Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 47


__ADS_3

Indira kembali mengunjungi Abi dengan membawa beberapa dokumen. Di satu sisi, ia merasa bersalah karena belum mempersiapkan materi pembelaan untuk sidang berikutnya. Tapi di sisi lain, ia merasa bersemangat karena bisa mengerjakan beberapa kasus di sela-sela persidangan kasus Abi. Ia hampir tidak sadar kalau ia sudah punya banyak portofolio kasus yang ditanganinya selama sebulan terakhir, atau sejak kantor hukumnya resmi dibuka.


“Nama temanmu Ridho Rahmat, bukan? Anak dari keluarga Rahmat Handayani. Tinggal di daerah Pintu Air.” Indira meminta konfirmasi dari Abi.


“Benar. Bagaimana kejadian sebenarnya?”


“Seperti kata temanmu itu, PT. Laras Properti membeli tanahnya untuk pembangunan mal dengan pembayaran dalam bentuk saham. Tidak ada yang salah dengan perjanjiannya. Keluarga Rahmat Handayani ditawari saham sebesar 10%, lebih besar dari harga tanah berbanding nilai proyek tersebut. Sayangnya, di tengah pembangunan mal, terjadi pengeluaran di luar rencana yang sangat besar. Sebagai pemegang saham, keluarga Rahmat Handayani diwajibkan untuk ikut berpartisipasi dalam penambahan biaya tersebut. Sayangnya, mereka tidak memiliki dana sehingga pihak perusahaan yang menanggung semuanya. Nah, di sinilah akar permasalahannya.”


“Apakah mereka terkena ilusi?” tanya Abi. Indira tertawa karena baru kali ini melihat Abi bersikap sangat polos. Ia seperti seorang kakak yang sedang mengajarkan adiknya.


“Bukan ilusi, tapi dilusi. Dilusi adalah situasi ketika persentase kepemilikan saham investor mengalami penurunan akibat penambahan modal yang dilakukan perusahaan melalui penerbitan saham baru. Jadi, karena adanya penambahan biaya yang dianggap sebagai penambahan modal yang cukup besar dari modal awal dan keluarga Rahmat Handayani tidak berpartisipasi di dalamnya, harga saham mereka tergerus sampai ke titik 0,1%.”


“Sebesar itukah penambahan modalnya? Apakah tidak ada kejanggalan?”


“Wajar jika terjadi penambahan modal yang sangat besar,” kata Indira sambil menunjukkan selembar kertas. “Di awal perencanaan, yang akan dibangun hanya mal. Tapi, sebelum pembangunan dimulai, perusahaan itu mengubah rencana menjadi Mixed-Use Building yang terdiri dari mal, apartemen dan hotel bintang 4.”


“Wah, perubahan yang sangat besar. Apakah keluarga Rahmat Handayani mengetahuinya?”


“Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tahu hal itu bersamaan dengan pemberitahuan penurunan harga saham mereka.”


“Sebagai pemegang saham, seharusnya ia diundang saat rapat perubahan rencana tersebut.”


“Nah, seharusnya itu menjadi celah yang baik untuk kita. Sayangnya, bapak Rahmat Handayani, selaku kepala keluarga, memang diundang rapat. Menurut pengakuan pak Rahmat, ia diminta untuk duduk dalam ruangan yang berisi dengan orang-orang berwajah serius yang sedang berdiskusi tentang hal yang tak dimengertinya. Ia hanya tahu kalau rapat itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas mal yang akan dibangun. Mereka punya absensi rapat dan persetujuan hasil rapat yang ditandatangani oleh pak Rahmat serta rekaman keberadaannya di rapat tersebut.”

__ADS_1


Abi menggaruk-garuk kepalanya. Ia sama sekali tidak bisa berpikir. Seperti yang pernah diakuinya, ia bukanlah ahli dalam hukum perdata, terutama yang berkaitan dengan perusahaan.


“Tidak bisakah pak Rahmat meminta pembayaran secara tunai?”


“Sayangnya, tidak bisa. Saat menandatangani perjanjian kerjasama di awal, pak Rahmat setuju kalau kepemilikan tanah itu dialihkan ke perusahaan. Jadi, jika ingin tanahnya kembali, beliau harus membeli tanah dengan harga dua kali lipat ditambah bangunan yang sudah berdiri di atasnya dengan nilai sekitar delapan triliun.”


“Waduh, rumit sekali,” keluh Abi. “Apakah kita tidak bisa mencari pelanggaran pidananya? Misalnya, penipuan yang mereka lakukan perihal rapat yang dihadiri oleh pak Rahmat.”


