Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 89


__ADS_3

Setelah sidang pembacaan putusan


Indira keluar gedung pengadilan negeri dengan wajah kuyu. Para awak media yang sejak tadi menunggu langsung menyerbunya. Sebagai tokoh yang paling menyedot perhatian di setiap proses persidangan, tentunya pendapat dari Indira terkait akhir dari perjuangannya akan menjadi liputan yang cukup mahal. Apalagi masyarakat juga ingin tahu tanggapan Indira terkait vonis sepuluh tahun penjara yang didapat kliennya, Abimanyu Alexander.


“Sebagai seorang pengacara sejati, saya menghormati putusan yang dibuat oleh majelis hakim. Meski demikian, saya menganggap banyak keanehan selama proses persidangan, baik yang terjadi di dalam atau di luar persidangan tersebut, yang pasti memengaruhi vonis,” kata Indira.


“Bisa berikan contoh keanehan tersebut?” tanya salah satu wartawan.


“Misalnya saja proses persidangan Benjiro. Apakah ada di antara kalian yang menghadirinya? Tidak, bukan? Bagaimana bisa persidangan Benjiro dilakukan tertutup dan tanpa melibatkan klien saya, Abimanyu Alexander, padahal orang itu adalah dalang dari kasus yang menimpa klien saya? Kalian pikir saja, sampai persidangan ketiga, hampir semua orang menganggap Abimanyu Alexander adalah pembunuh Mischa. Tapi, ketika kami mengungkap kebenarannya sendiri bahwa pelakunya adalah Benjiro, tanpa bantuan dari pihak kepolisian, mereka seolah menjauhkan kami dari orang itu. Dan lebih anehnya, klien kami tetap diberikan hukuman untuk narkotika yang sudah jelas ia bawa tanpa sepengetahuannya.”


“Lalu, kenapa di persidangan sebelumnya Mbak tidak memberikan pembelaan atas tuntutan yang dibacakan oleh jaksa?”


“Ya, karena itu. Kami melihat persidangan ini sudah tak bisa diharapkan lagi. Kami sudah berencana untuk mengajukan banding ke pengadilan tinggi, terutama setelah melihat vonis tak masuk akal yang baru saja diberikan tadi.”


Setelah menyatakan akan melakukan banding, Indira segera menerobos kerumunan itu untuk pergi, meski masih banyak pertanyaan yang ingin diajukan oleh para wartawan itu. Bahkan, ia masih diikuti oleh beberapa pencari berita sampai ke depan pintu gerbang pengadilan.


Akhirnya, Indira bisa menikmati ketenangan di sebuah kedai kopi dekat gedung pengadilan. Ia segera memesan kopi Vietnam yang biasanya ampuh membuatnya tidak tidur sampai besok pagi. Ia memang berencana untuk begadang karena ingin segera mempersiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan banding.


“Hei, kau juga di sini?” tanya seorang pria tua yang sudah sejak tadi duduk di sana.


“Lho, pak Burhan. Kok cepat sekali sudah sampai di sini?” kata Indira yang langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan pria tua bernama Burhan itu.


“Masa’ kau tidak tahu kebiasaan bapak? Setiap selesai membacakan vonis, bapak selalu datang ke sini untuk menenangkan pikiran dan merefleksikan diri terkait vonis yang baru saja bapak berikan pada seorang terdakwa.”


“Ya, benar. Bapak sering bilang kalau setiap vonis yang Bapak ambil akan memengaruhi kehidupan seseorang, terutama bagi pelaku maupun korban.”


“Bagus, bagus. Ternyata kau tidak benar-benar melupakan bapak.”


Mereka berdua tertawa. Ada satu kebahagiaan yang tercipta di antara mereka. Pria tua itu adalah salah satu dosen favorit Indira ketika kuliah hukum dulu. Demikian juga Indira adalah salah satu mahasiswa pak Burhan yang paling berkesan karena kegigihannya, meski tidak terlalu pintar. Biasanya, mereka bertemu di kedai kopi ini untuk sharing tentang hukum, terutama ketika Indira menghadapi kasus yang cukup rumit.

__ADS_1


Sayangnya, selama proses persidangan Abi, mereka tidak bisa sembarangan bertemu. Pak Burhan adalah hakim ketua dalam kasus tersebut. Bahkan, mereka harus pura-pura tidak saling mengenal agar tidak timbul hal-hal yang tidak diinginkan dan bisa merugikan mereka.


“Puas dengan putusan yang saya berikan tadi?” tanya pak Burhan di tengah perbincangan mereka tentang kondisi kampus saat ini.


“Bohong jika saya bilang puas. Tapi, kami memang sudah berencana untuk mengajukan banding. Saya mohon dukungan dan masukan dari Bapak.”


Pria itu tertawa sambil menepuk punggung tangan Indira. “Kau sudah sangat berkembang selama menangani kasus ini. Bapak sangat bangga padamu.”


“Memang, selama ini hanya Bapak yang percaya kalau saya berpotensi sebagai pengacara. Mungkin salah satu yang memotivasi saya untuk tampil sebaik mungkin dalam kasus ini adalah Bapak juga.”


