
Mobil tahanan telah berhenti tepat di depan lapas Maharaja. Dinamakan demikian karena terletak di jalan Maharaja. Namun, banyak yang mengatakan justru jalan di sana yang dinamakan Maharaja karena mengikuti nama lapas yang dikenal sebagai tempat banyak orang kaya dan orang penting di negeri ini ‘ditampung’ setelah mendapatkan vonis di pengadilan.
Sebagai seorang terpidana yang mendapatkan ketenaran sejak awal diperkenalkan ke publik saat konferensi pers, sepertinya Abi mendapatkan ‘penghargaan’ untuk menjalankan masa hukumannya. Untung bagi Abi, karena lapas itu adalah salah satu lapas tujuannya.
Abi turun dari mobil besar berwarna coklat itu sambil merenggangkan tubuhnya. Perjalanan dari rutan Sukadamai ke lapas ini cukup jauh, apalagi harus mampir ke beberapa rutan terlebih dulu. Wajar jika ia merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Demikian juga dengan enam narapidana lainnya yang ikut turun bersama dengan Abi. Mereka adalah narapidana dari rutan lain yang proses hukumnya sudah inkrah atau selesai putus sidang di pengadilan negeri.
Para narapidana itu mengikuti petugas yang membawa mereka ke dalam lapas. Mereka diperiksa satu per satu lalu melengkapi beberapa dokumen sebelum diberikan sebuah keranjang berisi beberapa peralatan mandi dan perlengkapan tidur. Petugas yang lain membawa mereka ke kamar masing-masing yang telah ditentukan.
Abi mendapatkan kamar paling ujung di lantai dua. Di lapas Maharaja ini setiap kamarnya hanya diisi oleh dua orang. Kamarnya tidak terlalu sempit meski sudah terdapat ranjang bertingkat dua. Padahal ia pernah mendengar di kebanyakan lapas kapasitas kamarnya diperuntukkan maksimal bagi 5 orang dan malah sering diisi oleh tiga puluh sampai lima puluh orang.
Seorang pria berpakaian tahanan sudah menunggunya di dalam. Tubuhnya terlihat tinggi besar meski ia sedang dalam posisi berbaring. Wajahnya sangar, entah karena rahang kokohnya, bekas luka di pipinya atau kumis tebalnya. Di tangannya tergenggam sebuah buku berjudul Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer yang terbuka di bagian tengahnya, menunjukkan sudah seberapa jauh pembacaannya. Tangannya mengibaskan nomor tahanan yang tertempel di baju bagian dadanya. 0608. Nomor yang terasa familiar bagi Abi.
“Ada penghuni baru,” kata petugas yang mengantar Abi pada pria di kamar itu.
“Hmm.” Hanya itu respons yang diberikannya.
“Jangan lupa yang kau janjikan kemarin, ya.” Petugas itu tersenyum sambil menggesekkan ujung jari jempol dan telunjuknya sebelum pergi.
“Dasar tikus,” kata pria itu tanpa mengalihkan matanya pada buku yang ia genggam.
Abi mematung sejenak lalu tanpa permisi langsung naik ke ranjang atas. Tidak ada tegur sapa dan basa basi di antara mereka.
Kediaman di antara mereka terjadi sampai tiga hari mereka bersama. Tidak ada ketertarikan untuk saling mengenal di antara mereka. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga suatu malam, seorang petugas mengantarkan sebuah nampan berisi beberapa lembar roti tawar dan saus sambal. Abi sampai penasaran dan melirik dari atas ranjangnya. Ya, di lapas ini setiap narapidana dapat memesan makanan kapan pun, asalkan memiliki uang yang cukup untuk menggoda petugas.
“Roti tawar dan saus sambal. Perpaduan yang mengejutkan dan menyenangkan. Rasanya seperti sandwich. Kau pasti menyukainya. Mau?”
__ADS_1
Kalimat pertama dari pria 0608 untuk Abi ternyata diucapkan dengan ramah. Ia mengangkat dua helai roti yang sudah dilumuri saus sambal dan mengarahkannya pada Abi.
“Aku menyukainya jika di antara roti itu ada telur, daging, daun bawang, mentimun, daun selada, garam, merica dan keju. Ah, aku menyebutnya sandwich,” jawab Abi sinis. Ia kembali berbaring membelakangi pria 0608.
Sebenarnya kombinasi roti tawar dan saus sambal bukan hal yang asing bagi Abi. Itu adalah makanan kesukaan ibunya, terutama saat ia sedang stres. Ya, bukan coklat tapi roti tawar bersambal. Tapi, meski telah ditawari ratusan kali, ia hanya butuh sekali gigit untuk memutuskan kalau itu adalah makanan yang tak layak untuk rongga mulutnya.
“Kupikir kau juga menyukainya,” oceh pria 0608 sambil menyantap makanannya itu.
