
Pria tua itu menggedor pintu ruang kendali sambil meneriakkan nama seorang produser muda yang sedang bekerja di dalam ruangan itu. Ia sangat kesal karena berita yang telah dibuatnya tidak disiarkan dan sang produser memiliki andil besar atas penolakan tersebut.
“Dasar, Bocah Ingusan!!! Kau pikir kau lebih pintar dariku hanya karena gelar dan gajimu lebih tinggi dariku? Sebelum kau lahir, aku sudah meliput berita. Kau tidak berhak menghina apa yang sudah kubuat!”
Pria itu adalah legenda di dunia jurnalistik nasional. Ia lebih dikenal dengan nama Jack Off the Record. Meskipun legenda, kualitas berita yang disajikannya beberapa tahun terakhir sudah mulai menurun drastis. Selain karena usia, kecintaannya pada uang membuatnya rela merusak kredibilitas berita yang dibuatnya.
“Hei, Jack. Kau tidak menonton sidang anakmu?”
Rico, seorang audioman yang sedang lewat, menyapa Jack dengan sebuah informasi yang berkaitan dengan pria tua itu. Ia dan seluruh pegawai stasiun televisi ini sudah terbiasa melihat Jack mengamuk sambil membanggakan senioritasnya. Meski usianya delapan belas tahun lebih muda, Rico menganggap Jack sebagai teman sebayanya.
“Lho, sudah mulai?” Jack langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka siaran langsung persidangan Abimanyu Alexander yang mana putri keduanya berperan sebagai penasihat hukum terdakwa. “Wah, keren sekali dia.”
Rico mengintip ponsel Jack. Ia melihat putri rekan kerjanya itu sedang duduk memperhatikan saksi yang sedang memberikan keterangan.
“Coba mundur beberapa menit sebelumnya, saat dia bertanya pada saksi sebelumnya.”
Jack melakukan yang Rico suruh. Ia memperhatikan dengan seksama. Senyum di wajahnya langsung mengembang dan berubah menjadi tawa pada saat Indira menyatakan saksi memberikan keterangan palsu.
“Lihat, lihat anakku! Dia sangat pintar. Mirip sekali dengan bapaknya.”
Jack tertawa sambil membawa ponselnya berjalan menyusuri koridor. Ia sudah lupa dengan amarahnya pada si produser muda tadi.
* * *
Ruangan persidangan masih heboh karena analisis yang disampaikan oleh Indira. Hingga akhirnya hakim ketua harus mengetuk palu untuk menenangkan para pengunjung pengadilan dan kembali memulai persidangan dengan tertib.
“Saudara penasihat hukum, tolong jelaskan maksud Saudara mengatakan saksi telah memberikan keterangan palsu.”
“Bungkus sabu-sabu itu, Yang Mulia,” kata Indira. “Menurut penyelidikan saya, bungkus hitam itu identik dengan narkotika dari sindikat bernama Silver Circle. Awalnya penggunaan bungkus hitam itu bertujuan seperti brand mereka karena kualitas sabu-sabu mereka masih terbaik di negeri ini. Namun, sejak penangkapan besar-besaran yang terjadi tiga bulan yang lalu, pihak kepolisian tahu tentang Silver Circle dan hal itu membuat beberapa jaringan sindikat tersebut tertangkap. Sejak saat itu, Silver Circle tidak lagi menggunakan bungkus hitam untuk barang jualannya.”
Abi melihat ke arah Indira. Ia tersenyum kagum pada pengacaranya. Semua informasi itu didapatnya dari hasil investigasinya dengan Rama, hanya dalam sehari saja. Meski ia memberikan sedikit petunjuk, jika bukan Indira, tidak mungkin ia mendapat informasi sedetail itu.
“Tapi bisa saja Abi menjual barang lama atau sengaja menggunakan bungkus hitam itu agar pelanggan berpikir itu adalah barang dari sindikat Silver Circle,” kata hakim ketua.
__ADS_1
“Silver Circle bukan hanya tidak menggunakan bungkus hitam itu untuk sabu-sabu produksinya, tapi juga melarang keras. Mereka menggantinya dengan bungkus transparan biasa dan memberikan ciri khas baru yang sayangnya tidak saya ketahui. Semua pengedar tahu akan hal itu dan tidak ada lagi yang berani menjual sabu-sabu bungkus hitam sejak tiga bulan yang lalu. Saya berani jamin, tidak mungkin klien saya menjual sabu-sabu dengan bungkus hitam sebulan lebih seminggu yang lalu pada saksi.”
Dan akhirnya, saksi mengakui kebohongan yang telah dilakukannya. Setelah menemukan sebuah fakta yang mengejutkan, hakim ketua mencecar saksi dengan berbagai pertanyaan. Ia sangat marah karena ada orang yang berani menghina pengadilan yang sedang ia pimpin.
