
“Kami benar-benar tidak apa-apa, Bang,” kata Rama pada abangnya melalui ponsel. Hari itu sudah cukup larut malam.
[Apakah kau bisa memperkirakan siapa pelakunya?]
“Siapa lagi kalau bukan orang yang menjebak Abang dan yang membunuh Mischa. Ia pasti ketakutan melihat perkembangan kasus di pengadilan kemarin, khususnya karena hasil investigasi kakak. Ia pasti menyerang kami untuk menghambat investigasi lanjutan kakak.”
[Ada juga tersangka lain, yaitu Roy. Kebetulan, kemarin ia datang ke sini dan berhasil dipermalukan untuk kedua kalinya. Ia bisa saja menyuruh orang menyerang kalian karena kesal. Mengingat sifatnya yang sejak dulu arogan dan langsung bertindak impulsif jika merasa diremehkan, ia sangat mungkin melakukannya.]
“Benar-benar anak orang kaya yang merepotkan,” gerutu Rama.
[Apakah ada polisi yang pernah mendatangi kalian untuk menanyakan tentang kecelakaan itu?]
“Ada. Mereka juga sudah memeriksa mobil Shasha.”
[Siapa Shasha]
“Pacarku yang punya mobil itu,” terang Rama. Namun, Abi tidak memberi reaksi setelah mendengar nama itu, sehingga ia merasa harus memberikan penjelasan tambahan. “Anak mantan lurah yang kerja di OBO-Jek dan yang pernah berkelahi dengan mama karena berebut langganan.”
[Oh, dia. Hebat juga kau bisa memacarinya sampai dipinjamkan mobil seperti itu. Dulu, si Adon harus membayarnya tiap malam selama memacarinya hingga ia bingung apakah ia pacar atau hanya pelanggan.]
Rama terdiam. Sebenarnya ia juga mengalami hal yang hampir mirip. Meski bukan membayar, tapi tiap malam ia harus mengantar Shasha ke tempat klien-kliennya dengan mobil. Terkadang ia bingung, apakah ia pacar atau hanya supir.
[O ya, apa yang kalian katakan pada para polisi itu?]
“Nah, ada kejadian yang menarik. Sebelum polisi datang, Jack Off the Record terlebih dulu datang. Waktu itu aku pura-pura keluar kamar kakak Indira, tapi menguping dari sela-sela pintu. Kudengar, pria tua itu memaksa kakak Indira dan kakaknya kakak Indira untuk mengatakan kalau kejadian itu hanya kecelakaan biasa dan tidak ada unsur penyerangan. Ia ingin kami mengatakan seperti itu, baik pada polisi atau wartawan. Katanya, demi keselamatan kami. Meski saat itu kakak Indira dan kakaknya kakak Indira tidak setuju, pada akhirnya mereka mengatakan seperti diminta oleh ayah mereka. Terpaksa, aku juga mengatakan hal yang sama.”
__ADS_1
Abi tidak bersuara untuk beberapa detik, membuat Rama memastikan apakah percakapan mereka masih berlangsung atau sudah terputus.
[Memang, itu adalah tindakan yang tepat untuk saat ini. Terlalu banyak mengungkapkan fakta yang tak perlu pada polisi dan media justru berpotensi besar terjadinya pemutarbalikan fakta yang justru akan merugikan kita.]
“Ya, Rama juga berpikir demikian,” kata Rama, meski ia tidak pernah berpikir demikian.
[Bagaimana dengan dashcam?]
“Ada, tapi mereka pasti tidak menemukannya karena Shasha tidak memasang dashcam biasa yang ditempelkan di kaca spion depan, melainkan bentuk mainan yang menempel di dashboard. Jadi, sepertinya aman.”
[Baguslah. Kalau kondisimu sudah membaik, segera lihat plat mobil-mobil yang menabrak kalian. Minta bantuan Kojak untuk melacaknya. Sebaiknya kita sendiri yang melacaknya untuk mengetahui siapa lawan kita yang sedang panik hingga bertindak seputus asa itu. Kemungkinan ia bisa menjadi titik lemah yang bisa kita manfaatkan.]
Rama merasa abangnya sangat keren karena mengatakan kalimat-kalimat yang terakhir tadi. Ia sudah tak sabar untuk beraksi kembali.
“Serahkan semuanya pada Rama.”
“Apa itu?”
[Selidiki latar belakang Indira. Mulai dari masa kecilnya sampai ia memutuskan untuk menjadi pengacara. Pastikan bagaimana hubungannya dengan ayahnya, Jack Off the Record.]
*
Pria tua itu menatap ke arah papan bidikannya. Ia telah menetapkan arah yang menurutnya tepat dan menggerakkan moncong pistol yang sedari tadi di genggamnya.
