Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 12


__ADS_3

Pagi yang cerah di rutan Sukadamai. Bunyi alarm membangunkan para tahanan dari tidur mereka. Para tahanan bangun dan langsung membereskan kamar sambil diawasi oleh petugas rutan. Mereka juga harus membersihkan diri dengan mandi bergantian. Meski tidak ditetapkan, masing-masing dari mereka menggunakan waktu sesingkat mungkin agar dapat menyelesaikan kegiatan mandinya sehingga tahanan lain tidak terlalu lama menunggu.


Abi dan tahanan lain dituntun oleh petugas regu pengamanan (Rupam) menuju ruang makan. Di sana sudah menanti tahanan dari kamar lain. Mereka pun bersama-sama menyantap bubur kacang hijau yang hambar dengan sepotong roti tawar sebagai menu sarapan pagi itu.


“Kalau Kepala Rutan ikut sarapan bersama, menunya pasti lebih enak. Kadang lontong, kadang nasi uduk. Pernah juga Kapolda datang. Memang tidak sarapan bersama, tapi karena kedatangannya, menu hari itu sangat mewah. Tentu saja, karena saat itu beberapa wartawan ikut meliput dan kebetulan sedang heboh pemberitaan tentang perlakuan berbeda antara tahanan kasus korupsi dengan tahanan kasus lainnya.”


Sebagai tahanan paling senior, Juki memberikan informasi tak terlalu penting pada tahanan-tahanan baru. Ia juga melanjutkan ceritanya dengan topik baru, yaitu tentang Kartika, salah satu juru masak rutan yang cantik tapi jarang menampakkan dirinya di depan para tahanan.


Abi, yang merasa tidak membutuhkan berbagai informasi dari Juki, mencoba menikmati makanannya yang tidak hanya terasa hambar lagi, tapi sudah mulai pahit. Di otaknya sudah tersusun beberapa hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan daripada sekadar wajah cantik dan tubuh proporsional seorang juru masak rutan bernama Kartika.


Tiba-tiba terdengar sebuah keributan kecil dari meja yang ada di seberang meja Abi. Ada tiga orang tahanan sedang membicarakan sesuatu yang serius dan membuat mereka khawatir. Beberapa tahanan yang duduk di dekat mereka bertanya tentang apa yang sedang mereka ributkan.


“Bos Dirga tertangkap tadi malam dan akan dimasukkan ke rutan ini,” kata salah satu dari mereka.


Bos Dirga bukanlah nama asing di dunia hitam. Ia memiliki banyak sekali bisnis ilegal. Mulai dari bisnis narkotika sampai prostitusi. Namun, yang paling melekat dari dirinya adalah rumah judinya. Itu adalah rumah judi terbesar di kota ini. Pengunjungnya sebagian besar adalah pejabat, pengusaha kelas kakap dan beberapa pesohor. Meski beberapa kali diprotes masyarakat dan sering dijadikan bahan kampanye, di mana para calon kepala daerah atau anggota dewan berjanji untuk menutupnya, tetap saja rumah judi itu berdiri tegak tanpa merasa terancam sedikit pun.


Abi juga mengenal nama itu. Ia sering mengantar pelanggannya ke salah satu rumah bordil berkedok panti pijat milik bos Dirga. Ia juga pernah beberapa kali masuk ke rumah judinya yang terkenal itu. Terkadang untuk mengantar atau menjemput pelanggan, terkadang juga untuk menghabiskan sedikit uangnya di atas meja judi. Meski belum pernah bertemu secara langsung, Abi sering mendengar nama bos Dirga.


Selain tahu namanya, Abi juga tahu reputasi bos Dirga. Banyak kabar yang mengatakan bahwa ia sangat kejam dan tidak segan-segan membunuh orang yang mencoba menentangnya. Ada dua tipe orang yang sangat ia benci. Pertama, orang yang mengkhianatinya. Kedua, orang yang menggoda istrinya. Ia memang sering menghukum anak buahnya yang melakukan kesalahan lain. Namun untuk kedua dosa itu, ia takkan memberikan kesempatan bagi pelakunya untuk mengucapkan kata maaf. Bahkan tak jarang dirinya sendiri yang menjadi eksekutor.


