
Perhatian seluruh negeri tertuju pada wawancara yang dilakukan oleh Jack Off the Record pada Abimanyu Alexander. Mereka merasakan ketegangan dari setiap ucapan yang dikeluarkan dari mulut Abi dan yang diakuinya sebagai nota pembelaan. Sudah lama suasana ini tidak muncul lagi, sejak persidangan terakhir Abi.
“Jadi, maksudmu kasus pembunuhan Mischa sudah terkuak kebenarannya?” tanya Jack yang juga cukup terkejut dengan pernyataan Abi.
“Kalau tidak ada kendala, besok seluruh media pasti sudah memberitakannya. Tapi, saya akan mengungkapnya sedikit demi sedikit.”
“Berarti, seharusnya masalah Anda sudah selesai, dong?”
“Seharusnya,” kata Abi dengan intonasi yang menggambarkan situasi kontradiktif. “Sayangnya, dalam perjalanan kasus ini, saya menemukan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang menjadi akar dari semua permasalahan yang saya alami, bukan hanya dalam waktu beberapa bulan terakhir, melainkan sejak lima belas tahun yang lalu.”
Jack mengernyitkan dahinya. “Apa itu?”
“Ketidakadilan,” ujar Abi lirih. “Ketidakberdayaan hukum karena ada tangan-tangan beberapa oknum yang memainkan hukum bak boneka Marionette, bergerak sesuai perintah penguasa dan orang-orang kaya yang membayarnya.”
Jack mengangguk-angguk. Kemudian, ia berkata, “Sepertinya, pledoi Anda belum selesai.”
Abi tersenyum. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke kamera. Wajahnya sangat serius, karena ia tahu sudah memasuki bagian yang paling penting. Ia akan menguak kebenaran tentang tuan Jireh dan seluruh perbuatan jahatnya selama ini.
“Rahasia ini saya temukan ketika mencari bukti-bukti untuk membebaskan saya dari kasus yang sedang menjerat saya. Sebuah rahasia yang mengungkap bahwa kasus ini lebih besar dari yang terlihat di publik. Ini bukan hanya tentang pembunuhan seorang artis dan keterlibatannya dengan narkoba. Ada hal besar yang berkaitan dengan ini, yang membuat saya, seorang rakyat jelata, harus dijadikan kambing hitam oleh para dalang yang berada di balik semua ini.”
*
__ADS_1
“Di mana mereka?! Di mana mereka?!” teriak tuan Jireh sambil membanting meja. Matanya sudah merah membara karena dipenuhi oleh amarah.
“Kami telah mencari di berbagai sudut kota, Tuan. Tapi, tidak ada tanda-tanda kehadirannya,” ujar Jesse yang ikut panik melihat kelakuan tuannya.
“Kau bilang kemarin anak buahmu mengikutinya ke luar kota. Di mana itu?”
Jesse tertunduk malu dan ragu untuk berbicara. “Eh, Abi sudah mengelabui kita. Ternyata, ia menyuruh temannya menyamar sebagai dirinya agar kita mengikuti temannya itu.”
Tuan Jireh segera mengarahkan pistolnya ke arah Jesse lalu menarik pelatuknya. Sebuah bunyi tembakan menggema ke seluruh ruangan. Pelurunya meleset beberapa inci di samping telinga Jesse. Pria berpenampilan rapi itu terlihat lemas dan hampir tumbang karena lututnya seakan hilang.
“Aku tak tahu, apakah kau sengaja merekrut anak buah yang bodoh atau memang kau yang bodoh. Tapi, aku tidak bisa terus-terusan mentolerir kebodohan ini.”
“Ba, baik, Tuan. Saya tidak akan melakukan kesalahan itu lagi.”
“Sejauh ini, saya tidak melihat kaitan dirinya dengan wawancara itu. Menurut laporan anggota kita, Indira masih sibuk mencari keberadaan ayahnya.”
Tuan Jireh menghela napas lega. Hatinya pasti akan sangat hancur jika mengetahui Indira yang beberapa waktu terakhir sudah dekat dengannya, ternyata berkhianat. Seperti janji yang telah ia ucapkan di depan Jesse, ia tidak akan menahan diri untuk membunuh Indira jika wanita itu terbukti menyerangnya lagi.
“Bagaimana dengan stasiun televisi itu? Kau sudah mencoba membujuk mereka untuk berhenti menayangkan wawancara itu?”
“Sudah, Tuan. Tapi, produsernya menolak. Mereka yakin kalau siaran ini akan menjadi salah satu acara terbesar yang pernah mereka siarkan. Bagi orang ambisius sepertinya, tawaran uang besar atau ancaman pembunuhan takkan berarti. Kalaupun kita memaksa untuk menghentikannya, bukan tidak mungkin ia akan mengungkapkan hal itu pada publik.”
__ADS_1
Tuan Jireh mengepalkan telapak tangannya seakan hendak memukul wajah Abi dari kejauhan. Ia menyesal terlalu meremehkan bocah itu.
