
“Benjiro ada di luar penjara? Kau yakin itu dia?” tanya Abi dengan nada meninggi. Ia benar-benar tidak menduganya.
“Ya, aku tak mungkin salah melihatnya. Aku punya kemampuan pengamatan yang sangat baik. Ah, andai aku membawa kendaraan, aku bisa mengikutinya,” ujar Regina.
“Dia naik mobil? Atau motor? Bagaimana dengan plat kendaraannya?”
“Dia naik mobil. Aku telah mengecek platnya dan ternyata tidak terdaftar. Sepertinya mobil curian. Itu yang membuatku semakin yakin kalau orang yang kulihat adalah dia.”
Abi hanya mengangguk kecil. Ia sedang berpikir keras. “Bagaimana ia bisa keluar, ya?”
“Hei, aku datang ke sini bukan untuk memberikan informasi padamu.” Regina mengetuk meja di hadapannya karena tidak meminta Abi untuk memikirkan perihal Benjiro berkeliaran di luar penjara. “Aku hanya ingin kau menjelaskan tentang kematian Mischa. Kenapa kau menganggap ia tidak dibunuh oleh Benjiro?”
“Apakah kau juga berpikir kalau ada orang lain selain Benjiro di balik kasus ini? Ya, tentu saja itu selain aku.”
“Aku belum memastikan kalau kau tidak terlibat dalam kasus ini. Jadi, kau masih masuk dalam daftar tersangkaku,” kata Regina memberikan peringatan. “Kalau kau bisa memberikan jawaban yang bagus, mungkin aku akan menganggapmu tidak terlibat dengan Benjiro.”
“Ayolah, kau tidak sedang di posisi harus memarahiku. Aku punya informasi yang sangat kau butuhkan.”
Regina terdiam. Ia mengatur napas dan mencoba untuk menahan amarah. Tapi, Regina tahu kalau Abi punya hak untuk melakukan itu. Dulu ia tidak memercayai Abi dan menghancurkan persahabatan yang telah mereka jalin belasan tahun karena emosi. Sekarang, ia datang seperti sedang menjilat ludahnya sendiri dengan mengakui kalau Benjiro tidak memiliki hubungan dengan Abi dan ada pihak lain yang berada di belakang Benjiro, yang memiliki kuasa untuk membuatnya keluar dari penjara. Dan tentu saja, Abi tidak punya kuasa seperti itu.
“Baik, aku minta maaf. Aku ingin kau menceritakan semua yang kau ketahui tentang kematian Mischa,” kata Regina dengan nada ditekan, menandakan kekesalan yang tak bisa ia ledakkan sekarang.
Abi masih tersenyum melihat kekesalan di wajah Regina. Bukan karena ia senang Regina kesal, tapi ia bahagia karena merasa kembali akrab dengan wanita itu. Jujur, sejak perseteruan mereka, ia merasakan kekosongan yang cukup besar di hatinya. Regina sudah menjadi bagian dari hidupnya selama ini.
“Dia tidak dibunuh,” kata Abi yang membuat Regina terkejut.
__ADS_1
“Jadi, dia mati karena -”
“ST elevation myocardial infarction (STEMI) atau penyumbatan penuh pada arteri koroner. Selama ini Mischa menderita penyakit jantung koroner dan tekanan darah tinggi. Hari itu ia mengalami serangan jantung mendadak, yang sayangnya terjadi saat ia sedang sendiri di rumah.”
Regina masih terkejut dengan informasi yang diberikan oleh Abi. Ia sama sekali tidak menduga kemungkinan itu karena perkembangan kasus yang selama ini ia dengar dari persidangan dan media hanya mengarahkan kematian Mischa sebagai sebuah pembunuhan.
“Jadi, Mischa meninggal karena penyakit? Lalu, Benjiro menutupi kematian itu dan membuatnya terlihat sebagai pembunuhan dengan skenario super ribet itu?”
“Ya, dan secara kebetulan dan tanpa disadarinya, ia melibatkanku,” ujar Abi. “Aku pernah bilang padamu untuk mencari tahu alasan Benjiro mengaku kalau ia yang membunuh Mischa.”
“Aku tidak menemukan apa-apa.”
