Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 36


__ADS_3

“Ada yang pakai ruang kunjungan khusus lagi?” tanya seorang sipir rutan pada rekannya.


“Iya, barusan datang.”


“Untuk tahanan yang bernama Abimanyu Alexander itu lagi?”


“Begitulah,” jawab rekannya sambil tersenyum. “Bahkan baru sekitar sebulan ia ditahan, rekor kunjungan untuknya sudah mengalahkan tahanan yang sudah berbulan-bulan di sini. Dan beberapa di antaranya melalui izin dari pak Kepala.”


“Yang sekarang juga? Memangnya siapa?”


“Jack Off the Record.”


“Bagaimana bisa wartawan datang membesuk napi dengan semudah itu? Bukankah selama ini pak Kepala sangat anti dengan wartawan?”


“Si Jack ini berbeda dengan wartawan lainnya. Ia adalah sahabat orang-orang penting, termasuk atasan pak Kepala di pusat sana. Apalagi sepertinya si Jack ini datang membesuk bukan untuk wawancara. Kau tahu sendiri kalau pengacara si Abimanyu Alexander itu adalah putrinya.”


Sementara kedua sipir itu asyik bergosip, di ruang kunjungan khusus sedang memancarkan suasana tegang. Jack terus menatap Abi dengan amarah, namun sengaja diam agar Abi terintimidasi. Namun, itu tidak mempengaruhi Abi sama sekali. Bahkan ia membalas tatapan tajam Jack dengan tatapan yang tak kalah tajam.


“Jauhi putriku. Jangan seret dia ke dalam masalahmu.”


Abi tersenyum merespons ucapan pria tua itu. Ia kemudian berkata, “Bagaimana kau bisa berkata seperti itu, sementara putrimu adalah pengacaraku?”


“Mulai hari ini, ia bukan lagi pengacaramu.”


“Ayolah, Pak Tua. Kami sudah terikat kontrak dan bisa mengakhirinya hanyalah aku atau Indira. Kau tidak punya otoritas untuk itu.”


“Tapi kau sudah membahayakan nyawanya. Kau pasti tahu kejadian kemarin, bukan?”


“Harusnya kau juga tahu kalau aku bukan yang melakukannya, bahkan kemungkinan besar lawanku yang juga dilawan oleh Indira di pengadilan.”


“Jangan berpura-pura naif! Kau pasti tahu kalau maksudku adalah kau membahayakan nyawa Indira dengan menjadikannya pengacaramu.”


Abi menghela napas panjang lalu menopang dagunya dengan kedua tangan. Ia diam sejenak seperti sedang berpikir, lalu berkata, “Jika kau mengkhawatirkan putrimu, kenapa kau tak membantunya saja untuk memenangkan kasus ini?”

__ADS_1


Ucapan Abi itu membuat Jack termangu karena terkejutnya. Selang beberapa detik kemudian, ia tertawa.


“Aku sudah curiga padamu, sejak kau memilih Indira sebagai pengacaramu. Pasti kau hanya memanfaatkan Indira, pengacara kikuk dengan persentase kemenangan yang rendah, untuk meminta bantuanku.”


Kini berganti Abi yang tertawa, membuat Jack bingung dan kemudian kesal padanya.


“Ayolah, kau tidak seistimewa yang kau kira dan Indira juga tidak seburuk yang kau kira,” kata Abi di penghujung tawanya. “Aku hanya ingin kau menyampaikan pada Tuan Jireh kalau sasarannya hanyalah aku, bukan Indira atau yang lain. Ia harus memperjelas permainan kami, apakah permainan kasar atau melalui jalur hukum. Bukankah kau mengenalnya?”


Mendengar nama itu, wajah Jack langsung pucat. Sama seperti reaksi yang ditunjukkan Roy saat Abi menyebutkan nama itu.


“Apakah kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?”


“Ya, aku tidak tahu dan sangat penasaran tentangnya. Mungkin kau bisa memperkenalkan kami secara langsung.”


“Dasar gila! Aku takkan membiarkanmu menyeret putriku.”


Jack mendobrak mejanya lalu berdiri dan berbalik untuk pergi meninggalkan Abi. Sipir yang mendampingi Abi juga sudah bersiap untuk membawanya kembali ke selnya.


Jack seperti tertampar mendengar ucapan Abi itu. Ingin ia kembali marah, tapi apa yang dikatakan oleh Abi tidak terbantahkannya.


