Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 73


__ADS_3

“Hei, jangan termenung. Kamu sedang membawa mobil,” tegur Indira ketika melihat tatapan Abi yang hampa.


Abi kembali dari khayalan masa lalunya. Ia melihat Indira yang sedang bersandar santai sambil memainkan ponsel milik Abi. Ponselnya yang sudah berbentuk puing kini tersimpan rapi di tasnya. Matanya sedang sibuk memeriksa foto-foto dokumen yang diambil Abi dari kantor PT. Laras Jaya Karya tadi.


“Dapat sesuatu?” tanya Abi.


“Belum. Aku masih menganalisisnya,” jawab Indira. Kemudian, ia membetulkan posisi duduknya hingga menghadap ke Abi sepenuhnya. “Jadi, Rinjani itu sebenarnya siapamu?”


“Bukan siapa-siapa.” Abi menjawab sekadarnya. “Karena kau sudah mengetahui tentang tuan Jireh, berarti kau bisa menyelidiki nama-nama di dokumen itu dan mencari siapa yang paling mencurigakan. Mungkin dia adalah tuan Jireh.”


“Baiklah, nanti akan kucari.” Indira juga menjawab sekadarnya. Ia lebih tertarik dengan topik lain. “Tapi, kalian ciuman dengan sangat agresif. Tidak mungkin bukan siapa-siapa.”


“Kami sama-sama besar di lingkungan paling mesum di kota ini. Ciuman seperti itu bukanlah sesuatu yang aneh bagi kami.” Abi benar-benar gelisah dengan topik itu dan berusaha membuat Indira fokus pada topik yang lebih penting dan lebih serius. “Kaitkan juga dengan para bacagub. Menurut informasi yang kudapatkan, tuan Jireh mensponsori salah satu bacagub. Kemungkinan besar itu adalah petahana, Theodore Fransiskus. Hanya ia bacagub yang menyetujui reklamasi. Bahkan selama menjadi gubernur, ia sudah mengeluarkan banyak kebijakan yang menguntungkan para pengembang di pulau-pulau reklamasi.”


Indira tidak lagi membalas omongan Abi. Ia kembali fokus pada dokumen yang ada di ponselnya. Matanya naik turun, seperti jari-jarinya. Kemudian ia meletakkan ponsel itu di pangkuannya, lalu menghela napas panjang.


“Kalau dilihat sekilas, ia memang cantik. Tapi dari dekat, ternyata tidak terlalu. Alisnya tidak simetris,” celoteh Indira. Abi menatap heran wanita itu. Ia sama sekali bingung harus merespons seperti apa.


“Memang, masih lebih cantik Regina.”


Mendengar nama itu, tatapan Indira malah semakin menyeramkan. Ia sama sekali kesal dengan pria yang ada di hadapannya. Bulu kuduk Abi sampai menegak karena merasakan aura gelap itu. Ia sampai menerka-nerka kesalahan apa yang baru dilakukannya.


“Sangat tidak peka,” gerutu Indira. Karena melihat tidak ada harapan untuk perkembangan menarik atas topik ini, ia beralih ke topik yang lain. “Jadi, bagaimana kamu pertama kali mendengar nama tuan Jireh?”

__ADS_1


“Dari bos Dirga dan itu karena ia tak sengaja mengucapkannya. Tapi, aku sudah menyadari keberadaannya sejak awal kasus. Aku masih mengerti ketika hanya dituduh mengedarkan narkoba. Tapi, semua jadi aneh ketika aku dituduh membunuh Mischa. Dan semakin aneh karena mayatnya ditemukan beberapa hari setelah aku ditangkap melalui peristiwa kebakaran. Aku yakin, ada dalang besar di balik semua ini.”


“Tapi, kematian Mischa sudah terungkap dan semua tuduhan yang diarahkan padamu sudah gugur. Untuk apa kamu mengincar tuan Jireh?”


“Pertama, karena satu kunci penting di kasusku belum terungkap, yaitu motif Benjiro memalsukan kematian Mischa dan memfitnahku. Jika aku menerima putusan bebas seperti rencana kita, itu hanya mengalihkan semua tuduhan yang awalnya diarahkan padaku ke Benjiro. Kasusku sama sekali tidak selesai dan penjahat sebenarnya belum kalah. Kedua, karena -”


Abi berhenti bicara dan menghela napas panjang. Tatapannya kembali terlihat hampa. Indira merasa ada luka yang datang kembali ke ingatan Abi saat ini.


“Karena aku lelah melihat hukum tak berdaya lagi,” ujar Abi dengan nada suara yang terdengar getir bagi Indira. “Di tengah semakin buasnya kehidupan, yang mana kekayaan dan kekuasaan memegang kendali dalam masyarakat, orang-orang kecil seperti kami hanya memiliki hukum sebagai senjata untuk meraih keadilan.”


Indira hendak memegang tangan Abi untuk sekadar memberikan penghiburan, tapi urung dilakukan karena tangan pria itu sedang sibuk bermain dengan kemudi mobil. “Hukum terkadang tidur, tetapi hukum tidak pernah mati. Dormammu aliga, aligator…”


Abi tersenyum. Sudah lama ia tidak melihat Indira yang salah mengatakan adagium. “Dormiunt aliquando leges, nunquam moriuntur.”


