
Indira sibuk dengan ponselnya. Berkali-kali ia menelepon Bima Sakti atau stafnya, tapi tidak diangkat. Kemungkinan Bima Sakti sudah dijemput oleh polisi. Untungnya, ia terpikir untuk menelepon Rinjani dan bisa mendapatkan sedikit informasi terkait yang diberitakan di televisi barusan Sementara itu, Regina yang masih menikmati kopi di gelasnya, mencuri dengar percakapan Indira.
“Sial!” teriak Indira ketika selesai menutup ponselnya.
“Kenapa?”
“Orang itu menyewa pengacara lain untuk membelanya.”
“Lho, bukannya selama ini kau menjadi konsultan hukumnya?”
“Ya, konsultan hukum. Tidak ada kontrak jangka panjang. Ia hanya membayarku untuk setiap konsultasi,” terang Indira.
Mereka kembali melihat ke arah televisi. Pemberitaan tentang Bima Sakti memang tidak terhenti hanya pada satu berita saja. Berbagai berita negatif pun mengiringinya. Mulai dari malpraktik yang sering dilakukan oleh rumah sakit miliknya, bisnis-bisnisnya yang diduga melakukan kegiatan ilegal, sampai masalah keluarganya di mana sang istri yang sering ‘memelihara’ pria muda dan anaknya yang penyuka sesama jenis.
“Bahkan, jika tuduhan keterlibatannya pada kematian Mischa tidak terbukti, ia takkan bisa kembali ke posisinya yang semula,” gumam Indira.
“Bicara tentang keterlibatannya pada kematian Mischa, apakah kau tidak melihat ada yang aneh?” tanya Regina.
“Maksudmu, jadwal kegiatan Mischa hari itu? Seharusnya, bukan hanya Bima Sakti yang akan rapat dengan Mischa. Tapi, di berita tadi hanya ada nama Bima Sakti.”
“Rupanya kau tahu juga tentang jadwal itu,” celetuk Regina. Ia merasa kesal karena ingat telah dikhianati oleh De Syado. “Berarti, ada kemungkinan pemberitaan itu direkayasa.”
“Tentu saja. Ini pasti perbuatan tuan Jireh.”
“Belum tentu. Bagaimana dengan Sky Emperor?”
“Sky Emperor?”
“Apakah kau tahu hasil pertemuan mereka?” tanya Regina yang dijawab dengan gelengan kepala Indira. “Bisa jadi, setelah Bima Sakti keluar dari rapat mereka, terjadi kesepakatan antara para anggota Sky Emperor lainnya dengan tuan Jireh.”
“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa,” kata Indira yang tiba-tiba berpamitan dan berdiri untuk bersiap pergi.
__ADS_1
“Kau mau ke tempat Bima Sakti? Bukankah akan lebih memalukan jika kau ke sana padahal sudah dipecat?”
“Siapa bilang aku mau ke sana?” ujar Indira dengan nada kesal. “Aku mau menemui Abi.”
*
Indira hanya diam saja selama berada di boncengan. Regina menawarkan tumpangan di motor gede miliknya saat Indira mengatakan akan menemui Abi. Ia tahu, polisi wanita itu akan meminta ikut jika ia menyebut nama Abi. Meski tidak menyukainya, ikutnya Regina sangat ia butuhkan, mengingat sudah beberapa kali kunjungannya ditolak oleh sipir dengan alasan tak jelas. Setidaknya, karena Regina adalah seorang polisi, ia bisa mendapatkan kemudahan untuk bertemu dengan kliennya itu.
“Mereka tidak mengizinkanmu bertemu dengan Abi?” tanya Regina saat mereka sedang berjalan dari parkiran ke pintu masuk lapas.
“Ya, dengan berbagai alasan. Padahal, aku harus melengkapi beberapa dokumen untuk banding yang mana harus kudiskusikan terlebih dulu pada Abi.”
“Omong-omong tentang banding, apakah kalian memang sengaja kalah di persidangan lalu agar bisa melakukan banding? Apakah kalian yakin hanya bisa menang di persidangan tingkat pengadilan tinggi?” tanya Regina. Ia pernah mengajukan pertanyaan yang sama pada Abi, namun pria itu tidak memberikan jawaban sama sekali.
“Sebenarnya, mudah bagi kami untuk memenangkan kasus ini. Hanya saja, Abi perlu mencari sesuatu di lapas itu. Katanya, hanya butuh beberapa bulan saja. Katanya, ia menyimpan cukup banyak dokumen yang bisa digunakan sebagai pembelaan di sidang banding nanti.”