*
Para narapidana berkumpul di lapangan lapas dan sibuk dengan aktivitas yang berbeda. Ada yang bermain sepakbola, ada yang melatih otot mereka dengan mengangkat beban, ada yang membentuk kelompok ‘diskusi’ dan ada juga yang hanya duduk untuk menikmati sinar matahari. Sekarang adalah waktunya bagi para narapidana untuk berjemur dan menggerakkan tubuh mereka setelah beberapa jam terkurung di sel masing-masing. Termasuk para narapidana VIP yang terlalu betah di dalam kamar mewah mereka.
Tiba-tiba terjadi sebuah keributan di dekat tempat angkat beban. Di sana biasanya berkumpul geng yang dipimpin oleh seorang narapidana kasus terorisme yang bernama Aldo. Pria 0608 yang sedang asyik membaca bukunya terkejut saat melihat rekan sekamarnya sedang jadi bulan-bulanan salah satu narapidana yang juga anak buah Aldo.
Tanpa pikir panjang, pria 0608 berlari ke arah keributan itu dan langsung meninju anak buah Aldo itu seraya menarik tubuh Abi ke belakang untuk menghindarkannya dari pukulan yang lain. Matanya menjelajah seakan hendak mencari siapa lagi yang ingin membuat masalah. Bahkan Aldo tak berani menatap matanya.
Pria 0608 membantu Abi berdiri. Ia memapahnya ke kursi yang berada di pinggir lapangan. Setelah berbicara dengan petugas, ia membawa Abi ke kamar mereka. Sesampainya di kamar, seorang petugas datang sambil membawa kotak P3K dan baskom berisi air panas dan kain lap.
“Sepertinya kau cukup dihormati di tempat ini,” ujar Abi saat pria 0608 membasuh luka di wajahnya.
“Tentu saja. Aku adalah tahanan yang paling lama di sini. Dua puluh lima tahun!” kata pria 0608 seakan bangga dengan hal itu.
“Karena apa?”
Pria 0608 tidak langsung menjawab, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat untuk jawabannya. “Aku seorang tentara yang berusaha untuk setia kepada presidenku di rezim sebelumnya.. Saat ia berhasil ditumbangkan, aku harus siap dianggap penjahat dan dipenjara guna menghilangkan pengaruh presiden yang lama.”
__ADS_1
“Kesetiaanmu patut diacungi jempol,” puji Abi yang terasa bukan sedang memuji.
“Lalu kau sendiri, kenapa kau tidak membalasnya ketika dipukul? Kudengar kau cukup jago dalam berkelahi.”
Abi menepis tangan pria 0608 yang bersiap untuk mengoleskan obat padanya. Ia menatap pria sangar itu dengan tajam, seakan tidak memiliki rasa takut sedikitpun.
“Ibuku dulu punya suami yang sangat impulsif. Setiap ada masalah selalu diselesaikan dengan kekerasan. Karena tidak ingin anaknya bertumbuh seperti suaminya, ibuku mengajarkanku untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan.”
“Ibumu orang yang baik. Tapi, dunia ini keras. Jika kita tidak melawan, kita akan terus-terusan ditindas.”
“Ibuku tidak pernah melarang untuk membalas. Tapi, baginya kekerasan adalah jalan terakhir dan terbodoh yang bisa dilakukan oleh seorang pria. Lalu, ibuku menyuruhku untuk berpikir terlebih dahulu. Lihat kejadian itu dari segala sudut pandang. Bisa jadi lawanku yang salah, tapi tidak menutup kemungkinan kalau ternyata aku yang salah. Jika aku menemukan alasan untuk membiarkannya, aku akan membiarkannya dan memikirkan ide yang lebih bijaksana untuk membuatnya berhenti menjadi lawanku. Tapi, jika aku tidak menemukan alasan itu, aku akan membalasnya tanpa perlu mengandalkan kekuatan fisik.”
Pria 0608 mengangguk seakan setuju. Namun, ia segera sadar dan mencoba kembali untuk mendebat ucapan Abi. “Tidak ada waktu untuk berpikir. Pertahanan terbaik adalah menyerang.”
“Maka, aku akan tumbuh menjadi seperti pria yang sangat dibenci oleh suami ibuku dulu,” ujar Abi yang membuat pria 0608 tersentak.
“Apakah ibumu sebenci itu pada ayahmu?”
“Bukan, dia bukan ayahku,” kata Abi yang membuat pria 0608 kembali tersentak.
“Tapi, tadi kau bilang dia suami ibumu.”
“Ya, tetap saja bukan ayahku. Seorang ayah selalu hadir bagi anaknya kecuali ia sudah mati. Suami ibuku itu tidak pernah menemuiku sekalipun dan ia masih hidup. Jadi, ia tidak memenuhi syarat minimal untuk kuanggap sebagai ayahku.”
Pria 0608 seperti telah kehabisan kata-kata untuk diucapkan. Ia tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari mulut Abi.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan jujur padamu,” kata pria 0608 pada Abi. “Sebenarnya, aku adalah -”
“Ya, aku tahu,” potong Abi yang membuat pria 0608 bingung. “Kau adalah Andika Alexander, orang yang pernah menjadi suami ibuku.