“Kudengar ia ditangkap karena dikhianati oleh salah satu anak buahnya,” kata salah seorang penghuni rutan yang juga mengenal bos Dirga.


“Dari mana kau tahu? Bos Dirga sengaja ditangkap untuk mengejar salah satu anak buahnya yang mengkhianatinya dan juga sedang ditahan di rutan ini. Temanku yang menjadi anak buahnya bahkan sudah menceritakan rencana itu sejak beberapa hari yang lalu,” tukas penghuni rutan yang lain. Dan perdebatan dimulai lagi.


Tiba-tiba perhatian para penghuni rutan tersita oleh sosok pria yang berjalan di lorong melewati jendela depan ruang makan. Pria itu berperawakan besar, berkepala botak dan di lehernya terdapat tato naga. Hanya dengan tatapannya, hampir semua tersangka dari berbagai kasus yang memenuhi ruangan itu tertunduk ketakutan.


Sementara itu, setelah mengetahui bos Dirga telah datang ke rutan mereka, Abi menyusun sebuah rencana baru yang melibatkan sang pemilik rumah judi itu. Ia tersenyum dan menganggap akan terjadi sesuatu yang seru baginya.


* * *

__ADS_1


Indira berjalan mengitari parkiran belakang mal Sukajadi sambil menepuk-nepuk dagunya dengan jari telunjuk. Ia berhenti untuk berpikir sejenak lalu berjalan kembali sembari menulis sesuatu di sebuah buku kecil. Rama yang menemaninya hanya bisa menonton. Ia penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh pengacara wanita itu, tapi enggan bertanya karena khawatir terlalu rumit untuk dicerna oleh otaknya yang tidak terlalu pintar.


“Apakah kamu bisa membunuh seseorang dalam waktu tiga menit?” tanya Indira.


“Three minutes?” Rama melihat lalu menunjuk ke arah lantai atas gedung mal. “Rama bisa membunuh orang dalam waktu three seconds hanya dengan mendorongnya dari sana.”


“Bukan, maksudku bukan hanya membunuh, tapi mengalihkan perhatian korban, membunuhnya lalu menyembunyikannya di suatu tempat yang -” Indira mencoba menyusun kata-kata agar lebih mudah dipahami oleh Rama. “Ah, lupakan saja.”


Rama menggaruk kepalanya seakan Indira baru saja menganggapnya tidak terlalu pintar untuk diajak berdiskusi. Ia pun menunduk sedih. Hanya saja Indira tidak terlalu memedulikannya karena masih sibuk berpikir.


“Ayo, kita ke bagian sekuriti mal untuk melihat rekaman CCTV daerah sini pada hari kejadian,” ajak Indira. “Kamu sudah menghubungi orang Ekstrim?”


“Sudah. It’s so easy. Pulang dari sini, kita bisa ke sana untuk mengambil yang Kakak minta,” jawab Rama dengan semangat.


“Jika kita bisa mendapatkannya, kita bisa mematahkan tuduhan kurir narkoba terhadap Abi. Apakah orang itu mau bersaksi untuk Abi di pengadilan?”


“Tidak. Tapi ia akan mengirimkan rekaman CCTV ketika para polisi itu datang.”


Indira menutup bukunya lalu mengajak Rama makan di warung bakso dekat sana. Kemudian mereka bercerita tentang beberapa hal di luar investigasi mereka.


“Apakah Abi benar-benar mengetahui tentang hukum? Aku pernah melihat biodatanya dan dia sama sekali tidak punya latar belakang pendidikan hukum. Tapi, sepertinya ia cukup fasih dalam membahas hukum dan undang-undang.”