DUARRRRR!!!
__ADS_1
Pistol itu meledak dan memuntahkan peluru yang melesat lalu mengenai bagian tengah papan bidikan. Si pria tua tersenyum puas lalu meletakkan pistolnya ke atas talam yang beralaskan kain indah dan lembut. Ia memang memperlakukan semua senjatanya bak bayi kecilnya. Kemudian ia duduk di kursinya dan meneguk teh dengan sikap elegan.
Di tengah waktu jedanya untuk menunggu pekerjanya mempersiapkan papan bidikan yang baru, asistennya datang dengan wajah tegang. Ia segera membisikkan sesuatu pada pria tua itu. Sebuah pesan penting yang langsung membuat suasana hatinya yang sempat senang karena selalu tepat membidik, menjadi penuh amarah.
“Bajingan! Siapa yang melakukannya? Apakah kita seputus asa itu?”
Pria tua itu menggebrak meja hingga cangkir dan piring alas yang ada di atasnya melompat. Seluruh orang yang ada di sana terkejut dan ketakutan melingkupi hati mereka. Mereka tahu, setiap kali pria itu menunjukkan kemarahannya seperti tadi, nyawa mereka dalam keadaan bahaya. Salah satu pelampiasan amarah yang sering dilakukannya adalah dengan cara membunuh dan tentunya mereka yang akan menjadi sasaran.
“Kami masih menyelidikinya, Tuan. Untuk saat ini, yang paling kami curigai adalah jaksa Jerold. Tapi kami masih harus membuktikannya.”
“Jika memang dia yang melakukannya, suruh dia menghadap padaku. Biar aku sendiri yang memberinya pelajaran,” kata pria tua itu sambil mengambil kembali pistolnya dari atas talam dan mengisinya dengan sebutir peluru. “Aku juga sudah mulai muak dengan kebodohan-kebodohan yang dilakukannya akhir-akhir ini. Ia bahkan tidak becus menangani kasus dugaan korupsi kedua saudaranya.”
“Baik, Tuan.”
Asisten itu membalikkan badannya dan bersiap untuk pergi, sebelum sebuah pertanyaan dari pria tua itu menahan langkahnya. “Bagaimana dengan pemberitaan media? Apakah mereka mulai melontarkan teori-teori aneh karena kecelakaan itu? Apakah semakin banyak dukungan yang diberikan untuk Abi karena pengacara dan adiknya diserang secara misterius? Apakah itu menegaskan ada pihak yang memfitnahnya dalam kasus yang sedang menimpanya?”
Sang asisten bingung harus memberikan jawaban apa karena semua pilihan jawaban yang diberikan oleh tuannya tidak ada yang benar. Dengan ragu, ia berkata, “Mereka tutup mulut untuk kejadian ini. Menurut pengakuan mereka pada polisi dan awak media, kejadian itu murni kecelakaan karena kesalahan adiknya Abi yang mengebut dan secara tiba-tiba pindah jalur sehingga membuat kendaraan yang kebetulan ada di sana menabrak mereka. Karena tidak ada rekaman CCTV dan laporan dari pengendara mobil lain, maka kasus tidak diperpanjang.”
Pria tua itu termangu mendengar ucapan asistennya tersebut. Kemudian ia tertawa sambil menambahkan beberapa butir peluru ke pistolnya. Ia bahkan mengambil pistolnya yang lain dan mengisinya juga dengan beberapa butir peluru.
“Tambahkan menjadi lima sasaran. Tidak, tapi sepuluh sasaran,” titahnya pada beberapa pekerjanya. Mereka pun melakukannya.
Di belakang pria tua itu menjalar sel panjang yang terdiri dari sel-sel kecil. Tiap selnya berisi orang-orang dengan penampilan lusuh dan tubuh penuh luka seperti habis dihajar. Para pekerja yang mendapat titah dari pria tua itu mengeluarkan sembilan orang dari sel tersebut secara acak lalu memasukkan mereka ke dalam kerangkeng yang ditarik ke atas lalu dihubungkan pada papan sasaran tembak. Sembilan orang itu menangis mengikuti satu orang yang sudah di dalam kerangkeng sebelumnya dan menghujat siapapun orang yang telah membuat sang pria tua marah.
“Aku sangat membenci lawan yang bersikap sok pintar di hadapanku. Tapi aku lebih benci jika tidak bisa membaca jalan pikiran mereka.”
__ADS_1
Kemudian terdengar sepuluh kali tembakan dan diikuti oleh terbukanya bagian bawah kerangkeng yang membuat orang-orang di dalamnya terjatuh ke bawah, ke dalam akuarium berisi hiu-hiu lapar.