Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 19


__ADS_3

Abi sudah bangun sebelum alarm rutan berbunyi. Ia segera membasuh wajahnya di wastafel yang sudah penuh dengan karat. Seperti ritual yang biasa dilakukannya di pagi hari, ia menyentuh bagian lehernya, tempat luka bekas stun gun lima belas tahun yang lalu berada, untuk mengenang kejadian terburuk dalam hidupnya itu. Telapak tangannya mengelap cermin buram yang menempel di atas wastafel. Matanya terlihat merah. Wajar saja, ia bisa tertidur sejak pukul empat subuh tadi.


Pikirannya terus mengingat seseorang yang duduk di antara para pengunjung sidang kemarin. Ia tahu siapa orang itu, meski tidak mengenalnya. Entah kenapa, Abi merasa kehadirannya di persidangan adalah sebuah keanehan. Bukan karena tidak wajar, justru keberadaannya kemarin membuka sebuah kemungkinan terkait kasus yang membelitnya.


“Mran, Mran,” kata Abi sambil mengguncang tubuh Amran yang masih terlelap.


“Ada apa? Alarmnya sudah bunyi?” tanya Amran yang masih setengah sadar.


“Di mana kamar bos Dirga?”


“Di kamar 4, dekat sel strap.” Beberapa detik kemudian, Amran membuka matanya lebar lalu duduk menghadap Abi. “Kenapa kau tanya itu? Kau mau berurusan dengannya? Sebaiknya jangan.”


Abi tersenyum dan meninggalkan Amran yang mengkhawatirkannya.


Beberapa saat kemudian, alarm berbunyi ke seantero rutan. Para tahanan keluar kamar mereka masing-masing dan berjalan ke arah ruang makan. Mata Abi menjelajah untuk mencari sosok bos Dirga. Ia melihat ke arah lorong yang biasanya dilewati penghuni kamar 4 dan 5 untuk masuk ke ruang makan.


“Kau mau bertemu dengannya, kan?” tanya Amran yang mendadak muncul di belakang Abi. “Jangan harap bisa. Dia selalu dikelilingi oleh anak buahnya dan para sipir terus mengawasinya.”


“Memangnya siapa yang mau bertemu dengannya? Aku hanya penasaran dengan kamarnya saja,” sangkal Abi. Meski demikian, matanya tidak beralih dari lorong itu.


Lalu sosok yang ia tunggu akhirnya muncul. Benar kata Amran, ada beberapa orang di sekitarnya yang bersikap seolah melindunginya. Para sipir yang berjaga di sana juga langsung teralihkan oleh kehadirannya.


Sebenarnya Abi ingin berbicara dengan bos Dirga untuk menanyakan sosok yang dilihatnya di ruang sidang kemarin. Ia tahu kalau pria itu punya hubungan dengan bos Dirga. Sayangnya, sampai siang menjelang, ia tidak memiliki kesempatan, bahkan untuk sekadar mendekati salah satu pimpinan organisasi gelap yang paling disegani di kota ini.


“Abimanyu Alexander, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,” kata seorang sipir ketika ia baru selesai menyantap makan siangnya.

__ADS_1


Abi berpikir itu adalah Indira atau Rama. Mungkin ingin membahas tentang sidang kemarin atau hasil investigasi terbaru mereka. Kebetulan, Abi ingin mereka mencari tahu tentang pria yang ia lihat di persidangan kemarin.


Namun, ia meralat tebakannya karena ternyata ia tidak diarahkan ke ruang kunjungan umum atau ruang kunjungan penasihat umum, melainkan ruang kunjungan khusus. Saat baru memasuki ruangan itu, ia melihat seorang pria bertubuh besar sedang duduk di sebuah kursi dengan kaki terangkat ke meja. Wajahnya tertutupi koran yang sedang dibacanya.


“Maaf, Anda siapa?” tanya Abi.


Pria itu menurunkan korannya dan langsung melemparkan senyum seolah mereka sudah lama akrab. Namun, senyum itu justru membuat wajah Abi pucat. Ia sama sekali tak menyangka akan mendapatkan kunjungan dari orang tersebut.


“Wah, wah, padahal sudah lima belas tahun berlalu, tapi luka di lehermu itu masih ada sampai sekarang. Sudah kuduga, kualitas stun gun kesayanganku itu sangat mengagumkan.”


* * *


Indira menurunkan sandaran kursi mobil yang didudukinya. Ia merasa sangat lelah karena harus bolak-balik mengurus administrasi perawatan tante Jenny, orang tua dari Abi dan Rama. Matanya terpejam sebentar lalu melirik ke arah Rama. Pria yang biasanya ceria itu terlihat serius.


