Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 65


__ADS_3

“Jadi, ini maksudmu dengan menikmati kebebasan sejenak?”


Indira hanya bisa memandang Abi yang sedang terbaring santai di sofa rumahnya. Tante Jenny yang bekas seorang perawat baru saja memeriksa dan memberikan sedikit obat pada lukanya.


“Bukan. Tapi aku akan membutuhkan tenaga yang besar untuk melakukannya. Jadi, aku harus memastikan luka ini tidak akan menghambat nanti.”


“Bilang saja kamu kangen dengan poster-poster di kamarmu. Tadi kamu masuk terlalu lama dan saat keluar, kamu terus tersenyum.”


Wajah Abi memerah. Yang dikatakan Indira sangat benar, tapi ia punya hal lain untuk menyangkalnya. Ia mengeluarkan sebuah ID card dengan fotonya.


“Aku lama karena mencari ini dan tersenyum karena menemukan ini,” kata Abi. “Aku pernah menjadi office boy di sana dengan nama samaran dan karena seluruh office boy and girl di sana dari perusahaan outsourcing, jadi para karyawan dan satpam di sana jarang mengenali wajah kami. Mereka hanya mengecek ID card kami.”


“Wah, kamu hebat juga,” puji Indira sambil bertepuk tangan. “Tapi kamu pasti lama di kamar karena menyapa poster-postermu.”


Abi tidak menjawab lagi karena ia tahu Indira pasti akan menyerangnya kembali. Wanita itu memegang rahasia terbesarnya dan ia tak bisa melawan. Bukan karena ia merasa salah atau kurang ngotot, tapi karena ia tidak ingin GFriend atau Eunha dijadikan lelucon untuk mengejeknya.


“Jika mengingat kamu kabur sampai harus melukai perutmu sendiri, seharusnya kamu menyesal karena telah ‘menolak’ untuk bebas, padahal kamu punya kesempatan untuk itu,” ujar Indira. Abi sadar kalau mereka belum benar-benar menyelesaikan perselisihan mereka karena persidangan terakhir.


“Aku minta maaf untuk kejadian waktu itu. Aku -”


“Tidak perlu. Waktu itu kamu juga sudah meminta maaf. Katamu, kamu harus tinggal di penjara karena kamu mengincar orang yang sangat berbahaya. Bahkan, kamu tak peduli jika kalah dalam kasus ini dan dihukum penjara dalam waktu yang cukup lama, dan mungkin ini akan memengaruhi reputasiku sebagai pengacara.”


“Tentang itu, aku -”


“Sekarang kamu harus katakan, siapa orang yang sangat berbahaya itu?”


Abi hanya terdiam. Ia masih belum siap untuk menyebut nama tuan Jireh sebagai orang berbahaya itu pada Indira. Apalagi setelah asisten pria misterius itu mendatangi Indira.


“Aku pasti akan memberitahumu jika waktunya tepat.”


“Sekarang adalah waktu yang tepat. Tidak ada penyadap, tidak ada penjaga.”


Abi pura-pura tidak mendengar dan menutup matanya seolah sudah tertidur, membuat Indira semakin kesal.

__ADS_1


“Kalau kamu tidak mau memberitahunya, aku akan mencari tahu sendiri. Gampang saja, tinggal mulai investigasi dari Benjiro,” kata Indira sambil melirik Abi, yang ternyata masih menutup matanya. “Kalau tidak, aku akan mengungkapkan penyebab kematian Mischa agar kamu segera bebas dari penjara. Kamu pikir hanya kamu yang tahu.”


Mendengar kata-kata terakhir Indira itu, Abi duduk dan memelototkan matanya. “Kau sudah tahu? Dari mana?”


“Ada, deh.”


Abi menyipitkan mata dan mengerutkan dahinya seakan sedang berpikir keras. Kemudian dia tersenyum dan berkata, “Tak mungkin kau tahu.”


Indira tak tahan untuk berbohong lebih lama dan akhirnya ia mengaku tidak tahu. “Tapi aku bisa membuatmu bebas. Aku takkan membiarkanmu merusak reputasiku sebagai pengacara.”


“Kau baru resmi memenangkan dua kasus mudah, yaitu kasus mamaku dan kasus Alya. Reputasimu sebagai pengacara masih terlalu kecil untuk hancur.”


Tanpa Abi duga, Indira melempar bantal sofa ke wajahnya hingga hidung Abi terasa nyeri. dan matanya berkunang-kunang.


“O ya, bicara tentang Alya, aku merasa ada yang aneh,” ujar Indira.


“Aneh kenapa?”


“Mungkin ia melarikan diri karena dikambinghitamkan perusahaan.”


“Tidak, namanya sama sekali tidak terseret oleh kasus perusahaan itu. Kalaupun melarikan diri, seharusnya ia menghubungi atau membawa istri dan anak-anaknya. Tapi ia hanya menghilang tanpa jejak.”


Abi memiliki firasat buruk untuk Raditya Lesmana. Apakah tindakannya yang mengirim beberapa dokumen terkait PARADISE pada Abi telah diketahui oleh tuan Jireh?


“Jangan-jangan kehilangannya berhubungan dengan orang berbahaya yang kamu bilang itu. Siapa sebenarnya dia?” tanya Indira yang membuat Abi terkejut, seolah wanita itu bisa membaca pikirannya.


“Sudah kubilang, belum waktunya,” kata Abi yang kembali memejamkan mata.


