
Rama bersiul-siul sambil menggoyang kepalanya. Sepanjang hari ini ia terlihat senang. Energinya juga tidak main-main. Mulai dari senam bersama, berolahraga, kerja bakti, lokakarya, semua dilakukannya dengan penuh semangat dan wajah yang ceria.
“Ada apa denganmu? Apakah kau mendapatkan rezeki besar? Kulihat hari ini kau bahagia sekali,” ujar salah satu rekan satu selnya.
“Lebih dari rezeki besar,” kata Rama. “Besok Rama akan bebas.”
“Bebas? Tanpa sidang?”
“Tentu saja.”
“Bagaimana bisa?”
“Itu karena Rama punya abang yang hebat dan pengacara yang luar biasa.”
Rekan satu selnya itu memandang Rama dengan wajah iri. Apalagi jika mengingat kasus mereka yang tak kunjung jatuh vonis. Kalaupun vonis sudah keluar, belum tentu vonis bebas.
Rama memang beruntung punya Abi dan Indira. Berkat inisiatif Abi diam-diam memasang CCTV di dekat rumah Shasha dan langsung meminta rekaman CCTV dari pihak klub malam tempat Rama terakhir sadar, ia punya bukti kuat untuk bebas. Indira juga menunjukkan kecerdasannya dalam menekan pihak penyidik yang sempat menolak bukti-bukti tersebut. Bantuan Regina yang ikut mengawasi dalam proses penyidikan juga cukup membantu.
Dan kemarin Indira mengunjunginya dan memberikan jaminan paling lama dua hari lagi ia bisa bebas. Artinya, kemungkinan besar besok ia bisa bebas.
“Jangan tersinggung. Rama suka berada di sini dan mengenal kalian. Bagi Rama, kalian adalah orang-orang baik. Tapi, Rama ingin bebas. Banyak yang ingin Rama lakukan di luar sana.”
“Kami mengerti. Seenak apapun di sini, tetap lebih baik bisa bebas. Tidak ada orang yang ingin tinggal di penjara seumur hidupnya. Kami juga senang kau bisa bebas.”
“Pokoknya, walau Rama lebih dulu bebas, Rama takkan melupakan kalian. Rama akan menjenguk kalian secara rutin dan membawakan makanan enak,” janji Rama yang dibalas dengan pelukan teman-teman satu selnya.
Percakapan mereka terhenti ketika bunyi bel ke seantero rutan. Itu adalah bel tanda semua lampu di sel akan dipadamkan dan seluruh tahanan harus segera tidur. Rama segera membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Pikirannya mengembara, membayangkan apa yang akan ia lakukan besok.
“Tentu saja, pertama aku harus ke makam Shasha. Aku harus meminta maaf karena tidak bisa melindunginya,” ujar Rama pelan. Sangat pelan karena ingin hanya dirinya yang mendengar.
*
__ADS_1
Keesokan harinya
Indira lari tergopoh-gopoh. Ia baru saja turun dari bus dan segera menuju pintu masuk rutan. Karena semalam begadang, ia terlambat bangun dan ketinggalan bus. Ia harus menunggu bus berikutnya yang berjarak setengah jam dari bus yang seharusnya ia naiki. Ia berharap Rama tidak langsung pergi.
“Apa? Sudah keluar? Jadi, di mana dia?” tanya Indira pada petugas.
“Tidak tahu, Bu. Coba dihubungi saja ponselnya.”
Ah, benar. itu ide yang bagus.
[Halo, Kak]
Terdengar suara ramah dari Rama langsung menyapa Indira.
“Kamu di mana sekarang?”
[Rama di minimarket yang ada di seberang rutan. Tadi Rama melihat Kakak berlari turun dari bus.]
“Syukurlah kamu tidak jauh dari sini. Aku tidak ingin kamu keluar dari rutan tanpa disambut oleh siapapun,” kata Indira sambil berjalan meninggalkan pintu rutan.
[Rama ingin mengunjungi Shasha. Kakak tahu di mana lokasinya?]
“Maksudmu, ke makamnya? Ide bagus. Aku tahu di mana tempatnya karena aku ikut ke penguburannya.”
[Baguslah. Sebab Rama akan …]
Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari arah kanan Rama dan menghantam tubuhnya hingga terpental jauh. Indira langsung menjerit dan mendadak seluruh sendi di tubuhnya serasa hilang. Ia tersungkur karena lemas, apalagi setelah melihat tubuh Rama yang sudah berlumuran darah. Sementara mobil yang menabraknya segera pergi melarikan diri.
