Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 113


__ADS_3

Pak Burhan masih duduk santai di taman sambil menatap berbagai aktivitas para pengunjung taman lainnya. Sesekali ia menatap gelas kopi panas kesukaannya yang tadi diberikan oleh Indira. Aroma kopi itu sangat ramah menyapa hidungnya.


Ia sangat bahagia karena baru bertemu dengan Indira. Wanita itu selalu memberikan kebahagiaan kecil, namun tak ternilai baginya. Seakan mengobati lubang kerinduannya atas Lasmi Kenanga, mendiang putri tercintanya.


Apalagi dua bulan terakhir. Ia merasa telah melakukan banyak hal untuk Indira. Mulai dari membebaskannya dari ancaman penjara, hingga memberikannya pekerjaan. Alhasil, intensitas perjumpaan mereka semakin meningkat ditambah sikap Indira padanya juga semakin hangat. Tidak ada lagi Abi di antara mereka, yang membuat Indira -secara tidak sadar- mencaci maki dirinya.


Tiba-tiba seorang pria datang dan duduk di sebelah pak Burhan. Ia mengabaikannya karena berpikir pria itu hanya pengunjung taman. Tapi, ia salah. Pria itu membentuk jarinya seperti pistol dan seakan menembak ke arah pak Burhan.


“Dor!” katanya pelan.


Pak Burhan terkejut ketika melihat wajah pria itu. Wajah yang tak asing baginya. Wajah yang sudah beberapa kali ia lihat secara langsung di persidangan, seringkali ia lihat melalui layar televisi dan hampir selalu ia lihat di pikirannya.


“Abimanyu Alexander,” gumamnya.


“Tidak seru. Kupikir kau lawan yang memiliki kekuatan super sehingga mampu mendeteksi keberadaan lawannya. Seandainya aku adalah lawan yang brutal, aku pasti bisa membunuhmu dengan sangat mudah,” ujar Abi setengah berbisik.


Pak Burhan melongo beberapa lama karena banyak hal yang mengejutkannya. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang selalu ia tunjukkan ketika menjadi alter egonya, yaitu tuan Jireh.


“Rupanya, kau sudah tahu identitas asliku,” kata pak Burhan a.k.a tuan Jireh.


“Kau memberikan terlalu banyak petunjuk. Bahkan, aku merasa bodoh karena baru menyadarinya.”


Tuan Jireh menatap Abi dengan mata terbelalak, seakan mengingat sesuatu yang sangat penting baginya. “Apakah Indira sudah mengetahui hal ini?”


Mendengar betapa khawatirnya tuan Jireh tentang hal itu, Abi mengernyitkan dahi. Ia baru ingat perkataan Siti V bahwa tuan Jireh adalah orang dekat Indira. Memang, mereka memiliki hubungan sebagai dosen dan mahasiswa di masa lampau dan mungkin antara sesama penegak hukum. Tapi, kesan yang Siti V berikan adalah hubungan mereka lebih dekat dari itu. Apalagi melihat perlakuan yang diberikan pak Burhan pada Indira dua bulan terakhir. Abi sampai bertanya, seberapa dekat hubungan di antara mereka.

__ADS_1


“Tentu saja dia belum tahu. Sejak aku ditangkap dua bulan yang lalu, kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Sedangkan aku baru menyadarinya ketika di penjara,” jawab Abi. “Memangnya kenapa? Apakah ceritanya akan menarik jika aku memberitahukan identitas aslimu pada Indira?”


Tuan Jireh hanya tersenyum menahan amarahnya. Ingin sekali ia membunuh pria itu sekarang juga. Hanya dengan menekan satu tombol di ponselnya, beberapa anak buahnya akan datang dan melakukan apa yang diinginkannya. Tapi, ia tidak ingin menjadi lawan yang terlihat lemah seperti itu. Ia ingin menunjukkan kalau intimidasi yang dilakukan oleh Abi tidak berarti apapun padanya.


“Lalu, bagaimana kau bisa melarikan diri dari penjara?”


“Bukan melarikan diri, aku hanya mencari angin segar saja di luar penjara. Di sana terlalu sumpek dan pemandangannya terlalu melelahkan.” Abi memalingkan pandangannya ke sekeliling taman sambil tersenyum seakan sedang menikmatinya. “Aku jadi mengerti kenapa kau membuka usaha ‘jalan keluar’ untuk para narapidana kaya. Ternyata, harga sebuah kebebasan itu sangat mahal. Sungguh merupakan lahan bisnis yang sangat menjanjikan.”