                  *


 “Sakit, Mbak,” terdengar suara rengekan Indira saat kakaknya menyentil dahinya dengan keras.


“Itu bonus untuk kekeraskepalaanmu,” kata mbak Ratih dengan nada geram.


Indira mengelus jidatnya yang sudah terlukiskan bulatan merah bekas sentilan mbak Ratih. Meski protes, ia sama sekali tidak mencoba untuk membela diri karena ia tahu bagaimana usaha sang kakak untuk menghentikannya terlibat dengan Abimanyu Alexander dulu. Penyerangan inipun sudah pernah diprediksi oleh sang kakak. Hanya saja, Indira tetap membela Abi.


“Itu benar-benar hanya kecelakaan biasa. Tidak ada yang mencoba untuk mencelakaiku. Lihat saja, luka yang kualami juga tidaklah terlalu parah,” kata Indira mencoba berbohong agar mbak Ratih tidak marah lagi padanya.


“Halo, Kakak. How are you now? Feeling better?”


Terdengar suara seseorang setelah suara pintu kamar dibuka. Ada Rama yang sedang menggunakan kursi roda. Tidak seperti Indira yang hanya syok akibat hantaman airbag dan beberapa pecahan kecil dari kaca jendela yang mengenai kening dan pipinya, ternyata luka yang diderita Rama jauh lebih parah. Kepala dan tangannya berlilitkan perban, lehernya mengenakan penyangga dan kakinya di-gips sehingga ia harus menggunakan kursi roda untuk membantu mobilitasnya.

__ADS_1


“Bukankah dia si bodoh adiknya klienmu itu?” bisik mbak Ratih yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Indira.


“Wah, yesterday is so thriller. Kupikir kita akan mati karena dua mobil penyerang itu. Mereka terlihat sudah profesional dalam membunuh seseorang. Lain kali kita harus hati-hati karena mereka pasti akan mengincar kita lagi. Pasti ada kaitannya dengan kasus bang Abi yang Kakak ta-”


Rama berhenti bicara ketika ia tidak bisa mengelak lemparan jeruk dari Indira yang mengenai wajahnya. Cukup keras dan mampu menimbulkan rasa pedih yang amat sangat bagi Rama.


“Indira, apa maksud perkataannya? Kau bilang itu hanya kecelakaan?”


Indira tersenyum menutupi ketakutannya saat melihat mbak Ratih sudah mengepalkan tangan bersiap untuk memukulnya. Jidat merah bekas sentilan tadi menjadi bidikan yang bagus.


“Aduh!!!”


Terdengar kembali teriakan kesakitan dari mulut Indira.


                  *


 “Kenapa lukamu bisa lebih parah?” tanya Indira pada Rama ketika amarah mbak Ratih sudah mereda.


“Airbag di depan tempat duduk supir tidak berfungsi dengan baik, safety belt-nya juga longgar saat terjadi goncangan keras, lalu baut di bawah tempat duduknya ada yang terlepas, sehingga bisa goyang bahkan lepas seketika. Kata pacarku, ia sengaja memodifikasinya agar bila suatu saat terjadi kecelakaan dan ia ada di dalam mobil, supirnya akan mengalami luka yang lebih parah darinya karena ia tak mungkin di posisi itu mengingat dirinya belum bisa membawa mobil.”


“Apakah pacarnya atau dia yang terlalu bodoh?” Mbak Ratih kembali berbisik pada Indira yang dijawab dengan tawa cekikikan.


Tiba-tiba tawa mereka berdua lenyap ketika seorang pria membuka pintu kamar itu dan masuk.


“Kau tidak apa-apa, Nak?”


Pria itu adalah Jack. Ia membawa sekeranjang buah dengan berbagai jenis. Ia mencoba untuk tersenyum ketika melihat wajah kedua putrinya yang tidak ramah dan seperti hendak membunuhnya. Rama yang menyadari situasi canggung itu langsung pamit.


“I think I hear my suster is calling me. Bye, Kakak. Bye, kakaknya Kakak.”


Rama pergi, meninggalkan seorang ayah dan kedua putrinya yang sudah lama tidak menganggapnya ayah lagi.


“Kenapa kau datang? Bukankah kau pernah bilang kalau kami sudah mati bagimu?”

__ADS_1


__ADS_2