“Meski berusaha, aku takkan bisa memahami luka yang kamu alami lima belas tahun yang lalu. Tapi, aku sangat mengagumimu yang tidak membalas dendam dengan cara koboi. Kamu masih mempercayai hukum sebagai sebuah senjata. Padahal itu adalah masa terkelam dalam hidupmu.”


                  *


Kembali ke satu tahun sebelumnya


Abi tertegun ketika mendengar putusan tidak bersalah bagi terdakwa kasus pemerkosaan dan pemerasan atas Kerinci. Majelis hakim menganggap itu adalah hubungan atas dasar suka sama suka dan tidak menemukan bukti bahwa ada pihak lain yang ikut dalam kejadian tersebut.


Abi melirik gadis kecil itu dan terlihat wajahnya yang menggambarkan betapa hancur hatinya saat ini. Rinjani memeluk bahunya dan mengucapkan kata-kata penghiburan. Namun, ia sendiri tak dapat menahan air matanya.

__ADS_1


Semua bukti yang diajukan jaksa penuntut umum ditolak oleh majelis hakim. Memang, ada yang aneh. Bukti-bukti yang diajukan tidak selengkap yang Abi harapkan. Mulai dari hasil visum, bukti-bukti pemerasan hingga rekaman video korban tanpa busana yang diambil oleh pelaku. Saksi-saksi yang dihadirkan untuk memberatkan terdakwa juga terlihat kebingungan saat memberikan kesaksian, seakan mereka sedang di bawah tekanan. Sementara saat giliran Kerinci yang memberikan kesaksian, para pengacara terdakwa menyerangnya bertubi-tubi.


“Sudah kubilang, andai Advokat Malam bisa mendampingi kami saat ini,” bisik Rinjani pada Abi sambil menenangkan adiknya.


Abi terdiam. Ia terlalu percaya diri hingga berpikir Kerinci bisa menghadapi para penyidik dan orang-orang di ruangan ini. Pikirnya, dengan bukti-bukti kuat yang berhasil ia kumpulkan dan dengan modal menakut-nakuti tim kuasa hukum terdakwa, Kerinci bisa mendapatkan kemenangan mudah. Ia sama sekali tidak memperkirakan


Bahkan kuasa hukum terdakwa juga berencana untuk menuntut balik Kerinci dengan pasal pencemaran nama baik. Kerinci dan Rinjani bak mendapatkan musibah yang beruntun. Apalagi, sebelum sidang, mereka mendapatkan telepon dari tetangga bahwa ayah mereka masuk ke rumah sakit karena serangan jantung.


Saat di luar ruang persidangan, Abi berkali-kali meminta maaf pada Kerinci. Namun, gadis itu malah tersenyum. Ia berkata, “Tidak apa-apa, Bang. Aku sudah mempersiapkan hatiku untuk kemungkinan ini.”


Melihat senyum itu, Abi merasa bersalah. “Abang akan terus berjuang. Abang akan memaksa jaksa untuk banding. Saat itu, abang akan mencari pengacara yang bagus untukmu. Kau tidak perlu khawatir.”


Kerinci menggelengkan kepalanya seakan meminta Abi untuk berhenti merasa bersalah. “Tidak, Abang tidak perlu membuang tenaga lagi. Aku akan menjadi seperti Abang.”


Abi tertegun mendengar jawaban dari Kerinci. “Me, menjadi sepertiku? Maksudnya?”


“Aku mendengar apa yang terjadi pada Abang empat belas tahun yang lalu. Aku juga mendengar bagaimana Abang tetap bersikap tegar. Dan setelah tahu kalau Abang adalah Advokat Malam, aku sadar kalau Abang tidak ingin orang lain mengalami apa yang Abang alami dan membantu banyak orang dalam hal hukum. Aku ingin menjadi orang yang seperti itu juga.”


“Kerinci!” Rinjani menangis dan memeluk adiknya erat.


“Jadi, apa rencanamu? Apakah kau tetap menjalani hari-harimu seperti biasa? Setelah kejadian ini?”


“Ya, tentu saja. Aku akan tetap sekolah. Jika kami ada uang, aku akan pindah. Jika tidak, aku tak masalah tetap bersekolah di tempat lama. Aku takkan takut menghadapi para bajingan itu setiap hari. Karena aku sudah punya tujuan hidup. Suatu saat, aku akan menjadi seorang advokat handal yang membela banyak orang dengan hukum. Aku akan lebih baik dari Advokat Malam. Lihat saja nanti.”

__ADS_1


Abi pun ikut memeluk Kerinci karena kata-katanya yang sangat menyentuh. Ia tidak pernah melihat sikap seperti itu, apalagi dari gadis yang baru saja melihat orang yang memerkosanya bebas dari jerat hukum. Untuk pertama kalinya, ia merasa segala usaha yang diperbuatnya sebagai Advokat Malam mendapat penghargaan yang layak.


Dan beberapa hari kemudian, ia ditemukan tewas di dalam jurang. Semua orang, bahkan polisi yang menyelidiki, berpendapat kalau Kerinci bunuh diri karena stres. Hanya Abi dan Rinjani yang tidak memercayainya. Ya, siapapun takkan percaya Kerinci akan bunuh diri jika melihat semangatnya di luar ruang persidangan itu.


__ADS_2