
Senyuman masih menghiasi wajah Indira setelah pengujian MCB selesai dilaksanakan. Seperti dugaan Abi, benda itu masih berfungsi dengan baik. Hal itu sangat mempengaruhi jalannya persidangan. Seperti yang Indira katakan tadi, kondisi MCB yang masih bagus membuat korsleting listrik bukan lagi kemungkinan penyebab tunggal kebakaran di rumah Mischa. Ada kemungkinan kebakaran dilakukan sengaja dan artinya ada tersangka baru selain Abi.
“Bagaimana kamu tahu kalau MCB itu masih berfungsi?” bisik Indira.
“Aku tidak tahu,” jawab Abi santai. “Bagaimana aku bisa lebih tahu daripada petugas damkar yang lebih berpengalaman?”
Indira menyipitkan matanya dengan alis terangkat dan bergumam, “Maksudmu, kamu hanya asal tebak?”
“Bukan asal tebak, tapi lebih tepatnya berspekulasi. Jika temuan yang kau dapatkan itu benar, MCB yang sengaja dirusakkan adalah hal yang logis.”
“Bagaimana jika pelaku benar-benar menggantinya dengan MCB yang rusak?”
“Tidak mungkin. Karena pelaku mengidap electrophobia.”
Indira terkejut. Ia bahkan nyaris berdiri karena terkejutnya.
“Pelaku? Kau sudah tahu pelakunya?”
Abi tidak menjawab dan hanya menaruh telunjuknya di bibir.
“Saudara saksi, sekali lagi saya tanya Saudara. Tolong dijawab dengan jujur atau Saudara akan dianggap telah mengucapkan sumpah palsu. Apakah Saudara benar-benar tidak tahu kalau MCB itu masih bisa berfungsi?”
“Saya benar-benar tidak tahu, Yang Mulia. Ciri-ciri fisiknya memang terlihat benar-benar rusak akibat korsleting listrik dengan beban yang terlalu besar.”
“Apakah ada yang menyuruh atau mengarahkan Saudara untuk melaporkan bahwa penyebab kebakarannya adalah karena korsleting listrik?”
__ADS_1
“Tidak, Yang Mulia. Laporan itu saya buat murni karena analisis saya, terutama karena melihat kondisi MCB tersebut, Yang Mulia.”
Para hakim berdiskusi sejenak. Kemudian hakim ketua bertanya kepada Indira, “Saudara penasihat hukum, masih ada yang ingin ditanyakan?”
“Masih, Yang Mulia,” jawab Indira. “Mohon izin menayangkan sebuah video, Yang Mulia.”
Setelah hakim ketua memberikan izin, Indira, dengan dibantu beberapa petugas, memutar video sebuah liputan dari salah satu televisi nasional tentang upaya pemadaman kebakaran di rumah Mischa. Seisi ruang pengadilan menyaksikan video tersebut dengan serius.
“Saudara saksi, tadi Saudara mengatakan kalau petugas damkar yang Saudara pimpin tiba di lokasi pada saat kebakaran sudah hampir melewati tahap puncak dan akan masuk ke tahap kebakaran reda. Menurut pengetahuan saya, pada saat kebakaran memasuki tahap puncak atau tahap pembakaran penuh, perkembangan api sangat dipengaruhi oleh dimensi dan bentuk ruangan, terutama lebar bukaan, karena udara dalam ruangan sendiri sudah tidak mampu menyuplai pembakaran sepenuhnya. Kondisi demikian biasa disebut sebagai api yang dikendalikan oleh ventilasi. Akibat yang mungkin timbul adalah rusaknya elemen-elemen akibat thermal stress, kerusakan pada komponen struktur pendukung, kemudian runtuhnya bangunan. Seperti yang terlihat pada video, ketika petugas damkar baru tiba, api sudah menjalar ke atas bangunan. Beberapa saat kemudian, gedung mulai runtuh satu per satu.”
Semua orang memperhatikan video dengan sudut pandang yang diberikan oleh Indira sambil menunggu apa yang hendak disampaikan oleh wanita itu.
“Tapi, jika kita melihat dengan teliti lagi, ada satu bagian yang ternyata sudah melewati tahap puncak, bahkan tahap redanya juga hampir selesai.” Indira menghentikan video dan menunjuk salah satu bagian rumah yang terdapat dua buah mobil mewah yang sudah hangus dengan pointer. “Ini adalah garasi rumah. Meski ukuran ruangannya tidak sebesar ruangan yang lain, terlalu cepat untuk garasi itu menyelesaikan tahap reda ketika bangunan lain masih masuk dalam tahap puncak. Bukankah demikian, Saudara saksi?”
