Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 101


__ADS_3

Seminggu yang lalu, sebelum pistol mengacung ke belakang kepala Abi


Abi terlihat gelisah. Ada sesuatu yang membebani pikirannya. Terlihat setiap beberapa detik ia mengubah posisi tidurnya. Andika yang berada di bawahnya otomatis terganggu dengan kelakuannya tersebut.


“Kau kenapa? Sedang mules?” tanya Andika.


Abi tidak menjawab. Ia hanya berhenti bergerak. Tapi, itu hanya bertahan untuk beberapa menit saja. Berikutnya, ia kembali membuat keributan yang akhirnya memaksa Andika untuk naik ke ranjang atas.


“Ada apa denganmu?” Kembali Andika bertanya dengan wajah kesal.


Melihat mantan anggota tentara terganggu sampai mendatanginya, Abi merasa bersalah dan meminta maaf. Ia duduk dengan memberikan ruang yang cukup luas di sebelahnya, tepat di sisi yang berada di hadapan Andika, seakan memang sengaja disediakan untuk sang ayah.


Akhirnya Andika sadar kalau ada sesuatu yang mengganggu anaknya itu. Ekspresi wajahnya pun lebih tenang dan mencoba untuk mencari tahu apa yang membuat Abi segelisah itu. Ini adalah kesempatan besar untuk dekat dengan anaknya. Ia segera mengambil posisi tepat di samping Abi dan bersandar di tembok sambil menatap langit-langit, seperti yang sedang Abi lakukan.


“Ada apa denganmu?” Kini Andika menanyakannya dengan wajah yang tenang dan nada bicara yang lembut.


Abi terlihat ragu, lalu mulai bertanya, “Kumohon, katakan seperti apa tuan Jireh yang kau kenal selama ini?”


Andika sedikit tidak menyangka sang anak akan bertanya tentang pria itu dengan wajah seputus asa sekarang. Mengingat beberapa hari yang lalu ia masih percaya diri melawan tuan Jireh, sepertinya memang baru terjadi sesuatu yang sangat menjatuhkan mentalnya, khas perbuatan pria menyeramkan itu pada setiap lawannya.


“Seperti yang kukatakan selama ini, aku tidak mengenalnya secara pribadi. Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya. Tapi, satu hal yang pasti adalah penjara ini bukan tempat yang bagus untuk melawannya. Untuk itu, jika kau memang benar-benar ingin melawannya, sebaiknya lakukan itu saat kau keluar dari tempat ini.”


Abi menaikkan salah satu alisnya. “Kenapa dengan penjara ini?”


“Karena ini adalah wilayah di bawah kendalinya,” jawab Andika. “Di sini ia bukan hanya penyedia kebutuhan para narapidana kelas 1 dan 2. Ia juga memberikan banyak hal pada kepala lapas dan beberapa orang penting yang berkaitan dengan lapas ini. Pamrihnya, ia bebas menghukum siapa saja yang ia anggap sebagai musuh di tempat ini.”


Abi mengangguk kecil tanda mulai memahami kekhawatiran Andika selama ini karena ia melawan tuan Jireh.

__ADS_1


“Seperti apa hukuman yang ia berikan pada musuh-musuhnya di sini?”


Andika menghela napas. Ia berpikir sejenak, lalu berkata, “Aku tidak tahu pasti hukuman seperti apa. Kejadiannya selalu seseorang yang kami pikir adalah musuhnya akan dipanggil oleh seorang sipir dengan alasan ada yang menjenguknya. Setelah itu, orang itu tak pernah kembali. Selang beberapa lama, keluarganya dihalang-halangi untuk mengunjunginya dan tiba-tiba mereka mendapat kabar kalau orang itu telah meninggal karena suatu penyakit mematikan dan langsung dikubur karena takut menular pada napi lain.”


Untuk beberapa saat, suasana hening. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Di pikiran ayah dan anak itu sedang bergulir pemikiran mereka masing-masing. Andika memikirkan apakah tuan Jireh akan melakukan hal yang sama pada anaknya, sementara Abi memikirkan cara yang lebih ampuh untuk memprovokasi tuan Jireh.


Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang sipir yang mengetuk pintu kamar mereka dengan keras.


“Tahanan 3438! Ada tamu untukmu,” ujar seorang petugas yang baru datang itu sambil membuka pintu sel Abi dan Andika.


                  *


Kembali ke saat ini


Indira membentur-benturkan kepalanya ke tiang listrik. Saat ini, ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Setelah kasusnya bersama IKAKUM, ia merasa tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginannya. Mulai dari penurunan jumlah klien, gagalnya rencana konferensi pers Bima Sakti, ditangkapnya Bima Sakti atas tuduhan pembunuhan Mischa, ia tidak ditunjuk sebagai pengacara Bima Sakti meski selama ini menjabat sebagai konsultan hukumnya (hal ini membuat kepercayaan publik pada kemampuannya semakin anjlok), lalu ditambah dengan kebakaran yang menimpa daerah tempat tinggal Abi serta buronnya Rama karena kasus pembunuhan.