Jawaban Regina membuat Abi heran. Ia tahu kalau Regina sudah mendapatkan informasi dengan bantuan De Syado yang cukup untuk menyimpulkan kenapa Benjiro merekayasa kematian Mischa. Lalu, kenapa ia tak mengatakannya pada Abi? Sepertinya Regina masih belum seratus persen memercayainya. Tapi, karena Regina tidak mau mengatakan temuannya terkait jadwal Mischa di hari kejadian, Abi tidak bisa mengembangkan ceritanya terkait Benjiro.
“Kalau begitu, kita masih sulit menemukan dalang di balik segala tindakan Benjiro.”
“Baiklah, sepertinya hanya itu yang ingin kuketahui sekarang. Terima kasih atas kerjasamanya. Aku harus kembali bekerja.”
Regina berdiri dan menjulurkan tangannya hendak mengajak Abi bersalaman. Namun, Abi bergeming. Ia mematung dan hanya melihat tangan Regina lalu tersenyum tipis. Regina sampai bingung dengan sikapnya itu.
“Sayang sekali. Padahal aku punya beberapa cerita bagus untukmu. Misalnya, alasan aku tidak membuat nota pembelaan di persidangan.”
Ucapan Abi itu sangat menggoda bagi Regina. Sikap mengejutkan Abi saat persidangan itu, yang secara tidak langsung memengaruhi kegagalannya mendapatkan vonis bebas, memang menjadi salah satu pertanyaan besar yang mengganggu pikirannya beberapa hari terakhir. Ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Menarik tangannya, duduk dan membiarkan Abi bercerita. Ia sangat mengenal Abi dan mantan sahabatnya itu pasti memiliki sesuatu yang sangat menarik baginya.
“Oh, aku lupa. Ternyata aku sedang cuti sekarang. Jadi, aku punya banyak waktu untuk mendengarkan ceritamu,” ujar Regina mencari alasan agar tidak terlalu malu untuk menunda kepergiannya. “Jadi, apa alasannya?”
__ADS_1
Abi menatap Regina cukup lama lalu kembali mengembangkan senyumnya. “Itu memang sudah kurencanakan sebelum sidang.”
“Kenapa?” Regina sudah mulai kesal karena Abi berbelit-belit.
“Tentu saja.” Abi menyandarkan tubuhnya ke bagian belakang kursi. “Saat itu pengacaraku baru saja dipecat dari organisasi advokatnya sehingga kemungkinan besar aku akan sendiri di persidangan dan aku tidak tahu cara membuat nota pembelaan. Jadi, tidak ada pembelaan.”
Regina mengepalkan tangannya seakan hendak meninju Abi yang tertawa cengengesan. “Kenapa setelah kita tidak berteman lagi, aku baru sadar kalau kau semenyebalkan ini?”
Wanita cantik itu kembali berdiri tanpa sudi melihat wajah Abi lagi. Ia membalikkan badannya dan bersiap untuk pergi meninggalkan Abi.
“Bukan Bima Sakti,” kata Abi menghentikan gerakan Regina. Ia kembali menoleh Abi dengan wajah penuh tanya. “Bukan Bima Sakti yang harus kau curigai, tapi Theodore Fransiskus.”
“Apa maksudmu? Kenapa kau menyebut nama-nama itu?”
“Aku tahu kau sedang menyelidiki Bima Sakti, tapi kau salah orang. Meski ia ikut di rapat itu, aku bisa pastikan kalau ia bersih.”
“Kau juga menemui De Syado?”
“Bukan aku, tapi Rama. Meski aku yang menyuruhnya,” jawab Abi. “Ternyata kita sehati untuk menemui penipu itu.”
“Jadi, kau juga mendapatkan jadwal kegiatan Mischa dari De Syado?”
Abi mengangguk.
Regina kembali duduk dan kali ini tatapan matanya tidak lepas dari Abi, seakan ia masih membutuhkan informasi lebih banyak. “Apa dasarmu mengatakan Bima Sakti bersih dan justru Theodore Fransiskus yang patut dicurigai?.”
__ADS_1
Abi menempelkan telunjuk ke bibirnya lalu berkata, “Pelan-pelan. Ini sebuah rahasia.”