Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 98


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Indira duduk termenung sambil bertopang dagu menatap jendela luar kantor. Ia tidak menghiraukan Bima Sakti yang sedang sibuk membahas pakaian apa yang akan ia kenakan besok dengan beberapa stafnya. Besok adalah salah satu hari besar karena besok pendaftaran calon gubernur akan dibuka. Penampilan sangat penting untuk memberikan citra yang akan melekat sepanjang kampanye nanti.


Besok Bima Sakti akan ditemani oleh Trio Budi Santoso, wakil sekjen Pasadena (Partai Suara Amanah dan Demokrasi Nasional) yang mengusungnya. Seorang wanita yang mengaku sebagai sekretaris dari politisi senior itu sudah datang sejak beberapa waktu yang lalu untuk mendiskusikan protokol kegiatan mereka besok. Terlihat, partai itu sangat senang dengan progres hebat yang terjadi pada Bima Sakti beberapa hari terakhir.


“Kenapa diam saja dari tadi? Apa yang kau pikirkan?” tegur Rinjani yang juga ikut sibuk mempersiapkan kegiatan untuk  besok.


“Entahlah. Aku hanya merasa sesuatu berjalan tidak sesuai yang kuharapkan. Terasa menyebalkan, tapi aku tak tahu di mana kesalahannya,” kata Indira.


“Maksudmu, masalah percintaanmu? Mungkin kau bisa mulai introspeksi diri. Mulai dari wajahmu,” ujar Rinjani dengan tujuan mengejek Indira.


“Itu tidak lucu.” Indira memasang wajah kesalnya. “Ini tentang para pengusaha di pulau Sarden dan para komplotan Theodore Fransiskus yang berencana membangun kasino. Kenapa sampai saat ini mereka tidak melakukan pergerakan? Lalu, kenapa polisi tidak mengusut sama sekali perkataan Bima Sakti saat konferensi pers lalu? Padahal, warga sudah menuntut agar polisi menyelidiki kemungkinan kasus korupsi yang dilakukan oleh Theodore Fransiskus.”


“Hanya si bodoh itu yang mencapai tujuannya.” Rinjani menggerakkan kepalanya ke arah Bima Sakti yang masih tertawa karena senangnya.


“Jika tidak ada reaksi apapun dari mereka, konferensi pers itu akan sia-sia. Kita harus memikirkan kembali cara untuk memancing mereka keluar, terutama tuan Jireh.”


“Ya, setidaknya si bodoh itu bisa menang, sehingga kita bisa melakukan banyak hal dengan bantuan kekuasaannya sebagai gubernur.”


Indira dan Rinjani sama-sama melihat Bima Sakti dengan tatapan ragu-ragu. Mereka memang ragu kalau pria itu akan menepati janjinya nanti jika menang menjadi gubernur.


“Sebaiknya kau bertanya pada Abi. Mungkin dia punya rencana cadangan,” ujar Rinjani. “Kapan kau terakhir bertemu dengannya?”


“Sudah lama sekali. Aku baru sekali datang menjenguknya, yaitu saat awal-awal ia dipenjara di lapas Maharaja. Setelah itu, waktuku habis untuk mengurus pria itu.” Indira menunjuk ke arah Bima Sakti. “Padahal aku harus mempersiapkan dokumen untuk banding kami.”


“Ia pasti merindukan pengacara kesayangannya,” ejek Rinjani yang membuat wajah Indira memerah.

__ADS_1


                  *


“Tahanan 3438! Ada tamu untukmu,” ujar seorang petugas yang baru datang sambil membuka pintu sel Abi dan Andika.


Abi turun dari ranjangnya dan mengacungkan kedua lengannya kepada sang petugas untuk dipasangkan borgol. Setelah itu, ia berjalan di depan petugas menuju ruang besuk.


Abi sangat berharap Indira yang datang. Seperti Indira, ia juga mencemaskan situasi yang terjadi saat ini, di mana tidak ada reaksi apapun dari tuan Jireh. Situasi ini sangat berbeda dengan apa yang ia harapkan. Abi curiga, ada sesuatu yang tidak beres terjadi.


Harapan Abi bahwa Indira yang datang semakin besar ketika ia diarahkan ke ruang besuk khusus. Ya, Indira memang harus datang agar mereka bisa membicarakan tentang persiapan banding mereka. Abi memang hanya butuh waktu sebentar untuk menyelidiki penjara ini. Biar bagaimanapun, ia harus bebas dan membersihkan namanya dari segala tuduhan kejahatan.


Akhirnya, mereka sampai di depan pintu ruang besuk khusus. Sang petugas membukakan pintu. Saat melirik ke dalam, Abi tidak menemukan siapa-siapa. Ia hanya melihat kursi dan meja yang di atasnya terdapat sebuah telepon berwarna hitam.


