Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 71


__ADS_3

Mata Indira berkaca-kaca, seakan bersiap untuk menumpahkan banyak air mata. Ia tak pernah menyangka akan melihat Abi menghancurkan ponselnya dengan cara yang sangat kejam. Padahal ponsel itu menyimpan banyak memori indahnya. Itu adalah benda pertama yang ia beli dari penghasilan pertamanya.


“Aku tak tahu, orang yang selama ini kukenal tenang dan elegan serta mengedepankan berpikir sebelum bertindak, bisa bersikap impulsif dan kekanak-kanakan seperti itu,” sindir Indira dengan hati yang patah. Ia jongkok perlahan dan menyentuh puing-puing ponselnya.


“Ma, maaf. Aku hanya berpikir jika kau mengangkatnya, ia akan dapat melacak keberadaan kita,” ujar Abi. Ia bingung karena Indira belum menunjukkan amarahnya, hanya perasaan sedih bercampur dengan kecewa.


“Memangnya kenapa!? Bahkan kamu sendiri menjual informasi tentang keberadaanmu sampai kita hampir meregang nyawa tadi.” Indira mulai marah. Ia memelototkan matanya seakan ingin menerkam Abi.


“Eh, kalau itu, aku sudah memperkirakannya. Tapi, aku belum punya rencana jika mereka menemukan kita di sini,” ujar Abi, masih dengan nada gugup.


Indira mengangkat puing-puing ponselnya dan beranjak pergi dengan membenturkan bahunya ke bahu Abi untuk menunjukkan betapa besar kemarahannya. Ia lalu membawa puing-puing itu ke bar kafe yang lampunya lebih terang untuk memeriksa kondisinya.


Setelah mengamatinya beberapa saat, akhirnya ia mengambil kesimpulan bahwa ponselnya sudah tidak bisa diselamatkan. Setidaknya, ia bisa menyelamatkan kartu memori tempat ia menyimpan banyak data penting. Tiba-tiba ia sadar betapa jadulnya ponsel itu. Wajar saja, usia ponsel itu sudah lebih dari lima tahun, sementara saat ini perkembangan ponsel pintar sangat cepat. Memang sudah waktunya ia memikirkan untuk mengganti ponselnya.


Tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh beberapa orang yang baru masuk kafe. Mereka memakai pakaian serba hitam dengan wajah sangar ala tukang pukul yang biasa ada di film-film. Mata mereka seakan sedang memindai sekitar. Indira berinisiatif untuk menghindar dari pandangan mereka dengan menundukkan badan. Firasatnya mengatakan mereka sedang mencarinya dan Abi. Untungnya, bartender kafe itu peka dengan keadaan yang terjadi dan menyuruhnya masuk untuk bersembunyi di balik bar.


Indira teringat pada Abi. Ia mencoba mengintip ke arah tempat duduk mereka tadi. Tapi, ia tidak bisa melihat pria itu. Ia hanya melihat sepasang kekasih yang mana si wanita duduk di pangkuan si pria dan menciumnya.


Salah satu pria berwajah sangar yang baru datang itu menyentuh bahu wanita itu sehingga memaksa si wanita menghentikan aktivitasnya dan berbalik. Kemudian wanita itu memaki karena merasa privasinya terganggu.


Yang mengejutkan Indira adalah ketika wajah pasangannya terlihat. Tak salah lagi, itu adalah Abi. Bagaimana bisa pria itu bermesraan dengan wanita lain saat ia baru saja meninggalkannya?


“Maaf, apakah tadi ada dua orang datang ke tempat ini?” Pria lain mendatangi bartender yang menyembunyikan Indira.


“Banyak, Pak.”


“Maksudnya, satu pria, satu wanita.”


“Ini memang kafe yang biasa dikunjungi pasangan kencan, Pak. Sebagian besar datang berpasangan.”


“Masa’ hampir tengah malam seperti ini masih banyak orang yang datang? Pasti ada pasangan yang mencurigakan.”

__ADS_1


Bartender itu terlihat berpikir lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang mencurigakan. Memang tidak banyak pasangan yang datang sejam terakhir, tapi rata-rata adalah langganan kami. Contohnya mereka.”


Pria itu menunjukkan pasangan ciuman tadi, yang salah satunya adalah Abi. Indira benar-benar bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.


                  *


Satu menit sebelumnya


Abi hanya bisa melihat punggung Indira yang berjalan meninggalkannya ke arah bar sambil membawa puing-puing ponselnya. Bibirnya mencari sedotan di dalam gelas jus alpukatnya. Setelah sekali seruput, ia sadar kalau minumannya itu sudah habis.


Ia mengangkat tangan pada seorang pelayan wanita yang sedang membelakanginya untuk merapikan meja di sebelah. Segelas minuman hangat sepertinya sangat nikmat untuk rileksasi sebelum kembali ke kehidupan sebagai tahanan. Tapi, matanya teralihkan dengan kemunculan beberapa orang berpakaian hitam dari balik kegelapan. Wajah salah satunya sempat ia lihat sebagai supir mobil yang mengejar mereka tadi.