*
“Apakah tak masalah melakukannya di depan Indira?” tanya Jesse Arnold pada tuannya yang sedang membersihkan senjata api antiknya sambil diiringi oleh musik klasik yang terdengar sedikit menyeramkan.
__ADS_1
“Aku memang menyayanginya, seperti seorang ayah pada anaknya. Tapi, seorang ayah harus menghukum anaknya yang berbuat nakal agar si anak tidak nakal lagi,” jawab tuan Jireh santai. Matanya sama sekali tidak berpindah dari pistol-pistol kesayangannya.
Jesse Arnold, yang juga memiliki perasaan positif pada Indira, merasa tindakan tuan Jireh sudah berlebihan. Ia lebih menoleransi siksaan fisik, bahkan pembunuhan, daripada siksaan psikis. Ia punya pengalaman buruk terkait siksaan jenis itu.
Tapi, ia tak berani mengomentarinya di depan sang tuan.
“Lalu, bagaimana dengan Abimanyu Alexander?”
“Berandal penghafal undang-undang itu,” gumam tuan Jireh. “Umumkan saja ke publik kalau ia membunuh salah satu sipir dan melarikan diri.”
“Lalu, bagaimana dengan surat itu?”
Tuan Jireh berhenti mengelap salah satu senjatanya, lalu menatap asistennya dengan wajah datar. “Ibunya sedang kritis di rumah sakit dan adiknya sudah mati ditabrak. Selain mereka, tidak ada yang menerima surat itu langsung dari petugas lapas. Meski ia punya surat itu, belum tentu orang percaya kalau itu surat itu benar-benar diberikan oleh petugas lapas.”
Jesse Arnold mengangguk. Ia paham dengan maksud tuan Jireh.
Tiba-tiba teleponnya berdering. Jesse Arnold menatap telepon itu dengan penuh ketegangan. Itu adalah telepon yang biasa digunakan tuan Jireh untuk menghubungi orang-orang tertentu. Nomornya disamarkan sehingga siapapun tidak bisa menghubunginya balik. Ini adalah kali pertama Jesse melihat telepon itu berdering.
“Halo,” kata tuan Jireh yang tanpa ragu menjawabnya.
[Kupikir kau lawan yang terhormat.]
Tuan Jireh tertawa, hingga tawanya menggema ke seantero ruangannya yang besar itu. Jesse Arnold sampai harus menahan sakit di telinganya karena suara yang membahana itu.
“Kita sedang berperang dan dalam kamusku, tidak ada perang yang lebih mementingkan kehormatan daripada kemenangan. Lagipula, aku tidak pernah berkata akan melawanmu seperti kau melawanku. Kita memang sama-sama menggunakan hukum sebagai senjata. Bedanya, kau taat pada hukum, sementara aku membuat hukum taat padaku.”
Abi tidak berkata apapun untuk beberapa detik. Yang terdengar hanya napasnya yang sempat tidak teratur. Tuan Jireh menyukai situasi ini, di mana lawannya merasakan tekanan yang luar biasa dan mulai menyadari kalau melawan tuan Jireh adalah sebuah kesalahan besar. Apalagi Abi sudah beberapa kali menghinanya, baik secara verbal maupun melalui aksi-aksi mengejutkannya.
[Aku takkan berhenti. Aku akan terus melawanmu, bahkan meski aku harus kehilangan nyawaku sendiri.]
“Ya, aku tahu. Aku juga lebih suka menyiksamu sedikit demi sedikit sebelum menghilangkan nyawamu. Mengirim seseorang untuk membunuhmu adalah sebuah kesalahan besar yang dilakukan oleh anak buahku.” Tuan Jireh menatap Jesse Arnold yang tertunduk malu. “Tapi, aku bersyukur kau selamat. Aku masih ingin melihatmu bertekuk lutut di hadapanku, bersama dengan prinsip dan hukum yang selama ini kau bangga-banggakan.”
__ADS_1
Abi terdiam lagi untuk beberapa detik, sebelum mengucapkan kalimat terakhirnya dan mengakhiri percakapan mereka hari itu.
[Terima kasih sudah menambah motivasiku untuk menghancurkanmu.]