
Tawa tuan Jireh itu menggema sampai ke sudut ruangan, meski dari pengeras suara ponsel. Arya Topaz Gumilang, pemilik ponsel itu, terlihat pucat pasi mendengarnya. Ia benar-benar ketakutan dan bingung harus melakukan apa dalam kondisi ini.
Setelah menyanggupi permintaan tuan Jireh, yang sebenarnya lebih mirip pemaksaan, Arya Topaz Gumilang terdiam. Ia membiarkan khayalannya bergerak liar tanpa kendali. Sepertinya akal sehat yang ia miliki sedang terganggu sehingga sulit baginya untuk berpikir dan lebih menyenangkan berkhayal saja.
“Kenapa kau terlihat pusing?” Sebuah suara membuyarkan khayalannya.
Ah, aku hampir lupa dengan bocah ini, batin Arya.
“Salah satu alasan aku percaya Tuhan adalah terlalu banyak kebetulan indah yang terjadi padaku. Penyiksaan dan tuduhan palsu yang kalian lakukan dulu, membuatku menemukan sesuatu yang kucintai, yaitu hukum. Jebakan narkoba yang dilakukan oleh Benjiro padaku, menyeretku ke dalam rencana rekayasa kematian Mischa dan tanpa kita duga membawaku pada pembalasan dendam lima belas tahun yang lalu. Bayangkan, aku bukan hanya membalas dendam pada Reynold, jaksa Jerold dan ayahnya. Sekarang, aku punya kesempatan besar untuk membalaskan dendamku padamu, orang yang sudah kucari keberadaannya selama beberapa tahun terakhir. Benar-benar kebetulan yang indah.”
Pria yang Arya anggap bocah itu tersenyum. Ia adalah Abi, yang sejak tadi menyelinap masuk ke ruangan Arya dengan mudahnya. Mengetahui ia masih hidup saja sudah membuat Arya terkejut setengah mati, apalagi sampai melihatnya duduk dengan santainya.
“Jadi, apa maumu?”
“Mauku? Bukankah sudah jelas? Kematianmu.” Kali ini Abi tidak hanya tersenyum, tapi tertawa terkekeh-kekeh. “Bercanda. Aku hanya ingin berbincang-bincang saja. Mungkin sedikit bernostalgia untuk masa lalu indah kita.”
Keringat mulai mengucur dari kening Arya. Meski berusaha untuk terlihat tegar, ia tidak bisa menutupi perasaan takutnya.
“Apakah kau ingin memperlakukanku seperti kau memperlakukan Reynold dan jaksa Jerold?”
“Ayolah, jangan lempar batu sembunyi tangan. Aku yakin kau tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Memang, aku sedikit terlibat dengan kematian Reynold dan aku menyesal untuk itu, meski ia pantas untuk menerimanya. Tapi, untuk kematian Roy, aku yakin kau terlibat,” kata Abi. “Lagipula, bukankah aku pernah mengatakan padamu kalau aku akan membalas dendam dengan hukum sebagai senjataku.”
Mendengar Abi membahas masa lalu, wajah Arya terlihat pucat. Ia sangat tahu, jika masa lalunya akan merusak reputasinya. Dengan kata lain, itu juga akan merusak rencananya untuk menjadi gubernur.
“Kau tahu? Yang menjadi lawanmu bukan hanya aku, tapi -”
“Aku tahu, aku tahu. Tuan Jireh,” potong Abi. “Sayangnya, sampai sekarang aku masih bisa bertahan dalam perlawanan ini.”
__ADS_1
Arya kembali terdiam. Ia cukup terkejut mendengar betapa santainya Abi menyebut nama itu. Tanpa sadar, ia menatap Abi dengan ngeri. Ya, Abi yang saat ini dilihatnya bukan lagi bocah sok jago yang bermulut besar meski sudah dalam kondisi babak belur. Meski tatapannya tak berubah, tapi aura yang dipancarkannya sangat berbeda. Entah, mungkin karena reputasinya yang dalam beberapa bulan terakhir ini meningkat pesat. Tidak banyak orang yang bisa membuat tuan Jireh kagum dan marah secara bersamaan dan ia termasuk salah satu di antaranya.
Sampai kapan kau bisa bertahan? Kau pasti belum terlalu mengenal tuan Jireh. Jika selama ini kau masih bisa bertahan, artinya dia belum serius melawanmu. Jangan terlalu jumawa.