Pria itu kembali tertawa. “Kau tidak perlu melakukannya untuk siapapun dan karena siapapun. Lakukan untuk dirimu sendiri. Bapak tahu seberapa besar cintamu pada hukum dan keadilan. Itulah kenapa Bapak sangat senang saat mendengar kau keluar dari firma hukum busuk itu dan membuka firma hukum sendiri.”


Indira tersenyum sambil tersipu malu. Memang, hubungan mereka selama ini sangat dekat. Sebagai anak yang besar tanpa perhatian dari bapak kandungnya, Indira menemukan sosok bapak yang baik dari diri hakim tersebut. Pak Burhan juga memperlakukan Indira seperti putrinya sendiri. Katanya, dulu ia pernah memiliki seorang putri, namun meninggal di usia lima tahun karena sakit.


“Apakah klienmu tidak marah dengan vonis yang didapatnya tadi?” tanya pak Burhan.


“Abimanyu Alexander adalah orang yang aneh. Sejak mengetahui sidang Benjiro dilakukan tertutup dan ia tidak dipanggil untuk menjadi saksi, ia sudah bisa menebak kalau ia takkan mungkin divonis bebas.”


“Karena, melihat usahanya untuk menjauhkan Abimanyu dari sidang Benjiro, si dalang pasti menganggap Abimanyu adalah ancaman yang akan membongkar kasus kematian Mischa menjadi lebih luas. Artinya, jika Abimanyu bebas, peluangnya untuk menjadi ancaman akan semakin besar. Bukannya tidak mungkin ia mengungkapkan sesuatu terkait kematian Mischa yang belum terungkap di persidangan pada publik.”


Pak Burhan merasa tertarik dengan perkataan Indira dan menggeser kursinya ke depan. “Memangnya, kau tahu sesuatu itu?”


“Tentu saja tidak, Pak,” jawab Indira sambil tersenyum. “Tapi, vonis Bapak itu takkan menghentikan seorang Abimanyu Alexander. Ia sudah menyusun rencana untuk di penjara nanti.”


“Rencana?”


Indira tersadar, pak Burhan bukanlah orang yang tepat untuk ia bisa menceritakan Abi lebih banyak. Sedekat apapun mereka, pak Burhan tidak boleh mengetahui rencana mereka ke depan.


“Ya, maksudnya rencana ia bisa bertahan di penjara nanti. Ia sudah cukup lama di rutan, tentu ia takkan kesulitan untuk beradaptasi di lapas.”

__ADS_1


Pak Burhan termangu sejenak lalu tersenyum. Ia sedikit kecewa karena berpikir akan mengetahui sesuatu yang penting.


                  *


Mobil sedan tua berwarna putih itu masuk ke sebuah pekarangan rumah dengan perlahan. Seperti mobilnya, rumah itu juga terlihat antik meski kecil. Pria tua bernama pak Burhan keluar dari mobil itu lalu berjalan menuju pintu rumah.


Tujuan pertamanya adalah dapur. Ia sudah merindukan kopi buatan tangannya sendiri. Meski sudah dua gelas kopi diteguknya di kedai kopi tadi, ia masih merasa kurang. Ia memang sudah lama menjadi pecandu kopi.


Pak Burhan berjalan perlahan ke arah ruang tengah. Ia menyalakan televisi lalu duduk di kursi goyang yang berada di hadapannya. Setelah kopi itu diseruput, ia meletakkannya ke atas meja yang ada di sampingnya. Meski televisi itu menyala, ia sama sekali tidak memberikan fokus pada benda itu dan malah mengkhayal.


Seorang pria berpakaian rapi mengendap-endap di dekatnya. Ia menyentuh bagian pinggangnya untuk memastikan senjata yang sudah disimpannya sejak tadi. Perlahan ia mendekati pak Burhan yang sudah mulai menutup matanya.


Tiba-tiba mata pak Burhan terbuka dan langsung menoleh ke arah pria berpakaian rapi itu. Ternyata di tangannya sudah ada senjata yang mengacung.


“Kenapa aku tidak menyadarinya? Bodoh!” bentak pak Burhan.


Pria berpakaian itu bergeming. Ia seperti tidak takut dengan pistol yang mengarah padanya. Bahkan, ia hanya menunduk seakan pasrah.


“Apa yang terjadi, Tuan?”


“Si bocah sialan itu ternyata punya rencana sehingga ia membiarkan dirinya dipenjara. Ia pasti menemukan dokumen itu di gedung kantor PT. Laras Jaya Karya.”


“Tidak mungkin, Tuan. Orang gila seperti apa yang membiarkan dirinya dipenjara hanya untuk mencari tahu sesuatu yang belum jelas?”


Tiba-tiba pak Burhan melepaskan tembakan yang nyaris mengenai telinga kiri pria berpakaian rapi itu.


“Orang gila seperti kami sangat mungkin melakukan hal-hal seperti itu. Orang-orang waras seperti kalian takkan mengerti.”


Pria berpakaian rapi itu tertunduk takut. Entah karena peluru yang hampir meledakkan kepalanya atau karena amarah yang jarang ia lihat dari pria tua itu.

__ADS_1


“Ma, maafkan saya, Tuan Jireh.”


__ADS_2