
Indira seakan masih belum percaya kalau pak Burhan adalah tuan Jireh. Sudah hampir sepuluh tahun sejak ia mulai kuliah, sudah mengenal sosok pria itu. Pak Burhan adalah orang baik yang selalu membimbingnya, terutama ketika sedang menghadapi masalah pelajaran. Bahkan, tak jarang pak Burhan membantu masalah pribadinya. Seperti saat mbak Ratih sedang kesulitan keuangan karena baru dipecat dari tempat kerjanya -saat itu ia belum menikah- sehingga Indira belum bisa membayar uang kuliah meski tenggatnya sudah lama lewat. Pak Burhan bersedia meminjamkan uangnya agar Indira tidak di D.O. dan Indira membayarnya hanya dengan menjadi asistennya selama sebulan. Dan masih banyak lagi kebaikan pak Burhan yang pernah ia rasakan.
Tapi, ia harus percaya pada omongan Abi karena terdengar masuk akal.
“Tuan Jireh akan mendatangimu,” kata Abi dua hari yang lalu, saat Indira dan Rinjani untuk pertama kalinya bertemu dengannya setelah ia berhasil melarikan diri dari lapas Maharaja. “Kita hanya perlu memancingnya saja.”
“Bagaimana caranya?” tanya Rinjani saat itu.
“Pertama, ia harus tahu kalau Indira punya bukti kuat untuk kasus pembunuhan Shasha yang dituduhkan pada Rama. Dengan demikian, ia akan mencari tahu bukti seperti apa itu. Karena aku yakin, pasti ia berpikir rekayasa pembunuhan itu dilakukan dengan sempurna dan tanpa jejak.”
“Memangnya kita punya?”
“Beberapa hari ini, aku mengawasi orang-orang yang ada di sekitarku, termasuk Rama dan Shasha. Salah satunya adalah dengan meletakkan benda-benda berisi kamera di beberapa tempat seperti di pot di rumahku dan boneka di rumah Shasha,” ujar Abi. “Aku sudah punya firasat kalau ia akan mengganggu orang-orang yang kukenal agar aku menunjukkan diri di hadapannya.”
“Bukankah itu terlihat mesum? Sebab itu artinya kau bisa melihat semua yang terjadi di kamarnya, termasuk saat ia ganti pakaian dan sedang -”
“Itulah kenapa aku memasang kamera yang penyimpanannya jenis built-in. Jadi, aku akan melihat rekamannya hanya jika terjadi sesuatu,” kata Abi membela diri. “Lagipula, berkat bantuan Siti V, pada akhirnya aku hanya mengawasi melalui rekaman yang ada di CCTV jalan.”
“Tetap saja, itu ilegal,” tegur Indira.
“Baiklah, aku takkan melakukannya lagi.” Abi terlihat tidak ingin memperpanjangnya karena merasa malu. “Kedua, tuan Jireh harus tahu kalau kau masih berencana untuk mengajukan banding. Kau juga harus katakan, alasan kau belum mengajukan banding karena tidak bisa bertemu denganku. Aku yakin, tuan Jireh akan terganggu. Bagaimana tidak? Di satu sisi, kau memprovokasi masyarakat untuk mendesak lapas agar mengizinkanku bertemu denganku. Di sisi lain, ia pasti sudah menyadari kalau orang yang mereka bunuh minggu lalu itu bukan aku dan sayangnya, mereka tidak bisa memublikasikan itu pada masyarakat. Ia pasti bingung, apakah kau mengetahui keberadaanku atau benar-benar tidak tahu.”
“Jadi, kamu yakin setelah mengetahui kedua hal itu, tuan Jireh akan mendatangiku?” tanya Indira dengan perasaan sedikit cemas.
“Tentu saja. Ia akan melakukan dua hal.” Abi mengacungkan dua jarinya. “Pertama, mencari tahu bukti pembunuhan Shasha. Kedua, memastikan apakah kau benar-benar masih serius untuk mengajukan banding dan bagaimana rencanamu agar bisa bertemu denganku.”
__ADS_1
“Lalu, saat bertemu dengannya, apa yang harus aku katakan?”
“Pertama, beritahu saja tentang boneka itu. Jika ia memang tuan Jireh, ia akan segera menyuruh anak buahnya mencari boneka itu dan kamera-kamera tersembunyi di kamar itu. Kedua, terkait rencana banding, kau harus mengatakan yang sebaliknya. Katakan saja kau punya strategi lain dan tidak membutuhkanku. Dengan mengatakannya, kau akan membuatnya kebingungan dan ragu, apakah kau sudah tahu tentang pelarianku atau belum.”
Hari ini, tepatnya tadi pagi, Indira melihat sendiri bagaimana semua prediksi yang disampaikan oleh Abi benar-benar menjadi kenyataan. Memang ada orang yang melakukan persis seperti perkataan Abi tersebut dan orang itu adalah pak Burhan.
Indira hanya menatap Abi dan Rinjani yang sedang menyaksikan hasil tangkapan CCTV yang tersambung ke laptop miliknya. CCTV itu berada di depan rumah Shasha dan sedang menampilkan beberapa orang polisi yang baru keluar dari rumah itu. Salah satunya menggenggam sebuah boneka dan menyembunyikannya di belakang punggung seakan.
“Maaf, sepertinya hakim Burhan memang benar adalah tuan Jireh,” ujar Abi pada Indira.