“Tidak bisa. Secara teknis, pak Rahmat memang benar-benar ikut rapat,” jawab Indira. “Mereka seperti memanfaatkan kepolosan keluarga pak Rahmat.”


“Itulah pentingnya menyewa penasihat hukum, khususnya saat melakukan kontrak bisnis seperti ini,” kata Abi. Ia bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan keluarga itu karena perusahaan jahat milik ayahnya Roy.


“Ya sudah, kamu tidak usah memikirkannya. Kamu telah menyerahkannya padaku, jadi biarkan aku bekerja sendiri.”


“Kenapa kamu ngotot sekali? Apakah ada orang yang akan memberikan pamrih padamu?” tanya Indira. Ia mulai curiga dengan sikap Abi.


“Tidak. Hanya saja -”


Abi diam mematung. Ia tak mungkin mengatakan alasan sebenarnya. Menurut dokumen-dokumen yang dikirim oleh Raditya Lesmana, PT. Laras Jaya Karya merupakan ujung tombak dari proyek kasino raksasa yang dirancang oleh tuan Jireh. Abi ingin membuat kekacauan bagi PT. Laras Jaya Karya hanya untuk melihat siapa saja yang akan bereaksi. Mungkin salah satu di antara mereka adalah tuan Jireh.


“Apakah kita bakar saja gedung itu,” kata Abi sambil mengelus dada. Ia akhirnya sadar kalau Indira memberikannya tatapan mengerikan padanya. “Aku hanya bercanda.”


“Setelah apa yang menimpamu dan tante Jenny, kamu masih bisa bercanda tentang kebakaran?”

__ADS_1


Melihat Indira serius memarahinya, Abi merasa bersalah karena mengatakan hal-hal kosong seperti itu. Ia mengakui, kalau yang dikatakannya barusan memang tidak pantas.


“Tunggu, apa nama perusahaan konstruksi dan konsultan yang digunakan oleh perusahaan itu?” tanya Abi ketika tak sengaja membuka lembaran laporan penambahan biaya pembangunan.


Indira yang masih belum mengerti maksud Abi, memeriksa dokumennya. Akhirnya, ia tahu jalan pikiran Abi ketika mengetahui jawaban dari pertanyaannya.


“Tentu saja, Laras Konstruksi dan Laras Consultant, anak perusahaan dari PT. Laras Jaya Karya,” kata Indira tersenyum. “Sepertinya kita harus menelusuri kembali aliran dana untuk kedua perusahaan itu. Besar kemungkinan, mereka mengajukan anggaran tak wajar untuk jasa konstruksi dan konsultan sehingga terjadi pembengkakan dana untuk pembangunan yang mana tersamarkan karena adanya perubahan rencana pembangunan.”


“Pasti ini adalah cara mereka untuk menjebak calon investor. Pertama, mereka mengajukan proposal dengan nilai proyek yang cukup kecil. Setelah investor masuk, mereka melakukan perubahan rencana pembangunan atau hanya mengatakan ada masalah sehingga membutuhkan biaya tambahan yang akhirnya dihitung sebagai modal,” tambah Abi.


“Tapi, aku yakin jika gugatan kita akan ditolak oleh pengadilan. Mereka pasti akan menganggap ini sebagai fenomena yang biasa terjadi di dunia bisnis.”


“Makanya, kita harus membuktikan kalau ini dilakukan secara masif dan sengaja,” usul Abi. “Sepertinya ini bukan kejahatan pertama mereka. Kita harus mengecek propertinya yang lain. Kemungkinan terjadi hal yang serupa. Jika kita menemukan korban lain, kita akan membantu mereka untuk membawanya ke jalur hukum.”


Indira menyentuh punggung tangan Abi lalu menggelengkan kepalanya sambil menutup mata. Abi bingung dengan ekspresi itu. “Kamu ingin sekali membunuhku, ya?”


“Ti, tidak. Memangnya kenapa?”


“Kau mau aku menangani kasus lain lagi!?”


Indira berteriak tepat di depan wajah Abi, membuat pria itu kembali ketakutan. Petugas sipir yang mendampingi Abi dan sejak tadi duduk di sudut ruangan sampai berdiri dan memasang sikap siaga.


“Ja, jadi kita harus bagaimana?” tanya Abi gugup. Gugup karena tiba-tiba menemukan kesempatan untuk membuat kekacauan secara masif bagi perusahaan itu, juga gugup karena bentakan Indira.

__ADS_1


“Kita pakai caramu dulu,” bisik Indira, tak ingin suaranya didengar oleh sipir yang masih memperhatikan mereka.


__ADS_2