Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 120


__ADS_3

Tebakan Abi benar. Baru saja beberapa jam setelah siaran wawancara itu berakhir, media lain langsung membahasnya. Rata-rata mereka mendapatkan hasil penyelidikan dari pihak kepolisian terkait panti asuhan yang dijadikan tempat pencucian uang serta ruang rahasia di bawahnya yang dijadikan rumah bordil dan kasino. Ternyata, nihil. Demikian juga tentang ucapan Abi terkait terowongan di dalam penjara. Pihak kepolisian mengaku sudah mengecek seluruh bagian dalam lapas Maharaja dan tidak menemukan satupun akses ke sebuah terowongan rahasia.


Beberapa acara talkshow dadakan mulai bermunculan dan para narasumber seakan sepakan kalau Abi hanya sedang mencari perhatian. Mereka juga sama-sama mengutuk perbuatan Abi yang kembali melarikan diri dari penjara.


“Ia ingin bertindak seperti pahlawan, padahal ia hanyalah seorang penjahat,” ujar salah satu narasumber yang berlatar belakang kriminolog.


“Terlihat jelas, sejak awal saya sudah menduga kalau Abimanyu Alexander menderita gangguan kepribadian narsistik. Saya akui, ia adalah orang yang cerdas. Saking cerdasnya, ia mampu mengolah kasus pidana yang dihadapinya menjadi panggung egonya. Bahkan, ketika persidangan telah berakhir dan putusan telah keluar, ia kembali mencari perhatian,” ujar narasumber lain yang kesehariannya adalah seorang psikolog.


Abi sudah menduganya sejak awal, bahwa tuan Jireh akan dibantu oleh para polisi dan media korup untuk memutarbalikkan fakta dan justru menyalahkannya. Ia juga tahu, untuk membuat wawancara tersebut tidak sia-sia, perlu sebuah aksi tambahan. Oleh karena itu, Indira bertindak. Ia datang ke mahkamah konstitusi dengan membawa sebuah permohonan untuk diserahkan ke kepaniteraan. Tentu saja, kedatangannya itu harus diketahui oleh banyak orang.


Dan sesuai dengan rencana, para pemburu berita memang langsung mengarahkan fokus pada Indira setelah Abi, secara fenomenal, muncul tiba-tiba. Mereka pun seperti mendapat durian runtuh ketika tahu mantan pengacara wanita itu sedang berada di mahkamah konstitusi. Satu tepuk, dua lalat yang ditangkap, pikir mereka. Padahal, semua itu sudah ada di pikiran Abi sejak awal.


“Hari ini saya mengajukan permohonan pengujian materiil undang-undang Nomor 12 Tahun 2011, khususnya pada pasal 96. Pasal ini menjelaskan tentang peran serta masyarakat dalam pembuatan peraturan perundang-undangan, termasuk peraturan daerah. Namun, pada kenyataannya banyak peraturan daerah yang dibuat tanpa persetujuan dari masyarakat. Mereka memutuskannya secara sepihak tanpa memikirkan dampaknya bagi masyarakat,” kata Indira dengan lantang.


“Contohnya, peraturan daerah yang mana, Mbak?” tanya salah satu wartawan.


“Lalu, kenapa tidak mengajukan permohonan pengujian materiil terhadap perda tersebut ke mahkamah agung?” tambah wartawan lainnya.


“Setelah dari tempat ini, saya juga akan mengajukan permohonan pengujian materiil untuk salah satu perda ke mahkamah agung. Tapi, saya merasa perlu mengajukan permohonan ini karena banyak masyarakat yang merasa tidak perlu terlibat dalam hal perundang-undangan karena mereka merasa awam terhadap hukum. Mereka memercayakan semuanya kepada pihak-pihak yang ternyata bajingan. Ini adalah era di mana setiap masyarakat melek hukum dan terlibat dalam setiap pembuatan undang-undang. Dengan demikian, saya memohon pengujian undang-undang ini ke mahkamah konstitusi untuk mempertegas posisi masyarakat.”


“Menurut Mbak, selama ini peran masyarakat dalam pembuatan undang-undang masih belum maksimal?”


“Tentu saja. Menurut kalian, apakah tidak banyak produk undang-undang yang dibuat oleh para eksekutif dan legislatif, yang tidak mendapatkan persetujuan dari masyarakat, namun pada akhirnya disahkan karena mereka merasa lebih memahami kebutuhan rakyat daripada rakyat itu sendiri? Memang, anggota legislatif berdiri sebagai perwakilan rakyat. Tapi, seberapa mewakilinya mereka selama ini? Bahkan selain beberapa bulan sebelum dan setelah pemilu digelar, mereka jarang berdialog secara hangat pada masyarakat. Sosialisasi program bukanlah dialog karena mereka tetap saja tidak meminta pendapat masyarakat.”

