
Lima belas tahun yang lalu
“Hei, anak pel*c*r!”
Abi menghentikan langkahnya ketika mendengar sebuah panggilan. Tak salah lagi, panggilan itu ditujukan padanya. Ia membalikkan badan dan melihat segerombolan siswa cowok yang merupakan teman sekelasnya sedang tertawa sambil melihatnya. Matanya langsung tertuju pada Roy. Tak salah lagi, itu adalah suaranya.
“Kenapa? Marah? Berarti itu benar?” Tiko, salah satu teman baik Roy, membentak Abi.
Abi kembali melanjutkan perjalanannya ke perpustakaan dan mencoba tidak menggubris ejekan teman-temannya itu.
“Aku mendengar kabar itu, kalau Abi tinggal di Batavia Baru. Kalian tahu tempat itu, kan? Itu adalah lokalisasi terbesar di kota ini. Artinya, ibu Abi adalah pel*c*r.”
Semua teman-temannya tertawa mendengar ucapan Roy. Hati Abi sangat panas, namun ia tahu jika meladeni ejekan mereka akan berakibat buruk baginya.
“Hei, Abi!”
Terdengar suara orang memanggilnya lagi, namun dengan panggilan yang benar. Itu adalah suara yang sangat ia kenal. Suara perempuan yang bernada tinggi dan terdengar menggemaskan. Pemilik suara itu adalah Regina, teman dekatnya.
Perempuan itu berjalan ke arahnya sambil melambaikan tangan dengan senyum ceria di wajahnya.
“Hei, anak pel*c*r, pel*c*rmu sudah datang.”
Ternyata Roy tidak berhenti mengejeknya. Justru sikap Abi yang tidak menanggapinya membuat ia semakin kesal. Kini ia sudah mulai mengejek Regina dan hal itu seperti menghancurkan tembok yang Abi bangun sedari tadi untuk menahan amarahnya.
“Aku memang tinggal di Batavia Baru dan ibuku adalah seorang pel*c*r. Tapi, karena kalian sudah tahu, aku harus mengatakan ini. Bapakmu adalah langganan tetap ibuku. Ia sering menginap di kafe ibuku, setidaknya 4 kali dalam sebulan.”
Wajah Roy memerah. Teman-temannya tidak ada yang mengomentari ucapan Abi tersebut karena melihat betapa marahnya Roy. Ia sampai mengepalkan tangan dan menggertakkan giginya. Tapi, bukannya membalas Abi, entah melalui fisik atau verbal, Roy malah menendang kaki Regina yang sedang berjalan melewati mereka. Perempuan kurus dan tinggi itu sampai terjatuh hingga lututnya berdarah. Tidak cukup sampai di situ. Roy mengangkat telapak tangan kanannya dan bersiap untuk menampar Regina.
Melihat hal itu, Abi langsung berlari ke arah Roy dan melayangkan sebuah pukulan keras yang menghujam pipi kiri anak sombong itu.
__ADS_1
“Bajingan! Berhentilah menjadi cowok jika kau memukul seorang cewek!” teriak Abi di hadapan Roy yang masih kesakitan karena terkena pukulan keras.
* * *
Indira dan Rama berjalan menyusuri area parkir rutan dengan langkah terburu-buru. Namun, langkah mereka terhenti di depan pintu masuk. Mereka melihat seorang wanita cantik bertubuh tinggi sedang berdebat dengan salah satu petugas rutan. Indira merasa pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya.
“Bukankah dia Regina?” gumam Rama sambil memperhatikan wanita itu. Karena Rama menyebut nama Regina, Indira langsung ingat jika ia pernah melihat wanita itu di rutan ini.
“Dia memanggil Abi sebagai suaminya. Apakah itu benar?”
“Of course not,” jawab Rama. “Mereka berteman sejak dulu dan Regina memanggil bang Abi suaminya hanya untuk menggoda saja.”
“Oh,” hanya itu respons yang diberikan Indira. Namun, ia tidak sadar kalau bibirnya sedang menyunggingkan sebuah senyum bahagia.
“Apakah kau sedang senang sekarang?”
Indira juga terkejut ketika tahu dirinya tersenyum bahagia tanpa alasan. Ia mencoba menampar pipinya berulang kali untuk menerbangkan pikiran-pikiran aneh yang sempat merasuki otaknya.
Bukan hanya Rama, Indira juga terpana melihat keterampilan Regina dalam menggunakan alat-alat tersebut. Seperti seorang make up artist profesional. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, penampilan wanita itu berubah drastis. Jika sebelumnya ia terlihat tomboy dan urakan, sekarang sangat anggun dan cantiknya bertambah berkali-kali lipat.
