Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 43


__ADS_3

“Lalu aku membacakan pasal 48 KUHP padanya, dan ia pun setuju untuk menjadikanku penasihat hukumnya,” kata Indira sambil tersenyum puas. Abi hanya memberikan tepuk tangan kecil untuk menunjukkan antusiasnya dalam mendengarkan cerita dari sang pengacara.


Sudah hampir setengah jam sejak Indira datang mengunjunginya, selama itu juga ia bercerita panjang lebar tentang apa yang terjadi padanya kemarin. Ia sangat senang dengan keputusan Alya yang akhirnya mau mempekerjakannya untuk melaporkan tindakan KDRT yang menimpanya.


“Aku sangat bersyukur bisa menangani kasus KDRT. Tidak, aku bersyukur karena bisa meyakinkan korban KDRT untuk mengambil tindakan hukum agar pelakunya bisa ditangkap dan dipenjara.”


Tiba-tiba air mata mengalir di pipi Indira. Abi sempat hendak menenangkannya, sebelum ia sadar kalau itu adalah air mata kebahagiaan. Wanita itu tertawa dengan air matanya.


“Aku sangat bersyukur.”


Abi sudah mendengar banyak kisah masa lalu Indira dari Rama. Ia tahu, ibu dari Indira adalah korban KDRT, bahkan sebelum ia lahir. Kematian dari sang ibu juga diduga karena akumulasi luka fisik dan luka batinnya selama beberapa tahun yang menyebabkan komplikasi penyakit. Lahirnya Indira dengan proses yang sulit dan tanpa didampingi oleh sang suami menjadi pemicu kambuhnya penyakit-penyakit tersebut. Sejak kecil, Indira hidup dengan perasaan bersalah. Andai dulu ibunya melaporkan suaminya atas tindak kekerasan itu, mungkin sekarang sang ibu masih hidup bahagia. Meski ia takkan lahir ke dunia ini, itu tetap lebih baik daripada situasi sekarang.


“Jika memenangkan kasus ini, aku ingin mempersembahkannya untuk mamaku dan Ivonne,” ujar Indira lirih. “Ivonne adalah teman SMP-ku. Dulu kami akrab sekali. Aku selalu mengatakan padanya kalau aku iri karena ia punya ayah dan ibu yang lengkap dan saling mencintai. Aku pernah berkunjung ke rumahnya dan kedua orang tuanya sangat mesra.”


Indira kembali tersedu-sedu sehingga Abi merasa harus menenangkannya. Sipir yang bertugas mengawasi Abi sampai bingung karena pertemuan itu tidak mirip pertemuan antara pengacara dan kliennya, tapi lebih mirip konseling kedukaan.


“Apa yang terjadi padanya?” tanya Abi seolah belum mengetahui cerita itu.


“Ternyata mereka adalah orang tua yang kejam. Mereka menuntut terlalu banyak pada Ivonne, bahkan seringkali memberikan hukuman yang sangat berat pada putri kandungnya sendiri.”


Abi memegang tangan pengacaranya itu dan membelai lembut dengan ibu jarinya. Matanya menatap Indira seakan ingin berkata kalau ia mendengar dengan baik dan Indira tidak perlu menahan diri untuk menumpahkan semua yang ada di pikirannya.

__ADS_1


“Seandainya dulu aku tidak terlalu memuji kedua orang tuanya dan menganggapnya selalu diliputi oleh kebahagiaan, mungkin aku akan peka dengan penderitaan yang sedang ditanggungnya. Seandainya dulu ia tahu kalau ada hukum yang akan melindunginya, mungkin ia tak akan kepikiran untuk bunuh diri.”


Abi sudah tahu semuanya. Bahkan sebelum mendengar kisah masa lalu Indira, ia sudah menebak kalau wanita itu sedang terbelenggu dengan sesuatu yang membuatnya takut pada banyak hal, termasuk takut melihat bahwa dirinya memiliki potensi yang luar biasa.


Dan setelah mendengar kisah masa lalunya, Abi sadar bahwa belenggu itu adalah kesempatan untuk memberitahukan orang-orang yang senasib dengan ibu dan sahabatnya, bahwa hukum yang benar memiliki kekuatan yang besar untuk menyelamatkan mereka dari situasi mengerikan itu. Karenanya, ia menciptakan kesempatan tersebut untuk Indira.