“Jadi, kita akan pergi ke kantor PT. Laras Jaya Karya sekarang?” tanya Indira mencoba mengalihkan topik. Ia tahu, pembicaraan mereka akan ngalor ngidul karena Abi takkan mau menjawab pertanyaannya tentang orang yang berbahaya itu.


“Bukan sekarang, tapi nanti,” kata Abi. “Ada tempat yang harus kukunjungi.”


                  *

__ADS_1


Gedung itu tak jauh dari rumah Abi, hanya terpisah beberapa blok saja. Setiap melihat gedung itu, ia selalu mengingat dua hal: masa kecil dan masa sulitnya saat baru keluar dari penjara lima belas tahun yang lalu.


Abi mendorong pintu gedung itu. Ia melihat ruangan di dalamnya tidak banyak berubah dibanding ketika ia terakhir masuk ke sana beberapa tahun yang lalu.


Ia berjalan pelan menyusuri celah di antara barisan-barisan kursi menuju sebuah altar. Ada satu orang yang hadir di kepalanya saat ini, yaitu seorang pria tua berambut putih yang selalu tersenyum dalam keadaan apapun. Pria itu biasanya berdiri di altar tersebut dan menyampaikan khotbahnya dengan suara yang mampu menghangatkan hati. Orang-orang selalu memanggilnya Pendeta Billy.


“Kau sedang mengingat pria tua itu?”


Sebuah suara mengejutkan Abi. Ia mencari sumber suara itu dan mendapati seorang wanita yang usianya sekitar awal empat puluhan sedang tersenyum dengan rokok yang menyala terselip di sela-sela jarinya. Wanita itu mengenal Abi dan tahu kalau seharusnya Abi sedang dipenjara. Tapi, ia sama sekali tidak terkejut. Seakan ia sudah mengetahuinya.


“Ya, pria tua baik hati yang membiarkan bajingan sepertimu tinggal di gereja ini.”


Abi mengenal wanita itu. Semua orang tahu namanya adalah Siti V, meski tidak ada yang tahu kepanjangan dari huruf V itu. Ia adalah mantan anggota salah satu geng mafia. Tiga belas tahun lalu ia hampir mati dibunuh karena dituduh memfitnah. Untung saja pendeta Billy menyelamatkannya dan sempat menyembunyikannya beberapa minggu di gereja. Pada akhirnya, ia terbukti tak bersalah dan geng itu menghendakinya untuk kembali. Tapi, ia menolak dan memilih meninggalkan geng itu dan hidup sebagai pelayan Tuhan..


Kebetulan, ia sangat hebat dalam memainkan alat musik keyboard. Sejak pendeta Billy membaptisnya, ia selalu didapuk menjadi pemusik gereja. Bahkan, ketika pria baik hati itu meninggal tiga tahun yang lalu dan digantikan oleh pendeta yang tak sebaiknya sehingga banyak jemaat malas untuk beribadah di sana, Siti V tetap setia. Tentu saja, ia tidak benar-benar setia. Ada motivasi terselubung di balik itu.


“Jangan sombong. Kalian, anak-anak para pel*cur di lokalisasi ini juga diselamatkan hidupnya oleh pak tua. Jika tidak, kalian hanya akan menjadi sampah masyarakat,” kata wanita itu sambil tersenyum mengejek. “Ya, walau pada akhirnya hidup kalian hanya sedikit lebih baik dari sampah.”


Memang demikian gaya bicara wanita itu sejak dulu. Sekeras apapun pendeta Billy dan orang-orang di sekitarnya mengingatkan cara bicaranya yang kasar dan sangat tajam, tidak ada yang bisa mengubah. Hingga pada akhirnya, semua orang memaklumi dan tidak pernah sakit hati lagi.


“Jadi, apa tujuanmu datang? Aku tak yakin kau repot-repot kabur dari penjara hanya untuk bertobat di gereja ini.”


Abi tersenyum. Tentu saja, Siti V adalah tujuan utamanya datang ke tempat ini. “Aku membutuhkan beberapa informasi.”


Selain mahir memainkan alat musik keyboard, Siti V juga mahir menggunakan keyboard komputer dan ponsel pintarnya. Sejak masih di dunia hitam, ia adalah pencari informasi yang andal. Hampir semua informasi penting yang ada di kota ini bisa ia cari. Dulu orang-orang memanggilnya Si Peramal. Tapi, sejak memilih hidup yang baru, ia mengganti namanya menjadi Siti V sehingga ketika namanya disebut dengan tambahan kata sandang ‘si’, akan terdengar seperti pelafalan CCTV.


Keluar dari geng mafia dan tinggal di gereja tidak lantas membuatnya meninggalkan keahliannya itu. Ia tetap bekerja sebagai pencari informasi freelance dan menggunakan mess gereja sebagai kantornya. Orang-orang dari berbagai kalangan datang untuk memakai jasanya. Ia menghasilkan banyak uang, namun sebagian besar disumbangkannya untuk orang-orang yang membutuhkan. Hal tersebut yang membuat pendeta Billy membiarkannya.


Siti V juga yang mengajarkan Abi bagaimana caranya mendapatkan informasi dari orang-orang yang terkait dengan penyiksaannya lima belas tahun yang lalu dan bagaimana menyimpan informasi-informasi tersebut di sebuah penyimpanan sejenis cloud. Tak heran jika terkadang Abi menganggapnya sebagai guru.


“Informasi apa? Kumohon, informasi yang menarik.”


“Pasti menarik,” jamin Abi. “Tentang seseorang yang bernama tuan Jireh.”

__ADS_1


__ADS_2