“Be, benar. Kecuali karena satu kondisi, yaitu kebakaran berasal dari tempat tersebut.”
“Keberatan, Yang Mulia. Penasihat hukum terlalu cepat menyimpulkan. Hal ini cukup berbahaya karena dapat menggiring opini bahwa kebakaran berasal dari ledakan di garasi. Padahal, bukti untuk mengarah pada kesimpulan itu belum ada.”
Indira dan Abi menatap ke arah pria itu dengan ekspresi kasihan seakan bisa melihat kehancuran yang akan dialami oleh sang jaksa.
“Cum adsunt testimonia rerum, quid opus est verbist,” gumam Abi pelan, sehingga hanya Indira yang dapat mendengarnya. “Saat bukti dari fakta-fakta ada, apa gunanya kata-kata?”
Kemudian Indira menampilkan dua buah gambar. Pertama, gambar mobil yang sudah dalam kondisi hangus terbakar. Kedua, gambar penutup tangki bahan bakar salah satu mobil yang tergeletak tak jauh dari mobil tersebut.
“Jika diperhatikan dari dekat, penutup tangkinya tidak mengalami kerusakan kecuali karena terbakar api. Artinya, benda itu tidak terlepas secara paksa dari tempatnya. Artinya lagi, ada yang sengaja melepasnya.”
__ADS_1
Hampir semua orang yang ada di ruangan itu dan yang menonton persidangan itu kembali terkejut dengan ucapan Indira. Kemungkinan adanya tersangka baru semakin besar.
“Mengingat para polisi sempat menggeledah rumah itu setelah penangkapan klien saya, jika memang klien saya yang melakukannya, tidak mungkin tidak ada yang menyadari MCB yang dibakar dengan sengaja dan tutup tangki mobil yang dilepas. Artinya, kedua hal itu dilakukan setelah penggeledahan atau kemungkinan besar sebelum terjadinya kebakaran. Artinya lagi, klien saya punya alibi yang kuat untuk tidak melakukannya.”
Indira menjauhkan wajahnya dari mikrofon sambil menghela napas. Ia sangat puas dengan argumen yang baru saja disampaikannya. Ia merasakan aura kemenangan sedang melingkupinya, apalagi karena Abi mengacungkan jempol padanya.
“Kemungkinan adanya pelaku baru dalam kasus ini harus ditanggapi dengan serius,” kata salah satu hakim sambil memeriksa berkas yang ada di mejanya. “Saudara jaksa penuntut umum, ada tanggapan? Atau ada pertanyaan untuk saksi?”
Jaksa Jerold sempat tidak mendengar ucapan dari hakim tersebut karena pikirannya benar-benar kacau. Ia menutup matanya sambil mengusap keningnya. Baru setelah hakim tadi mengulang pertanyaannya, ia tersadar. Matanya langsung tertuju pada seseorang yang sangat ia takuti. Kini pikirannya semakin kacau.
Di seberangnya, Abi memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama. Ia menyadari ketakutan yang dirasakan oleh pria itu. Meski situasinya sekarang sedang di atas angin, Abi masih belum merasa puas. Ia masih mencari sesuatu yang lebih penting bagi hidupnya daripada kemenangan di persidangan ini.
* * *
Ruang tunggu polresta terlihat ramai dengan para polisi yang sedang menyaksikan jalannya persidangan Abimanyu Alexander. Salah satunya adalah Regina. Bisa dikatakan kalau dia adalah orang yang paling serius menonton siaran tersebut.
“Dasar jaksa bodoh. Apa yang ia pelajari selama ini?” gerutu Regina yang didengar oleh rekan-rekannya. Ia kembali menyeruput kopinya.
“Lho, itu tunanganmu, ya?” tanya Iptu Nyoman, atasannya yang juga ikut menonton.
“Benar, Pak,” jawab Regina dengan nada kesal bercampur malu.
“Bukankah pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan?”
“Ditunda. Tentu saja karena kasus ini. Kami sempat berdebat dan aku menghinanya terlalu kasar. Tapi aku tidak menyesal, sih. Lihat saja di televisi, betapa bodohnya dia.”
__ADS_1
Semua rekannya yang ikut menonton hanya bisa melihat Regina dengan keheranan. Ia memang selalu santai membicarakan masalah pribadinya di tengah rekan-rekan kerjanya. Bahkan ia juga tak segan membicarakan masalah yang cukup pribadi bagi kaum perempuan, padahal di satuannya, hanya beberapa orang yang satu gender dengannya.
“Kau memang masih belum punya filter untuk mulutmu itu,” keluh Iptu Nyoman seraya meninggalkannya dan ruangan itu.