
Indira Christina baru saja selesai merapikan meja kerjanya sebelum ia tinggalkan untuk selamanya. Ia masih mendengar suara bernada makian milik bosnya dari ruang sebelah. Meski kata-kata yang dilontarkan itu sangat kasar dan ditujukan padanya, Indira tidak menyangkalnya. Ia memang telah membuat kesalahan fatal yang cocok diganjari pemecatan.
Seluruh mata di kantor itu mengarah padanya seakan hendak menikam jantungnya. Tapi Indira berusaha untuk tegar dan pura-pura tidak melihatnya. Bahkan, sebelum melakukan kesalahan, ia sudah dikucilkan di kantor ini. Jadi, ia tidak terlalu peduli.
Langkahnya terhenti tepat di depan kantor bosnya yang sedang rehat memakinya. Mereka saling beradu pandangan dan suasana tegang menyelimuti sekitar mereka. Karyawan yang lain mengintip seakan ingin mengetahui apa yang akan terjadi. Apakah akan ada pertumpahan darah atau justru malah terjadi perdamaian?
“Bos,” kata Indira lirih dengan wajah memelasnya. “Kapan uang pesangon saya ditransfer?”
Seluruh orang yang mendengar pertanyaannya itu terkejut tak menyangka Indira masih bisa menanyakan pesangon dengan santai. Terutama pria bertubuh gendut yang sebentar lagi akan menjadi mantan bosnya. Ia kembali memaki-maki Indira.
Wanita mungil tersebut melihat tak akan mendapatkan jawaban sekarang dan memilih untuk kabur sambil membawa kotak berisi barang-barang pribadinya. Pikirannya yang polos baru sadar kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan pesangon.
Indira keluar dari gedung perkantoran itu dan melangkah menuju tepi jalan. Sebelum taksi online pesanannya datang, ia kembali melihat ke belakang, ke jendela di lantai 5 di mana firma yang baru saja memecatnya berada. Kemudian, ia menunduk lemas karena teringat dengan kebodohan yang telah dilakukannya. Bagaimana bisa ia membongkar keburukan kliennya sendiri dan membuat mereka kalah, padahal keburukan itu tersimpan rapi bahkan dari penggugatnya? Seperti seorang tentara yang mengebom regunya sendiri ketika kemenangan sudah di depan mata. Dan dia sadar kalau kesalahan yang dilakukannya pada PT. Adhi Mulya Sejahtera bukanlah yang pertama. Kini ia harus menyandang gelar Pengacara Maut. Ya, maut bagi para kliennya.
“Ah, bodohnya aku,” kata Indira sambil membenturkan kepalanya di jendela taksi, membuat sang supir mendengar dan menyadari kalau penumpangnya sedang memiliki masalah berat.
“Baru dipecat, Mbak?” tanyanya ramah. Indira segera memperbaiki posisi duduknya dan mengubah ekspresi wajahnya yang cemberut.
“I, iya, Pak.”
“Memang, jaman sekarang semakin sulit. Apalagi resesi yang terjadi di negeri ini, makin banyak perusahaan yang memecat karyawannya. Padahal baru saja keluar dari masa-masa kelam pandemi, kita harus berhadapan lagi dengan situasi yang menyeramkan lainnya.”
Indira melihat ke arah supir. Ia bingung harus memberikan respons seperti apa untuk perkataan sang supir karena dirinya dipecat bukan karena resesi ekonomi yang sedang menimpa banyak negara di dunia ini, tapi karena kebodohannya.
Sementara itu, ia jadi teringat dengan resesi ekonomi pribadinya. Tabungannya semakin menipis karena ia baru saja melakukan banyak pengeluaran. Bahkan, ia tidak tahu apakah di kulkasnya ada makanan yang bisa dijadikan makan malamnya nanti. Padahal dua hari lagi ia harus membayar iuran KPR miliknya.
Ia kembali membenturkan kepalanya ke jendela taksi dan kembali memaki kebodohannya.
__ADS_1
* * *
Indira menarik napasnya setelah selesai menyusun buku-buku tebalnya ke dalam lemari. Ia juga kembali menata benda-benda di atas mejanya agar terlihat lebih rapi. Hari ini cukup melelahkan baginya karena ia ingin besok kantornya segera beroperasi.
Indira bersyukur punya kakak yang visioner. Mbak Ratih, demikian ia memanggilnya, sudah mengusulkannya mulai mempersiapkan diri untuk membuka kantor hukum sendiri sejak sebulan ia bergabung dengan Top Justice Law Firm. Menurutnya, takkan bertahan lama di firma itu. Saat itu ia berpikir kakaknya memprediksi dirinya terlalu hebat untuk bekerja di bawah perintah orang lain. Sekarang ia sadar kalau yang diprediksi oleh kakaknya adalah pemecatannya.
Tapi Indira tidak marah dengan saudara kandung satu-satunya itu. Bagaimana tidak? Kantor hukum ini berdiri karena andilnya. Mulai dari gedung hingga biaya untuk mengurus SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) dan SITU (Surat Izin Tempat Usaha).
