
Dua puluh tujuh tahun yang lalu
Regina berjalan santai menuju kelasnya. Sebagai siswa kelas satu SD yang langsung populer di antara teman-temannya, ia menjadikan sekolah sebagai salah satu tempat favoritnya. Hari-hari di sekolah adalah waktu yang sangat menyenangkan baginya.
Tapi, beberapa hari terakhir, kesenangan itu sedikit terganggu dengan tingkah salah satu teman sekelasnya.
“Selamat pagi, calon istriku. Aku sudah bawa sarapan untukmu. Ibuku yang memasaknya.”
Wajah Regina langsung pucat karena harus menahan kesal sepagi ini. Energi yang terpancar dari dirinya sejak tadi pagi mendadak redup saat melihat Franky menyambutnya. Ingin rasanya ia berbalik dan pulang ke rumahnya.
Semua bermula ketika ia dan mamanya berpapasan dengan Franky dan ibunya di sebuah pesta pernikahan. Mempelai wanitanya adalah sepupu ibunya Regina, sementara mempelai prianya punya hubungan bisnis dengan ayahnya Franky.
Seperti kebanyakan orang dewasa lainnya, ibunya Franky langsung terpesona dengan kecantikan dan keimutan Regina yang dipadukan dengan kemampuan mamanya dalam meriasnya.
“Bagaimana kalau kita jodohkan Franky dengan Regina? Sepertinya mereka cocok.”
Mamanya Regina tidak bilang setuju, namun tidak juga menolak. Ia hanya tersenyum. Karena hal itu, Franky yang menganggap serius percakapan tersebut yakin kalau mereka berdua sudah dijodohkan. Sejak saat itu, ia mengatakan pada semua orang kalau Regina adalah calon istrinya.
“Maaf, aku sudah sarapan,” kata Regina menolak pemberian Franky dengan sopan.
Menjelang bel masuk berbunyi, para siswa yang sudah datang harus mendengar ocehan Franky. Bocah itu bercerita dengan cukup detail perihal rencana masa depannya bersama Regina jika mereka sudah besar nanti. Sebenarnya tidak ada yang tertarik dengan cerita fantasinya, terutama Regina. Tapi, karena suaranya yang cempreng dengan volume yang cukup tinggi, mau tak mau seisi kelas harus mendengarnya.
Tiba-tiba, seorang anak laki-laki yang kursinya berada di belakang Franky dan sedari tadi sibuk membaca buku, berdiri dengan cepat sehingga kursinya bergeser dengan kencang dan menimbulkan suara yang cukup bising.
“Hei, apa kau tidak sadar? Dia cantik dan kau jelek. Ia takkan mau menikah atau hanya pacaran denganmu. Bahkan aku yang jauh lebih ganteng darimu saja sadar kalau dia takkan mau denganku. Kalau ada yang bilang kau ganteng dan cocok dengannya, itu hanya ibumu saja. Ibu monyet juga bilang anaknya ganteng.”
Seisi kelas senyap. Mereka terkejut karena bocah yang bernama Abimanyu Alexander itu, yang selama ini cukup pendiam, berteriak membentak Franky. Si objek bentakan juga terlihat sangat pucat. Selain karena dibentak, fakta-fakta yang disampaikan oleh Abi tadi sangat menyakitkan baginya.
Regina tersenyum. Sejak saat itu ia mulai tertarik dengan Abi, meski bocah laki-laki itu cuek padanya. Secara perlahan, Regina mendekati Abi. Mulai dari pura-pura meminjam penghapus, menanyakan PR sampai menawarkan roti padanya. Hingga tanpa sadar mereka sudah akrab.
“Ayo kita pacaran,” kata Regina suatu waktu.
“Bodoh! Kita masih anak-anak, tidak boleh pacaran. Kata mamaku, pacaran adalah persiapan mau nikah dan jika mau nikah, harus punya uang banyak. Jadi, kita boleh pacaran kalau sudah bekerja dan punya uang.”
Penjelasan dari Abi tentang pacaran itu tidak menyurutkan niat Regina sama sekali. Ia tetap mencari celah.
“Kalau begitu, janji kita akan pacaran kalau sudah kerja nanti, ya.”