“Sekarang bosmu itu pasti sedang galau. Sebelum ia bisa memastikan kalau surat itu sudah musnah, ia tak bisa melawanku kecuali dengan cara menangkap dan membunuhku,” ucap Abi.
“Jangan terlalu yakin kalau kau tidak akan ditangkap dan dibunuh.”
“Sudahlah, jangan bahas perseteruan kami lagi. Kau tidak sedang berada di level yang pantas untuk membahasnya,” kata Abi yang cukup tajam menusuk perasaan Arya. “Sebaiknya kita fokus ke urusan kita.”
“Aku merasa tidak punya urusan apapun denganmu.”
“Tentu saja ada. Saat ini kau adalah boneka tuan Jireh yang paling potensial untuk mencapai tujuannya. Sedangkan aku ingin menghancurkannya. Jadi, kita punya urusan penting.”
Emosi Arya meningkat. Ia merasa sakit hati karena Abi berbicara seenaknya tentang orang yang membuatnya takut bahkan hanya untuk menyebutkan namanya saja.
“Jadi, apa ingin kau lakukan padaku?”
Arya melongo sejenak lalu tertawa terbahak-bahak. Ia berpikir Abi terlalu bodoh untuk mengajukan pertanyaan itu padanya. “Apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan memberitahukannya padamu?”
“Tidak ada. Aku tidak perlu bertanya padamu untuk menemukan jawabannya,” balas Abi. Ia tersenyum, seiring makin padamnya tawa Arya. “Bahkan, aku sudah tahu rencananya.”
“A, apa itu?” Arya terlihat gugup karena perkataan Abi barusan.
Abi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
*
__ADS_1
Rinjani dan Indira duduk santai di sofa sambil menikmati berbagai cemilan. Mereka sedang asyik menikmati siaran berita tentang wawancara Indira tadi siang.
“Apakah hanya aku saja yang melihat atau memang aku lebih gemuk di televisi?” tanya Indira dengan wajah bingung.
“Itu hanya masalah sudut pengambilan. Di stasiun televisi lain tidak terlihat segemuk itu,” jawab Rinjani sempat menghibur hati Indira. “Sepertinya kameramen mereka cukup hebat.”
“Maksudmu, aku memang gemuk?”
“Aku tidak mengatakan seperti itu. Tapi, kau harus pertimbangkan untuk memulai diet.”
Ingin rasanya Indira menjambak rambut Rinjani karena mulut pedasnya itu. Tapi, ia berusaha mengabaikannya dan terus mengomentari penampilannya di televisi.
“Sepertinya aku harus mengganti foundation. Aku juga tidak boleh lupa menggunakan maskara dan perona pipi. Kata orang, *con*cealer bisa membantu menutupi bintik hitam dan menonjolkan area wajah tertentu. Aku juga harus mencobanya setiap kali akan tampil di depan kamera. Tidak, bahkan setiap kali keluar rumah. Kita tidak tahu diam-diam ada wartawan yang akan mengambil fotoku.”
Kali ini giliran Rinjani yang kesal melihat tingkah Indira. “Kita tahu tidak akan ada wartawan yang mau mengambil fotomu kecuali untuk pendukung berita tentang Abi. Kau tak seistimewa itu.”
“Kau hanya iri karena tak pernah masuk televisi,” balas Indira.
Meski sempat akrab, ternyata hubungan mereka kembali renggang setelah Abi hadir di antara mereka.
“Daripada membicarakan penampilanmu yang tak seberapa itu, aku lebih tertarik dengan hubungan antara Abi dan Arya Topaz Gumilang. Kau tahu sesuatu tentang itu?”
Mendengar topik baru yang ditawarkan Rinjani, wajah Indira terlihat lebih bersemangat. Ternyata, ia juga menyukai topik itu.
“Kamu tahu? Rupanya, Arya Topaz Gumilang adalah kapolsek di kantor polisi tempat Abi disiksa lima belas tahun yang lalu. Bisa dibilang, tuduhan palsu dan penyiksaan yang Abi terima dulu terjadi karena perintahnya,” info Indira.
“Benarkah?”
__ADS_1
“Benar. Abi sendiri yang mengatakannya padaku beberapa hari yang lalu.” Terlihat wajah bangga Indira karena menjadi orang pertama yang mendapatkan informasi itu langsung dari mulut Abi.
“Wah, pasti banyak cerita yang mereka bicarakan hari ini,” kata Rinjani sambil tersenyum.