“Buka jaketmu,” kata pelayan wanita tadi. Abi menurut dan membuka jaketnya. Kemudian, pelayan itu segera merampas dan memasukkannya ke bawah meja.


“Apa yang kau -”


Belum selesai Abi bicara, pelayan wanita itu duduk di pangkuannya, lalu memasangkan kacamata dan menempelkan sebuah benda berbulu di bawah hidungnya. Ternyata kumis palsu. Tidak hanya sampai di situ. Ketika para pria berwajah seram itu masuk kafe dan salah satunya menghampiri mereka, pelayan wanita itu mengecup bibirnya.


“Kurang ajar! Kau tidak melihat kami sedang apa? Tidak tahu sopan santun!” maki sang pelayan wanita. Pria itu mundur sejenak dan agak terkejut dengan bentakan itu.


Tapi, karena rekan-rekannya menatapnya, ia tidak ingin harga dirinya jatuh karena seorang wanita. Ia pun membalas dengan berkata, “Kamu yang kurang ajar, berbuat mesum di tempat umum.”


“Jadi, kenapa? Kau mau melapor? Atas tindak kejahatan apa? Pasalnya apa?”


“Perbuatan asusila di tempat umum,” bisik Abi. “Pasal 281 KUHP.”


Pelayan wanita itu menutup mulut Abi sambil berbisik, “Diam saja!”


“Eh, karena berbuat mesum di tempat umum. Pasalnya…” Pria itu membuka ponselnya dan menelusuri internet untuk meneruskan kalimatnya. “Ya, pasal 281 KUHP, yaitu -”


“Tidak usah baca\, aku tahu isinya.” Pelayan wanita itu memotong ucapan lawan bicaranya lagi tanpa gentar. “Memangnya\, ciuman itu perbuatan melanggar kesusilaan? Biar aku ajari kau sebentar\, perbuatan melanggar kesusilaan itu adalah perbuatan yang melanggar norma kesusilaan\, khususnya perbuatan yang berkaitan dengan kel*min\, atau bagian badan yang membuat rasa malu\, jijik atau merangsang birahi orang lain.. Apakah ciuman menggunakan kel*min?”

__ADS_1


Abi tertawa seakan mengejek perkataan wanita itu. “Bukan seperti itu maksudnya, tapi -”


Pelayan wanita itu kembali membungkam mulut Abi yang sedang berusaha menerangkan sesuatu dengan tangannya.


“Bodoh, apakah sekarang waktu yang tepat untuk menyombongkan kepintaranmu itu?”


Untung saja, pria berpakaian hitam itu tidak memperhatikan mereka karena sibuk mencari balasan untuk ucapan terakhir pelayan wanita itu.


“Kau juga pasti tahu kalau kejahatan asusila adalah delik aduan, artinya bisa diproses jika ada pengaduan dari korban. Sekarang, tunjukkan di mana korbannya. ”


“Berhenti menyesatkan orang. Itu adalah pasal perzinahan,” bisik Abi yang diabaikan oleh sang pelayan wanita.


“Yang harus dilaporkan itu adalah kalian. Kalian dengan seenaknya saja menggerebek properti orang lain. Pasal 257 ayat (1). Bahkan aparat yang berwenang saja harus menunjukkan surat perintah.”


“Pasal itu hanya berlaku jika mereka memaksa masuk ke rumah, ruangan tertutup atau pekarangan tertutup. Sedangkan kafe yang adalah tempat umum tidak termasuk,” bisik Abi yang tidak bisa tahan untuk tidak mengoreksi kebrutalan si pelayan wanita itu dalam membahas pasal demi pasal.


“Nyonya,” teriak bartender pada pelayan wanita itu. Ternyata ia bukan hanya pelayan biasa, tetapi pemilik kafe. “Apakah kita harus menelepon polisi?”


Ucapan bartender itu ampuh untuk menakuti para pria berpakaian hitam itu. Tak perlu menunggu lebih lama, mereka pun memutuskan untuk pergi. Lagipula, sepertinya yang mereka cari tidak ada di sana.


“Kenapa tidak sejak awal kau mengancam mereka untuk melapor polisi seperti yang dilakukan oleh karyawanmu itu?” tanya Abi dengan wajah kesal. “Pakai sok-sokan berargumen tentang hukum.”


“Aku hanya ingin meniru yang biasa kau lakukan. Bagaimana? Terlihat menyebalkan, bukan? Seperti itulah dirimu selama ini.”


“Tapi aku tidak bodoh sepertimu.”


Sementara itu, Indira baru keluar dari persembunyiannya dan keheranan melihat interaksi yang sangat akrab antara Abi dan pelayan wanita itu.


“Siapa dia?” bisik Indira pada Abi.


Wanita itu mendengar dan langsung menjulurkan tangannya pada Indira. “Kenalkan, Rinjani. Salah satu orang yang membuat Advokat Malam pensiun.”

__ADS_1


__ADS_2