Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 111


__ADS_3

Sebuah peti berwarna putih terbaring di tengah altar gereja. Beberapa orang berdiri mengelilinginya dengan wajah murung dan suasana hati yang berkabung. Tidak seperti pemakaman yang lainnya, sejak awal peti itu tertutup dan tak dibuka, mengingat kondisi jenazah yang sudah sangat hancur.


Rama akan dimakamkan dekat dengan makam Shasha, mengingat di saat-saat akhir hidupnya, ia berkata ingin bertemu dengan kekasihnya itu. Untungnya, orang tua Shasha mengizinkannya karena mereka sudah mengetahui hubungan keduanya dan pada akhirnya mereka tahu kalau Rama telah difitnah atas kematian putrinya.


Satu pemandangan aneh yang terlihat dalam pemakaman itu adalah banyaknya polisi yang berjaga-jaga. Berita tentang Abi yang melarikan diri dari penjara sudah tersiar ke seluruh negeri. Demi usaha pelariannya, Abi juga dikabarkan membunuh seorang sipir penjara.


Video rekaman CCTV terkait pembunuhan itu kini telah tersebar di internet. Tentu saja, itu bukanlah rekaman asli. Jesse Arnold menyewa dua aktor yang salah satunya mirip dengan Abi dan mereka berperan seolah-olah Abi membunuh sipir penjara dengan keji.


Pihak kepolisian menduga Abi akan datang ke pemakaman adiknya. Karena itu, mereka mengirim beberapa petugas untuk mengawasi keadaan di sekitar ibadah pemakaman. Namun,sejak tadi belum ada tanda-tanda kehadiran Abi.


Regina duduk di barisan paling belakang. Ia juga merasakan duka yang sangat mendalam karena sudah mengenal Rama sejak ia masih kecil. Meski tidak terlalu dekat, Rama selalu bersikap ramah padanya.


“Kau tidak bekerja?” tanya Rinjani yang berbisik di sebelahnya.


“Bukan urusanmu,” jawab Regina ketus.


Regina jadi ingat masalah pribadinya. Karena alasan yang terlalu dibuat-buat, ia harus menerima skors sebulan dari atasannya. Kini ia tahu kenapa ia diskors setelah mendengar berita tentang Abi yang kabur dari penjara.


“Bukankah video itu palsu?” Kembali Rinjani melemparkan pertanyaan yang membuat Regina semakin kesal. “Maksudku video pembunuhan yang dilakukan oleh Abi.”


“Aku tidak tahu. Aku tidak diberi izin untuk memeriksanya.”


“Memangnya hanya untuk memeriksanya harus meminta izin? Bukannya kau bisa memeriksanya sendiri. Video itu sudah banyak tersebar di internet.”


Regina menatap Rinjani dengan tajam, sehingga lawan bicaranya itu menutup bibirnya dengan tangan tanda akan diam. “Hargai ibadah pemakaman ini. Mungkin kau tidak punya hubungan dengan Rama, tapi aku punya.”


“Tapi, sepertinya tidak seakrab Indira,” ujar Rinjani sambil melihat ke arah Indira.


Indira belum berhenti menangis. Hatinya benar-benar hancur sejak kejadian itu dan mengetahui Rama meninggal karenanya. Ia terus menangis sampai di pemakaman Rama. Bahkan, tangisannya lebih kencang daripada pelayat yang lain.

__ADS_1


Meski baru beberapa bulan kenal, kenangan antara dirinya dengan Rama terlalu banyak. Ya, meski baru beberapa bulan kenal, waktu yang mereka habiskan bersama cukup intens. Berbagai peristiwa telah mereka lewati bersama. Mulai dari yang menegangkan, mengharukan, menyedihkan bahkan yang membuat mereka tertawa bahagia.


Indira ingat betapa Rama memuja abangnya. Indira juga ingat betapa Rama menyayanginya seperti kakak kandungnya sendiri. Indira ingat bagaimana Rama tidak pernah menggunakan kata ganti pertama dan memilih menyebut namanya sendiri. Indira ingat saat Rama tersenyum memamerkan motor belalang tempurnya, saat Rama menemaninya selama investigasi, saat Rama menangis ketika mamanya dituduh membakar rumah Totok, saat Rama menyapa di rumah sakit meski ia sendiri terluka parah, saat Rama mengikrarkan Indira sebagai panutan pertamanya.


“Rama! Rama!” teriaknya di sela-sela ibadah pemakaman Rama yang dipimpin oleh Siti V.


Di sampingnya ada mbak Ratih yang mencoba menenangkannya. Regina dan Rinjani menatap Indira dari belakang dan berpikir seharusnya mereka yang berada di sana. Kini, semua orang pasti beranggapan Abi lebih dekat dengan pengacara itu daripada dengan mereka.


“Kebetulan saja ia adalah wanita cengeng. Sedangkan aku lebih tegar darinya. Tapi, itu tidak membuktikan kalau ia lebih dekat dengan Abi. Maksudku, Rama. Ia baru mengenal mendiang, sementara aku sudah sangat lama,” kata Regina mencoba menyangkal kedekatan antara Indira dan Rama.


“Mungkin aku juga wanita tegar, makanya tidak menangis sepertinya.”


Tiba-tiba suasana menjadi sedikit kacau di luar gereja. Para polisi yang sedang berjaga baru saja mendapatkan informasi penting yang membuat mereka sedikit panik.