*
“Bermula dari seseorang yang ditahan di rutan yang sama dengan saya dulu, saya mengetahui sebuah nama yang sangat ditakuti di dunia hitam. Seperti Voldemort, nama itu seperti tabu diucapkan oleh para penjahat level tinggi di kota ini. Nama yang bisa mengendalikan hukum sesukanya dan juga memberikan ketenangan bagi para pelanggar hukum berduit. Nama yang pernah disebutkan oleh pengacara saya yang cerdas. Nama itu adalah tuan Jireh.
“Tuan Jireh memiliki andil besar dalam berbagai rekayasa kasus yang terjadi di negeri ini, khususnya yang melibatkan orang-orang penting. Apakah kasus pembunuhan Mischa berkaitan dengan orang-orang penting di negeri ini? Jawabannya adalah ya. Meski secara tidak langsung, tapi memang berkaitan.
“Sebelumnya, saya akan menjelaskan tentang dua organisasi yang sampai saat ini hanya segelintir orang yang mengetahui keberadaannya. Pertama, Sky Emperor. Organisasi ini adalah kumpulan para pengusaha yang memiliki kekayaan lebih dari enam puluh persen kekayaan seluruh orang di negeri ini. Tujuan mereka mendirikan organisasi itu hanya satu, memastikan pemerintah tidak mengganggu usaha mereka. Tidak ada kejahatan lain yang mereka lakukan sebagai organisasi kecuali suap-menyuap.
“Lalu, yang kedua adalah Raja Pati. Organisasi ini sudah berdiri cukup lama sebagai sebuah organisasi bawah tanah yang mengendalikan berbagai sindikat kejahatan, baik itu pengedaran narkoba, prostitusi, perjudian, pembunuhan bayaran, pencucian uang dan yang menjadi andalan mereka: makelar kasus. Mereka punya pemimpin yang memiliki pengetahuan dan otoritas di bidang hukum yang memungkinkan untuk merekayasa kasus. Ia adalah tuan Jireh.
“Sementara Mischa, di samping profesinya sebagai artis yang sedang naik daun, adalah salah satu anggota Raja Pati. Ia adalah satu-satunya orang yang menjadi penghubung antara Raja Pati dengan Sky Emperor. Di hari kematiannya, ia seharusnya sedang memimpin rapat pertemuan antara kedua organisasi itu untuk membicarakan sebuah megaproyek. Mungkin akan menjadi proyek terbesar bagi para penjahat kaya.”
Adrenalin para penonton di seluruh negeri kembali terpacu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Abi. Setelah mereka tahu ada oknum yang selama ini mempermainkan hukum demi keuntungan orang-orang penting, kini mereka akan segera tahu sebuah proyek terbesar bagi kaum tersebut. Mereka marah karena hal seperti itu terjadi selama ini tanpa sepengetahuan mereka. Namun, saat ini mereka bahagia karena seseorang akan mengungkapkan semuanya, menelanjangi rencana-rencana jahat para kaum borjuis pemerkosa hukum.
“Ya, tuan Jireh adalah sosok luar biasa, yang sering bertindak di luar nalar. Di saat organisasi kejahatan lain berlomba-lomba memproduksi dan menjual narkoba, ia malah mempekerjakan pengedar narkoba seperti Benjiro Michael untuk menyediakan barang haram itu sebagai layanan bagi kliennya dan untuk menjebak lawan. Di saat organisasi kejahatan lain menawarkan jasa pembunuhan bayaran, ia malah menawarkan klien membunuh sendiri targetnya dan orang-orangnya akan merekayasa pembunuhan tersebut.
“Di saat organisasi kejahatan lain sibuk membangun rumah bordil dan kasino di tengah kota, ia malah membangun panti asuhan di tengah kota. Tentu saja, bukan untuk tujuan mulia, melainkan untuk praktik pencucian uang para pejabat. Dan hebatnya, ia masih membangun rumah bordil dan kasino di ruang rahasia di bawah gedung panti asuhan. Jika kepolisian mau menyelidikinya, atau tidak bersekongkol, pasti mereka akan menemukan panti asuhan itu. Jika mereka mau, saya punya beberapa dokumennya. Hasil curian dari kantor PT. Laras Jaya Karya, rekan setia tuan Jireh dan juga konstruktor yang selalu membantunya mendirikan bangunan kamuflase seperti panti asuhan tersebut.”
Abi mengacungkan beberapa lembar kertas, yang membuat Indira tertawa kecil karena mengingat bagaimana mereka saat mencuri di gedung perusahaan itu.
__ADS_1
“Dan di saat organisasi kejahatan lain harus menyuap aparat agar terbebas dari jerat hukum, ia malah menjebloskan banyak kliennya ke penjara.” Abi berhenti berbicara sejenak, seakan memberikan waktu bagi para penontonnya untuk berpikir apa yang salah dengan hal itu. “Lalu, membuat sel mewah untuk para kliennya. Bahkan membangun terowongan di sana agar mereka bebas keluar masuk penjara.”