
Lima belas tahun yang lalu
“Belum ada juga orang tuanya datang menjemput?” tanya Bripda Reynold pada rekannya.
“Belum. Apakah dia tidak punya orang tua?”
“Pihak sekolahnya bilang punya. Hanya saja, ia menuliskan alamat yang salah di data sekolah. Saat ditanya, ia hanya bungkam.”
“Sial sekali nasib anak itu. Seandainya orang tuanya datang, mungkin dia tidak perlu ditahan sampai selama ini.”
“Tapi komandan tadi bilang kalau anak itu bisa bebas hari ini. Sepertinya sebentar lagi ia sudah keluar dari rutan.”
“Hari ini? Baru tiga hari. Bukannya paling lama dua puluh hari? Seharusnya biarkan saja dulu sampai luka-lukanya sembuh. Bahaya jika orang tuanya melihat dan menuntut kita.” Bripda Reynold seperti keberatan dengan keputusan atasannya tersebut.
“Mungkin komandan melihat kondisi sekarang, bahwa orang tuanya tidak memedulikannya. Semakin lama dia di sini, justru akan semakin merepotkan. Waktu maksimal dua puluh hari itu jika ia menjalani penyidikan, sementara kasusnya takkan naik ke pengadilan. Jika ada inspeksi, kita akan kena.”
Bripda Reynold mengangguk tanda setuju. Ia memeriksa biodata Abi yang didapat dari pihak sekolah. Sesekali ia mengelus pipi kirinya yang sedang diplester karena merasakan perih.
“Bagaimana dengan lukamu? Belum sembuh juga?”
“Sudah lumayan. Tapi kemungkinan bekasnya takkan hilang.”
__ADS_1
Pembahasan tentang lukanya itu mengingatkannya pada kejadian seminggu yang lalu. Semua karena keberhasilannya dan timnya dalam mengungkap sebuah transaksi narkoba. Saat itu mereka berhasil menangkap pemimpin salah satu geng narkoba terkenal di kota ini. Bukannya mendapatkan penghargaan, mereka malah disemprot oleh atasan. Pada akhirnya, penjahat itu bebas tanpa dihukum apapun.
Kesialannya tidak sampai sampai di situ. Beberapa hari kemudian, tepatnya seminggu yang lalu, anak buah penjahat itu balik menangkapnya. Ia disiksa, bahkan sampai harus menerima luka bakar di pipi kirinya.
Sejak saat itu, ia mulai menyadari jika keadilan itu hanyalah fatamorgana. Polisi yang berusaha keras menegakkan keadilan adalah polisi paling bodoh karena tidak ada keadilan di dunia ini. Karenanya, ia memutuskan untuk menjadi polisi yang lebih pintar dan berhenti mengejar keadilan. Ia harus mengutamakan kepentingan dan keselamatan pribadinya. Apalagi untuk mendapatkan pekerjaan sebagai polisi, ia dan orang tuanya sudah mengorbankan banyak hal.
Maka dari itu, ketika diperintahkan oleh atasannya untuk menyiksa seorang pelajar tanpa perlu menyelidiki kebenarannya demi memuaskan keinginan salah satu orang berpengaruh di kota ini, ia langsung setuju. Apalagi ia juga membutuhkan pelampiasan kemarahannya atas kejadian seminggu yang lalu.
* * *
Seorang sipir menyerahkan beberapa barang milik Abi yang disimpan sebelum ia dijebloskan ke dalam sel tahanan. Hanya beberapa benda tak berguna seperti tas berisi buku pelajaran dan alat tulis, pakaian sekolah yang sudah berlumuran darah serta sepatu bututnya.
Abi mengambil semua barang miliknya itu dan tidak menggubris pertanyaan basa-basi sipir yang merasa prihatin dengan kondisinya. Setelah itu, ia berjalan keluar rutan dengan langkah yang gontai. Ia masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya.
“Dia sudah ada di sana sejak awal kau ditahan,” kata sipir yang membukakan gerbang untuknya. “Sepertinya dia tidak pernah beranjak dari tempat itu. Bahkan aku tidak pernah melihatnya makan atau minum.”
Abi mematung sebentar lalu pergi dengan langkah tertatih-tatih tanpa melewati wanita itu. Sipir tadi bingung melihat sikapnya tersebut. Sudah jelas sekali kalau wanita itu adalah ibunya.
