Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 97


__ADS_3

Konferensi pers yang dilakukan oleh Bima Sakti sesaat setelah petahana mengajukan 2 Raperda itu menjadi berita yang sangat besar. Berbagai media membahasnya terus menerus sehingga desakan dari masyarakat untuk mengusut semua tuduhan yang disampaikan oleh mantan dokter itu.


Akibatnya sangat fatal, terutama bagi gubernur Theodore Fransiskus. Tingkat kepercayaan padanya menurun drastis. Bahkan ada beberapa pihak yang menuntut agar ia turun dari jabatannya sebagai gubernur. Rencananya untuk mendulang suara dari pihak-pihak yang selama ini tidak menyukainya karena proyek reklamasi itu malah berbalik menghancurkannya.


Hingga akhirnya, ia benar-benar mengundurkan diri. Keinginannya untuk memperpanjang periode masa jabatannya pun harus dikuburnya. Padahal pendaftaran calon gubernur akan dimulai minggu depan. Bukan hanya berdampak padanya. Wakilnya, Rustam Mediantara, juga terkena imbasnya. Ia memang menggantikan Theodore Fransiskus sebagai gubernur at interim. Tapi, ia juga harus pasrah karena partai yang sebelumnya mengusung namanya untuk ikut bertarung di pilkada depan, mengundurkan diri karena banyak orang yang percaya kalau ia ikut terlibat dalam kejahatan yang dilakukan oleh Theodore Fransiskus.


Sementara itu, Bima Sakti masih belum berhenti tertawa. Ia masih menikmati kemenangannya setelah berhasil mempermalukan lawan beratnya. Strategi yang ia dapatkan dari Indira dan Rinjani sukses besar. Kini elektabilitasnya meroket, menjauh dari para pesaingnya yang lain. Bisa dikatakan, ia sudah menjejakkan satu kakinya ke kursi gubernur.


Untung saja ia mau mendengarkan Indira dan Rinjani. Jika ia mengumumkan tentang proyek pembangunan kasino sebelum Theodore Fransiskus mengajukan kedua Raperda itu, ia hanya akan dianggap sebagai pemfitnah. Pasti tidak sulit bagi sang gubernur dan tuan Jireh untuk segera menutupi proyek itu. Tapi, ia memanfaatkan momentum dengan sangat baik.


“Aku sangat berterima kasih pada kalian. Kalian memang luar biasa. Aku sudah bisa merasakannya ketika pertama kali bertemu dengan kalian,” puji Bima Sakti pada Indira dan Rinjani yang saat ini sedang duduk di hadapannya. “Kalian ingin hadiah apa? Akan kuberikan sekarang juga. Tak peduli semahal apa, akan kuberikan. Rumah? Mobil?”


Rinjani tergiur dengan tawaran Bima Sakti. Namun, sebelum ia berbicara, Indira lebih dulu membuka suara.


“Kami tidak membutuhkan hadiah apapun. Hanya saja, ketika Anda sudah menjadi gubernur, mungkin sesekali kami akan meminta tolong.”


Seperti yang pernah dikatakan oleh Abi sebelumnya, mereka memang berniat untuk memanfaatkan ‘kekuatan’ Bima Sakti nanti untuk melawan tuan Jireh. Abi sadar, mereka membutuhkan ‘orang kuat’ untuk melawan ‘orang kuat’ juga. Sampai sejauh ini, Abi memang masih bisa melawan tuan Jireh. Tapi, ia tahu kalau tuan Jireh belum mengerahkan kekuatan yang sebenarnya. Masih terkesan hanya ingin main-main dan hanya ingin melihat kemampuan Abi.


“Baik, kalian bisa meminta tolong padaku, kapanpun dan apapun. Yang penting, kalian membantuku sampai menjadi gubernur. Dan jika memungkinkan, beberapa tahun lagi aku akan mencalonkan diri jadi presiden. Aku juga tetap membutuhkan bantuan kalian.”


Rinjani terkejut dengan rencana Bima Sakti yang ingin menjadi presiden, sementara Indira sudah bisa menebaknya sejak awal. Manusia ambisius seperti Bima Sakti takkan berhenti jika sudah mendapatkan sesuatu. Ia pasti akan mengejar yang lebih.


