
Persidangan kedua telah berakhir setelah hakim memutuskan untuk menskors-nya sampai minggu depan untuk mendengarkan keterangan dari saksi ahli yang akan dihadirkan oleh jaksa penuntut umum karena hakim merasa perlu melakukannya melihat perkembangan kasus yang terjadi pada persidangan tersebut, terutama tentang kemungkinan adanya tersangka baru.
Bagi jaksa Jerold sendiri, persidangan itu ibarat neraka. Fakta-fakta baru yang dihadirkan oleh pihak terdakwa sangat mengejutkan baginya dan secara tidak langsung menyudutkannya. Apalagi ia tidak mampu memberikan respons yang baik.
Pemberitaan dari berbagai media juga sangat tajam menyorot kinerja aparat yang terkait dalam kasus ini, tidak luput kejaksaan tempatnya bernaung. Bahkan beberapa komentar para warganet secara terang-terangan menuduhnya ikut dalam persekongkolan jahat karena telah menghadirkan dua orang saksi yang telah memberikan keterangan palsu.
Jaksa Jerold sebenarnya sudah terlatih untuk tidak menanggapi hal-hal seperti itu. Ia punya hal lain yang lebih menakutkan daripada itu semua. Satu kata kekecewaan yang dikeluarkan oleh Tuan Jireh lebih tajam daripada jutaan komentar-komentar negatif dari publik. Dan ia sangat sadar jika pria itu sudah sangat kecewa dengan performanya di persidangan tersebut.
Kondisi yang sebaliknya dialami oleh Indira. Ia masih merayakan keberhasilannya pada persidangan tersebut. Citranya sebagai pengacara yang sempat jelek, perlahan mulai membaik seiring dengan pemberitaan tentang persidangan kedua Abimanyu Alexander. Ia mendapatkan banyak pujian dari beberapa tokoh publik dan banyak warganet.
“Hebat juga adik cantikku ini,” kata Mbak Ratih yang sedang mengunjungi Indira.
“Aku juga sama sekali tidak menduganya,” ujar Indira, merendah untuk meninggi.
“Tapi kau harus tetap waspada. Mbak masih yakin kalau yang kalian lawan adalah orang jahat yang sangat mungkin untuk mencelakai kalian.”
“Tenang saja, Mbak. Jika bertugas di luar, aku selalu didampingi oleh Rama, adiknya Abi. Dia cukup jago dalam hal bela diri, walau postur tubuhnya kurang meyakinkan.”
“Benarkah? Abi yang suruh? Wah, ternyata klienmu sangat memperhatikanmu, ya.” Indira tersipu malu mendengar ucapan Mbak Ratih itu, membuat sang kakak agak bingung. “Kenapa kau malu-malu seperti itu? Aku sedang memuji klienmu, bukan kamu.”
Indira tersadar dengan ucapan kakaknya. Benar juga, kenapa ia harus tersipu malu?
“Kakak! Rama is coming! Trouble is coming too!”
Tiba-tiba terdengar teriakan Rama diiringi oleh suara pintu terbuka. Ia masuk ke kantor Indira dengan tangan kanan memegang burger besar dan tangan kiri dengan segelas besar minuman dingin bersoda. Indira dan Mbak Ratih langsung melihat ke arahnya.
“Lho, ada someone yang lain.”
“Panjang umur. Baru saja kami membicarakanmu. Perkenalkan, ini mbakku.,” kata Indira. Kemudian ia melihat ke arah Mbak Ratih. “Ini lho si Rama itu.”
Rama menyodorkan tangannya hendak memperkenalkan diri. “Waduh, kalau tahu Kakak Mbak datang, Rama akan membeli 3 porsi.”
“Hei, kamu tidak tahu mbak itu apa?” kata Indira dengan nada kesal.
Mbak Ratih menyambut salam dari Rama sambil memindainya dari ujung kaki ke ujung kepala. Seperti kata Indira, memang tidak meyakinkan untuk seorang yang katanya jago dalam hal bela diri.
__ADS_1
“Tidak perlu, Mbak sedang diet,” tolak mbak Ratih dengan lembut.
“Lho, sama. Rama juga sedang dalam program diet.”
Mendengar pernyataan itu, Indira dan mbak Ratih menatap wajah polos Rama bersamaan, lalu berpindah ke makanan dan minuman yang ia pegang.
“Kamu yakin kamu diet? Lalu, apa yang ada di tanganmu sekarang?” tanya Indira.
“Oh, ini bukan makanan, tapi cemilan,” kata Rama polos. “Ah, berat sekali diet ini. Aku sudah 3 hari tidak melihat nasi.”
Indira kasihan melihat kakaknya yang masih melongo mendengar ucapan Rama. Sepertinya sang kakak belum terbiasa berhadapan dengan orang-orang seperti Rama.
“Jadi, menurutmu makan itu adalah makan nasi dan selain itu hanyalah cemilan?” tanya mbak Ratih yang dijawab Rama dengan anggukan. Lalu ia menatap ke arah Indira sambil berbisik, “Apakah ia sebodoh ini?”