“Ada apa dengan teman-temanmu itu?” tanya Rinjani pada Regina yang juga terlihat bingung.


“Bisa gawat kalau mereka menemukannya!”


Rinjani dan Regina keluar gereja. Mereka melihat tinggal satu orang polisi lagi yang tersisa di sana. Polisi itu terkejut ketika melihat Regina, yang merupakan seniornya, datang menghampirinya.


“Ke mana yang lain?” tanya Regina.


“Siap! Sa, saya tidak tahu,” jawab polisi itu agak gugup.


“Ayolah, kau tak perlu merahasiakannya. Aku juga polisi,” kata Regina yang mulai curiga. “Jangan-jangan kalian dilarang memberitahukannya padaku.”


“Siap! Ti, tidak, Bu.”


“Baiklah kalau kau tidak mau memberitahunya. Aku akan bertanya langsung pada atasanmu. Kau tahu sendiri kalau AKP Listyo denganku sudah seperti sahabat.”

__ADS_1


Polisi itu semakin gugup ketika Regina mengeluarkan ponsel dan mulai membuka nomor-nomor kontak.


“Ba, baik, sa, saya akan memberitahukannya.” Akhirnya, polisi itu menyerah. “Kami mendapat informasi dari salah satu warga kalau keberadaan Abimanyu Alexander terlihat di sebuah kantor di jalan Kenanga nomor 23.”


Regina dan Rinjani saling menatap. Mereka tahu kalau itu adalah kantor Indira tempat Abi bersembunyi selama ini. Rinjani langsung berinisiatif untuk menjemput Indira yang masih meratap di depan peti Rama. Mereka harus segera kembali.


                  *


Di salah satu kamar sebuah rumah sakit, tante Jenny masih terbaring tak sadarkan diri. Sudah lebih dari satu minggu, namun kondisinya tidak menunjukkan perubahan positif sedikitpun. Diagnosisnya, ia menghirup terlalu banyak zat beracun jenis karbon monoksida yang membuat kesadarannya hilang.


Saat itu, tak ada seorang pun yang menemaninya. Semua kenalannya sedang mengikuti pemakaman Rama. Hanya perawat yang datang pada periode waktu tertentu untuk memeriksa kondisinya dan mengganti infusnya ketika sudah habis.


Dan saat perawat baru saja meninggalkan kamar itu, seseorang membuka pintu dan perlahan masuk. Ia mengenakan pakaian serba hitam dan topi yang menutupi bagian atas wajahnya. Orang tersebut berjalan dan berhenti ketika sudah berdiri tepat di samping ranjang tante Jenny.


“Ma, aku datang,” ujar orang itu.


Ternyata, ia adalah Abi. Tidak seperti yang dipikirkan pihak kepolisian, Abi tidak pergi ke pemakaman adik tirinya. Ia malah menjenguk mamanya di rumah sakit. Sejak kejadian pembakaran Batavia Baru yang menyebabkan sang ibu tak sadarkan diri di rumah sakit, Abi sudah berniat untuk mengunjunginya. Namun, karena statusnya, ia tak memiliki kesempatan untuk melakukan itu.


Hari ini, saat adiknya akan dikuburkan, ia mendapatkan kesempatan itu. Ironis, tapi ia harus bersikap tegar. Ia harus menahan rasa sakit hati yang sangat besar karena harus melewatkan kesempatan untuk melihat Rama untuk yang terakhir kalinya.


Di genggaman tangannya, ada sebuah botol transparan. Selain menjenguk ibunya, malam ini ia juga menemukan sebuah fakta besar. Rupanya, sang ibu dibuat tak sadarkan diri secara sengaja. Tiap hari infusnya disuntikkan zat sejenis opioid agar terus dalam keadaan koma. Jika ini dibiarkan berlangsung lama, bukannya tidak mungkin tante Jenny akan kehilangan nyawanya.


“Seperti yang pernah Mama katakan, mereka memang sangat jahat. Saat Mama menyuruhku berhenti, seharusnya aku berhenti sehingga Rama tidak perlu meninggal dan Mama tidak perlu disiksa seperti ini,” kata Abi sambil menahan air mata. “Tapi, karena sudah seperti ini kejadiannya, aku tak bisa berhenti lagi. Aku harus mengakhirinya dengan kemenangan kita, meski aku harus mempertaruhkan nyawaku. Maafkan aku karena tidak bisa melindungi kalian.”


Tiba-tiba terdengar suara ribut dari luar kamar.  Tak lama kemudian, beberapa polisi masuk dan mengacungkan pistol ke arah Abi. Abi hanya pasrah dan mengangkat tangannya. Ia membiarkan para polisi itu memborgol dan menyeretnya keluar kamar.


Saat mereka baru saja keluar rumah sakit menuju mobil polisi, Indira, Regina dan Rinjani sudah datang dan berusaha mendekati Abi. Namun, para polisi itu menahan mereka. Beberapa awak media juga sudah menunggu dan berusaha mendapatkan informasi yang lebih detail dari para polisi dan Abi sendiri.


“Aku takkan pernah berhenti. Ingat, aku takkan berhenti. Mohon bersabar sampai waktunya tiba,” bisik Abi saat Indira berhasil mendekatinya.

__ADS_1


__ADS_2