“Maaf, tapi kau bukan tipeku.”
Regina kesal mendengar jawaban itu dan hendak memukul kepala temannya tersebut.
“Jadi, seperti apa tipemu itu?”
__ADS_1
“Mamaku sangat ramah pada semua orang, terutama para pria. Ia selalu membawa minuman pada para pria yang baru datang ke kafe kami. Ia juga mau menertawakan lawakan mereka, walau itu sangat tidak lucu. Sesekali aku melihat ia duduk di pangkuan pria yang sedang terlihat murung.”
“Jadi, maksudmu, aku harus baik ke semua cowok seperti mamamu itu biar bisa jadi pacarmu?”
Abi tersenyum mendengar pertanyaan Regina yang polos. Kemudian ia berkata, “Justru aku tidak ingin kau terlalu ramah dengan semua orang, apalagi jika kau tidak menyukainya. Seperti yang kau lakukan pada Franky. Jika memang tidak suka, katakan tidak suka atau sekadar tunjukkan wajah tidak suka. Karena aku tahu, sangat tidak menyenangkan ketika harus pura-pura ramah pada orang yang tidak kita sukai. Seperti mamaku.”
Regina merenungkan kata-kata Abi tersebut. Seratus persen benar. Selama ini ia menuntut dirinya untuk ramah dengan semua orang karena ia seperti punya tanggung jawab sebagai anak yang populer dan disukai oleh banyak orang. Tanpa sadar, ia harus menderita karenanya.
“Thanks, Bi,” kata Regina sambil tersenyum. “Pokoknya kalau sudah besar nanti, aku hanya akan ramah padamu. Jadi, nanti kita harus pacaran.”
*
Lima belas tahun yang lalu, sebelum Abi dipenjara.
“Kau memang aneh. Baru seminggu bilang mencintaiku, sekarang kau malah pacaran dengan cowok lain,” kata Abi pada Regina.
“Kau juga aneh. Sudah seminggu bilang mencintaiku, sampai sekarang menolak kalau diajak pacaran,” balas Regina.
“Tapi, apakah pacarmu tidak marah jika kau masih bergaul dengan cowok lain?”
“Dia tidak berhak marah. Posisimu selalu lebih baik dari cowok manapun. Jika sekarang dia jadi pacarku, maka kau adalah tunanganku. Jika suatu saat dia jadi tunanganku, maka kau adalah suamiku.”
“Jika suatu saat dia menjadi suamimu?”
Mereka sadar kalau perbincangan mereka itu tidak serius. Setelah itu, mereka tertawa dan bercengkrama seperti biasa.
Demikianlah persahabatan mereka. Sudah nyaris dua belas tahun mereka membangun hubungan platonik yang tak pernah rusak sama sekali. Meski minggu lalu mereka saling mengutarakan perasaan cinta mereka untuk satu sama lain, hubungan mereka tidak berubah. Meski Regina berharap mereka bisa berpacaran.
Sebenarnya bukannya Abi tidak mau, tapi ia hanya sadar diri. Walau Regina sudah tahu pekerjaan mamanya, Abi merasa tidak layak untuk gadis itu. Karenanya, ia sangat termotivasi untuk berhasil dalam pekerjaannya di masa depan nanti sehingga aib ibunya sebagai mantan pekerja ** komersil bisa terbiaskan.
“Kenapa arsitek?”
Regina bertanya tentang pilihan cita-cita sahabatnya itu.
“Selain suka menggambar, aku ingin membangun sebuah rumah yang indah buat mamaku,” jawab Abi lirih. “Sangat indah, sehingga ia rela meninggalkan Batavia Baru untuk tinggal di sana.”
Wajah Abi terlihat murung meski ada senyuman yang tersungging di bibirnya. Regina merasakan kegetiran itu. Ia tahu bagaimana Abi sangat ingin membawa mamanya keluar dari kehidupan kelam di Batavia Baru.
“Kalau begitu, buatkan juga untukku yang tak kalah indah.”
Abi tersenyum dan kali ini kemurungan telah sirna dari wajahnya. Ia tahu kalau Regina berusaha menghiburnya dengan permintaan konyol itu.
