
Regina mengulang rekaman interogasi yang ia lakukan pada Benjiro. Ini adalah pengulangan yang kesekian puluh kalinya. Ia tidak ingin ada yang terlewatkan, bahkan sedetikpun. Terutama yang melibatkan Abi. Sesekali tangannya bergerak menulis sesuatu di buku catatannya, Ia sudah tidak peduli dengan gelas kopi susunya yang sudah sejak tadi kosong.
Tiba-tiba ia menghentikan gerakan tangannya dan menjeda video itu. Kini tangannya meraih ponsel dan membuka galeri. Ada beberapa foto konyolnya bersama Abi. Tanpa sadar, ia tersenyum sambil mengenang momen saat mereka mengambil foto itu.
Perasaannya mendadak galau. Sejak mendengar kabar Abi ditusuk, ia belum pernah menjenguk sahabat baiknya itu. Padahal kekhawatiran di hatinya sangat besar. Semua karena pemikiran bodohnya yang menganggap rasa simpati sedikit saja akan mengaburkan objektivitasnya dalam penyelidikan kasus ini.
Sepertinya tidak salah jika aku menanyakan kabar terbarunya. Anggap saja demi kepentingan penyelidikan. Bukankah aku tidak akan bisa mendapatkan informasi darinya jika ia masih sakit?
Regina merasa tenang karena menemukan alasan yang cukup bagus untuk mengetahui kondisi Abi. Ia pun membuka nomor kontak dan mencari rekannya yang terlibat dalam pengawalan Abi di rumah sakit.
[Hei, ada apa? Tumben kau menelepon. Di jam seperti ini pula. Kangen, ya?]
Regina mencoba mengabaikan basa-basi yang dilontarkan rekannya itu. Ia tahu kalau Aiptu Khairul memang sering menggodanya.
“Aku hanya ingin tahu kondisi tahanan bernama Abimanyu Alexander yang kemarin mengalami penusukan. Hanya agar aku bisa menyusun jadwal untuk memeriksanya.”
[Oh, dia aman di ruangannya. Kudengar, malam ini lukanya akan dijahit kembali karena jahitan sebelumnya bermasalah.]
“Bermasalah bagaimana?”
“Tadi adiknya datang dan membawanya ke kamar mandi. Mereka seperti orang yang sedang berkelahi. Sangat rusuh. Mungkin pada saat itu, jahitannya rusak.”
Regina mengangguk. Ia tahu bagaimana rusuhnya Rama. Kemudian, ia berterima kasih dan menutup telepon, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Namun, saat menonton video itu kembali, ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Sempat ia berpikir keanehan itu berasal dari video interogasi Benjiro tersebut. Ia bahkan mengulang bagian yang sedang ditontonnya berkali-kali. Tidak ada yang aneh.
Tiba-tiba matanya terbelalak. Tangannya kembali mengambil ponsel dan menelepon temannya yang tadi.
[Halo, ada apa lagi, sih? Masa’ secepat itu kau sudah kangen?]
“Tadi kau melihat ada yang aneh dari adiknya?”
[Aneh? Memang ia terlihat seperti orang yang aneh. Seperti orang yang mempunyai keterbelakangan mental.]
__ADS_1
“Bukan, bukan itu. Tapi, lebih ke bentuk fisik dan gerak-geriknya. Apakah ada perubahan antara ketika dia baru datang dan ketika dia akan pergi?”
Rekan Regina itu tidak langsung menjawab. Sepertinya ia sedang berpikir.
[Iya, sepertinya agak berbeda. Saat pulang, badannya lebih tegap. Lebih gagah.]
“Tingginya?”
[Kalau tinggi, sepertinya tidak jauh berbeda.]
“Apa maksudmu dengan tidak jauh berbeda? Berarti ada perbedaan!”
[Eh, iya. Memangnya kenapa?]
“Bodoh!”
Regina langsung mengambil jaketnya dan bergegas keluar ruangan itu. Ia sudah bisa membayangkan apa yang sedang terjadi. Wajahnya tampak sedang meluapkan amarah yang sangat besar. Mulutnya tak henti menceracau.
“Abi bodoh! Abi bodoh! Kau tidak tahu akibat apa yang akan kau terima dari perbuatanmu ini?! Sebelum ada yang menyadarinya, aku akan membunuhmu!”
Abi menghentikan mobil saat mereka sudah sampai di parkiran. Mereka tidak segera turun. Abi hanya mengintip ke arah atas gedung. Indira sama sekali belum tahu apa yang akan direncanakan pria itu. Apakah ia akan kembali dengan cara yang sama seperti yang Rama lakukan tadi?
“O ya, bagaimana jika seandainya ditemukan sidik jari Rama di sana, di tempat yang tidak pernah Rama datangi? Atau, seandainya polisi sadar, bagaimana jika mereka menemukan sidik jarimu di rumah, di kantor PT. Laras Jaya Karya, atau di kafe tadi?”