Rama tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mencari sebuah foto dari dalamnya. Setelah didapat, ia menyodorkan ponselnya ke arah Indira.


“Lihat, ini ijazah Rama,” kata Rama.


Indira memperhatikan foto itu dengan seksama, kemudian ia berpikir sambil bergumam, “Kama Sutra? Kamu mau memberitahuku nama aslimu?”


Rama terkejut lalu segera menarik ponselnya. “Bu, bukan nama. Ta, tapi gelar.”

__ADS_1


“Oh, sarjana hukum,” ujar Indira sambil mengangguk-angguk. Lalu ia berpikir lagi, bukankah yang ia tanyakan adalah Abi? Kenapa Rama malah menyombongkan gelar sarjana hukumnya?


“Rama mengambil kuliah jurusan hukum di universitas terbuka. Tapi sepanjang kuliah hingga tamat, bang Abi-lah yang belajar, bukan Rama.”


“Lho, memangnya bisa?”


“Bisa saja. Bang Abi belajar mandiri di rumah, ke kampus hanya di waktu-waktu tertentu, ujian hanya bermodal kartu mahasiswa dan kemampuan meniru tanda tangan. Dan Rama hanya muncul ketika wisuda saja.”


“Apakah mereka tidak mengenal…? Ah, aku mengerti. Sepertiku tadi, mereka berpikir kamu dan Abi adalah orang yang sama.” Indira menggeleng kepala seakan tak percaya dengan kisah mereka.


Rama mengangguk sambil tersenyum. “Ya, kami berdua memang mirip. Tentu saja, karena kami saudara seibu.”


“Tapi itu merupakan sebuah tindak pidana yang cukup parah. Kalian bisa ditangkap dan dipenjara jika ketahuan.”


“Asal tidak ketahuan saja.”


“Apakah kamu tidak takut kalau suatu saat aku akan menceritakannya?””


Rama tersenyum lalu menjawab, “Bang Abi mengatakan pada Rama untuk memercayai Kakak sepenuhnya. Makanya, Rama menceritakan rahasia kami ini pada Kakak.”


Indira terharu dengan kata-kata Rama. Ia jadi kembali merasa bersalah karena pernah tidak memercayai Abi.


“Tapi ia tidak terlihat sebagai seorang sarjana hukum biasa. Ia seperti punya pengalaman juga sebagai pengacara.”


Mendengar keraguan yang diungkapkan Indira, Rama menatapnya lekat seakan hendak mengatakan sesuatu. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke arah telinga kiri Indira untuk berbisik.


“Kakak pernah dengar tentang The Night Avocado alias Advokat Malam?”


Indira mengernyitkan dahinya, karena mendengar kata avocado dan Advokat Malam. Saat masih magang di sebuah firma hukum dulu, ia pernah mendengar nama itu. Pada waktu itu, firma hukumnya sedang membela sebuah perusahaan dalam konflik kepemilikan tanah dengan seorang warga. Konon, mereka kalah sebelum kasus naik ke pengadilan setelah salah satu advokat dari firma tersebut mendatangi warga yang mengaku pemilik tanah tersebut dan beradu argumen dengan pria yang mengaku sebagai pengacara dari pihak warga. Dan ia memperkenalkan dirinya sebagai Advokat Malam.

__ADS_1


“Aku pernah mendengarnya. Kudengar ia bukan pengacara, hanya seorang paralegal yang memberikan konsultasi hukum pada warga sekitar dan jam tugasnya selalu di malam hari. Itu yang membuat ia mendapat julukan Advokat Malam. Ia selalu menang saat proses mediasi dan negosiasi.” Indira berhenti menceritakan tentang Advokat Malam lebih jauh lagi lalu memasang wajah tak percaya. “Jangan katakan Abi adalah Advokat Malam.”


Rama tersenyum lalu berkata, “Tapi Kakak yang mengatakannya dan itu benar.”


__ADS_2