Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 122


__ADS_3

Sementara di gedung Indira ada Jesse Arnold yang sedang bersiap menghadapi Rinjani dan di sebuah pulau antah berantah ada Abi dan tuan Jireh yang masih berbasa-basi dengan saling melempar provokasi, di salah sudut tengah kota yang sedang sunyi, terdengar suara seperti detak jam. Tiba-tiba suara itu berganti menjadi suara dentuman yang sangat keras.


Para warga yang tinggal di sekitar tempat itu segera keluar dari rumah mereka. Sumber suara itu cukup jauh dari pemukiman warga, tapi suaranya bisa terdengar jelas. Beberapa pria dewasa memberanikan diri untuk mendatangi tempat itu. Di antara mereka sudah ada yang langsung menghubungi kepolisian.


Mereka yang mendatangi sumber suara itu terkejut ketika melihat ada sebuah lubang besar di tanah. Beberapa di antaranya ragu untuk mendekat, tapi ada yang nekat untuk tetap mengintip bagian dalam lubang tersebut.


“Apa itu? Seperti sebuah terowongan,” kata salah satu warga yang nekat.


Mendengar perkataan itu, warga lain tergerak untuk mengintip. Dan memang benar, ada sebuah terowongan di dalamnya. Tentu saja hal itu merupakan sesuatu yang mengejutkan bagi mereka. Beberapa warga sudah menempati daerah itu sejak puluhan tahun yang lalu. Mereka tidak pernah tahu atau melihat aktivitas yang berkaitan dengan pembangunan terowongan bawah tanah.


Tidak lama kemudian, beberapa polisi dari resimen gegana datang untuk mengamankan lokasi. Kehadiran mereka diikuti oleh para wartawan yang sudah mendengar informasi tersebut. Berita-berita sekilas info dari berbagai media mengabarkan tentang ledakan tersebut.


Pasukan tersebut kemudian dibagi dua, yang bertugas untuk menelusuri kedua sisi terowongan. Sisanya, menetralisir sekitar lokasi ledakan agar tidak ada masyarakat yang masuk.


Seorang pria berseragam polisi datang ke lokasi beberapa saat setelahnya dan langsung menghampiri petugas yang sedang berjaga. Ia adalah Iptu Nyoman.


“Apa yang terjadi?” tanyanya.


Petugas itu menceritakan kondisi yang terjadi saat itu, terutama tentang terowongan tersebut. Iptu Nyoman pun mengintip ke dalam bekas ledakan untuk memastikan terowongan yang baru saja diceritakan oleh petugas tadi.


“Sepertinya bocah itu mengatakan yang sebenarnya,” gumam Iptu Nyoman.


                  *


Keringat mengucur deras di sekujur tubuh Indira meski cuaca cukup sejuk. Meski sekilas, ia sempat melihat Jesse Arnold memegang pistol, yang pastinya sempat diacungkan ke arahnya. Andai Rinjani terlambat sedikit, mungkin saat ini ia sudah berada di alam lain.


Ia mendengar suara ribut karena pukulan dan benda-benda yang hancur dari luar kamar. Dalam hati, ia terus berdoa agar Rinjani berhasil mengalahkan pria itu.

__ADS_1


Apa yang harus kulakukan? Apakah aku hanya diam dan membiarkan rekanku terluka? Aku harus berani. Bahkan Ussop yang lemah dan sering bersembunyi di tengah pertarungan saja sesekali menunjukkan keberaniannya karena rasa solidaritasnya yang tinggi.


Indira keluar dari kolong tempat tidur dan berniat memutuskan untuk membantu Rinjani hanya karena teringat salah satu karakter dari anime kesukaannya. Bagaimana cara membantunya, ia pikirkan nanti saja. Yang ia perlukan hanyalah keberanian dan tekad yang kuat.


Tapi, ia tidak membuka pintu itu dan memilih kembali masuk ke kolong tempat tidur.


Setidaknya Ussop jago menembak dan punya beberapa senjata serta rekan-rekan yang hebat, sementara aku tidak. Maafkan aku, Rinjani. Lagipula, kita tidak terlalu akrab.


Sementara itu, Rinjani sedang berusaha untuk bangkit setelah Jesse berhasil memukul rusuk kirinya dengan telak hingga ia tersungkur. Kemampuan bela diri yang ia pelajari selama lebih dari dua puluh tahun seakan tidak terlihat cukup untuk mengimbangi serangan demi serangan yang dilancarkan oleh asisten setia tuan Jireh itu.


“Maaf, aku tidak pernah menahan kemampuanku meski lawanku adalah wanita,” ujar Jesse yang sedang menunggu Rinjani berdiri.