“Dokumen apa?”
Belum sampai di pintu masuk lapas, ponsel Indira berbunyi. Ia segera mengangkatnya. Secara kebetulan, ponsel Regina juga berbunyi dan ia pun segera mengangkatnya juga. Ekspresi mereka berdua sama-sama terlihat panik saat menjawab panggilan. Mereka pun secara bersamaan mengakhiri panggilan dengan wajah yang sudah pucat.
“Terjadi kebakaran di Batavia Baru dan sebagian besar rumah di sana lenyap, termasuk rumah Abi,” ujar Indira. “Padahal, dokumen-dokumen yang kukatakan tadi ada di sana.”
“Jadi, bagaimana dengan Tante Jenny? Apakah ia selamat?”
“Tante Jenny selamat, tapi ia harus dibawa ke rumah sakit karena menghirup banyak sekali asap. Sedangkan Rama tidak diketahui keberadaannya.”
“Sepertinya aku tahu kenapa keberadaan Rama tidak diketahui,” gumam Regina.
*
Rama berlari dengan napas terengah-engah. Ia kemudian menemukan sebuah rumah reot yang terlihat terbengkalai. Tanpa pikir panjang, ia segera masuk ke tempat itu. Ia mencari ruangan paling sudut dan berdiam di dalamnya.
__ADS_1
Perasaannya masih campur aduk, namun perasaan takut lebih mendominasi. Wajar saja, mengingat apa yang telah dilihatnya tadi.
Ia mencoba untuk mengingat yang terjadi padanya terakhir kali di malam tadi. Seperti malam-malam biasa, ia nongkrong di sebuah klub malam. Saat itu Shasha meneleponnya, tapi ia abaikan karena sedang tidak ingin merusak moodnya. Mereka baru bertengkar semalam karena Shasha menghubungi salah satu kliennya dengan sikap manja. Padahal selama ini prinsip Shasha adalah tidak menjalin hubungan pribadi dengan kliennya. Semua hanya sebatas bisnis.
Kemudian, ia bertemu dengan seorang wanita cantik dengan tubuh beraroma segar. Seingat Rama, itu adalah aroma vanilla karena hampir mirip dengan yang sering digunakan Shasha. Rama hanya menyapanya ramah, namun wanita itu sepertinya salah paham. Ia terus memberikan isyarat yang sangat jelas.
“Sendirian?” tanya Rama yang akhirnya menghampiri wanita itu, setelah merasa yakin kalau wanita itu benar-benar mengirimkan sinyal padanya..
“Begitulah,” jawab wanita itu.
“Mau ditemani?”
Wanita itu mengangguk lalu menyodorkan tangannya. “Namaku Intan.”
“Nama yang bersinar, seperti orangnya. Nama Rama adalah -”
“Pasti Rama.”
“Lho, tahu darimana?”
Wanita bernama Intan itu tersenyum dan menyangka Rama sedang bercanda.
Malam itu mereka bersenang-senang di lantai dansa hingga akhirnya kelelahan dan memutuskan untuk duduk. Saat itu, Intan menawarinya minuman dan itulah hal terakhir yang Rama ingat. Ia tak lagi ingat apa yang terjadi padanya sejak saat itu hingga pagi tadi, saat ia terbangun dengan disambut aroma vanila.
“Sial! Pasti wanita itu,” kata Rama dengan nada kesal.
Tiba-tiba terdengar bunyi sirine. Rama bergerak semakin ke pojok. Ia bahkan masuk ke lemari tua yang ada di sana. Ia sangat takut keberadaannya diketahui oleh polisi. Meski harus menghirup banyak debu, ia tidak ingin keluar dari lemari tua itu. Pikirnya, lebih baik sesak napas daripada harus ditangkap.
Setelah bunyi sirine itu perlahan lenyap, ia teringat dengan kejadian pagi ini. Air matanya mendadak mengalir deras dan ia bahkan tidak bisa menahan suara sedu sedannya.
Reaksinya itu memang wajar. Bagaimana tidak? Tadi pagi, saat bangun dari tidurnya, entah bagaimana ia sudah berada di kamar Shasha. Bukan itu hal yang paling mengejutkan, melainkan saat ia menyadari kalau kekasihnya itu sudah berada di sisinya, dalam keadaan tak bernyawa lagi.
__ADS_1