“Siapa yang menjenguk?” tanya Abi pada petugas.


“Masuk saja dan angkat teleponnya.”


Abi menuruti perintah petugas itu dan berjalan menuju telepon yang ada di sana. Ia mengangkatnya dan sebuah suara berbicara padanya. Suara berat yang sangat familiar di telinganya.


“Wah, sudah lama tidak mendengar suaramu, tuan Jireh.”


[Ya, kau pasti merindukanku.]


“Tentu saja. Meski aku tidak terlalu berharap kau meneleponku. Mungkin karena aku sering berharap Tuhan mencabut nyawamu ketika kau sedang melihat berita akhir-akhir ini.”


[Ah, tentang konferensi pers calon gubernur bodoh itu? Berarti tebakanku benar. Kau ikut campur di dalamnya. Apakah kau mengutus pengacara cantikmu untuk menghasut Bima Sakti? Ya, kau bisa apa tanpa pengacara cantikmu itu.]


“Pengacara cantikku itu punya nama, meski sepertinya ia akan senang jika dipanggil pengacara cantik,” kata Abi karena baginya, panggilan itu termasuk bentuk pelecehan.

__ADS_1


[Aku hanya ingin memperingatkanmu, pertarungan kita selanjutnya akan berjalan sangat keras. Aku akan mengabaikan rasa hormatku padamu dan tak segan-segan untuk melukaimu. Jadi, kau harus putuskan, apakah pengacara cantikmu itu akan tetap kau sertakan dalam pertarungan kita atau tidak.]


Abi diam sejenak. Ia sedang memikirkan maksud dari perkataan tuan Jireh. Kenapa ia sangat peduli dengan Indira? Apakah mereka benar-benar memiliki hubungan seperti yang dikatakan oleh Siti V? Jika ya, hubungan seperti apa sehingga tuan Jireh merasa sangat keberatan jika Indira berada di pihak Abi, tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya?


“Sudah sejak lama aku bertanya-tanya. Apa hubunganmu dengan Indira? Kenapa kau sangat mencemaskannya? Jika melihat bagaimana sikap Indira ketika pertama kali mendengar nama tuan Jireh, sepertinya ia tidak mengenalmu. Apakah kau memiliki cinta bertepuk sebelah tangan padanya?”


Tuan Jireh tidak langsung menjawab. Butuh beberapa detik untuk mendengar suaranya kembali.


[Itu bukan urusanmu.]


“Tentu saja urusanku. Aku sangat bersemangat untuk melawanmu karena aku berpikir pertarungan kita berdasarkan pertaruhan prinsip yang masing-masing kita pegang. Aku tidak ingin mengorbankan banyak hal untuk pertarungan yang dilandasi perasaan cemburu seorang pria tua.”


Terdengar tawa kencang, namun mengandung amarah dari seberang telepon. Abi sadar kalau kata-kata yang baru saja diucapkannya sangat kasar dan tidak layak untuk diucapkan. Tapi, ia ingin tuan Jireh terprovokasi agar pria misterius itu keluar dari tabir yang selama ini menutupinya dan memberikan sedikit petunjuk tentang identitas aslinya.


[Jangan merasa kecewa. Aku bisa pastikan pertarungan kita ini akan seru. Aku bukan orang lemah yang bergerak karena drama percintaan. Jika kau ingin bukti, aku melakukan sesuatu pada pengacara cantikmu itu.]


“Kalau begitu, aku ingin bilang aku mencintainya. Jika kau menyentuhnya, aku bisa pastikan kau menyesalinya.”


Ah, apa yang ada di otak Abi ketika mengatakan mencintai Indira? Ia menegaskan pada dirinya sendiri kalau ia hanya ingin memprovokasi tuan Jireh lebih jauh.


[Baiklah kalau begitu. Mulai sekarang, kita akan bertarung tanpa rasa hormat satu sama lain. Pertarungan ini takkan berhenti sampai salah satu di antara kita mati.]


“Ayolah, sejak kapan aku memiliki rasa hormat pada penjahat sepertimu?”


Abi menutup telepon tanpa mendengar ucapan penutup dari tuan Jireh. Ia merasa sangat bangga dengan apa yang telah dilakukannya, meski perasaan itu diiringi oleh rasa takut juga karena yakin bahaya besar akan mendatanginya.


Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara, seperti suara senjata yang sedang dikokang.

__ADS_1


“Aku akui, kau sangat berani sehingga bisa bersikap sekurang ajar itu pada tuan Jireh. Aku jadi punya alasan yang lebih kuat untuk menghabisimu.”


Abi melihat ke arah jendela yang membiaskan bayangannya dan petugas yang sejak tadi menemaninya. Petugas itu sudah berdiri di belakangnya dengan senjata teracung ke arahnya.


__ADS_2