Indira hanya menatap dengan mata terbelalak. Abi tidak sadar jika itu bukanlah tatapan terkejut, melainkan tatapan yang menyimpan sesuatu yang istimewa. Rasa kagum yang selama ini Indira miliki atas nama Abimanyu Alexander semakin besar karena menyaksikan betapa cerdiknya pria itu mengungkap identitas asli tuan Jireh. Sejenak ia melupakan kegalauannya atas pak Burhan.
Namun, tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
“Tunggu,” kata Indira yang membuat diskusi antara Abi dan Rinjani terhenti. “Apakah kau meletakkan kamera tersembunyi di kamarku juga?”
“Ya, benar juga. Apakah kau juga meletakkannya di kamarku?” Rinjani ikut menimpali.
Lagi-lagi Abi tidak menjawab. Ia justru memilih pergi ke toilet dan membuat kecurigaan terhadapnya semakin besar.
*
Jari jemari Indira sedang asyik menari di atas papan ketik laptopnya. Ia masih sibuk mempersiapkan dokumen-dokumen untuk persidangan Rama, meski ia belum mendapatkan tanggal pastinya. Sementara itu, Abi dan Rinjani sibuk mencari informasi tentang hakim Burhan.
“Ia adalah orang yang cerdik. Ia dikenal sebagai Malaikat Mautnya koruptor. Hampir semua kasus korupsi yang ditanganinya selalu berakhir dengan vonis berat. Wajar saja, ia menyediakan jasa kehidupan mewah dan bebas keluar masuk penjara,” ujar Rinjani.
__ADS_1
“Ya, dan kasus-kasus yang secara aneh membebaskan terdakwanya dan memicu berbagai kontroversi dari masyarakat selalu diserahkan pada beberapa hakim yang ternyata adalah juniornya atau mantan mahasiswanya,” tambah Abi. “Ia menginjak punggung orang lain untuk menghindari kotoran.”
Indira hanya melirik perbincangan mereka saja. Ia ingin bergabung, tapi pekerjaan yang ada di tangannya terlalu menyita pikirannya. Apalagi ia takut tanpa sadar membela pak Burhan dan malah memicu pertengkaran di antara mereka. Ia sadar kalau selama ini ia terlalu memuja pria itu dan tidak pernah sedikit pun melihat hal buruk darinya.
“Jika kita mengumpulkan data kasus yang telah ditangani oleh junior dan mantan mahasiswanya dengan catatan pelakunya bebas meski bukti mengarah pada mereka, maka bisa disimpulkan hakim Burhan atau tuan Jireh telah memanipulasi berbagai kasus. Mulai dari kasus kecelakaan kerja yang menyebabkan kematian beberapa orang karyawan, kasus penggelapan uang yang dilakukan oleh direktur sebuah perusahaan, kasus penganiayaan anggota dewan terhadap sekretarisnya, kasus penyalahgunaan narkoba dengan tersangka anak dari seorang bos perusahaan besar.” Abi menatap Rinjani dengan penuh keraguan. “Dan anak itu adalah bocah ingusan yang memperkosa mendiang Kerinci.”
Suasana hening seketika. Indira melihat bagaimana perubahan wajah Rinjani dari yang awalnya bersemangat menjadi sendu. Ia sudah mendengar kisah yang menimpa adik dari wanita itu. Rasa simpati memenuhi hati Indira, membuatnya mengabaikan rasa hormatnya pada pak Burhan.
“Tidak perlu merasa sungkan seperti itu,” ujar Rinjani ketika menyadari kedua rekannya seperti bingung harus bersikap seperti apa. “Aku memang akan serius melawannya karena Kerinci, tapi aku takkan bersikap terlalu emosional.”
“Kita harus tahu kalau lawan kita itu bukan makelar kasus biasa. Ia juga memiliki organisasi kejahatan yang menyeramkan. Bahkan, namanya memiliki reputasi yang kuat di antara para penjahat lainnya. Aku melihat sendiri bagaimana bos Dirga ketakutan ketika ia tak sengaja menyebut nama itu.”
“Orang besar pasti punya tujuan yang besar. Ia bukan orang yang melakukan kejahatan seserius itu hanya demi uang.” Abi dan Rinjani melihat ke arah Indira yang ternyata tak tahan untuk tidak berkomentar. Indira tidak menyangka respons mereka berdua akan seserius itu. “Kenapa?”
“Tidak. Aku hanya kagum dengan pemikiranmu itu,” ujar Abi.
“Ya, sangat masuk akal. Wajar, mengingat kau sangat mengenalnya, meski kau tidak tahu dia adalah tuan Jireh, kau pasti tahu karakternya,” sambung Rinjani.
Indira ingin menegaskan kalau ia tidak sedekat itu dengan pak Burhan. Pada kenyataannya, ia memang sedekat itu. Ia tidak bisa menyangkalnya. Tapi, setidaknya Abi memuji pemikirannya.
“Tujuan besar? Apapun itu, aku yakin pasti ada kaitannya dengan Arya Topaz Gumilang?”
Indira dan Rinjani sedikit terkejut mendengar Abi menyebut nama itu. Seperti yang mereka ketahui, Arya Topaz Gumilang adalah kandidat terkuat untuk menduduki kursi gubernur di periode yang akan datang.
“Memangnya, kau mengenal orang itu?” tanya Rinjani.
__ADS_1
“Tentu saja. Bahkan lebih dari kenal. Lima belas tahun terakhir ini aku menyelidikinya.”
Mata Indira dan Rinjani sama-sama terbelalak. Mereka juga sama-sama mengucapkan kalimat yang menggantung. “Jangan-jangan, dia adalah -”