“Tenang saja, ibumu pasti tidak apa-apa. Kita juga akan menuntut para polisi itu. Apalagi jika Abi tahu, ia takkan tinggal diam,” hibur Indira.


“Memangnya bagaimana?”


“Bang Abi itu selalu totalitas dalam melakukan segala sesuatu, termasuk membenci orang. Orang pertama yang dibencinya adalah mama kami. Bahkan ia membencinya sampai sekarang.”


Indira membuka matanya lebar dan kembali duduk tegak karena tertarik dengan informasi yang Rama ucapkan barusan. “Lho, kenapa?”


“Mungkin Kakak akan terkejut mendengar ini, tapi ayah Rama dan bang Abi is the different person.”


Indira mengerutkan keningnya seperti sedang kesal. “Aku sudah lama tahu. Kamu mengatakannya saat memperkenalkan diri dulu.”

__ADS_1


“Tidak mungkin. Rama tidak pernah mengatakan ayah kami berbeda.”


“Jika kamu hanya mengatakan saudara satu ibu, itu artinya kalian berbeda ayah. Harusnya cukup katakan saudara kandung.”


“Really?” tanya Rama sambil menaikkan alisnya. Kemudian ia teringat dengan apa yang ingin diceritakannya. “Tidak seperti Rama yang tak diketahui siapa ayah kandungku yang sebenarnya, identitas ayah kandung bang Abi jelas. Ia adalah anak dari mantan suami mama, sebelum ia datang ke Batavia Baru.”


Indira sedikit terkejut dengan perkataan Rama. Ia menajamkan pendengarannya karena merasa cerita ini akan semakin seru.


“Konon yang Rama dengar dari cerita tetangga, ayah bang Abi berasal dari keluarga kaya. Mungkin itu yang membuatnya pintar, tidak seperti Rama.”


“Oh, pantas saja,” kata Indira spontan. Rama menatapnya tajam seakan tak terima Indira mempertegas kalau dia tidak pintar.


“Saat mama mengandung bang Abi, mantan suaminya itu selingkuh. Jahatnya, ia justru menuduh mama selingkuh dan tidak mengakui bayi yang di dalam kandungannya. Akhirnya, mama diceraikan dan diusir dari rumah itu lalu mantan suaminya menikah dengan selingkuhannya. Tapi karma menimpa mereka. Sampai bertahun-tahun menikah, mereka tak kunjung dikaruniai anak.


“Suatu hari, mantan mertua mama mencari mama dan menemukannya di Batavia Baru. Mantan mertuanya itu marah karena cucu kandungnya dibesarkan di tempat yang sangat tidak layak. Ia mengancam akan mengambil bang Abi. Tapi mama melawan. Namun hal itu membuat mama semakin posesif pada bang Abi. Sampai sekarang ia tak membiarkan bang Abi tinggal di luar Batavia Baru.


“Sayangnya, sikap posesif itu tak diiringi dengan kasih sayang. Rama merasa mama hanya menganggap bang Abi adalah benda miliknya, bukan anaknya. Sejak kecil, mama tidak pernah memperhatikan bang Abi dan sibuk dengan pekerjaannya. Ia juga tidak pernah datang ke sekolah bang Abi. Bahkan, dulu bang Abi pernah juara cerdas cermat se-provinsi dan akan dikirim ke tingkat nasional, namun batal karena mama tidak pernah memberikan izin untuk bang Abi pergi ke luar kota. Rama tak tahu apakah karena mama posesif atau karena tak menyayangi bang Abi.”


“Tapi tetap saja, sejahat apapun ibunya, seorang anak takkan membiarkan ibunya dipukul oleh orang lain,” kata Indira.


“Bagaimana jika pernah terjadi hal sebaliknya?” tanya Rama membuat Indira bingung. “Lima belas tahun yang lalu, saat bang Abi dihajar oleh para polisi, mama sama sekali tak peduli. Bahkan bang Abi harus ditahan selama tiga hari karena mama tak kunjung datang ke kantor polisi.”


“Tapi tetap saja -”


“Trust me, bang Abi takkan melakukan apapun untuk membela mama. Lagipula apa yang bisa dilakukannya dari dalam penjara?”

__ADS_1


Indira berhenti berdebat karena saat itu suasana hati Rama sepertinya tidak baik. Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke belakang lalu memejamkan mata.


Dua hari kemudian, ditemukan sesosok mayat tanpa identitas dengan tubuh penuh luka, mengambang di sebuah sungai. Sosok itu bertubuh besar dan brewokan. Di pipi kirinya terdapat bekas luka bakar. Bukan luka baru seperti luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya.


__ADS_2