Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 83


__ADS_3

Rama dan Indira keluar dari kantor polisi dengan wajah kelelahan. Sudah hampir dua hari mereka mendekam di sana. Awalnya, karena tuduhan Rama menerobos ke kantor PT. Laras Jaya Karya. Kemudian, berlanjut karena tinju karate yang dilayangkan oleh Indira pada pengacara menyebalkan itu.


“Aneh sekali mereka tiba-tiba mencabut laporan sehingga kita dibebaskan, setelah mereka mengintervensi kita sekeras itu,” kata Rama yang sedang sibuk mengurut bagian belakang lehernya karena sepanjang di kantor polisi sudah duduk dengan posisi yang tidak benar.


“Memang aneh. Awalnya, mereka melaporkan bahwa kita mencuri, lalu bertanya tentang apa yang kita curi, lalu menuduh kita mencuri sesuatu yang tidak kita curi, dan akhirnya mengakui tidak merasa dirugikan atas pencurian itu. Seharusnya kita bisa menuntut balik mereka dengan tuduhan pencemaran nama baik. Yang tak kalah aneh adalah sikap polisi yang seolah mengikuti apa mau mereka. Setidaknya polisi itu mengancam mereka pasal 220 KUHP tentang laporan palsu. Tapi, yang paling aneh adalah abangmu.”


“Bang Abi? What’s wrong with him?”


“Kamu tidak lihat foto tangkapan layar CCTV mereka? Jelas sekali abangmu memang ingin wajahnya terekam.”


Rama mengangguk-angguk tanda setuju dengan ucapan Indira.


“So, sekarang kita mau ke mana?” tanya Rama.


“Sebaiknya kita beristirahat dulu sebelum menemui Bima Sakti lagi,” ujar Indira sambil mengibaskan blazer miliknya sebelum dikenakan kembali. “Emosiku masih belum terkendali dengan baik karena menghadapi orang menyebalkan itu.”


Rama terkekeh-kekeh karena mengingat kejadian itu. Rasa kagumnya pada Indira semakin meningkat ketika wanita tersebut menunjukkan kegarangannya melawan orang yang menghinanya dan Abi.


“Tapi, Kakak is very gorgeous kemarin. Bam! Langsung berdarah hidung si kumis petak itu. Apakah Kakak punya keahlian dalam memukul?” puji Rama yang membuat Indira tersipu malu.


“Ah, biasa saja. Dulu aku memang sempat ikut les karate, walau hanya setengah tahun dan hanya mempelajari cara memukul yang benar,” ujar Indira. “Si brengsek itu memang dikenal menyebalkan dan suka bermain curang di kalangan para advokat lainnya. Kurasa, aku hanya mewakili perasaan para rekan sejawatku.”


“Memangnya tidak akan ada masalah nanti?”


Belum lagi Indira menjawab pertanyaan Rama itu, ponselnya sudah berdering. Ia melihat ke layar ponsel dan sedikit terkejut ketika membaca nama yang terpampang di sana. Kemudian, ia menjawab panggilan itu dengan sedikit ragu.


Rama melihat wajah Indira semakin pucat ketika menjawab panggilan tersebut. Seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi orang tuanya. Beberapa saat kemudian, ia mengakhiri panggilan itu dan menghela napas panjang.


“What happen, Kakak? Siapa yang menelepon?” tanya Rama penasaran.


“Dari pengurus IKAKUM, Ikatan Advokat dan Konsultan Hukum,” jawab Indira. “Organisasi advokat tempatku bernaung selama ini..”


“Apa katanya?”


Indira masih melongo lama, lalu memutar kepala dengan lambat hingga wajahnya melihat ke arah Rama. “Aku dipecat sebagai advokat.”

__ADS_1


                  *


Pengacara Titus melewati sebuah pintu yang sangat besar dengan cat emas yang sangat megah. Ia berjalan sambil menunduk mengikuti seorang pria dengan pakaian rapi. Hatinya sangat cemas karena yang akan ia hadapi adalah sosok yang hanya bisa ia dengar selama ini, bahkan dalam percakapan-percakapan rahasia.


“Jawablah dengan jujur setiap pertanyaan yang tuan ajukan. Karena, tuan selalu menanyakan hal yang sudah diketahuinya. Tuan Jireh bertanya hanya untuk melihat dirimu yang sebenarnya,” kata pria berpakaian rapi.


“Ba, baik, Tuan,” balas pengacara Titus dengan nada terbata-bata.


Mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup luas. Di sana terlihat seorang pria tua sedang membersihkan senapannya. Pengacara Titus hanya sempat melihatnya ketika pria itu sedang berbalik badan dan langsung menundukkan kepala saat pria itu menghadap ke arahnya. Mendadak ia merasa belum siap untuk mengenal sosok itu.


“Selamat datang, pengacara Titus Yana. Kudengar, namamu sangat terkenal di kalangan para penegak hukum. Kau adalah salah satu advokat yang paling disegani dengan persentase kemenangan mencapai hampir delapan puluh persen.”


Pengacara Titus tersipu malu mendengar pujian itu. “Ah, memang seharusnya pengacara seperti itu, Tuan.”


“Ya, ya. Kau mungkin pernah mendengar sekilas tentangku. Aku juga adalah orang yang mencintai hukum, termasuk hukum di negeri ini. Orang-orang sepertimu tak pernah luput dari pantauanku.”


Pengacara Titus semakin tersanjung karena mendapatkan pujian yang bertubi-tubi dari seseorang yang sangat dihormati. “Terima kasih, Tuan.”


