Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 64


__ADS_3

Abi berusaha untuk duduk. Matanya terus melihat ke arah rantang makanan susun yang dibawa oleh Rama. Itu adalah rantang ‘aneh’ yang dibelinya dari seorang teman yang adalah mantan tahanan. Ia membeli karena unik. Siapa sangka sekarang ia menggunakannya sesuai fungsi aslinya.


“Kau bawa semua yang kubilang, kan?” tanya Abi pada Rama yang masih kelihatan gugup.


“Beres, Bang.”


Rama memisahkan rantang-rantang tersebut. Terlihat isinya adalah nasi beserta beberapa lauk seperti gulai ayam, sup, dan sayur daun ubi tumbuk. Sebelum masuk, para polisi sudah memeriksanya dan menurut mereka aman.


Ekor mata Rama mencuri pandang ke arah pintu. Tidak ada polisi yang sedang mengintip. Kemudian ia memutar bagian bawah rantang dan membukanya. Terdapat beberapa benda seperti perban, obat merah dan sebagainya. Rama langsung memasukkannya ke kantong.


“Bawa aku ke kamar mandi,” kata Abi. Rama menurut dan membantunya berdiri.


“Mau apa?” tanya seorang polisi yang menyadari kesibukan mereka.


“Ke, ke kamar mandi, Pak,” jawab Rama yang masih terlihat gugup.


“Tunggu suster saja yang bawa,” kata polisi itu sambil mengarahkan telapak tangannya ke Rama.


“Maaf, aku sudah menahannya sejak tadi karena malu jika harus ditemani suster wanita. Apakah kalian saja yang menemaniku? Sepertinya tinjaku sudah menumpuk banyak,” ujar Abi yang membuat polisi itu bimbang.


Akhirnya, ia mundur dan membiarkan kedua kakak beradik itu menggunakan kamar mandi, sementara ia berjaga-jaga di luarnya.


Rama memapah Abi yang masih terlihat kesakitan dengan penuh kehati-hatian. Namun, hal yang berbeda terjadi saat di dalam kamar mandi. Abi segera melepas pegangan tangan Rama dan langsung duduk di toilet. Sementara Rama mengeluarkan seluruh isi kantongnya, yaitu barang-barang dari bawah rantang tadi.


“Mana rekamannya?”


Mendengar pertanyaan itu, Rama segera mengeluarkan ponselnya dan mencari satu berkas yang sudah ia persiapkan di rumah sebelumnya.


PREEEEETTTTTTTT


Sebuah suara mirip kent*t keluar dari ponsel itu. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali dan seakan bertalu-talu. Mereka berdua dan polisi yang berjaga di luar sampai terkejut mendengarnya.


“Ah, Abang jorok sekali. Dan, ah, bau sekali. Apa yang Abang makan? Kalau terlalu lama di sini, aku akan pingsan.”

__ADS_1


“Sudah, tak usah protes. Orang sakit memang seperti itu.”


Bukan hanya suara kent*t, ada juga suara percakapan mereka yang terekam di ponsel itu. Rama sudah mempersiapkannya di rumah dan suara Abi dibuatnya dari suaranya yang ia sunting.


“Apakah harus seperti ini?” bisik Abi dengan wajah kesal.


“Suara kent*t itu akan menutupi suara-suara yang mungkin akan kita buat sekarang,” kilah Rama, yang terdengar masuk akal.


“Ya sudah, sekarang buka baju dan celanamu berikan tanganmu.”


Rama menuruti perintah Abi dan membuka baju membuka pakaiannya. Abi juga melakukannya setelah melepas selang infus dari tangannya. Mereka lalu bertukar pakaian dengan cepat.


“Mana tanganmu?” tanya Abi yang langsung direspons Rama dengan menunjukkan punggung tangannya. Abi segera mengikat bagian atas tangan Rama dengan alat bernama tourniquet lalu menusukkan jarum IV ke punggung tangannya. Ia pun segera memindahkan selang infus yang melekat di tangannya ke tangan Rama.


Abi memeriksa barang-barang yang dibawa Rama. Tidak ada pisau. Tapi untungnya ia sempat mengambil sebuah pisau kecil dari suster yang tadi datang mengecek kondisinya.


“Sekarang, tahan sebentar. Lumayan sakit, tapi akan kupastikan tidak parah,” kata Abi sambil menghunus pisau itu.


Belum sempat Rama menyelesaikan kalimatnya, Abi sudah menusuk perutnya. Terlihat wajah Rama menahan rasa sakit yang luar biasa dan Abi menutup mulutnya untuk mengantisipasi agar adiknya itu tidak berteriak.