“Cantik sekali,” gumam Indira yang disetujui oleh Rama.
Regina menyadari ada yang memperhatikannya. Ia pun segera menjelajahi sekitar dengan tatapannya. Ketika melihat sosok yang familiar, ia pun berteriak, “Hei, Rama!”
Rama dan Indira masih terpesona dengan kecantikan Regina sehingga tidak mendengar panggilan pertamanya. Baru di panggilan kedua, kesadaran mereka kembali.
“Wah, kesempatan langka bisa melihat seorang Regina berdandan. Bahkan di acara keluarga dan kondangan, ia hanya washing face saja,” kata Rama saat mereka menghampiri polisi wanita itu.
“Aku hanya ingin membuat tunanganku kesal saja,” ujar Regina sambil memasukkan kembali semua peralatan make up miliknya.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, Indira menatap Rama dengan mata terbelalak. Ia terlihat marah dan kecewa. “Tunangan! Jadi bukan suami, tapi masih tunangan!?”
“Hei, she’s not. Yang dia maksud itu bukan bang Abi.”
“Jadi?” Indira bingung sejenak, kemudian menyadari sebuah fakta yang cukup mengejutkan.
“Benar, tunanganku bukan Abi. Tapi -”
* * *
Abi dan Roy masih beradu tatapan. Ucapan Roy barusan tentang bukti bahwa ia menghasut bos Dirga untuk membunuh Reynold cukup mengejutkan Abi. Satu-satunya orang yang bisa mengatakan itu adalah bos Dirga sendiri, sementara ia tidak mungkin melakukannya. Sementara ponsel yang Abi berikan untuk menunjukkan foto mesra antara istri bos Dirga dan Reynold telah dihancurkan oleh raja kasino itu dengan pukulan tangannya.
“Bos Dirga mengatakan jika kau menunjukkannya foto-foto yang memprovokasinya untuk membunuh Reynold. Sebagai seorang brengsek yang sering pamer kemampuannya dalam menghafal pasal-pasal, tentu kau tahu isi pasal 160 KUHP.”
Roy merasa senang karena bisa langsung membalas Abi yang menghinanya dengan pengetahuan tentang pasal. Ia yang seorang sarjana hukum dan jaksa dengan reputasi bagus, merasa tidak layak untuk dihina oleh pria yang bahkan SMA saja tidak tamat.
Sayangnya, Abi tidak merasa terhina dan justru tertawa. Ia bahkan tertawa hingga terbahak-bahak seakan justru sekarang dirinyalah yang menghina. Wajah Roy memerah, namun ia merasa tidak ada yang patut dihina darinya. Ia yakin kalau Abi hanya ingin mengintimidasinya.
“Barang siapa di muka umum dengan lisan atau tulisan menghasut supaya melakukan perbuatan pidana, melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak menuruti baik ketentuan undang-undang maupun perintah jabatan yang diberikan berdasar ketentuan undang-undang, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”
Rasa penasaran Roy tentang alasan Abi menertawakannya mulai terbaca ketika ia mendengar isi pasal tersebut dari mulut lawannya itu. Dan tebakannya benar.
“Di muka umum. Ingat! Di muka umum,” kata Abi sambil tersenyum lebar.
“A, aku yakin ada pasal yang bisa menjeratmu karena -”
“Mungkin maksudmu pasal 55 ayat 1 ke-1 atau pasal 56 ke-2 KUHP?”
Roy terdiam. Ia merasa bantuan yang diberikan Abi adalah bentuk penghinaan besar baginya. Tapi ia memang butuh pasal untuk mengancam Abi dan kebetulan Abi, dilihat dari reputasinya belakangan ini, memang hafal akan banyak pasal.
__ADS_1
“Ya, itu maksudku.” Roy mengambil resiko dengan mengiyakan pasal yang disebutkan oleh Abi tadi.
“Biarkan aku membantumu lebih banyak lagi. Isi pasal 55 ayat 1 ke-1 adalah Dipidana sebagai pelaku tindak pidana: Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan, dan isi pasal 56 ke-2, Dipidana sebagai pembantu kejahatan: Mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan. Jika memang aku benar-benar menunjukkan foto yang membuat bos Dirga membunuh istrinya dan polisi brengsek itu, silakan buktikan kalau tindakanku itu sudah memenuhi unsur tindak pidana berdasarkan pasal-pasal tersebut.”