“Jadi, hanya itu semua kemampuanmu?” Ya, meski sedang dalam kondisi nyaris kalah, Rinjani tetap kuat dalam bersikap sarkas.


Jesse tersenyum sejenak sebelum kembali menghampiri Rinjani dengan kepalan tangan. Meski masih menahan rasa sakit di rusuknya, Rinjani mampu mengantisipasi serangan tersebut dengan menghindar. Perlahan ia mulai bisa menutupi rasa sakitnya dan kembali memasang kuda-kuda.


Jesse kembali menyerang dan kali ini menggunakan kaki. Rinjani bisa menghindar, bahkan ia tak menyia-nyiakan celah yang terbuka. Perut Jesse berada di dalam jangkauannya dan tanpa perlindungan. Dengan cepat ia menyerang bagian itu dan kena. Jesse sampai terjungkal ke belakang, meski kelihatannya tidak menyebabkan rasa sakit yang cukup besar.


“Kalau begitu, aku bisa menyarankan pakaian yang lain untukmu. Bagaimana dengan kain kafan?” kata Rinjani sambil berlari menyerang.


Jesse menangkis serangan bertubi-tubi itu dengan tangannya. Wajahnya sama sekali tenang seakan serangan itu tidak berarti apa-apa. Melihat ekspresi lawannya yang seakan meremehkannya, Rinjani semakin intens menyerang. Sayangnya, tetap tidak menghasilkan dampak apapun.


Malah, Jesse mengakhirinya dengan sebuah tendangan yang telak, kembali ke rusuk yang tadi telah dilukainya. Rinjani merasakan sakit yang luar biasa sampai ia berteriak kencang. Ia yakin beberapa rusuknya sudah patah.


“Aku bosan. Bagaimana jika kita akhiri saja sekarang?” Jesse melemparkan pertanyaan retoris sambil mengeluarkan senjata apinya lagi lalu mengarahkannya pada Rinjani.


Melihat situasi buruk yang dihadapinya, Rinjani hanya bisa pasrah. Ia masih ingin melawan, tapi lukanya seakan menahan.

__ADS_1


“Kau ingin mengatakan sesuatu? Anggap saja sebagai kata-kata terakhirmu sebelum malaikat maut membawamu ke neraka.”


Rinjani mencoba untuk mengatur napasnya yang terasa berat luar biasa. Matanya sudah berkunang-kunang.


“Kata malaikat maut, ia menunggumu, bukan aku.”


Lalu terdengar sebuah tembakan.


                  *


 Abi dan tuan Jireh masih saling tatap. Angin malam yang sangat dingin menusuk hingga ke sumsum tulang. Tapi, ketegangan yang terjadi di antara keduanya seakan mematikan sensori dingin mereka.


“Bagaimana kau bisa mengetahui pulau ini?” tanya tuan Jireh memecah kebisuan.


“Karena kau membunuh adikku,” jawab Abi yang membuat tuan Jireh bingung.


“Bagaimana relasinya?”


Abi tertawa kecil lalu duduk di sebuah batu besar yang ada di dekatnya. “Setelah kematian adikku, aku bertanya-tanya, kenapa ia mati? Jika ia memang harus mati, kenapa saat itu?”


Tuan Jireh masih belum mengerti maksud Abi.


“Aku berusaha mengingat kejadian-kejadian sebelumnya. O ya, sebelum kematian adikku yang sangat kusayangi, aku bertemu dengan Arya Topaz Gumilang. Ketika aku mengatakan padanya kalau aku tahu rencanamu setelah ia menjadi gubernur, ia terus melihat ke arah lemari besinya. Lalu, aku kembali ke kantornya dan membongkar lemari itu. Dan akhirnya aku tahu tentang pulau ini.”


Tuan Jireh tertegun, kemudian ia tertawa. Mulanya pelan, kemudian menjadi terbahak-bahak. Ia merasakan ironi dalam statusnya sebagai manusia yang paling menakutkan sebagai tuan Jireh. Ternyata, seberapa pintar dan kejamnya ia, selalu saja rencananya hancur karena memiliki anak buah yang bodoh.


“Idiot itu. Berkali-kali sudah kukatakan padanya untuk menyimpan dokumen itu di tempat yang aman. Ia pikir, lemari besi di kantornya adalah tempat yang aman. Dan aku sedang mengusahakannya menjadi presiden di masa yang akan datang.”

__ADS_1


“Lalu, saat aku meneleponmu tadi dan mengatakan ingin bertemu di suatu tempat yang tak kau duga, bagaimana kau yakin kalau pulau ini yang kumaksud?”


Tuan Jireh terdiam sejenak, lalu berkata, “Karena aku akan sangat kecewa jika ternyata tempat yang kau maksud bukan pulau ini.”


__ADS_2