Tuan Jireh mengepalkan tangannya erat-erat seakan emosi yang ditahannya sudah memuncak terlalu tinggi. Ingin rasanya ia membunuh pemuda yang ada di hadapannya itu, dan itu mudah saja baginya. Tapi, ia tidak ingin menghadapi pertanyaan media dan masyarakat karena ada seorang tahanan yang melarikan diri, mati di depannya.


“Apa maumu?”


“Entah kenapa, pertanyaan itu sering kudengar akhir-akhir ini dari mulut orang-orang yang pernah mengusikku. ‘Apa maumu?’ Ayolah, kalian pasti sudah tahu jawabannya. Tentu saja balas dendam.”


“Jadi, kau ingin membunuhku sekarang?” tanya tuan Jireh.


Tuan Jireh tertawa seakan menganggap ancaman dari Abi hanyalah sebuah omong kosong saja. “Aku takut takkan sempat melihat waktu itu. Saranku, kau harus bergegas karena umurku sudah tua. Jangan sampai aku mati dengan bahagia tanpa merasakan siksaan tak terduga yang kau maksudkan itu.”


Kini Abi ikut tertawa, hanya dengan suara yang lebih kencang.


“Yakinlah, kau pasti akan merasakannya.”


Abi berdiri dari kursinya lalu pergi, meninggalkan tuan Jireh yang masih menyimpan keterkejutan karena kemunculan Abi yang tiba-tiba.


                  *

__ADS_1


Jack Off the Record menatap serius layar televisinya. Benda kotak bercahaya itu sedang menyiarkan berita tentang kegiatan bersepeda santai Arya Topaz Gumilang yang notabene bukanlah berita yang terlalu penting.


Kemudian, ia mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Dengan langkah gontai, ia berjalan untuk membukakan pintu tersebut. Pikirannya bertanya-tanya tentang siapa yang datang ke rumahnya pada jam seperti sekarang. Bahkan, di jam-jam produktif saja sangat jarang ia mendengar suara bel itu.


“Wow, sebuah kejutan yang luar biasa,” kata Jack ketika membuka pintunya. Ia sama sekali tidak menyangka dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang.


“Kau pasti lebih terkejut dengan apa yang akan kukatakan padamu,” timpal tamu itu, yang masuk ke dalam rumahnya tanpa dipersilakan terlebih dahulu oleh tuan rumah.


“Wah, wah, aku tak sabar untuk terkejut lagi.” Senyum Jack mengembang lebar. Ia tahu akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa setelah melihat orang itu. “Katakan sekarang, Abimanyu Alexander.”


Abi tersenyum. Ia sendiri tak menyangka akan berbincang sedekat ini, bahkan mungkin akan bekerja sama dengan seorang legendaris di dunia jurnalistik sekaligus ayah kandung dari Indira Christina.


“Aku ingin kau membantuku menghancurkan tuan Jireh alias hakim Burhanuddin Wiratama.”


Benar yang dikatakan Abi. Jack kembali terkejut dengan apa yang diucapkannya. Bukan hanya karena ajakan itu, melainkan karena Abi sudah tahu identitas asli dari tuan Jireh.


“Kenapa kau cukup percaya diri untuk meminta bantuanku?”


Senyum di bibir Abi belum sirna, bahkan semakin lebar. “Aku tahu, kau sudah lama memendam keinginan untuk menghancurkannya. Hanya saja, kau tidak tahu caranya.”


“Jadi, kau tahu caranya?”


“Tentu saja. Dan mungkin cara itu bisa terwujud hanya dengan bantuanmu saja.”


Jack mengangguk kecil. Melihat kecerdasan yang ditunjukkan oleh pria ini bersama putrinya selama berjalannya persidangan kasus terkait kematian Mischa dulu, ia merasa tidak perlu menyangsikan ucapannya.

__ADS_1


“Bagaimana? Apakah kau ingin membantu?” tambah Abi.


Melihat tangan Abi yang menjulur padanya, ia sempat ragu sejenak. Pada akhirnya, ia menyambut tangan itu sambil berkata, “Umurku sudah cukup tua. Aku takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk bersenang-senang, meski harus mengorbankan nyawaku.”


__ADS_2