“Jadi, apa yang telah kau lakukan beberapa hari yang lalu di kantor polisi?” tanya tuan Jireh tiba-tiba. Pengacara Titus terkejut ketika menerima pertanyaan itu. Ia sempat lupa dengan apa yang dilakukannya di kantor polisi beberapa hari yang lalu.


“Oh, bukan kasus penting, Tuan,” jawab pengacara Titus. Ia melihat pria berpakaian rapi menatapnya tajam, yang membuatnya ingat dengan perkataan pria itu tadi. “Eh, sa, saya mewakili PT. Laras Jaya Karya untuk menangkap seorang pria yang menerobos gedung klien saya dan mencuri sesuatu.”


“Eh, kami sendiri tidak tahu, Tuan. Klien saya hanya menyuruh saya untuk menanyakannya pada tersangka.”


“Dan kau mendapatkan jawabannya?”


“Ti, tidak, Tuan.”


“Lalu, kenapa kau mengatakan pada petugas kalau kalau mereka telah mencuri laptop perusahaan?”


“I, itu hanya sebuah trik agar mereka menyangkal dan mengatakan yang sebenarnya.”


“Tapi, rupanya mereka tidak mengatakan apa-apa,” kata tuan Jireh sambil tertawa pendek seakan mengejek, membuat pengacara Titus kecewa karena merasa dijatuhkan setelah dipuji berkali-kali.


“Se, sebenarnya akan berhasil jika kami sabar menunggu beberapa waktu lagi. Sayangnya, PT. Laras Jaya Karya terlalu bodoh dengan menyuruh saya menarik laporan sehari setelahnya.”

__ADS_1


“Alasan yang terlalu dibuat-buat,” kata tuah Jireh, kembali diiringi oleh tawa pendek yang mengejek. “Kau pasti tidak tahu kalau perintah menarik laporan yang kau bilang ‘terlalu bodoh’ itu adalah dariku.”


Sontak wajah pengacara Titus menjadi pucat. Secara tidak sadar, ia telah mengatakan sosok paling mengerikan yang pernah ia dengar sebagai orang bodoh. Ia segera berlutut sambil berkata, “Maafkan saya, Tuan. Saya bersalah.”


Kali ini tuan Jireh tertawa kencang hingga membahana ke seluruh ruangan. “Sudah sejak awal kau melakukan kesalahan. Sekarang, angkat wajahmu dan lihat aku.”


Pengacara Titus mengangguk. Ia mengangkat wajahnya perlahan dan betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah pria yang selama ini dipanggil tuan Jireh. Ternyata dia adalah orang yang sangat ia kenal.


“Tu, Tuan -”


“Penegak hukum yang selalu mengandalkan kecurangan untuk meraih kemenangan hanyalah sampah yang harus dilenyapkan dari muka bumi ini.”


Tiba-tiba tuan Jireh mengangkat salah satu senjatanya dan mengarahkannya ke wajah pengacara Titus yang sangat ketakutan itu. Sedetik kemudian, sebuah peluru melayang dari senjata itu dan mendarat tepat di kening sang pengacara.


“Bodoh, sudah curang, tapi tidak bisa mendapatkan apa-apa,” gerutu tuan Jireh sambil menyuruh salah satu pelayannya untuk melenyapkan jasad pengacara Titus. Kemudian, ia melihat ke arah asistennya dan bertanya, “Kau sudah tahu apa yang telah mereka curi?”


“Sebenarnya, mereka tidak mencuri apa-apa, Tuan. Mereka hanya memotret beberapa dokumen saja.”


“Dokumen apa?”


“Belum bisa dipastikan, Tuan. Kemungkinan, yang mereka foto adalah dokumen yang berkaitan dengan beberapa proyek di pulau reklamasi.”


Tuan Jireh meletakkan senjata yang baru dipakainya ke tempat semula lalu berjalan ke arah jendela. Ia melihat keluar sambil memikirkan sesuatu.


“Mungkinkah mereka menemukan dokumen tentang proyek itu?”


“Saya meragukannya, Tuan. Dokumen itu memang pernah dipegang oleh Louis, tapi ia pernah berkata kalau ia menyimpannya di tempat yang sangat aman dan itu bukanlah di kantornya.”


Tuan Jireh mengangguk. Kemudian, ia berjalan ke kursinya lalu duduk. Dengan santai, ia menyalakan cerutu dan menghisapnya sambil menerbangkan pikiran-pikirannya ke angkasa.


“Jika bocah menyebalkan itu sampai mengetahui tentang proyek tersebut, kita akan menghadapi masalah besar.”


Sang asisten bisa merasakan kekhawatiran yang sangat jarang ditunjukkan oleh tuannya itu.


“Kenapa kita tidak bunuh saja dia, Tuan? Terlalu gegabah jika kita membiarkan ia mengganggu kita berkali-kali.”

__ADS_1


“Membunuhnya adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Aku hanya penasaran, di dunia yang jahat ini, bagaimana ia bisa membalaskan dendamnya hanya dengan mengandalkan hukum? Aku sangat tidak sabar menunggu hasilnya. Jika ia sudah hampir mencapai akhir perjuangannya, saat itulah kita akan membunuhnya.”


Tuan Jireh kembali menghisap cerutunya. Ya, tanpa ia sadari, ia yang sangat mencintai hukum merasa kagum dengan Abimanyu Alexander. Daripada menghitung kerugian yang ia alami karena bocah itu, ia lebih suka melihat aksi-aksi yang dilakukan oleh Abimanyu Alexander dalam bertarung menggunakan hukum.


__ADS_2