Dan yang membuat semuanya semakin rumit adalah untuk kesekian kalinya ia gagal menjenguk Abi. Kata salah seorang sipirnya, ia sedang menjalani sedikit tes kesehatan. Sebelum informasi itu diberikan, si sipir memberikan informasi lain terkait penyakit yang sedang menyerang Abi. Katanya, Abi sering batuk, diare, demam dan berat badannya turun drastis. Ia juga memiliki benjolan kecil di matanya. Dokter lapas berpikir kalau ada kemungkinan gejala kanker.


“Maaf, yang bisa menemaninya hanya dari pihak keluarga.”


Tentu saja, saat ini tante Jenny sedang koma di rumah sakit dan Rama sedang buron. Selain mereka berdua, seperti Abi tidak memiliki keluarga lain. Indira hanya bisa pasrah. Kini, ia sama sekali tidak bisa mengetahui keadaan Abi dari sumber yang terpercaya.


Selain mengkhawatirkan Abi dan kemungkinan penyakit kanker akan menggerogotinya yang cukup besar, ia juga merasakan kekosongan yang sangat besar di hatinya saat ini. Ia bingung ingin mengadu pada siapa untuk masalah-masalah yang sedang dihadapinya. Memang, ada beberapa orang yang bisa diajaknya bercerita, seperti mbak Ratih atau Rinjani, tapi hanya Abi yang memahami semua masalahnya. Ya, karena memang Abi yang menyebabkan semua masalah itu.


Di tengah kesibukannya membenturkan kepala ke tiang listrik, ponselnya berbunyi. Ia menerima panggilan yang masuk. Panggilan dari Regina.


[Aku sudah menerima hasil penyelidikan kebakaran di Batavia Baru. Sepertinya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka menyatakan dugaan sementara penyebab kebakaran adalah korsleting listrik biasa. Belum ditemukan penyebab lain atau pelaku yang diduga bertanggung jawab]

__ADS_1


“Lalu, kamu langsung percaya dengan hasil penyelidikan itu? Asal kamu tahu, aku sudah melihat mereka salah menganalisis penyebab kebakaran. Dua kali.”


[Tidak ada manusia yang sempurna. Lagipula, itu baru dugaan sementara. Aku juga akan mempelajari lagi hasil penyelidikannya dan akan memperhatikan setiap kejanggalan yang mungkin ada. Aku mengenal Abi, tante Jenny dan Rama jauh sebelum kau mengenal mereka. Aku juga punya ikatan pada Batavia Baru yang pasti jauh lebih kuat daripadamu. Jadi, jangan berpikir kalau aku tidak menganggap serius kasus kebakaran ini.]


Indira mulai kesal. Ia menganggap Regina ingin menegaskan kalau dirinya lebih dekat dengan Abi.


“Baiklah, aku percaya padamu,” kata Indira dengan nada ketus.


[Lalu, kau sudah bertemu dengan Abi?]


“Itu dia masalahnya. Aku dilarang bertemu dengan Abi karena ia sedang menjalani tes kesehatan karena beberapa hari belakangan ia menunjukkan gejala kanker seperti batuk, diare, demam dan berat badannya turun drastis. Apakah aku bisa memercayai informasi dari sipir lapas itu? Ah, kau pasti akan membela institusimu.”


[Meski nama resmi mereka adalah POLSUSPAS, atau Kepolisian Khusus Pemasyarakatan, mereka adalah ASN yang berada di bawah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan bukan merupakan bagian dari kepolisian. Lagipula, bukankah sebagai kuasa hukumnya, kau berhak mengetahui kondisi klienmu, apalagi saat sakit parah seperti itu? Bahkan, seharusnya kau berhak untuk mendampinginya, bukan?]


Indira terdiam. Ia sama sekali tidak ingat kalau tadi ia datang sebagai kuasa hukum, bukan sebagai teman yang datang hanya ingin curhat. Tapi, ia tidak ingin mengakui kealpaannya di depan Regina, wanita yang paling ia benci.


“Bagaimana dengan kasus Rama? Apakah sudah ada tanda-tanda kemunculannya?” Indira mencoba mengubah topik pembicaraan.


[Masih nihil. Bukti yang ditemukan terlalu kuat mengarah padanya. Aku juga akan terus memantau perkembangannya. Ia sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri.]


Indira kembali kesal.


[O ya, tentang tuan Jireh. Sepertinya aku harus mengatakan ini padamu, meski Abi sudah melarangnya.]


Kening Indira mengerut. Ia sangat terkejut karena Abi menyimpan rahasia tentang tuan Jireh dan malah memberitahukannya pada Regina.


“Katakan saja. Aku yakin itu bukanlah informasi yang cukup penting. Abi tidak akan merahasiakan sesuatu yang penting dariku.”

__ADS_1


[Benarkah? Abi berpikir kalau tuan Jireh adalah orang yang dekat denganmu. Apakah itu bukan informasi yang penting?]


Seperti sedang disambar petir, Indira sangat terkejut mendengar ucapan wanita itu. Ia sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


__ADS_2