“Saya sudah bilang sejak awal. Jika Saudara mengucapkan keterangan palsu, Saudara dapat dituntut sesuai pasal 242 ayat 1 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun,” bentak hakim ketua pada para saksi.
Kemudian, hakim ketua menatap jaksa penuntut umum yang terlihat menunduk malu. Meski demikian, sang jaksa menolak bertanggung jawab atas tindakan para saksi. Ia yakin telah menetapkan saksi melalui prosedur yang benar. Demi menyelamatkan dirinya, ia melemparkan semua kesalahan pada para penyidik..
“Siapa penyidiknya? Saya minta agar diusut tuntas. Ini sudah termasuk tindak pidana,” kata hakim ketua dengan nada dan wajah marah. “Dengan terungkapnya kebohongan yang dilakukan oleh saksi, maka kami memutuskan bahwa saksi tidak kredibel dan tidak dapat meneruskan kesaksiannya. Setiap keterangan yang telah diberikan dianggap tidak sah. Bagaimana, penasihat hukum terdakwa?”
“Kami setuju, Yang Mulia,” jawab Indira dengan wajah penuh senyumnya.
Hakim ketua memanggil petugas untuk menjemput para saksi. Setelah kursi saksi kosong, sang pimpinan hakim kembali menatap tajam ke arah penuntut umum.
“Saudara penuntut umum. Apakah Saudara masih memiliki saksi untuk hari ini?”
“Masih, Yang Mulia.”
“Baik, Yang Mulia.” Penuntut umum mengalihkan pandangannya ke arah pintu di sisi kanan ruangan. “Kepada petugas, silakan hadirkan saksi bernama Suharto Arrgantara ke ruang persidangan.”
Abi terkejut mendengar nama itu. Meski jarang, ia tahu siapa empunya nama yang disebutkan barusan. Dugaannya benar ketika seorang pria masuk ke ruang persidangan mengikuti seorang petugas.
Sepanjang pria itu ditanyai identitasnya dan diambil sumpahnya, Abi terus menatapnya dengan tajam, seakan ingin bertanya kenapa ia hadir di pengadilan itu sebagai saksi a charge, atau saksi yang memberatkan terdakwa.
“Kamu mengenalnya?” bisik Indira.
“Ya, dia adalah tetanggaku. Ia biasa dipanggil Totok.”
“Kamu tahu kenapa dia menjadi saksi dari pihak jaksa? Kamu pernah melakukan kesalahan padanya? Apakah kamu tetangga yang jahat?”
“Tidak. Justru sebaliknya, aku sering membantunya. Makanya aku khawatir.”
“Khawatir kenapa?”
__ADS_1
“Apa hubungan Saudara saksi dengan Saudara terdakwa?” tanya hakim ketua menghentikan perbincangan antara Abi dan Indira.
“Saya tetangganya, Yang Mulia.”
Hakim ketua mengkonfirmasi jawaban tersebut pada Abi dan Abi tidak menyangkalnya.
“Saudara saksi tahu kenapa dihadirkan di persidangan ini?”
“Tahu, Yang Mulia.”
“Baik, sekarang ceritakan secara singkat tentang apa yang Saudara ketahui mengenai perkara ini.”
Pria yang biasa dipanggil Totok itu menarik napas lalu menghembuskannya panjang. Kemudian ia mendekatkan kembali mikrofon ke mulutnya untuk memulai kesaksiannya.
“Terdakwa sudah beberapa kali membantu pengedar narkoba di lingkungan kami lolos dari polisi.”
Para pengunjung mulai saling berbisik mendengar ucapan pria tersebut. Sementara Indira melihat wajah Abi mulai menegang.
“Membantu bagaimana?”
“Ketika ada polisi yang menangkap, ia mengaku sebagai advokat dari pengedar narkoba tersebut dan menyebutkan pasal-pasal yang saya tidak ingat. Setelah menyebutkannya, para polisi kebingungan dan akhirnya mereka pergi.”
“Bukankah ketika mengaku sebagai advokat, ia seharusnya menunjukkan kartu pengenal advokat, surat kuasa atau semacamnya? Apakah ia melakukannya juga?”
“Tidak, Yang Mulia. Sepertinya karena semua warga dan polisi di sana tahu siapa dia.”
“Apakah seorang Abimanyu Alexander memang dikenal sebagai advokat di sana?”
“Bukan Abimanyu Alexander-nya, Yang Mulia.” Totok menatap Abi seolah hendak meminta izin untuk mengatakan sesuatu. “Tapi Advokat Malam.”
Ruang pengadilan kembali heboh. Demikian juga dengan orang-orang yang menonton siaran langsung persidangan tersebut. Meski belum pernah disorot oleh media, banyak orang yang tahu reputasi Advokat Malam. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau pria yang sedang viral belakangan ini dan Advokat Malam adalah orang yang sama.
Abi dan Indira hanya bisa diam. Kehadiran Totok memang di luar dugaan mereka.
__ADS_1