Mereka berbincang-bincang kosong beberapa menit, sebelum Indira pamit pergi. Sementara Rinjani kembali ke pos pemenangan. Hati Indira merasa sedikit lega karena rencana mereka sampai sejauh ini berjalan dengan lancar.


“Indira?”


Terdengar sebuah suara yang berat memanggil namanya. Indira menoleh dan melihat seorang pria tua sedang memegang paper cup panjang berisi kopi.


“Pak Burhan? Sedang apa di sini?”


Pria tua itu tersenyum lalu berkata, “Memangnya, karena aku hakim, aku tidak boleh ke mana-mana?”


                  *

__ADS_1


Indira duduk berdampingan dengan pak Burhan di kursi taman kota. Masing-masing dari mereka memegang minuman. Pak Burhan dengan kopinya, Indira dengan minuman isotonik yang baru dibelinya di swalayan terdekat.


“Jadi, kau konsultan hukum Bima Sakti?” tanya pak Burhan pada Indira.


“Iya, Pak. Hanya sampai ia duduk di kursi gubernur.”


“Hebat. Aku tak menyangka kau bisa sesukses ini,” kata pak Burhan sambil menepuk pundak Indira. “Tidak, aku sudah menduga kau akan menjadi pengacara sukses. Hanya saja, lonjakan karirmu termasuk lebih cepat dari yang kuduga.”


“Ah, hanya konsultan hukum dari bakal calon gubernur. Itu bukan prestasi yang luar biasa, Pak.” Indira tersipu malu.


“Tapi, Bima Sakti adalah calon terkuat untuk menduduki kursi gubernur setelah Theodore Fransiskus mengundurkan diri. Jika ia berhasil menjadi gubernur, tentu namamu akan semakin bersinar, bukan? ”


“Ah, tidak. Aku hanya menjalankan tugas ketika pak Bima Sakti meminta bantuanku. Aku sama sekali tidak mengejar embel-embelnya.”


“Itulah yang kusuka darimu sejak dulu. Ketulusan dan integritasmu.” Kembali pak Burhan melemparkan pujian yang membuat Indira tersipu malu. “Omong-omong tentang Theodore Fransiskus, apakah kau yang mengusulkan konferensi pers luar biasa dari Bima Sakti itu?”


Indira ragu menjawab karena sebenarnya ini adalah rahasia. Tapi, tidak terlalu rahasia untuk diceritakan pada orang terdekatnya seperti pak Burhan. Mungkin saja pria yang berprofesi sebagai hakim itu bisa memberikan masukan untuknya.


“Begitulah, Pak. Pak Bima Sakti memiliki dokumen tentang kasino itu. Aku hanya menyarankan ia mengungkapkannya di waktu yang tepat agar memberikan dampak baik baginya.”


Indira mengangguk-angguk. Ia melihat ini adalah waktu yang baik untuk menanyakan sesuatu pada pak Burhan. “Jadi, apa yang harus aku lakukan selanjutnya, Pak?”


“Maksudnya?”


“Tentu saja, konferensi pers yang dilakukan oleh pak Bima Sakti bukan hanya berdampak buruk pada Theodore Fransiskus semata, tapi seperti genderang perang bagi para bajingan yang berkomplotan dengannya dalam menggerogoti undang-undang untuk berpesta di tanah reklamasi yang dibangun di atas eksploitasi brutal terhadap alam dan kehidupan bahagia masyarakat sekitar.”


“Jadi, seperti itu kau memanggil mereka? Para bajingan.” Pak Burhan mengangguk-angguk kecil, seakan menahan amarah karena panggilan itu juga ditujukan padanya. “Apakah kalian memiliki bukti tindak korupsi yang kuat terkait dua Raperda itu?”


“Hmm, tidak banyak.”


“Kalian terlalu nekat menyerang seseorang tanpa memiliki senjata yang kuat. Bisa saja mereka menyerang balik kalian dengan tuduhan pencemaran nama baik. Dan jika yang kalian katakan tentang korupsi dan kasino itu tidak benar, kalian juga bisa dikenai pasal pemfitnahan.”