“Jadi, kau bahagia sekarang?” Sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu sudah sangat jelas. Abi menanyakannya hanya untuk mengalihkan kesedihan yang melingkupi perasaan Indira.


“Sangat. Walaupun kasusnya belum naik ke persidangan, aku sudah sangat bahagia. Seperti mimpiku sejak dulu telah terwujud,” kata Indira tersenyum. Air matanya sudah berhenti mengalir, seperti yang diharapkan oleh Abi. “Jika kasusmu sudah selesai, aku akan fokus pada kasus-kasus KDRT. Bahkan aku akan menerima kasus dengan cuma-cuma.”


“Bagus. Aku suka semangat itu. Jadi, mari kita selesaikan kasusku dengan usaha terbaik kita agar kau bisa menjadi pengacara seperti yang kau mau tanpa beban.”


Abi dan Indira saling balas senyuman. Tanpa diduga, ada sesuatu yang terlintas di kepala Indira saat menyadari betapa manis senyuman Abi baginya dan itu membuat pipinya memerah.


Abi tidak langsung menjawab dan berpikir sejenak. Kemudian, ia menghela napas dan berkata, “Belum sekarang. Aku belum bisa menjawabnya sekarang. Jalan masih panjang. Apalagi kau belum memenangkan kasus itu.”


Jawaban dari Abi tersebut membuat India kesal. Ia menganggap Abi tidak bersikap sportif karena kembali menolak untuk menjawab pertanyaannya.


“Lihat saja, aku takkan mau mengambil kasus yang kamu tawarkan lagi. Aku takkan mau membantumu lagi kecuali untuk kasusmu.”


“Pamrih yang kudapatkan juga berkaitan dengan kasusku. Jadi, seharusnya kau tidak perlu protes karena aku memberikan kasus itu. Apalagi, kau mengaku bahagia karena menangani kasus itu.”

__ADS_1


“Ah, entah kenapa sekarang aku sangat bahagia jika mengingat penyiksaan yang kamu alami dulu.”


“ Hei, bukankah itu terlalu kejam?”


                  *


 Malam kembali menyapa rutan Sukadamai. Para tahanan sudah masuk ke sel mereka masing-masing dan setiap lampu sel telah dipadamkan. Mereka langsung terlelap karena sore tadi ada gotong-royong besar-besaran untuk mempersiapkan acara penyambutan salah satu pejabat kementerian hukum dan HAM.


Ketika waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, Abi terbangun. Ia melirik ke kiri dan kanan untuk memastikan semua rekannya sudah terlelap. Kemudian ia berdiri dan masuk ke toilet.


Seperti biasa, ia mengambil ponsel rahasianya di balik dinding dan menyalakannya. Ia menekan beberapa angka dan tombol bergambar telepon. Beberapa detik kemudian, sebuah suara terdengar dari ponsel itu.


[Tak kusangka, pengacara wanita itu bekerja dengan sangat baik. Lebih baik dari dugaanku. Meski belum menjalani persidangan, aku senang bajingan itu kini sudah ditahan. Bahkan, adikku sudah mau datang ke rumah orang tua kami dan menceritakan semuanya. Kalian telah menyelamatkan hidup adik dan keponakanku.]


“Kami akan berusaha agar adikmu bisa memenangkan kasusnya.”


[Aku percaya itu. Bahkan, aku akan mengirim sebagian dokumen yang kau minta sekarang juga.]


Panggilan itu terputus. Abi menatap layar ponselnya beberapa detik. Kemudian, sebuah pesan berupa dokumen masuk. Ia membuka salah satu berkas jenis gambar. Matanya tajam menatap ke arah gambar itu. Ia memperhatikannya dengan seksama.


Gambar itu seperti sebuah peta. Ada beberapa tempat yang dibubuhkan nama-nama yang familiar bagi Abi. Seperti istilah-istilah yang sering dipakai di dunia malam. Di atas gambar itu tertera tulisan ‘PARADISE’.

__ADS_1


Tatapan Abi terpaku pada sebuah nama yang tertera di sudut kanan bawah gambar. Nama yang akhir-akhir ini menjadi momok bagi Abi. Nama yang membuat beberapa orang ketakutan saat Abi menyebutnya.


TUAN JIREH.


__ADS_2