“O ya, apa yang ingin kau bilang tadi?”


“Ra, Rama su, sudah be, belajar pada Sha, Sha, Shasha untuk, hhah, hhah, membuat make up lu, luka pal, palsu. Se, seharian!”


“Oh, pantas kau membawa alat-alat ini,” kata Abi sambil memegang beberapa benda seperti kotak make up dan luka mainan tanpa menyadari kekesalan yang dipendam adiknya. “Ya sudah, lain kali saja kita pakai itu. Sekarang, mari tutup lukamu.”


Rama sama sekali tidak bisa melawan. Selain karena itu adalah abang yang paling dihormatinya, ia juga tidak punya kekuatan lagi untuk marah.


                  *


Beberapa saat setelahnya, di parkiran rumah sakit


Mata Indira tidak berkedip menatap layar ponselnya. Ia sedang sangat serius menyaksikan video pengeluaran parasit dari tubuh seseorang. Ketegangan melihat proses pengeluaran parasit seperti pada video tersebut selalu ampuh bagi Indira untuk menutupi ketegangan yang dirasakannya dalam kehidupan nyata. Dan saat ini ia harus menutupi ketegangan atas aksi Rama untuk bertukar tempat dengan Abi.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu mobil digedor dari luar, membuat ketegangannya berubah menjadi keterkejutan. Ia melihat sosok yang baru saja dilihatnya. Itu adalah Rama.


Namun, setelah membuka pintu dan menyaksikannya dengan seksama, ia sadar kalau pria yang dihadapannya bukanlah Rama, melainkan Abi. Ia tersenyum lega karena itu artinya aksi yang dijalankan oleh Rama, dan yang membuatnya tegang, berhasil.


“Aduh!”


Abi memegang perutnya sambil meringis kesakitan saat baru duduk di atas jok mobil. Melihat hal itu, Indira merasa sedikit cemas. Ia ingin melakukan sesuatu, tapi bingung harus melakukan apa. Yang bisa dilakukannya hanya melihat dan merasa kasihan.


“Jadi, ini rencana hebatmu?” sindir Indira.


“Apa kabar? Sehat? Kabarku baik, hanya sedikit tertikam.” Abi membalas sindiran Indira dengan kata-kata yang tak kalah sarkas.


“Kau berharap aku mengkhawatirkanmu? Meski kamu sendiri yang membuatnya?”


Abi kehabisan kata-kata untuk melawan ucapan Indira. Saat itu ia sadar akan dua hal. Pertama, ia sadar kalau Indira mengkhawatirkannya lebih dari yang seharusnya dilakukan oleh pengacara pada kliennya. Kedua, ia sadar kalau akhir-akhir ini Indira yang selalu mendominasi percakapan di antara mereka berdua, tidak seperti saat pertama kali mereka bertemu.


“Tapi, bagaimana kalian bisa berhasil? Oke, wajah kalian agak mirip. Tapi postur tubuh kalian berbeda. Apalagi tinggi badan kalian.”


“Kuncinya adalah ini,” kata Abi sambil menunjuk sol sepatunya. Ia menekan salah satu tombol di sisi sepatunya dan sol itu bertambah tinggi. Dan ketika ia menekan tombol itu lagi, tinggi sol kembali seperti semula. “Awal melihatnya dulu, kupikir benda ini hanyalah sampah yang dibeli oleh Rama karena kebodohannya.”


Indira mengangguk tanda telah mengerti. “Baiklah, kita pergi saja.”


Abi menghidupkan mesin mobilnya, lalu terdengar bunyi alarm yang cukup kencang dan membuatnya terkejut. Suara itu cukup keras untuk menarik perhatian orang, termasuk beberapa polisi yang berjaga-jaga di sana.


“Kamu harus mengenakan sabuk pengaman. Jika tidak, alarmnya takkan mati,” celetuk Indira.


“Ah, mobil brengsek.”


Abi segera memasang sabuk pengamannya dan ia menjerit kesakitan karena benda itu mengenai luka di perutnya. Meski demikian, karenanya alarm mobil akhirnya mati.


“Kita mau ke mana? Apakah kita jadi mencuri data-data para investor dan pengembang itu?” tanya Indira penasaran.


“Santai saja. Aku sudah berada di penjara selama beberapa bulan. Biarkan aku menikmati kebebasanku sejenak,” jawab Abi santai.

__ADS_1


__ADS_2