“Karena itu, mereka harus membuktikan jika semua yang Bima Sakti katakan tidak benar.”

__ADS_1


“Maksudnya?”


Indira membuka ponselnya lalu membaca sesuatu dari sana, “Ei incumbit probatio quidicit, nonqui negat - beban pembuktian diberikan pada orang yang menggugat, bukan tergugat. Itulah kenapa sampai sekarang kami tidak mengajukan gugatan apapun pada Theodore Fransiskus dan menunggu mereka yang menggugat terkait tuduhan itu, yaitu agar mereka yang menunjukan pembuktiannya.”


Pak Burhan berhenti berbicara sejenak dan hanya menatap Indira untuk beberapa lama.


“Jadi, strategi kalian adalah menunggu mereka yang lebih dulu memperkarakan kalian?”


“Begitulah,” jawab Indira. “Sampai saat ini, meski masyarakat sudah mendesak dan Theodore Fransiskus sudah mengundurkan diri, polisi dan lembaga pemberantasan korupsi tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengusut kebenaran dari tuduhan-tuduhan pak Bima Sakti terkait kemungkinan adanya praktik korupsi dan pembangunan kasino.”


“Mungkin karena tuduhan-tuduhan itu tidak benar.”


“Aku yakin itu benar.” Indira mendekatkan mulutnya ke telinga pak Burhan untuk berbisik, “Ini rahasia di antara kita saja. Sebenarnya, kami yakin kalau ada sosok besar di balik reklamasi itu.”


“Sosok besar?”


“Sosok itu sangat misterius sehingga hanya segelintir orang yang tahu. Sosok itu sangat menyeramkan sehingga siapapun yang mengenalnya dan mendengar namanya akan ketakutan. Selama ini ia telah melakukan banyak sekali kejahatan dengan merekayasa hukum untuk kepentingan orang-orang kaya dan berkuasa. Makanya, banyak dari mereka yang bebas meski telah melakukan banyak kejahatan. Dan kali ini, aku takkan membiarkan hal itu terjadi. Aku akan melawan sosok itu. Apapun yang terjadi, aku akan menghancurkannya.”


Pak Burhan hanya tersenyum mendengar ucapan Indira. Keringat mulai mengalir dari keningnya, giginya mulai menggeretak dan urat di tangannya mulai timbul. Tanpa Indira sadari, pria tua itu sedang menahan sesuatu yang besar di hatinya.


                  *


 “Aku pernah bilang, seorang petarung sejati hanya fokus pada kemenangan. Tak peduli harus mempertaruhkan apapun, termasuk orang yang sangat dicintainya,” kata pak Burhan a.k.a tuan Jireh pada asistennya.


“Ya, Tuan adalah petarung sejati.”


“Tapi, aku baru sadar kalau lebih mudah mempertaruhkan orang yang kita cintai daripada melihat orang yang kita cintai menyerang kita,” ujar tuan Jireh dengan wajah pilu. “Kau tahu? Hari ini ia menyebutku sebagai bajingan, perekayasa hukum dan pelayan bagi orang-orang kaya dan berkuasa. Ia bahkan bertekad kuat untuk membunuhku.”


Jesse Arnold, asistennya yang selalu berpakaian rapi, hanya bisa diam tanpa memberikan respons apapun untuk ucapan cengeng dari tuannya. Selama melayaninya, baru kali ini Jesse melihat tuannya bersikap selemah ini.


“Semua karena bajingan itu. Abimanyu Alexander!”


Melihat sang tuan dalam kondisi emosi yang labil seperti itu, Jesse bagaikan sedang melihat sebuah kesempatan yang selama ini dinantikannya. Kemudian ia berkata, “Apakah ini saatnya kita bermain kotor terhadap bocah itu?”

__ADS_1


Tuan Jireh tidak langsung menjawab. Ia mencoba menenangkan dirinya lalu melihat ke arah asistennya.


“Kau sudah tidak sabar melakukannya? Sekarang, kau kuberi izin untuk melakukannya.”


__ADS_2