Abi tersenyum menanggapi pertanyaan Indira. Ia hanya menjawab dengan mengacungkan kedua tangannya lalu menarik sesuatu dari pergelangan tangan. Ternyata selama ini ia mengenakan sarung tangan transparan.
“Rama juga mengenakannya di sana. Jadi, kau tidak perlu khawatir dengan perkara sidik jari.”
“Tapi, bukan hanya sidik jari yang bisa kalian tinggalkan. Bisa saja rambut atau hal lainnya. Jika mereka menemukan itu, mereka akan tahu kalau kamu pernah ke sana.”
“Untuk di rumah dan kafe, sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan karena aku memang sering ke sana. Tapi, untuk di kantor itu, aku memang sangat hati-hati. Untung saja, petugas di sana mengenakan masker dan kain penutup kepala. Dan untuk berjaga-jaga, aku juga menabur rambut Rama di beberapa tempat,” jawab Abi sambil mengenang bagaimana ia menjambak Rama saat bertukar pakaian tadi.
Indira hanya melongo karena persiapan Abi yang sangat matang. Ia semakin deg-degan menunggu rencana apa yang Abi punya untuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam rumah sakit, Rama menangis karena jahitannya akan diganti. Ia masih belum siap bertemu dengan benda-benda tajam setelah Abi menikamnya tanpa belas kasihan. Matanya terus tertuju pada jam yang terlihatnya. Entah itu jam di dinding, atau yang melekat di tangan siapapun yang berada di dekatnya.
“Belum dilakukan, Suster?” tanya polisi yang menjaga Rama.
“Belum, Pak. Kami sedang menunggu dokternya. Beliau masih sedang mengecek salah satu pasien di gedung sebelah.”
Polisi itu mengangguk-angguk. Ia tidak menyadari sesuatu yang cukup menghebohkan akan terjadi. Tidak dengan Rama yang sedang tidak sabar menantinya. Pukul 3 sebentar lagi. Ia harus segera bersiap-siap.
Tiba-tiba, terdengar sebuah alarm tanda kebakaran. Seisi rumah sakit mendadak panik, namun para petugas berusaha bersikap tenang dan mencoba menenangkan. Dengan sigap, mereka mengevakuasi para pasien keluar rumah sakit.
Rama yang terbaring di ranjang segera didudukkan di kursi roda. Tangannya tetap terpasang borgol. Saat evakuasi, ia dikawal oleh beberapa polisi. Jantungnya berdebar kencang dan berharap abangnya bisa menyelesaikan bagiannya dengan sempurna.
Tak disangka, suasana menjadi sedikit kacau saat lift yang mereka tunggu terbuka. Beberapa orang berebut untuk masuk duluan. Tanpa disadari oleh polisi itu, Rama membuka borgolnya dengan kunci yang diberikan oleh Abi sebelumnya. Ia tak tahu dari mana abangnya mendapatkan benda itu.
Ketika para polisi itu masih sibuk menenangkan kekacauan di depan lift, Rama pergi. Kabur memang salah satu keahliannya.
“Tahanan kita mana?” teriak salah satu polisi yang pertama kali menyadari kehilangan Rama. Polisi lain ikut terkejut dan mencari ke setiap sudut.
Di luar gedung, Abi sudah berdiri dengan pakaian pasien cadangan yang telah dipersiapkan oleh Rama. Ia juga sudah tahu beberapa titik buta kamera CCTV dari informasi yang sebelumnya telah diberikan oleh Rama. Saat ini, yang ia lakukan hanyalah menatap keributan para pasien yang berhasil dievakuasi keluar gedung sambil menunggu tanda-tanda kedatangan Rama sesuai yang mereka rencanakan.
“Jadi, kalian yang membuat alarm palsu itu menyala pada jam 3?” tanya Indira yang juga berdiri di sampingnya.
“Begitulah.”
“Wah, kalian memang monster.”
Sindiran Indira sangat menusuk hati Abi. Memang, ada perasaan bersalah di hatinya ketika melihat para pasien dan petugas rumah sakit yang kelelahan. Tapi, ia tak punya cara lain.
“Setidaknya kami hanya menyalakan alarm palsu, bukan membuat kebakaran sebenarnya,” ujar Abi berusaha membela diri.
“Wah, psikopat. Bahkan kamu kepikiran untuk membakar rumah sakit.”
Abi tidak menjawab lagi. Ia sadar kalau apapun yang ia katakan sekarang akan menjadi bahan ejekan Indira. Sepertinya wanita itu masih marah padanya karena insiden banting ponsel tadi.
__ADS_1
Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan oleh sebuah mobil yang melaju kencang dan mendadak mengerem. Mata Abi terbelalak melihatnya. Ia mengenal mobil itu. Saat pengemudinya keluar, ia segera menarik Indira sambil membungkukkan badannya.
“Sial! Itu Regina!”