Tiba-tiba ia menerima pesan dari aplikasi e-banking miliknya. Ada transfer uang sebesar lima juta masuk ke rekeningnya. Ia pun mengecek si pengirim. Sesuai dugaannya, itu adalah ayahnya. Ia langsung mentransfer kembali sejumlah uang yang sama pada ayahnya, ditambah enam ribu lima ratus rupiah sebagai biaya transfer ke bank yang berbeda.
Indira menatap kosong seakan mood baik yang ia bangun selama membereskan kantor ini rusak mendadak karena pria itu. Kemudian ia mendengar suara dari perutnya dan sadar kalau sekarang sudah waktunya untuk makan.
Tangannya segera bermain di atas layar ponselnya. Ia melakukan panggilan pada seseorang.
“Halo!”
Terdengar suara dari seberang panggilan. Itu adalah suara Mbak Ratih, kakaknya tersayang. Indira tersenyum geli mendengar suara itu.
“Aku lapar. Bisa pesankan makanan untukku?” Indira membujuk kakaknya dengan suara manja.
[Hei, mbak sudah keluar banyak uang untuk kantormu. Sekarang, untuk makan saja kau masih meminta dari mbak?]
“Itulah untungnya punya kakak yang menikah dengan orang kaya.”
Sang kakak pura-pura kesal namun tak dapat menahan tawanya. Ia pun menjanjikan makanan yang diminta oleh adik kesayangannya.
[Kau benar-benar serius dengan keputusanmu, kan?]
__ADS_1
Indira menghela napas. Ini adalah kesekian puluh kalinya Ratih menanyakan hal itu. “Iya, aku serius.”
[Tapi kau janji hanya mengambil kasus perceraian saja, ya? Tidak apa-apa di luar perceraian, tapi tetap kasus perdata dan kliennya adalah orang biasa.]
Kembali Indira mengiyakan ucapan kakaknya tersebut. Memang, itu adalah kesepakatan mereka sejak awal Indira mengungkapkan keinginannya untuk membuka kantor hukum. Kebetulan, sejak dulu Indira memang ingin menjadi pengacara spesialis kasus perceraian. Sementara Ratih hanya ingin Indira menangani kasus yang ‘aman’, tidak seperti kasus pidana. Ia tidak ingin adik semata wayangnya berurusan dengan seorang kriminal.
Setelah panggilan itu berakhir, perasaan Indira mendadak kesepian. Ia melihat ke sekeliling kantor sambil membayangkan masa depannya. Rasa pesimis mulai menjalari hatinya. Apakah pengacara bodoh yang sering melakukan kesalahan bodoh dalam menangani kasus ini akan berhasil menjalankan kantor hukumnya sendiri? Jika reputasi buruknya sebagai Pengacara Maut tersebar, apakah masih ada klien yang mau datang menggunakan jasanya?
Kekhawatiran masih melingkupi hati Indira sampai nasi Padang pesanan kakaknya tiba. Sambil menyantap makanan itu, matanya menjelajah dan kepalanya memikirkan apa lagi yang kurang. Ia pun teringat dengan karyawan. Lowongan paralegal dan sekretaris yang telah ia sebarkan melalui situs lowongan kerja belum mendapatkan satupun respons.
Tiba-tiba telepon kantornya berdering. Kekhawatiran yang tadi sempat menghantuinya mendadak sirna. Ia yakin kalau itu adalah telepon dari calon klien pertamanya.
“Halo, dengan Indira Christina Law Office and Legal Consultant. Ada yang bisa dibantu?” Indira mendengar suara dari seberang dengan penuh optimis. Namun, perlahan senyum di wajahnya memudar. “Oh, toko Millenial Komputer. Iya, saya yang kemarin memesan printer. Benar, yang juga ada scanner dan mesin fax. Barangnya sudah ready? Bisa diantar? Baik, terima kasih. Saya tunggu.”
Indira menutup teleponnya dengan wajah penuh kekecewaan. Namun, ia mengaku salah karena mengharapkan sesuatu yang hampir mustahil. Ia belum membuka kantor secara resmi dan belum pernah membagikan nomor telepon kantor. Bagaimana mungkin ada klien yang menghubunginya?
Gadis itu melanjutkan acara makannya. Daging rendang yang agak alot itu belum berhasil ditaklukkan oleh giginya. Kali ini ia akan mencobanya dan semoga saja bisa berhasil.
Beberapa saat kemudian, telepon kembali berdering. Kali ini Indira tidak mau berharap banyak agar tidak kecewa lagi. Ia mengangkat telepon sambil menebak kali ini siapa lagi yang menelepon kantornya.
“Halo, dengan Indira Christina. Ini siapa, ya?”
Wajah Indira kembali berubah setelah mendengar ucapan dari si penelepon. Kali ini dari wajah acuh tak acuh berubah menjadi terkejut lalu bersinar penuh kebahagiaan. Setelah menyetujui kesepakatan untuk bertemu, Indira menutup teleponnya dan melompat kegirangan. Ia merasa sangat beruntung. Tidak banyak kantor advokat yang sudah mendapatkan klien bahkan sebelum kantor diresmikan.
Tapi di tengah sukacitanya, ia terdiam sejenak sambil berpikir. Ada nama yang terasa familiar sekaligus asing baginya.
“Abimanyu Alexander? Apakah dia kenalanku?”
__ADS_1