
“Perusahaan itu sudah digugat secara pidana dengan pasal penipuan. Selain itu, mereka juga kena pasal penggelapan dan undang-undang TPPU karena besaran anggaran untuk jasa konstruksi dan konsultan yang tak wajar,” terang Indira sambil memeriksa beberapa lembar kertas. “Dan seperti yang kita ketahui, mereka juga terlibat kasus yang sama, bahkan lebih banyak di proyek-proyek mereka yang lain.”
Abi melipat tangannya sambil mengangguk-angguk saat mendengarkan keterangan dari Indira. “Kita tetap mengajukan gugatan perdata, kan?”
“Tentu saja.”
Indira heran mendengar pertanyaan itu dari Abi. Kliennya kelihatan gugup.
“Pasal 61 ayat (1) UU PT menyebutkan bahwa setiap Pemegang Saham berhak mengajukan gugatan terhadap PT ke Pengadilan Negeri apabila dirugikan karena tindakan PT yang dianggap tidak adil dan tanpa alasan wajar sebagai akibat keputusan RUPS, direksi, dan/atau dewan komisaris. Hak ini diberikan kepada setiap pemegang saham, baik mayoritas maupun minoritas,” kata Indira.
“Apakah tanahnya bisa kembali? Apakah perjanjian kerjasama mereka bisa dibatalkan?”
“Menurut KUHPerdata pasal 1328, penipuan merupakan suatu alasan untuk membatalkan suatu persetujuan, bila penipuan yang dipakai oleh salah satu pihak adalah sedemikian rupa, sehingga nyata bahwa pihak yang lain tidak akan mengadakan perjanjian itu tanpa adanya tipu muslihat. Penipuan tidak dapat hanya dikira-kira, melainkan harus dibuktikan. Untuk pembuktian kasus penipuan, sepertinya tidak akan ada masalah. Karena gugatan kasus penipuan sudah masuk ke pengadilan pidana, maka kita hanya perlu menunggu putusannya terlebih dulu, baru kemudian kita gugat secara perdata. Tinggal kita buktikan bahwa penipuan tersebut yang mempengaruhi terjadinya perjanjian kerjasama mereka.” Indira menatap Abi yang masih berpikir dengan curiga. “Bukankah kamu bilang tidak menguasai hukum perdata? Apakah kamu ingin membantu?”
“Tidak, hanya ingin tahu saja,” jawab Abi. “Apakah jika kita mengajukan gugatan ke perusahaan itu, kita bisa melihat laporan keuangannya secara lengkap? Kalau kasusnya di proyek lain, apakah memungkinkan bagi kita untuk bisa melihatnya?”
Indira menaikkan alisnya. Ia mulai bisa membaca arah pikiran pria itu. “Jangan-jangan kamu semangat dengan kasus ini hanya agar bisa melihat laporan keuangan. Katakan, apa yang ingin kamu lihat dari laporan itu?”
Abi hanya diam. Ia baru sadar kalau tadi ia terlalu bersemangat sehingga bertingkah mencurigakan. Untuk menutupinya, ia berpura-pura melihat dokumen yang dibawa oleh Indira. “Baiklah, kita bahas persidangan kita berikutnya. Tinggal dua hari lagi.”
“Kamu memang ular,” gerutu Indira karena Abi mengubah topik karena tersudut. “Rama sudah menunjukkan foto buku tamunya. Memang kurang kuat untuk dijadikan bukti, tapi itu bisa menjadi jalan untuk memeriksa alibinya. Aku dan Rama akan bertanya pada tetangga Mischa, apakah mereka melihat pria itu saat kejadian. Akan lebih bagus jika kita bisa mendapatkan barang bukti yang kuat.”
“Ya, misalnya saja rambut palsunya saat menyamar menjadi Mischa,” tambah Abi. “Jika kita bisa menemukannya, apa yang akan kamu rencanakan?”
Mendengar pertanyaan itu, Indira tersenyum. Ada rencana di kepalanya yang ia pikir cukup keren.
__ADS_1
“Pertama, aku akan membuktikan kalau bukan aku yang membunuh. Kemudian, ketika hakim bertanya, siapa pelaku utamanya, aku akan berdiri dan menunjuk pria itu. Kamu bilang ia selalu datang di setiap persidangan kita, kan?”
“Bukankah itu terlalu berlebihan? Seperti adegan di film,” ejek Abi.
“Aku tak peduli. Yang pasti, itu terlihat sangat keren.”
Mereka tertawa karena candaan ringan yang dilontarkan oleh Indira. Kemudian, wajah Abi kembali serius. Ada sesuatu yang tiba-tiba melintas di pikirannya.
“Bagaimana dengan pengganti Roy? Apakah sudah ditentukan jaksa penggantinya?”
