diri dari kantor polisi itu.


“Beberapa kali dia menyuruhku memukul Ando dan merekamnya. Ia mengancam akan melaporkan video itu jika aku melaporkan kekerasan yang dilakukannya padaku. Ia bilang, itu akan membuat kami berdua dipenjara dan itu bukanlah sesuatu yang baik untuk Ando.”


Alya kembali melanjutkan tangisannya. Sementara, ruangan itu mendadak sunyi seakan sedang memberikan kesempatan bagi Alya dan putranya untuk melepaskan penderitaan yang selama ini tertahan di dalam dada mereka.


Sedangkan pria bengis itu tertunduk malu dan takut. Apalagi setelah sadar kalau Indira menatapnya dengan penuh kemarahan.


“Ingin rasanya aku menendang wajah bodohmu itu. Tapi aku tidak ingin dihukum karena sekarang aku sedang menyelesaikan kasus penting. Aku hanya akan membuatmu menerima ganjaran yang setimpal sesuai dengan hukum yang berlaku. Aku berjanji akan membuatmu menerima hukuman maksimal.”


Indira mengakhiri ancamannya dengan mengeluarkan secarik surat kuasa dan pena lalu menyerahkannya pada Alya untuk ditandatangani. “Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa, tidak dipidana - Pasal 48 KUHP. Hukum yang benar akan membebaskanmu dari hukuman. Kamu dan Ando bisa hidup bahagia\, sementara bajingan itu mendekam di penjara.”

__ADS_1


Alya terpaku sejenak, lalu mengambil surat itu dan menandatanganinya. Secara resmi, kini Indira menjadi penasihat hukum bagi klien yang bernama Alya Susmita dan mereka langsung membuat laporan KDRT di polsek itu dengan tersangka atas nama Letto David.


__ADS_2