“Kalau kau, mau jadi apa dengan badan setinggi itu? Padahal kau akan keren jika menjadi pebasket.”
__ADS_1
Badan Regina memang cukup tinggi untuk ukuran perempuan pada saat itu. Tingginya sudah mencapai 170 cm. Di sekolah, hanya ada dua orang yang memiliki badan lebih tinggi darinya, salah satunya adalah Abi.
“Aku tidak suka basket dan tidak ingin jadi olahragawan. Tapi aku mendengar kalau modelling adalah pekerjaan yang menarik.”
Abi mengangguk dan seakan mendukung pilihan Regina tersebut. Kemudian mereka kembali membahas tentang pacaran.
“Jadi, kenapa Roy?”
“Tidak ada cowok yang mau pacaran dengan cewek yang lebih tinggi darinya. Di sekolah ini, hanya kalian berdua yang lebih tinggi dariku. Karena kau tak kunjung mengajakku pacaran, akhirnya aku pilih dia saja.”
“Kau ini, memilih pacar seperti memilih barang di mal,” ejek Abi. “Lalu, apakah menyenangkan berpacaran dengannya?”
Air muka Regina mendadak redup, membuat Abi merasa ada sesuatu yang aneh terjadi. “Aku akan memutuskannya besok.”
“Apa? Putus? Bukankah kalian baru jadian kemarin? Apa alasannya?”
“Ternyata dia itu arogan. Sedikit sedikit, pamer harta kekayaan bapaknya. Dia selalu menganggap rendah orang lain. Bahkan setelah kami jadian, ia memperlakukanku seperti pembantu yang harus menurut padanya karena sudah digaji. Padahal ia baru mentraktirku semangkuk bakso.”
Abi manggut-manggut. Meski tidak begitu mengenalnya, ia setuju dengan Regina perihal sifat Roy yang arogan itu. “Ya sudah, mana yang terbaik untukmu saja.”
“Yang terbaik untukku itu kamu. Makanya, ayo pacaran.”
“Maaf, aku tidak mau jadi selingkuhan orang.”
Mereka pun tertawa bersama, seakan sedang melupakan masalah-masalah yang sedang mereka hadapi.
*
Lima belas tahun yang lalu, setelah Abi dipenjara
“Kau memang brengsek! Apakah kau tidak malu dengan kelakuanmu? Sudah jelas kau yang memprovokasi dia. Sudah jelas dia hanya ingin melindungiku karena kau mau memukulku. Sudah jelas kau dan teman-temanmu yang lebih dulu menyerangnya, tapi kalian kalah karena terlalu lemah.”
Semua orang mendengar teriakan Regina pada Roy, namun mereka pura-pura tidak mendengar. Mereka tidak ingin berurusan dengan Roy dan berujung seperti Abi.
“Kau tahu dari mana? Semua orang yang melihatnya bilang kalau dia yang lebih dulu menyerang kami dari belakang,” kata Roy membela diri. Semua orang tahu itu tidak benar, tapi tidak ada yang mau menyangkal kecuali Regina.
“Aku juga tak tahu kenapa semua orang takut padamu. Bahkan para guru sialan itu juga membelamu. Apakah kali ini kau juga mengandalkan duit bapakmu?”
Roy berdiri dari kursinya dan menarik kerah seragam Regina. Amarah terlihat dari raut wajahnya. “Jangan bermulut besar. Polisi saja tahu kalau dia bersalah, makanya dia yang dipenjara.”
Ternyata Regina tidak menunjukkan kegentaran sama sekali. Ia membalas tatapan penuh amarah dari Roy dengan tatapan penuh kebencian. “Suatu saat aku akan menjadi polisi dan aku akan mencari tahu apakah orang seperti Abi atau orang sepertimu yang layak dijebloskan ke dalam penjara. Dan jika saat itu tiba, aku akan menarik kerah bajumu dan berkata padamu kalau kau hanya bajingan kecil tukang fitnah yang sombong dan hanya bisa mengalahkan perempuan.”
Regina menepis tangan Roy dan pergi. Sementara itu, Roy terlihat malu dan marah karena ucapan mantan kekasihnya itu.
__ADS_1