Kenangan masa lalu tiba-tiba menghampirinya. Ia ingat hari pertamanya masuk SD, sang ibu menemaninya ke sekolah. Dari rumah, mereka pergi dengan sukacita. Abi menceritakan betapa antusiasnya ia di hari pertama sekolah ini. Ia sudah punya gambaran tentang apa yang akan terjadi dan apa yang akan dilakukannya di sekolah nanti. Sang ibu yang melihat guratan kebahagiaan di wajah anaknya juga merasa bahagia.
Meski perjalanannya cukup jauh, mereka mengisi setiap detiknya dengan keceriaan sehingga jarak dan waktu yang mereka tempuh terasa dekat. Abi berpikir kalau itu adalah momen paling membahagiakan dalam hidupnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya guratan kebahagiaan di wajah sang ibu mendadak hilang ketika mereka berpapasan dengan seorang pria yang juga mengantarkan anaknya. Abi masih ingat betapa pucat wajah ibunya saat itu, pun demikian dengan wajah pria tersebut. Akhirnya Abi sadar kalau ia pernah melihat pria itu datang ke kafe dan bercengkrama akrab dengan ibunya.
Tanpa sadar, Abi berkata pada ibunya dan didengar oleh pria itu, “Bukannya om itu yang sering datang ke kafe kita, ya, Ma?”
Hari itu adalah hari pertama dan terakhir sang ibu membawanya berjalan bersama ke luar Batavia Baru. Bahkan sejak saat itu hubungan mereka mulai dingin hingga semua orang berpikir Abi membenci ibunya.
Abi tahu apa yang ibunya pikirkan, bahkan di usianya yang masih sangat belia. Ia tahu alasan sang ibu menyekolahkannya jauh dari Batavia Baru, meski ada SD di dekat sana, agar tidak ada orang yang tahu apa pekerjaan ibunya.
Orang lain hanya tahu ibunya tidak pernah mengambil raportnya di setiap akhir caturwulan dan semester, tapi hanya Abi yang tahu sang ibu sudah menunggu di rumah dengan antusias untuk melihat hasil belajar Abi selama beberapa bulan, bahkan dengan masakan kesukaan Abi.
Orang lain hanya tahu ibunya tidak datang ke sekolah saat ia memenangkan lomba cerdas cermat tingkat provinsi sehingga ia batal dikirim ke ibukota untuk mengikuti lomba tingkat nasional, tapi hanya Abi yang tahu kalau dialah yang tidak ingin pergi karena Regina, anggota cadangan tim cerdas cermat mereka, sangat ingin mengikuti lomba itu. Abi sendiri yang meminta ibunya untuk tidak datang memenuhi panggilan pihak sekolah.
Abi tahu ibunya selalu hadir di dekatnya ketika ada acara sekolah, seperti acara perpisahan dan kelulusan. Hanya saja sang ibu tidak berani mendekatinya dan hanya melihat dari kejauhan. Abi tahu kalau ibunya tidak ingin kejadian saat hari pertama ia masuk sekolah dulu terulang lagi. Apalagi Abi semakin besar, tentu akan semakin memalukan jika ada yang menyadari siapa ibunya yang sebenarnya.
Dan ia juga yakin kalau ibunya sudah menunggu di sekitar kantor polisi ketika dirinya sedang disiksa di ruang interogasi.
“Sudah pulang, toh? Sudah makan?” tanya sang ibu saat ia sudah tiba di rumah. Matanya sempat terbelalak ketika melihat wajah Abi yang babak belur. Tapi ia berpura-pura tak peduli.
“Sudah. Beberapa hari ini aku menginap di rumah teman dan saat bermain di kebunnya, aku terjatuh,” kata Abi. Ia tahu kalau ibunya sudah tahu semuanya. Tapi ia merasa harus berbohong.
“Oh, begitu. Ya sudah, kau istirahat dulu beberapa hari dan tidak usah ke sekolah dulu.”
__ADS_1
Sang ibu pergi begitu saja. Meski ekspresinya datar, Abi bisa melihat kelegaan di wajah ibunya. Ya, sejak peristiwa di hari pertama Abi masuk SD itu, hubungan mereka semakin jauh dan tanpa sadar mereka semakin kesulitan menunjukkan kepedulian mereka satu sama lain. Namun kasih sayang mereka tidak pernah pudar.