Indira tahu, di balik pertanyaan itu, sebenarnya Abi hanya ingin membahas tentang Roy. Berbeda dengan Regina, Indira memahami perasaan pria itu setelah kehilangan musuh besarnya. Penuh dengan penyesalan. Bukan karena gagal melakukan balas dendam, Indira melihat penyesalan di mata Abi karena gagal ‘menghukum’ Roy dengan senjata yang dijanjikannya, yaitu hukum. Seandainya ia tidak gagal, mungkin Roy tidak perlu mengakhiri hidupnya setragis itu. Berbeda dengan Reynold yang memang pantas untuk mati, ada sedikit harapan Abi agar Roy bisa bertobat atas kesalahan masa lalunya. Apalagi ia adalah tunangan dari sahabat baiknya.
“Sudah ada. Seorang jaksa yang baru pindah dari daerah. Ia tidak terlalu hebat sebagai jaksa, namun terkenal anti suap. Ia takkan menyulitkan kita seperti jaksa sebelumnya.”
“Kau memikirkan sesuatu?” tanya Indira, yang mengembalikan kesadaran Abi.
“Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu yang tidak penting.”
Indira tahu kalau Abi tidak bisa lagi berkonsentrasi membahas rencana persidangan mereka. Ia pasti masih memikirkan kematian musuh lamanya, namun malu untuk memulai pembahasannya. Akhirnya, Indira menyerah dan membantu kliennya itu untuk membuka pembahasan itu.
“Kudengar Regina meminta autopsi untuk jasad Roy. Ia curiga kalau mantan tunangannya itu dibunuh, bukan bunuh diri. Keluarga mendiang sempat menolak, tapi akhirnya mereka setuju. Mungkin hasil autopsinya akan keluar hari ini,” kata Indira yang membuat mata Abi kembali berbinar. “Aku mendengarnya dari kenalanku yang bekerja di polres yang sama dengannya.”
“Baguslah. Itu artinya -”
Kalimat Abi terputus mendadak, membuat Indira keheranan. Ia mengangkat bahu seakan ingin bertanya kelanjutan dari perkataan Abi. Namun, Abi hanya diam.
__ADS_1
“Pasti benar dugaanku selama ini kalau kamu merahasiakan sesuatu,” ujar Indira. “Ingat perjanjian awal kita, harus saling percaya dan tidak ada rahasia di antara kita.”
Abi masih ingat dengan janji itu, tapi ia tak bisa mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini, yaitu tentang tuan Jireh.
Rencana awal Abi saat memaksa Indira untuk mengambil kasus New World adalah untuk membuat kekacauan dan melihat siapa saja yang bereaksi. Dengan demikian, ia bisa mendeteksi orang-orang yang mungkin adalah tuan Jireh. Namun, yang terjadi tidak sesuai dengan rencananya. Hanya keluarga Louis Jithro Kurniawan yang kewalahan dan puncaknya adalah kematian Roy. Itu juga yang menjadi alasan Abi mengincar laporan keuangan lengkap PT. Laras Jaya Karya, yaitu untuk melihat alur dananya.
Tapi, kematian Roy menimbulkan kecurigaan bagi Abi. Meskipun dibesarkan sebagai anak manja, ia bukanlah orang yang akan mengakhiri hidupnya karena masalah. Pasti ada campur tangan dari seseorang. Entah ia dibunuh atau dipaksa bunuh diri.
Dan variabel itu menimbulkan beberapa spekulasi baru. Kenapa jaksa Jerold yang harus mati? Jika tuan Jireh ingin menghilangkan jejaknya di PT. Laras Jaya Karya, bukankah seharusnya yang mati adalah ayah atau kedua saudara kandung Roy?
Abi yakin, tuan Jireh sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya terhadapnya dan melihat bagaimana ketakutannya bos Dirga, Roy dan Jack Off the Record saat ia menyebut nama itu, sepertinya akan lebih baik jika ia tidak memberitahukan Indira tentang tuan Jireh.
*
Di kegelapan, mata Abi memperhatikan layar ponselnya dengan serius. Ia mencari berita tentang hasil autopsi jasad Roy, tapi tidak ada. Sepertinya autopsi tersebut dilakukan secara diam-diam tanpa diketahui oleh media.
Tiba-tiba layar ponselnya berganti, menampilkan sebuah nomor yang tidak ia kenal. Dengan ragu, ia menekan tombol telepon untuk mengangkat panggilan tersebut.
[Halo, Abi. Akhirnya kita bisa berbicara. Tak kusangka, kau bisa memiliki ponsel di dalam penjara.]
Abi terkejut. Itu adalah suara seorang pria tua yang tak pernah didengarnya. Siapa dia? Bagaimana pria itu tahu nomor ponselnya?
“Apakah aku mengenalmu?” tanya Abi yang direspons dengan tawa terbahak-bahak.
[Kudengar kau sudah mengenalku. Aku adalah Tuan Jireh.]
__ADS_1