“Jadi, ada apa kamu ke sini?”
“Si Roy datang menjenguk bang Abi,” jawab Rama.
“Roy? Roy siapa?” tanya Indira.
“Maksudmu, anak yang memfitnah Abi telah memukulnya? Kenapa dia bisa di sana?”
“Entah. Sepertinya ia ingin mengintimidasi bang Abi karena persidangan kemarin.”
Indira mengangkat sebelah alisnya pertanda ia semakin bingung dengan ucapan Rama. “Apa hubungannya orang itu dengan persidangan kemarin?”
Rama terdiam sejenak. Ia sadar telah melewatkan satu cerita penting yang seharusnya bisa menjadi kunci dari semua perkataannya barusan. “Nama panjang baj*ngan itu adalah Leroy Jerold, dan dia adalah jaksa penuntut umum kasus bang Abi.”
* * *
Abi kembali mendapat kunjungan seseorang dari masa lalunya. Seperti baru kemarin ketika ia dikunjungi oleh Brigadir Polisi Reynold, orang yang pernah menyiksanya belasan tahun yang lalu. Kini ia harus menemui kunjungan pria itu.
“Halo, Sahabat lama,” sapa seorang pria yang mengenakan jas dan celana serba hitam, senada dengan kacamata yang menempel di batang hidungnya. Sudah lima belas menit ia menunggu di ruang kunjungan khusus itu.
“Roy.” Hanya itu yang diucapkan Abi sebagai respons dari sapaan yang diberikan oleh pria yang mengaku sebagai sahabat lamanya itu.
__ADS_1
“Ayolah, apakah kau tidak bisa bersantai?”
“Bagaimana aku bisa bersantai melihat seorang jaksa dengan bodohnya mendatangi terdakwa. Kau tidak tahu kalau itu melanggar kode etik jaksa? Atau memang kau tidak mempunyai etika sama sekali?”
Pria bernama Roy itu tahu sedang diprovokasi. Ia berusaha mengabaikan perkataan Abi tadi dan memberikan isyarat pada petugas yang mengantar Abi untuk pergi meninggalkan mereka.
“Maaf, Pak. Saya tidak bisa pergi. Beberapa waktu yang lalu tahanan menyerang pengunjungnya. Jadi, saya tidak -”
“Saya sudah berbicara dengan kepala rutan. Jika kau keberatan, sampaikan keberatanmu padanya,” potong Roy yang langsung membuat sang sipir terdiam dan keluar ruangan.
“Kau memang ingin aku memukulmu, bukan? Jadi, kau bisa merengek dan memfitnahku. Ya, manusia memang sulit menghilangkan kebiasaan brengseknya.”
Roy menatap tajam Abi yang baru saja mengejeknya. Ingin rasanya ia marah, tapi bukan seperti itu strategi awalnya. Ia hanya bisa duduk sambil tersenyum seakan ingin segera membalas ejekan Abi.
“Kau memang pemarah seperti biasanya,” kata Roy.
“Kau memang brengsek seperti biasanya,” balas Abi.
Meski awalnya ingin membuat marah, Roy sadar kalau saat ini justru dirinya yang mulai terpancing untuk marah. Ia pun menarik napas lalu membuangnya perlahan.
“Kedatanganku di sini hanya untuk memastikan sesuatu.”
“Tentang apa?” Abi mencondongkan kepalanya ke arah Roy. “Tentang kenapa kau masih bodoh walau sudah jaksa sehingga dipermalukan di pengadilan oleh terdakwa yang putus sekolah dan pengacara kikuk?”
Roy menggebrak meja dengan telapak tangan kirinya. Ia tidak bisa menahan amarahnya jika mengingat apa yang terjadi di pengadilan lalu. Namun, karena melihat senyuman di wajah Abi, ia mulai kembali sadar dan meredakan kemarahannya.
“Kita ke intinya saja. Bukankah kau yang membunuh Reynold?”
Kini Abi yang menatap tajam Roy. Seperti sebelumnya, ia melemparkan senyuman pada Roy. Hanya saja, kali ini lebih intimidatif. Roy tahu kalau teman satu SMA-nya itu takkan menjawab pertanyaannya itu dengan benar.
“Wah, wah, wah. Sebagai jaksa, tentu kau tahu pasal 311 ayat 1 KUHP, bukan?”
“Barangsiapa melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan, dalam hal ia diizinkan untuk membuktikan tuduhannya itu, jika ia tidak dapat membuktikan dan jika tuduhan itu dilakukannya sedang diketahuinya tidak benar, dihukum karena salah memfitnah dengan hukum penjara selama-lamanya empat tahun,” kata jaksa tersebut.
“Bagus jika kau menghafalnya. Setidaknya itu bisa menutupi kebodohanmu.”
__ADS_1
“Sayangnya, aku punya buktinya.”