__ADS_1


Para wartawan itu kembali melemparkan pertanyaan secara bertubi-tubi pada Indira, yang direspons wanita mungil itu dengan menunjukkan telapak tangan kanannya sambil menggeleng kepala.


“Saya akan menjawab pertanyaan teman-teman nanti. Sekarang, saya akan masuk dulu,” kata Indira sambil berbalik dan masuk ke gedung mahkamah konstitusi. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali dan menyampaikan satu informasi yang cukup menarik. “Saya juga akan mengajukan peninjauan kembali untuk kasus klien saya atas nama Abimanyu Alexander.”


“Tapi, Mbak kan sudah tidak berstatus pengacara lagi?”


“Siapa yang akan menjadi kuasa hukum menggantikan Mbak?”


Indira tidak menjawab dan hanya tersenyum. Senyum yang penuh makna.


                  *


DHUARRRR!!! DHUARRRR!!!


Tuan Jireh memang marah ketika menyaksikan wawancara Abimanyu Alexander. Namun, emosinya tumpah tak tertahankan ketika melihat Indira kembali berdiri di pihak pria pembuat onar itu untuk berdiri melawannya. Mereka pasti sudah bersekongkol dan merencanakan semua ini sejak awal. Artinya, Indira sudah tahu kalau dia adalah tuan Jireh.


“Brengsek! Berarti selama ini ia berpura-pura di depanku. Setiap kali ia melihatku, ia tersenyum manis. Padahal, di kepalanya sudah terbangun niat untuk menghancurkanku. Aku tak bisa memaafkannya! Ia telah membuat kesalahan besar!”


“Apakah aku harus membereskannya?” tanya Jesse Arnold.


Tuan Jireh menatap pemuda berambut klimis itu tajam. Ia memang sudah hapal dengan sifat buas asisten setianya itu, dan berkali-kali harus mengendalikannya. Namun, kali ini ia tidak berniat untuk menahannya. Indira telah menghancurkan hatinya berkeping-keping dan sepertinya akan sulit baginya untuk pulih. Tidak ada lagi bayangan Lasmi dalam diri wanita itu. Yang tuan Jireh lihat hanyalah kebencian.


Tiba-tiba suara deringan telepon terdengar, menggema menggantikan bunyi ledakan yang kuat sebelumnya. Meski sudah pernah, Jesse Arnold masih belum terbiasa melihat telepon itu berdering. Ia yakin, peneleponnya pasti orang yang sama.

__ADS_1


[Halo, Burhan.]


“Ada apa, Bajingan?!” Tuan Jireh langsung membalas sapaan itu dengan makian bernada keras. Terlihat urat-urat di wajahnya yang sudah keluar.


[Sabar, Pak Tua. Jangan marah dulu. Aku punya kabar baru yang pasti akan membuatmu lebih marah.]


Tuan Jireh mencoba mengatur napasnya. Jesse sama sekali tidak menyangka seorang pria biasa berhasil mengacaukan emosi tuannya.


“Apa maumu?”


[Tidak sulit. Aku mau bertemu denganmu.]


Lagi-lagi tuan Jireh mengatur napasnya sebelum berbicara dengan Abi.


“Maaf, aku tidak punya waktu untuk melayanimu.”


[Bagaimana jika aku katakan, aku sedang berada di tempat yang paling tidak kau duga.]


Jesse melihat wajah tuannya yang sepertinya sudah mencapai puncak amarah. Urat-urat yang muncul di wajahnya seakan hendak pecah.


“Aku akan menemuimu sekarang. Jika kau benar-benar sehebat yang kupikirkan, kita akan bertemu sebentar lagi,” kata tuan Jireh dengan nada yang lebih berat dari biasanya.


[Sangat seru. Itu artinya kau mengakui kehebatanku jika kita benar-benar bertemu malam ini. Aku harus mempersiapkan sambutan yang meriah.]

__ADS_1


Panggilan itu terputus. Tuan Jireh merenung sejenak lalu bangkit dari kursinya. Matanya masih menyimpan bara kemarahan. Ia menatap asistennya lalu berkata, “Siapkan helikopter.”


__ADS_2